
Aku Yuka Halliwell, seorang ibu dari dua anak.
Namaku sebelumnya adalah Kaminata Yuka, Aku berasal dari kepulauan Hakka, kepulauan yang terdapat di sebelah selatan benua ini.
Cuaca di sana cukup dingin jika dibandingkan dengan Altera.
Aku datang ke benua ini karena dikirim sebagai perwakilan pelajar SMA dari kepulauan Hakka, terdapat program pertukaran pelajar di sekolahku, dan aku terpilih sebagai perwakilan. Keluargaku cukup miskin jadi aku berusaha untuk mendapatkan beasiswa agar dapat terus melanjutkan pendidikan.
Sehingga hampir seluruh hidupku hanya dihabiskan waktunya untuk belajar dan belajar, tidak ada waktu bermain, berteman dengan orang lain, sosialisasi dan bahkan urusan percintaan.
Aku merupakan anak satu-satunya dari orang tuaku, sehingga mereka menyimpan harapan yang besar terhadapku, tetapi sayangnya mereka tidak dapat melihatku lagi, karena mereka sudah meninggal.
Mereka meninggal saat aku dikirim ke benua Altera, aku mendengar dari tetanggaku yang di kepulauan Hakka bahwa orang tuaku sudah meninggal.
Mereka meninggal karena kecelakaan lalu lintas saat bekerja.
Mereka bekerja demi aku, dan aku berusaha untuk memenuhi harapan mereka terhadapku.
Aku merasa sangat bersalah terhadap orang tuaku, mereka terus bekerja demi aku, hingga mereka akhirnya meninggal sebelum aku dapat membahagiakan mereka.
Aku diberi kesempatan untuk pulang oleh perusahaan yang menyediakan sponsor pertukaran pelajar dan menghadiri upacara pemakaman kedua orang tuaku.
Saat upacara pemakaman tidak terdapat satu pun saudara atau sepupu yang hadir di upacara tersebut, aku bahkan tidak mengenal mereka karena aku juga belum pernah bertemu dengan mereka, dan aku bahkan ragu apakah mereka ada atau tidak.
Pemakaman hanya dihadiri oleh para tetangga, beberapa teman sekolahku dan orang-orang yang pernah mengenal orang tuaku.
"Kasihan sekali anak itu, dia langsung ditinggal kedua orang tuanya begitu saja...".
"Benar, apalagi dia bahkan tidak mempunyai saudara atau sepupu yang memedulikannya".
"Apa yang dilakukan orang tua mereka sehingga dijahui oleh keluarga mereka sendiri?"
"Entahlah, mungkin mereka mempunyai sifat yang buruk di baliknya".
"Mungkin saja begitu".
Aku mendengar bisikan-bisikan itu di sekelilingku, mereka terus berbicara terhadapku dan orang tuaku, bahkan ketika kedua orang tuaku sudah meninggal mereka masih saja berbicara mengenai hal buruk terhadap orang tuaku.
Sepertinya mereka juga sudah meninggal seperti orang tuaku, tetapi bukan tubuhnya yang meninggal tetapi perasaan dan hatinya yang mati.
Mereka bahkan berbicara seperti itu di dekatku, dan sepertinya mereka tidak menyadari bahwa aku masih dapat mendengar pembicaraan mereka, itu benar-benar membuatku muak.
Tetapi hal yang lebih membuatku muak segera datang setelah itu.
"Kami turut berduka cita ya Yuka".
__ADS_1
"Ya... jika ada yang kau perlu, kau bisa mengatakannya kepada Bibi".
"Benar, kau sudah seperti anak kami sendiri".
"Ini ada sedikit bantuan kepadamu".
"Terima kasih".
"Ya, sama-sama".
Mereka berbicara buruk mengenaiku dan orang tuaku di belakangku, tetapi mereka pura-pura baik di hadapanku, mereka hanya berpura-pura bersimpati terhadapku agar mereka terlihat baik di mata orang lain, mereka hanya memanfaatkan kematian orang tuaku untuk memperbaiki topeng mereka.
Mereka butuh topeng yang bagus dan tebal untuk menutupi fasad mereka yang jelek dan buruk.
Senyuman mereka palsu, tindakan mereka hannyalah pura-pura dan simpati mereka hannyalah sebuah kebohongan.
Teman-temanku juga sama dengan mereka, tidak pantas menyebut mereka teman, mereka hannyalah orang yang kebetulan kami kenal karena berada di kelas yang sama, aku jarang bersosialisasi, aku hanya terus fokus untuk belajar sehingga tidak mungkin aku mempunyai teman.
"Yuka, kami semua turut berduka cita terhadap kematian orang tuamu".
"Ya, jika terdapat kesulitan kau bisa selalu menceritakannya terhadap kami".
"Ya, itu benar".
"Kami akan selalu ada untukmu, karena kami merupakan temanmu".
Mereka bahkan tidak pernah berbicara denganku sebelumnya, mereka juga yang menghasut orang-orang yang aku kenal di kelas untuk menjauhiku.
Terkadang aku tidak sengaja mendengar mereka berbicara buruk mengenaiku.
"Hei... lihat anak itu, meskipun dia cantik bukankah dia hanya seorang kutu buku".
"Benar, aku pernah mencoba untuk berbicara dengannya tetapi tanggapannya sungguh membosankan".
"Aku juga bingung mengapa para laki-laki sangat menyukainya".
"Kau benar, kemarin saat kencan pacarku bertanya mengenainya kepadaku, bukankah itu benar-benar membuatku kesal?"
"Wah! Aku tidak menyangka itu".
"Mungkinkah sebenarnya dia adalah seorang gadis murahan yang hanya mengandalkan kecantikannya saja untuk mendapatkan hati para laki-laki?"
"Kau benar, mungkin saja dia sudah menjual tubuhnya untuk mendapatkan uang, aku dengar keluarganya cukup miskin".
"Haha kau benar, mungkin saja dia dapat masuk ke sekolah ini karena hasil menjual tubuhnya dan dia hanya berpura-pura menjadi seorang kutu buku agar terlihat pintar tetapi dia sebenarnya adalah orang yang sangat bodoh?".
__ADS_1
"Kau mungkin benar".
"""Hahahaha"""
Mereka bahkan berbicara cukup keras di depanku dan sengaja agar aku dapat mendengarnya.
Selain itu, mereka bahkan menyebarkan rumor buruk terhadapku yang suka bermain dengan laki-laki dan memanfaatkannya.
Akibatnya rumor tersebut hampir diketahui oleh seluruh murid di sekolah.
Orang-orang mulai menjauhiku karena itu, orang yang membenciku semakin membenciku, orang yang baik kepadaku hanya dapat diam agar tidak dapat dibenci oleh mereka yang membenciku, dan ada beberapa orang yang memilih netral dan menutup mata terhadap hal ini.
Beberapa guru bahkan sudah mengetahuinya dan pandangan mereka berubah menjadi buruk terhadapku, dan bahkan pernah berusaha melecehkanku.
Hal yang sama juga terjadi terhadap murid laki-laki yang lain.
Pergi ke sekolah setiap pagi bagaikan pergi ke neraka setiap harinya bagiku.
Sehingga terdapat suatu titik aku malas untuk pergi bersekolah karena tindakan mereka yang semakin hari semakin buruk terhadapku.
Bukan hanya melalui perkataan saja mereka menyakitiku tetapi sudah mulai terdapat tindakan secara fisik.
Aku bahkan berpikir untuk mengakhiri hidupku.
Aku sudah tidak kuat lagi, saat aku mati juga, tidak akan ada yang menangis untukku.
Mungkin mereka akan lebih bahagia ketika aku mati.
Teman hannyalah sebuah angan-angan bagiku, aku dapat terus belajar hingga aku dapat mencapai dan menginjakkan kaki di bulan tetapi aku tidak dapat terus belajar untuk mendapatkan teman.
Teman tidak dapat datang begitu saja di dalam kehidupan seseorang walaupun mereka sudah sangat berusaha untuk mendapatkannya.
Teman hanya dapat datang bagi mereka yang ditakdirkan untuk mendapatkannya, keberuntungan bagi mereka yang mendapatkan takdir itu, dan kesialan bagi mereka yang dihindari oleh takdir.
Terkadang kita berusaha untuk mendapatkan teman, tetapi yang kita dapat bukanlah seorang teman melainkan beribu-ribu musuh yang kita dapatkan.
Kita berusaha baik di depan orang lain tetapi di mata mereka, kita terlihat sangat buruk.
Orang-orang yang sudah membenci dan memusuhi kita akan mengajak orang lain untuk membenci, memusuhi dan tidak menyukai kita.
Sedangkan orang yang awalnya baik terhadap kita hanya akan diam dan akhirnya sedikit demi sedikit ikut dengan mereka yang memusuhi kita.
Semua yang aku kenal pada akhirnya akan merasa menyesal, segera menjauhiku, dan membenciku.
Aku memang ditakdirkan untuk selalu sendiri.
__ADS_1
Tetapi hidupku berubah sejak saat itu, yaitu sejak aku bertemu dia, suamiku saat ini, Antonio Halliwell.