
"hai, sudah lama kita tidak berbincang" ucap arveta
mereka memang sudah tujuh tahun tidak bertemu, mereka sudah saling kenal sejak bayi,
mereka bertemu karena para pemimpin negara yang suka membawa anak mereka yang masih dibawah umur 8 tahun ketika pertemuan, di situlah mereka bertemu
mereka bertemu sebulan sekali selama delapan tahun dan akhirnya mereka tidak bertemu lagi ketika mereka mencapai delapan tahun
mereka kini berada di lorong tepatnya di depan kelas mereka
"yah, kukira kau tidak menganggapku ada dari kemarin" jawab aslan
"benarkah? kukira kau yang tidak meladeniku" jawab arveta
hening sejenak
"kudengar mereka memanggilmu arvy sekarang?" tanya aslan
"ya, aku yang menyuruh mereka"
"kenapa?" tanya aslan
arveta tersenyum
"agar membedakan panggilanmu kepadaku" jawab arveta
aslan terkejut, ia kini merasa tenang
"tiap kali kau memanggilku peta, aku selalu merasakan kenyamanan, namun ketika orang lain memanggilku begitu, terasa sangat aneh," jelas arveta
"yah, berarti hanya aku yang boleh memanggilmu peta kan?" ucap aslan
arveta jawab dengan mengangguk
"bisakah kita seperti dulu lagi, atau mungkin lebih dekat" ucap arveta
"tentu saja" jawab aslan tersenyum
'mungkin kalau hubungan ini diserahkan kepada aslan tidak akan ada kemajuan, berarti memang harus aku yang membuat pergerakan' batin arveta
■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■□■
hari ini adalah masa orientasi, mereka akan menentukan ketua kelas dan lain lain
seorang wanita memakai jubah, terlihat muda berambut hitam panjang dan wajahnya yang memesona memasuki kelas dan berdiri di depan
"halo nama saya adalah alexa andreas, silahkan panggil saya proffesor andreas" jelas proffesor tersebut
"mulai hari ini aku akan menjadi wali kelas s" lanjut proffesor itu
"hari ini adalah masa orientasi, kita akan memilih ketua kelas ini, masing masing kelompok mengajukan satu orang yang akan menjadi ketua kita mulai dari tim 1"
aslan dengan pede menjawab
"tentu saja syahfa yang harus menjadi ketua"
sedangkan ketiga temannya menunjuk kepada aslan
"HAHHHHH!!??"
"baiklah siapa namanya" tanya proffesor andreas
"aslan" jawab mereka bertiga bersamaan
"sialan" umpat aslan
proffesor andreas menulis namanya di papan tulis
"lanjut tim 2"
"kami mencalonkan nona arveta" ucap lena, arka, dan teman sekelompoknya yang bernama raka
kemudian mereka terus berlanjut sampai tim ke sepuluh
"saya minta kesepuluh perwakilan untuk maju ke depan"
aslan membenturkan kepalanya ke meja yang ada di depannya 'sialan, kenapa jadi seperti ini' batin aslan
seluruh perwakilan sudah berada di depan, aslan berjalan malas
__ADS_1
ia kini sudah berada di depan
"pssst" panggil seseorang dari sampingnya siapa lagi kalau bukan arveta
"kuharap kau yang menjadi ketua dan aku menjadi wakilnya, agar kita memiliki waktu yang dimana hanya ada aku dan kamu" ucap arveta
"aku tidak ingin menjadi ketua, tapi kalau ada solusi dimana kita tetap berdua, aku akan lebih memilih itu" ucap aslan
arveta tersipu, wajahnya merah merona, wajah mereka kini berdekatan
"aku juga akan memilih itu" jawab arveta
"ehemm" dehem dari proffesor andreas yang membuat mereka tersadar bahwa mereka bukan satu satunya orang di kelas ini
"mari kita mulai"
proffesor itu menghentakkan kakinya ke lantai dengan irama
kemudian keluarlah sebuah bola kristal berwarna emas
"ini adalah bola kelayakan, bola ini bisa mendeteksi orang orang yang layak, sekarang kalian yang berada di depan peganglah bola ini"
mereka pun memegangnya
"dua nama yang disebutkan akan menjadi ketua dan wakil, nama yang disebutkan pertama akan menjadi ketua" ucap sang proffesor
hening...
kemudian bola itu mengeluarkan cahaya keemasan
dan cahaya itu membuat nama
"arveta arthos"
nama pertama yang diciptakan dari cahaya itu
"devan alexa"
nama kedua
"nama yang tidak tertulis harap kembali ke tempat"
mereka kembali ke tempat masing masing
dan aslan kembali ke tempat duduknya dengan wajah tersenyum kepada syahfa
senyum itu adalah senyum yang jahil
namun syahfa mengerti maksud dari senyum itu
'selanjutnya adalah giliranmu'
dan di depan tersisa dua orang
arveta dan seorang lelaki berambut hitam bernama devan
●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●○●
kini mereka telah berada di ruang makan
"wah, tidak kusangka kau tidak layak bersanding dengan putri arveta" goda rayner
aslan langsung menyumpal mulut rayner dengan sapu tangannya
"tidak baik untuk berbicara sambil makan, lebih baik kau makan sapu tangan ini" balas aslan
rayner pun melepehkan sapu tangan itu
"jujur saja sobat, kau cemburu kan?
kau iri kan dengan orang yang menjadi wakil ketua kelas itu" goda rayner
rayner mengetahuinya karena aslan hanya mengacak acak makanannya itu
"entahlah, mungkin"
"panggilan kepada seluruh ketua dan wakil ketua kelas 1 untuk berkumpul di ruang wakil kepala sekolah, dan panggilan untuk aslan azzuri dari kelas 1 untuk menuju ruang pribadi master taz gloria"
sebuah pemberitahuan dari toa atau apalah namanya yang berada di setiap pojokan dari semua ruangan
__ADS_1
"kau melakukan apa kali ini aslan?" tanya fanza
"hei, memangnya aku pernah melakukan apa?
kalau karena furnitur yang rusak di ruangan bk
bukankah itu juga kesalahan syahfa?"
"tidak, itu sepenuhnya kesalahanmu"
jawab syahfa
"eh, kalian menghancurkan apa?"
♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤♤
aslan sedang berjalan di lorong menuju ruangan
taz
"kau ada maslah apa sampai kau dipanggil ke ruangan master taz" tanya arveta yang tiba tiba datang dari sampingnya
karena tempat tujuan mereka memang searah
"entahlah nona arvy, mungkin ia memiliki dendam" jawab aslan cuek
arveta merasa kesal dan langsung mencubit pinggang aslan
"jangan panggil aku arvy,"
aslan merintih kesakitan
"auw memangnya kenapa?, semua orang memanggilmu seperti itu"
karena kesal arveta mendahuluinya,
namun aslan memegang tangannya
"peta!" panggil aslan
arveta menghentikan langkahnya dan memutar balikkan tubuhnya,
terlihatlah matanya yang berkaca, aslan dengan inisiatif memeluknya
"aku minta maaf, aku hanya bercanda"
"jangan pernah panggil aku arvy lagi" jawab arveta membalas pelukannya
"baiklah kita harus pergi sekarang"
"ceritakan kepadaku semuanya setelah kau keluar dari ruangan itu" ucap arveta
"pasti"jawab aslan
mereka berjalan menuju ruangan masing masing
aslan memasuki ruangan tersebut, dan melihat ruangan taz yang sangat luas
ada chandelier menggantung, dan empat sofa di tengah ruangan, dengan karpet di bawahnya
dan ada tangga menuju ruang kerjanya
beberapa rak buku disamping ruang tamu dan ruang kerjanya
namun
'sreet'
aslan menunduk sehingga serangan dari belakangnya tidak mengenai kepalanya
"maaf tuan azzuri, aku hanya menguji dirimu" ucap taz
"apakah hanya itu alasanmu memanggilku kemari" tanya aslan dengan dingin
"silahkan duduk"
mereka pun duduk saling berhadapan penghalang bagi mereka hanyalah meja
"aku hanya ingin mengetahui apakah kau sudah tau tentang kebenaran gemsmu atau belum" ucap taz
__ADS_1
"berarti kau tau tentang gems god?"