ADEK KAKAK ZONE

ADEK KAKAK ZONE
BAB 5


__ADS_3

"Gue gak nyangka banget, Jo," keluh Vincent.


Jordan hanya mengangguk, mendengarkan perkataan yang terus saja dilontarkan oleh sahabatnya itu. Saat ini mereka berdua berada di sebuah kafe yang tidak jauh dari kantornya.


"Bisa-bisanya setelah ninggalin gue satu tahun yang lalu, tiba-tiba ngirimin undangan pernikahan. Maksudnya apa coba?" ucap Vincent yang tidak habis pikir.


"Nah, bener banget. Gue juga bingung sama mantan lo itu, Cen. Kayak, anjirlah tuh cewek emang udah sinting," cerca Jordan dengan menggebu-gebu.


"Padahal gue masih belum move on darinya, Jo" Lirih Vincent sambil tertunduk lesu.


"Aish benar-benar lo ya, tapi lo bakalan dateng gak?" tanya Jordan. Dirinya tidak habis pikir dengan sahabatnya itu. Bisa-bisanya gagal move on sama wanita modelan seperti itu.


Vincent mengangkat bahunya. "Entahlah, gue juga gak tau mau dateng atau enggak."


"Menurut gue, lo mending dateng deh ke pernikahan mantan lo itu sambil gandeng cewek. Sekalian buat manas-manasin tuh ke cewek gila. Biar jadi pembuktian aja kalo lo tuh udah bahagia dan udah gak peduli lagi sama tuh cewek," ujar Jordan memberi saran.


Vincent langsung menatap Jordan horror. "Lo gila? Gue mana punya cewek!"


Jordan langsung menepuk kepala Vincent kencang karena sudah gemas dengan sabahatnya itu, "Tenang, gue bisa cari cewek buat lo."


"Terserah lo deh. Kepala gue pusing." Vincent pun membuang padangannya ke arah lain. Saat menoleh, tidak sengaja menangkap sosok gadis yang ia kenali sedang membersihkan meja.


"Itu Hyera bukan sih?" gumam Vincent memastikan.


"Kenapa, Cen?"


Vincent menunjuk ke arah sesuatu. Jordan mengikuti arah yang ditunjuk oleh Vincent. "Itu bukannya gadis yang pernah lo hampir tabrak bukan?" tanya Jordan memastikan.


Vincent mengangguk. "Berarti gue emang gak salah liat. Itu beneran Hyera. Ngapain dia di sini?"


Jordan masih menatap gadis itu dengan lekat. Tak lama sebuah ide terlintas di otaknya. "Cen, gue udah nemu ceweknya."


Vincent menoleh dan menatap Jordan dengan penuh harap. "Siapa?"


Jordan menoleh dan menunjuk gadis mungil yang baru saja mereka bicarakan. "Gadis itu, Cen. Bawa dia sama lo."


***


Vincent menunggu Hyera di depan kafe. Cuaca di malam hari sangat dingin. Ia pun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Tidak lama, Hyera keluar dari kafe bersama sahabatnya, Ayla.


"Hyera!" sapa Vincent tersenyum.


Hyera menoleh. "Loh, Kak Vincent? Kenapa ada di sini?" tanya Hyera bingung.


"Hmm ... kamu bisa ikut saya sebentar gak?"


Hyera terlihat berpikir yang tak lama ia mengangguk. "Aku bilang dulu ya sama teman aku, Kak."


Mendapat persetujuan dari Vincent, Hyera berjalan menghampiri Ayla. "Ay, lo pulang duluan aja. Gue ada urusan sebentar."


Ayla mengangguk, "Ok. Hati-hati ya, Ra."


Ayla pun pergi dan Hyera berjalan kembali menghampiri Vincent.


Vincent meraih tangan Hyera dan menatap gadis itu dengan tatapan lembut. "Yuk, kita ke mobil.


***

__ADS_1


"Jadi, kak Vincent mau aku pura-pura jadi pacar kakak?" tanya Hyera memastikan.


Vincent mengangguk, "Iya, Ra. Saya mau membawa kamu ke pernikahan mantan saya."


"Pasti buat balas dendam ya, Kak?" tebak Hyera sambil tersenyum tengil.


"Kok kamu bisa tau?" Vincent terkejut karena gadis di hadapannya ini bisa mengetahui maksud terselubung dirinya.


Hyera tertawa, "Hahaha udah ketebak banget kali, Kak."


Vincent menggaruk tenguknya tidak gatal. Merasa malu di hadapan gadis tersebut. "Tapi kamu mau 'kan, Ra?"


Hyera terlihat berpikir. Raut wajahnya terlihat sedih, tetapi mencoba untuk tidak terlalu diperlihatkan.


Padahal aku maunya jadi pacar beneran bukan pura-pura.


Melihat raut wajah Hyera seperti itu, Vincent pun membuka suara. "Kalo kamu gak mau juga gak pap-"


"Iyaa, aku mau, Kak."


Vincent terlihat terkejut tetapi tidak berlangsung lama ia tersenyum senang. "Beneran, Ra?"


Hyera mengangguk. "Iya, aku mau jadi pacar pura-pura, Kakak."


Vincent tersenyum senang. Reflek ia memeluk tubuh Hyera dengan erat. Tidak menyadari bahwa efek dari tindakan tersebut membuat kedua pipi Hyera memerah, tetapi tidak berlangsung lama, Vincent melepas pelukannya dan tersenyum kikuk. Merasa malu karena tidak bisa mengontrol tubuhnya itu.


"Sorry, Ra. Reflek tadi."


"Gak papa, kak. Santai aja," ucap Hyera yang mencoba untuk biasa saja, tetapi tidak dengan hatinya


"Hari sabtu kakak jemput kamu jam 8 malam ya?" tanya Vincent.


Hyera hanya mengangguk dengan wajahnya yang masih memerah.


Huhuhu ... jantung gue.


"Yaudah, sekarang kakak antar kamu pulang."


"Iyaa ... Kak, antar aku ke rumah teman aku lagi ya," pinta Hyera yang sedari tadi masih mencoba mengontrol detak jantungnya yang dengan kurang ajarnya masih berdetak dengan kencang.


Di samping itu, Vincent mengiyakan permintaan Hyera dan tidak lama ia menyalakan mesin mobilnya dan mulai berjalan menuju rumah temannya Hyera.


***


Sabtu, pukul 18.00


Ting!! Tong!!


"Ra, tolong liat siapa yang dateng. Gue lagi repot nih soalnya." teriak Ayla dari arah dapur.


Hyera yang sedang bersantai di depan televisi sambil memakan camilan, langsung berdiri dan berjalan ke arah pintu.


"Atas nama, Hyera Andriana?" tanya seorang kurir.


"Iya dengan saya sendiri. Ada apa ya?" tanya hyera.


"Ini, Mba. Ada paket buat anda," ujar kurir tersebut sambil menyerahkan sebuah kotak yang cukup besar kepada Hyera.

__ADS_1


"Tapi saya gak pesan apa-apa, Pak," ujar Hyera yang terlihat bingung.


"Ohh ... kalo soal itu, saya kurang tau, Mba. Saya cuma menjalankan tugas saya aja untuk mengantarkan paket ini dengan selamat. Tenang, paketnya bukan paket COD kok. Kalau gitu, saya permisi ya, Mba," jelas kurir tersebut yang kemudian pergi berlalu dari hadapannya hyera.


Hyera menatap kotak yang ada di tangannya dengan pandangan bingung. Ia menutup pintu dan berjalan ke arah ruang televisi dan menaruh kotaknya di atas meja. Ayla yang baru saja keluar dari dapur, terlihat terkejut dan berjalan menghampiri Hyera.


"Itu apaan, Ra?" tanya Ayla.


Hyera menoleh, "Ntahlah, gue juga belum buka."


Hening.


"Ay, kalo ini bom gimana?" ujar hyera menduga-duga.


Ayla menatap Hyera bingung.


"Kalo ini ternyata mayat binatang yang abis di mutilasi gimana, Ay?" kata Hyera panik.


"Ra, lo kebanyakan nonton film thriller deh. Jadinya otak lo isinya begituan semua," omel Alya yang padahal di dalam hatinya sudah ketar-ketir, takut bahwa perkataaan sahabatnya itu ada benarnya.


Hyera berdecak kesal. "Kan gue cuma nebak doang, Ay."


"Udahlah, mending sekarang lo buka kotaknya! Mau liat isinya." suruh Ayla.


Hyera menggelengkan kepalanya. "Gak mau. Lo aja yang buka!"


"Lo aja, Ra!" kata Ayla mendorong tubuh Hyera.


"Yakk ... Kok lo dorong gue sih. Lo aja!" kata Hyera sambil mendorong Ayla balik.


"Lo aja, Ra!"


"Ogah. Lo aja yang buka!"


"Sumpah, Ra. Gue ikhlas kalo yang buka! kekeh Ayla.


"Ihh ... gak mau, Lo yang buka!" tolak hyera mentah-mentah.


Karena saling dorong satu sama lain, akhirnya tubuh Ayla mengenai meja-membuat kotaknya bergerak dan saat itu juga kotaknya jatuh dari atas meja. Mengeluarkan isi kotak tersebut yang berceceran keluar. Hal itu membuat Hyera dan Ayla terkejut bukan main.


"Isinya ternyata gaun, sepatu heels, sama aksesoris rambut, Ay," celetuk hyera.


"Ya itu juga gue tau, Ra," ujar Ayla.


"Ish kan gue nga-"


Ayla langsung menyodorkan telunjuknya di depan mulut Hyera. Menyuruh gadis itu diam. "Berisik, nih ada suratnya. Mending kita baca isinya apa."


Dengan perasaan kesal, hyera mengambil surat yang keluar dari dalam kotak dan membacanya dengan Ayla.


Hai Hyera, kamu pasti bingung ya kenapa ada paket berisikan gaun, sepatu, dan aksesoris? Iyaa itu aku yang beliin semuanya buat kamu. Aku gak tau kamu suka yang seperti apa, cuma semoga aja kamu suka sama pilihan aku. Ok itu aja, sampai bertemu nanti malam, cantik.


Dari Kakak Tampanmu, Vincent


Tentu saja setelah membaca isi dari suratnya, hati Hyera berbunga-bunga. Senyumnya tidak lepas dari wajah cantiknya. Jantungnya pun berdetak dengan kencang. Meskipun hyera tahu bahwa Vincent membelikan semua ini untuk rencananya agar berhasil, tetapi tetap saja Hyera merasa terharu dan bahagia karena diberikan barang yang sangat cantik ini kepadanya. Apalagi diberikan oleh orang yang ia sukai.


Akan aku tunjukkan kecantikan yang sebenarnya agar mantannya insecure dan kali aja kak Vincent kepincut hehehehe ....

__ADS_1


__ADS_2