
Saat aku sudah hampir menangis, terdengar suara anak laki-laki dari belakangku.
Itu merupakan anak laki-laki yang aku tabrak saat hari pertama sekolah.
Terlihat saat ini dia sedang memegang sebuah tangan yang sepertinya merupakan tangan pelaku.
Dia berdiri di depanku saat ini dan berusaha melindungiku.
Saat ini dia sedang beradu mulut dengan pelaku itu.
Sang pelaku berusaha menyangkal perbuatannya, dan mengatakan bahwa aku hannyalah seorang gadis yang aneh, dia terus berteriak sehingga membuatku ketakutan.
Aku menggenggam ujung baju anak laki-laki itu dan berdiri di belakangnya untuk menyembunyikan diriku.
Tanganku bergetar karena terkejut dan ketakutan.
Tiba-tiba saja sebuah pukulan melayang ke wajah pelaku dan membuatnya terkejut.
Pukulan itu datang dari salah seorang penumpang laki-laki di bis ini.
Dia berteriak dengan marah kepada pelaku, dan berusaha menolak penyangkalannya.
Tindakan darinya sepertinya menggerakkan hati nurani orang-orang di bis ini.
Orang-orang mulai menyuarakan pendapatnya masing-masing untuk segera menangkap pelaku.
Pelaku yang merasa terancam pun berusaha melarikan diri, salah satu penumpang yang melihat itu pun berusaha untuk mencegahnya melarikan diri, tetapi dia gagal melakukannya dan membuat pelaku berhasil melarikan diri.
Beberapa penumpang yang melihat itu pun keluar dari dalam bis dan berusaha untuk mengejar dan menangkap pelaku.
"Apakah kau baik-baik saja?"
Tanya anak laki-laki itu dengan cemas kepadaku.
"Mmm..."
Aku menjawabnya dan menganggukkan kepalaku, saat ini tanganku masih menggenggam bajunya dan entah mengapa aku tidak ingin melepaskannya.
"Hei Nona, jangan terlalu dipikirkan, aku yakin saat ini pelaku itu pasti akan tertangkap dan akan segera dikirimkan ke dalam penjara".
"Iya, duduklah saat ini untuk menenangkan pikiranmu".
Para penumpang berusaha menghibur dan menenangkanku.
Aku duduk dalam diam dan tidak ingin berbicara.
"Untuk saat ini aku akan menemanimu sampai pulang ke rumahmu, bagaimana pun aku masih khawatir".
Ucap anak laki-laki itu, dan kemudian dia menanyakan alamat rumahku.
Aku memberitahunya dan membiarkan dia menemaniku sampai pulang ke rumah.
"Terima kasih".
__ADS_1
Setelah sampai di depan rumah, aku berterima kasih kepadanya dan menundukkan kepalaku kepadanya.
"Ya! Lain kali kau harus berhati-hati saat perjalanan pulang, banyak orang-orang jahat di luar sana, dan jika kau butuh sesuatu kau bisa mengatakannya kepadaku".
"Ya..."
"Bukankah kita satu sekolah? Namaku Russel Travis, aku berada di kelas 1-12 saat ini, dan siapa namamu?"
"Aku... Yuna Halliwell, saat ini aku berada di kelas 1-1".
"Yuna ya... senang berkenalan denganmu."
"Ya, aku juga, senang berkenalan denganmu".
Setelah itu, dia pun pergi dari sini. Aku masuk ke dalam rumahku dan langsung pergi ke dalam kamarku.
Kakiku yang tidak sanggup menopang tubuhku lagi saat ini langsung terjatuh ke atas ranjangku.
Aku benar-benar lelah saat ini, ditambah aku sangat terkejut dan takut akan kejadian tadi.
Entah mengapa saat hal itu terjadi, aku hanya berdiri dalam diam dan hanya bisa ketakutan.
Tanganku tidak dapat bergerak dan mulutku tidak bisa berbicara, aku benar-benar sangat ketakutan.
'Padahal aku seorang pria sebelumnya, kenapa aku bisa menjadi seperti ini?...".
Saat aku sedang termenung, terdengar suara pintu kamarku terbuka.
Itu suara kakakku, sepertinya dia sudah pulang ke rumah, suara nya terdengar khawatir saat ini, Kak Andro juga berada di belakangnya.
Saat aku melihat kakakku, air mata yang telah aku tahan akhirnya meluap keluar, aku langsung pergi memeluknya dan menangis di dalam pelukannya.
"UWAHHH....!!! hiks... hiks..."
"Yosh-yosh, aku ada di sini, kau bisa tenang sekarang".
Kakakku mengelus rambutku perlahan, itu membuatku sangat nyaman dan menenangkan.
...........
"Hiks...hiks..."
"Aku mendapat pesan dari salah satu temanku, dia mengatakan bahwa kamu diserang saat pulang, saat mengetahui itu aku langsung pulang bersama Andro".
Setelah merasa aku sudah mulai tenang, kakakku bercerita kepadaku, sepertinya dia mendapatkan pesan dari salah satu temannya yang melihatku.
"Maafkan aku..., mulai besok aku akan pastikan menemanimu saat pulang, ini salahku karena meninggalkanmu sendirian...".
"Itu bukan salah kakak, itu salahku karena ceroboh dan membuat itu terjadi".
"Itu bukanlah kesalahanmu, bagaimana pun itu merupakan tugas seorang kakak untuk melindungi adiknya dan itu gagal aku lakukan".
"T-tetapi-".
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu di salahkan".
Andro yang dari tadi diam mendengarkan pun akhirnya mulai berbicara.
"Jadikan ini pelajaran untuk ke depannya untuk selalu berhati-hati, dan untuk Yuna, pastikan untuk menunggu kami sebelum kamu pulang, jangan berusaha pulang sendiri jika ingin ini tidak terjadi lagi".
"Y-ya... terima kasih Kakak dan Kak Andro".
Malam pun tiba, saat ini Kak Andro telah pulang ke rumahnya.
Ibu dan ayahku pun sudah pulang ke rumah.
Saat ini kami sedang berada di meja makan, dan sedang makan malam bersama.
Aku meminta tolong kepada kakakku untuk tidak menceritakannya kepada kedua orang tuaku agar tidak membuatnya khawatir, dan kakakku pun menyetujuinya.
Kami pun makan malam seperti biasanya, dan orang tua kami hanya menanyakan mengenai hari sekolah kami saat ini.
Aku dan kakakku pun menceritakannya seperti biasa.
Selesai dengan makan malam, aku membantu ibuku mencuci piring.
Setelah itu aku dan kakakku pun pergi ke dalam kamar.
Karena sudah merasa sangat lelah, aku pun langsung tertidur lelap.
...........
Keesokan harinya, aku masuk sekolah seperti biasanya bersama kakakku dan kak Andro.
Kami bercanda di dalam mobil, dan seperti biasa Kak Andro selalu terbully olehku, entah mengapa sungguh sangat menyenangkan untuk membullynya.
Sampai di sekolahku, aku kemudian berpisah dengan kakakku dan kak Andro.
Kemudian aku masuk ke dalam kelasku dan belajar seperti biasanya lagi.
Aku tidak menceritakan kejadian kemarin karena aku tidak ingin membuat teman-temanku khawatir, tetapi itu percuma karena mereka tahu akan hal itu.
Mungkin karena ada beberapa orang di bus itu yang melihatku juga.
Teman-temanku khawatir denganku, dan aku mengatakannya kepada mereka sambil tersenyum bahwa aku baik-baik saja, aku tidak ingin membuat mereka khawatir, terutama untuk Violet.
Violet sangat khawatir terhadapku, sebagai temannya tentu saja aku merasa senang karena dia khawatir terhadapku, tetapi aku berharap itu tidak berlebihan dan membuatnya terpikirkan terus menerus.
...........
[TETTT-TETTT SELURUH PELAJARAN HARI INI TELAH SELESAI, SAMPAI JUMPA BESOK PAGI DENGAN SEMANGAT BELAJAR BARU TETTT-TETTT]
Bel pun berbunyi menandakan bahwa pelajaran hari ini telah selesai.
Seperti janjiku, saat ini aku sedang menunggu kakakku dan kak Andro untuk pulang bersama, setelah kejadian itu aku menjadi takut untuk pulang sendiri.
Saat ini entah mengapa Violet juga menunggu bersamaku, sepertinya dia masih khawatir terhadapku.
__ADS_1