
Sudah seminggu berlalu sejak kejadian itu.
Sejak hari itu, kakakku benar-benar jarang meninggalkanku sendirian, entah itu saat istirahat sekolah atau saat pulang sekolah.
Dia sangat menempel kepadaku sehingga membuatku terganggu dengannya.
Aku tahu dia mengkhawatirkanku tetapi ini terlalu berlebihan.
Kak Andro hanya mengikuti di belakang kakakku dan mengamati tingkah lakunya.
Violet juga terus berada di sekitarku, dan ketika ada laki-laki yang mendekat kepadaku, mereka berdua akan menatapnya dengan tatapan membunuh.
Sepertinya kakakku saat ini mengidap penyakit sister complex, aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi mengenainya.
Seorang kakak yang terlalu over protektif dan seorang sahabat yang selalu menempel kepadaku.
Bahkan Steve dan Astra yang mengetahui hal ini tertawa ketika aku menceritakannya.
"Arghhh! Bisakah kalian hentikan itu?! Berhenti menempel kepadaku terus menerus, apakah kakak tidak memiliki kegiatan sekolah?!"
Karena aku sudah tidak tahan dengan tindakan mereka berdua, akhirnya aku memarahi mereka.
'Kesabaranku telah habis'.
"Eh? Y-ya tentu saja a-aku punya, t-tapi aku meninggalkannya...".
'Hah?! Apa yang dipikirkan kakak bodoh ini?!'
Aku tidak habis pikir dengan tindakannya, dia benar-benar meninggalkan pelajaran atau pun kegiatannya hanya untuk menempel kepadaku.
Aku tidak masalah jika itu hanya mengantarkanku pulang, tetapi dia benar-benar menempel kepadaku, itu benar-benar menggangguku.
"Kau juga Violet, kenapa kau terus menggandeng tanganku?"
Tanyaku kepada Violet yang terus menggandeng tanganku.
Dia melakukannya sejak kejadian itu juga, sama seperti kakakku.
"E-ermm... yaa, a-aku hanya t-tidak ingin melepaskanmu?"
"Hah? Kenapa kau bertanya? Dan juga, berhenti terus menggandeng tanganku sepanjang waktu!"
'Aku benar-benar kehabisan akal dengan mereka berdua'.
"Dengar kalian berdua, aku tahu kalian mengkhawatirkanku, tetapi ini terlalu berlebihan, itu membuatku tidak nyaman".
""Maaf...""
Aku menasihati mereka, dan mereka berdua sadar akan perbuatannya sehingga mereka meminta maaf kepadaku.
__ADS_1
[TETTT-TETTT, BEL TANDA MASUK TELAH BERBUNYI, UNTUK SELURUH MURID DIPERKENANKAN MEMASUKI KELAS, TERIMA KASIH, TETTT-TETTT]
"Bel sudah berbunyi, sebaiknya kakak segera masuk".
"Ya, kalau begitu ayo masuk".
""Ya""
...........
Kami pun segera pergi dan memasuki kelas kami masing-masing.
Pelajaran dimulai seperti biasa.
Mata pelajaran pertama merupakan, mata pelajaran matematika.
'Permai- maksudku pelajaran ini benar-benar seru dan menyenangkan'.
Matematika adalah pelajaran yang sangat menyenangkan dan seru, tidak seperti pelajaran lain yang membosankan dan hanya terbatas pada menghafal.
Di matematika, kamu akan di paksa untuk berpikir bagaimana caranya untuk menemukan jalan keluar, ini seperti menyelesaikan labirin.
Terdapat banyak jalan yang bisa di lalui, ada yang terdapat jalan buntu dan ada yang terdapat jalan keluar.
Jalan keluar juga tidak hanya terdapat satu, bahkan di dalam beberapa soal yang aku tahu, di dalamnya terdapat lebih dari satu jalan keluar.
Jalan keluarnya juga bermacam-macam, ada yang seperti jalan pintas atau bahkan ada yang terdapat jalan memutar.
Di jalan memutar, kamu akan dapat mengetahui banyak hal, terdapat banyak hal di sekelilingnya, sehingga aku mengerti banyak hal, sedangkan di jalan pintas tidak terdapat hal seperti itu.
Itulah kelebihan jalan memutar, tetapi karena jalannya memutar, kamu akan menghabiskan lebih banyak waktu untuk memutarinya, sedangkan jika menggunakan jalan pintas kamu akan dapat keluar dari labirin dengan cepat.
Masing-masing jalan mempunyai kelebihan dan kekurangannya masing-masing, jadi itu tergantung selera orang untuk memilihnya.
'Inilah bagaimana caraku menganalogikan matematika, menyenangkan bukan?'
Materi yang di ajarkan oleh guruku saat ini merupakan materi dasar aljabar menurutku, seperti perpangkatan dan akar.
Seperti berbagai macam bentuk aljabar dan cara untuk mengoperasikannya.
Saat ini guruku memberikan latihan soal kepada kami untuk mengerjakannya.
Latihannya cukup mudah untukku, bentuk soalnya seperti (a+b)^2 \= ? Atau a^m.a^n \= ? Dan beberapa soal penjumlahan dan pengurangan.
"Arghh... kenapa pelajaran matematika di SMP terdapat huruf?!"
Saat aku sedang mengerjakan soal yang diberikan, aku mendengar teriakan kecil dari belakangku.
Saat aku lihat, itu adalah teman sekelasku yang bernama...
__ADS_1
'Ermm, siapa namanya? Etto, jika aku tidak salah, orang-orang menyebutnya si pria otot'.
Seperti sebutannya, anak laki-laki ini memang sedikit berotot di bandingkan anak laki-laki lain di kelas ini.
Sebutan itu dia dapat kan dari Bu Linda, itu benar-benar sangat lucu.
Rambutnya berwarna merah gelap dan berantakan, matanya menatap tajam dan kesal ke arah bukunya.
Aku pun berbalik badan dan melihatnya yang sedang kesulitan, dia mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustrasi.
'Melihatnya yang seperti itu, membuat aku tidak tega untuk meninggalkannya, bagaimana kalau aku membantunya?'.
Melihatnya seperti ini, mengingatkanku pada diriku di kehidupan sebelumnya, saat aku belum jatuh cinta dengan matematika dan sangat membencinya.
Tidak ada teman yang mengajariku saat itu, membuat aku harus belajar sendiri dengan usahaku.
Saat aku bertanya kepada guru, dia akan mengatakan "Apakah kau tidak memperhatikan kelas?", itu membuatku malas untuk bertanya lagi sejak saat itu.
Mereka hanya mementingkan dirinya sendiri, ketika dia sudah selesai menjelaskannya kepada kami mereka akan berhenti, urusan mengerti atau tidak itu merupakan urusan para murid sendiri masing-masing.
Itu merupakan tipe guru yang aku benci, menurutku guru merupakan orang yang mengajari dan membimbing para murid menjadi orang yang sukses.
Terkadang saat mengajari seseorang, para guru akan langsung melepaskan muridnya sesaat mereka selesai menjelaskan pelajarannya sehingga membuat muridnya terjatuh, tetapi ada juga beberapa guru yang melepaskannya perlahan sehingga para murid tidak terjatuh.
Tidak semua guru seperti itu, dan jika itu ada, tugas kita sebagai orang yang mengerti adalah membantu temannya yang tidak mengerti.
"Hei... ini harusnya a^m+n bukan a.a^m.n itu salah, lihat... kau mencatat rumusnya di sini, jika kau tidak mengerti aku sarankan untuk melihat rumusnya, dan jika kau masih tidak mengerti, kau bisa bertanya kepadaku, aku akan menjelaskannya kepadamu".
"A-ah! T-terima kasih...".
"Ya, sama-sama".
Selesai mengajarkannya aku kembali ke tempatku dan kembali mengerjakan latihan soalku.
Melihat hal itu, Violet terlihat sedikit kesal, aku tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi.
"Ada apa Violet?".
Karena penasaran aku pun bertanya kepadanya.
"T-tidak, aku hanya ingin tahu, apakah kau bisa mengajariku juga?"
'Ohh ternyata hanya itu, sepertinya dia juga kesal dengan pelajaran matematika'.
"Tentu saja, dengan senang hati".
Aku pun mengajari Violet sama seperti aku mengajari anak laki-laki itu.
Setelah itu entah kenapa banyak orang yang berdatangan kepadaku untuk diajari juga.
__ADS_1
'Apakah mereka semua tidak mengerti matematika?'
Setelah itu di dalam hati para murid laki-laki matematika berubah menjadi pelajaran yang sangat menyenangkan bagi mereka.