Aku Bereinkarnasi Tetapi Menjadi Seorang Gadis?!

Aku Bereinkarnasi Tetapi Menjadi Seorang Gadis?!
Chapter 29. Sulitnya Menjadi Seorang Gadis


__ADS_3

Setelah itu ibu mengajariku menggunakan pembalut.


"Yosh, sudah selesai."


"Urghh..."


"Ingat, saat kau membuangnya, usahakan bungkus dengan plastik terlebih dahulu".


"Kenapa?"


"Tentu saja, itu privasi, dan juga untuk mengurangi bau serta menjaga kebersihan".


"Baiklah... aku akan ingat untuk membungkusnya sebelum aku buang".


"Bagus".


"Haa...."


Memakainya membuatku tidak nyaman saat aku berjalan.


'Sepertinya aku harus terbiasa dengan ini...'


"Kau harus terbiasa dengan ini, ini akan datang setiap bulan kau tahu?"


"Urgh... t-tentu saja..."


"Hahahaha, itulah sulitnya menjadi seorang wanita... jadi apa yang kau rasakan saat menstruasi pertama mu? Apakah kau sakit?"


"Ya... bagian sekitar perutku sangat sakit dan mulas, dan tidak tahu mengapa... aku merasa sangat pusing dan sakit kepala..."


Saat aku mengatakan itu, aku sudah tidak dapat lagi menopang tubuhku, aku hampir terjatuh, tetapi untung saja terdapat ibuku yang menahannya.


Ibuku terlihat khawatir, dia lalu menyentuh bagian keningku untuk memeriksa suhu tubuhku.


"Wahh ternyata panas, kau demam... ternyata gejala menstruasimu cukup parah... ayo, ibu bawa kamu ke tempat tidur terlebih dahulu."


Setelah itu ibuku menggendongku seperti gendongan seorang pangeran menggendong seorang putri dan kemudian dia menaruhku di atas tempat tidurku, atau lebih tepatnya tempat tidur kakakku yang terdapat di bawah, karena tidak dimungkinkan untuk membawaku ke atas.


"Hah... hah... hah... i-ibu... s-sakit... hah... hah..."


"Tunggu sebentar, akan ibu ambilkan obat terlebih dahulu."


Ibuku pun kemudian perlahan-laham berjalan pergi dan menjauh dari pandanganku untuk mengambil obat.


"Urgh..."


'Apakah aku benar-benar harus mengalami ini setiap bulan?'


"Hah... tidak aku sangka menjadi perempuan benar-benar sulit".


'Aku benar-benar menganggap remeh kehidupan seorang perempuan saat kehidupan masa laluku, sepertinya ini adalah sebuah karma bagiku'.


Yuna benar-benar menyesal karena telah menganggap remeh kehidupan seorang perempuan saat dia mengalaminya sendiri.


Tidak lama kemudian, Yuka datang membawa obat dan plester demam untuk putrinya.


Obat yang dibawanya merupakan Analgesik seperti ibuprofen atau naproxen sodium. Obat-obatan ini dapat membantu mengurangi nyeri perut, kram, dan peradangan yang terkait dengan menstruasi.


Dia juga membawa obat Parasetamol. Obat ini juga dapat membantu meredakan nyeri perut ringan hingga sedang selama menstruasi, dan untuk membantu menurunkan suhu tubuh saat demam.


Parasetamol digunakan untuk meredakan gejalanya, bukan mengobati penyebabnya, ini hannyalah salah satu bentuk pencegahan.


"Minum ini, dan tidurlah...".


"Ya, terima kasih bu..."


Setelah itu aku meminum obat yang dibawakan ibuku, terdapat dua macam obat yang dibawanya, sepertinya salah satunya merupakan parasetamol, tetapi aku tidak mengetahui obat salah satunya lagi.


Kemudian ibuku menempelkan sebuah plester di dahiku, itu terasa dingin dan nyaman.


"Selamat tidur putriku."


"T-tapi bagaimana dengan sekolahku?"


"Tidurlah, ini juga sudah terlambat, jangan khawatir, ibu akan menghubungi wali kelasmu dan meminta izin kepadanya".


"T-tapi...'


"Tidurlah".


"Unh".


Ibuku menatapku dengan tatapan yang cukup mengerikan, itu membuatku takut, ibu memang makhluk yang menakutkan.


[MUACH] *sfx suara ciuman


"Tenanglah putriku, dan tidurlah, ibu akan selalu menjagamu..."


Sebelum ibuku pergi dia mencium pipiku terlebih dahulu, itu menandakan kasih sayangnya terhadapku.


Aku pun terdiam dengan tindakan ibuku, dan perlahan-lahan sudut bibirku naik membentuk senyuman kecil.


'Aku sangat bersyukur dapat terlahir kembali dan dianugerahi keluarga yang harmonis, terima kasih...'


Yuna yang sudah tidak dapat menahan kantuknya lagi pun perlahan-lahan memejamkan matanya, kelopak matanya perlahan-lahan turun, sebelum dia akhirnya tidur.


...........


Rasiel (Matahari) telah berganti dengan Stella dan Starla (Bulan) dan bintang-bintang mulai bermunculan di langit.


Malam pun tiba dan hari menjadi lebih gelap.


Aku pun bangun dari tidurku, dan perlahan-lahan mengangkat kelopak mataku.


"Sepertinya aku tertidur cukup lama."


Aku tertidur dari pagi sampai malam hari, hampir sekitar 12 jam aku tertidur.


Saat bangun, rasa sakit di tubuhku sudah cukup mereda, hingga hanya terasa sedikit sakit saja.


"Sepertinya sudah tidak terlalu sakit".


Masih terdapat rasa tidak nyaman di selangkanganku, dan aku sangat haus sekarang.


"Urgh..."


Aku pun berjalan ke arah dapur, mencari air untuk kuminum.

__ADS_1


Aku melihat ibuku sedang menyiapkan makan malam di dapur serta ayah dan kakakku di ruang tamu sambil menonton televisi, sepertinya mereka sedang menonton pertandingan sepak bola bersama-sama.


'Dasar ayah dan anak, sama saja...'


Aku juga sebelumnya seorang laki-laki, jadi aku sedikit memahami mereka.


Melihatku datang untuk mencari air, ibuku pun berbicara kepadaku.


"Ara~ kau sudah bangun, apakah masih terasa sakit?"


"Tidak".


"Baguslah".


Kemudian ibuku kembali menyentuh dahiku untuk merasakan suhu tubuhku.


"Hmm sudah tidak panas, jika begitu pergi mandi dan bersihkan tubuhmu, dan makan setelah itu, ibu memasak stew untukmu."


"Benarkah?!!"


"Yaa..."


"Yey!"


Ibuku memasak makanan kesukaanku malam ini, itu benar-benar membuatku sangat senang.


"Sana pergi mandi, ingat untuk mengganti pembalutmu dengan yang baru seperti yang sudah ibu ajarkan, dan jangan lupa sebelum membuangnya kau harus membungkusnya terlebih dahulu".


"Yaaa".


Kemudian aku pun berjalan menuju ke kamar mandi.


Masuk ke dalam kamar mandi, aku pun kemudian mulai menanggalkan pakaianku satu persatu hingga tidak terdapat sehelai pun pakaian yang tersisa di tubuhku.


Saat ini tubuh telanjangku sedang terekspos di depan mataku sendiri.


Aku sudah terbiasa saat melihatnya, jadi aku tidak merasakan apa pun saat melihat tubuhku sendiri.


Melihat tubuhku sendiri menyadarkanku lagi bahwa aku saat ini benar-benar telah berubah.


Aku merupakan seorang laki-laki di kehidupanku sebelumnya, kemudian aku diterkam oleh sekalompok anjing sebelum akhirnya mati dan terlahir kembali menjadi seorang gadis.


Itu benar-benar membuat dilema dalam diriku.


Di satu sisi diriku, aku masih belum menerima diriku menjadi seorang gadis, aku takut jika aku jatuh cinta dengan seorang laki-laki nanti.


Di sisi lainnya, aku sudah menerima kehidupanku saat ini, bersyukur karena telah terlahir dalam keluarga yang harmonis dan berusaha menikmati kesempatan yang telah diberikan ini.


"Hah... aku tidak tahu harus bagaimana..."


Aku menghela nafas melihat keadaanku sendiri.


Saat ini aku sedang membersihkan darah yang berada di bagian itu.


Terdapat darah di selangkanganku, melihatnya membuatku lemas lagi.


Aku pun menutup mata sambil membersihkannya, dan sesekali mengintip untuk mengeceknya kalau aku benar-benar sudah membersihkan semuanya.


Selesai mandi dan membersihkan tubuhku, aku pun kembali mengenakan pembalut seperti yang diajarkan ibuku.


Ibuku sudah menyiapkannya di kamar mandi, sungguh ibu yang benar-benar pengertian.


Aku pun melilitkan handuk untuk menutupi tubuhku sebelum akan berjalan keluar.


Tetapi saat aku melilitkannya...


"Kyaa!"


Saat bagian handuk itu mengenai bagian ujung payudara dan ter gesek di antaranya, itu benar-benar menimbulkan reaksi yang aneh.


Tanpa sadar aku mengeluarkan suara aneh dari mulutku.


Itu benar-benar memalukan, aku berharap mereka tidak mendengarnya di luar.


Aku pun mengecek payudaraku dan memegangnya, ternyata benar, bagian itu menjadi lebih sensitif.


Ujungnya menegang dan sedikit keras dari biasanya.


"Urgh... ah..."


Memegangnya benar-benar membuatku sedikit ketagihan.


"Ah!"


'Apa yang telah kulakukan? Dasar mesum, sadarlah!'


[PLAK] *sfx suara tamparan


Aku pun kemudian menampar diriku sendiri untuk menyadarkanku.


Aku tidak boleh jatuh ke dalam nafsu semudah itu.


Jika kau telah jatuh ke dalam nafsu, itu tidak akan mudah untuk keluar dari lingkaran nafsu itu, dan kau akan mengulanginya terus menerus.


Aku telah merasakannya di kehidupanku sebelumnya, jadi aku tidak akan membiarkan kali ini terjadi lagi agar tidak membuatku menyesal.


Kemudian aku pun melilitkan handukku kembali sebelum akhirnya berjalan keluar dari kamar mandi.


Aku berjalan melewati dapur, dan terlihat kakak dan ayahku yang telah duduk di kursi makan menunggu makan malam.


Sepertinya ibuku hampir selesai memasak makan malamnya.


Sayang sekali hari ini aku tidak dapat membantunya.


"Ah... kau telah bangun Yuna, bagaimana keadaanmu?"


Tanya ayahku dengan tatapan khawatir saat melihatku.


"Aku khawatir kau tidak datang ke sekolah tadi, teman-temanmu juga menanyakanmu".


Lanjut kakakku yang juga khawatir terhadapku.


"Aku sudah baik-baik saja, sekarang sudah tidak terlalu sakit lagi".


Aku mengatakannya kepada mereka agar mereka tidak perlu khawatir lagi.


"Ngomong-ngomong aku mendengar teriakan aneh darimu dari kamar mandi, apakah telah terjadi sesuatu?

__ADS_1


Tanya kakakku dengan muka polosnya, itu benar-benar membuatku kesal.


'Ah... ternyata suaraku terdengar keluar... ha...'


"Tidak terjadi apa-apa kok kak..."


Aku pun menatap kakakku dan tersenyum kepadanya.


Tetapi tidak tahu mengapa, reaksi yang diberikannya adalah reaksi ketakutan.


"Apakah terdapat sesuatu yang aneh di wajahku?"


"T-tidak".


"Oh, baguslah jika begitu".


Aku pun kemudian berjalan pergi dari dapur, dan berjalan menuju ke kamarku.


'Dasar kakak yang tidak peka sama sekali, aku yakin dia akan sulit menemukan seorang pacar nantinya.'


...........


"Haha, sepertinya kau membuat Yuna kesal".


Ucap Antonio kepada putranya yang masih tertegun.


"Jangan terlalu menggoda adikmu".


Lanjut Yuka sambil membawa makan malam ke atas meja.


"T-tapi aku tidak menggodanya..."


Yuno yang tidak mengetahui apa pun hanya bisa bingung dengan keadaan yang di alaminya, dia hanya khawatir kepada adiknya saja dan tidak mempunyai maksud lain.


"Sudah-sudah, Yuno..."


"Ya, ayah?"


"Perempuan menjadi sedikit lebih sensitif saat mereka menstruasi, jadi kau harus berhati-hati di dekatnya."


"Y-ya..."


Tidak lama kemudian pun Yuna datang untuk makan malam.


Makanan hangat sudah tersaji tepat di depan matanya, itu membuatnya tidak dapat lagi menahan laparnya setelah tertidur kurang lebih 12 jam.


Apalagi terdapat makanan favoritnya yang tersaji di depannya.


Aroma stew telah memenuhi penciumannya.


"Sa~ mari makan." Ucap Yuka kepada keluarganya


"""""Selamat makan"""""


"Ummm, ewnak swekali, mwakwanan wibu bwenar-bwenar yang twerbaik".


Ucap Yuna dengan mulut penuh.


"Jangan berbicara dengan mulut penuh Yuna."


Antonio mengingatkan putrinya, dan tersenyum dengan tingkahnya.


"Yaaa."


"Benar, makanan ibu benar-benar yang terbaik".


Yuno ikut memuji makanan ibunya, tetapi tidak dengan mulut penuh seperti Yuna.


"Ibu senang mendengarnya".


Yuka yang melihat keluarganya begitu menikmati makanan yang disiapkannya pun tersenyum hangat kepada mereka.


"Ummm, enak sekali..."


Yuna masih tidak dapat berhenti memakan stew buatan ibunya.


"Hahaha, makan yang banyak agar tumbuh menjadi gadis yang cantik putriku".


Ucap Yuka melihat tingkah putrinya yang memakan stew buatannya dengan lahap.


"Yaaa!"


Meja makan pun dipenuhi dengan canda dan tawa.


Makan malam berlangsung dengan hangat dan tenang. Ayah dan kakak Yuna juga terlibat dalam percakapan ringan, membuat suasana semakin menyenangkan. Yuna merasa beruntung memiliki keluarga yang selalu mendukung dan peduli padanya.


"Jadi apakah kau sudah memiliki pacar? Ibu yakin kau harusnya sudah memiliki satu atau dua pacar..."


Yuka pun tiba-tiba menanyakan pertanyaan itu kepada putrinya.


Yuna pun terkejut dengan pertanyaan ibunya dan diam tertegun.


Dia sudah berusaha melupakan itu sejak berada di kamar mandi, tetapi ibunya kembali mengingatkan sesuatu yang mengerikan kepadanya.


"I-itu tidak akan!"


"Hee~ kenapa? Padahal ibu juga ingin melihat calon menantu ibu nantinya~".


"Aku bilang tidak akan ya tidak akan! Dan juga aku sudah lelah menolak semua permintaan mereka yang datang terus menerus".


"Wah... jadi putri ibu mendapat banyak sekali pacar~ tidak aku sangka putri ibu akan disukai banyak orang~".


"Bukan seperti itu!"


Wajah Yuna pun memerah karena malu dan marah terhadap ibunya yang terus menerus menggodanya.


Sedangkan kedua laki-laki yang melihat tindakan mereka hanya bisa duduk terdiam.


"Ayah bukankah kita harus berhati-hati dan jangan terlalu menggoda perempuan yang sedang sensitif?"


Sambil berbicara dengan tenang, Yuno pun bertanya kepada ayahnya yang sedang menikmati makanannya.


Antonio pun membuka mulutnya dan berbicara kepada putranya.


"Itu tidak berlaku bagi sesama perempuan."


"Ah... begitu."

__ADS_1


Makan malam pun dilanjutkan dengan Yuka yang terus menggoda putrinya dan para laki-laki hanya bisa diam melihat tingkah mereka.


Malam yang sungguh hangat dan bahagia bagi keluarga Yuna.


__ADS_2