
Kemudian setelah itu, semua mata di kelas tertuju kepadaku.
Wajah-wajah mereka terlihat terkejut dan tidak percaya apa yang terjadi barusan.
' ' ' ' ' Y-yuna marah.... ' ' ' ' ' Itulah yang mereka pikirkan.
[TETTT-TETTT, BEL TANDA ISTIRAHAT KEDUA TELAH BERBUNYI, UNTUK SELURUH MURID DIPERKENANKAN UNTUK BERISTIRAHAT, TERIMA KASIH, TETTT-TETTT]
Saat istirahat, aku duduk di kantin bersama teman-temanku, Aku duduk di salah satu kursi dan membaringkan kepalaku di atas meja.
'Fiuh... apa yang terjadi denganku hari ini? Aku jadi mudah marah sekali.'
Sebelumnya aku belum pernah merasakannya sama sekali, saat ini jauh lebih sulit untuk mengendalikan emosiku.
Teman-temanku pun melihat tingkah laku aku yang tidak biasa, mereka pun bertanya kepadaku.
"Apakah kau baik-baik saja Yuna?" Tanya Violet yang dengan wajah khawatir di wajahnya.
"Ya, kau terlihat lesu hari ini..." Lanjut Steve di sampingnya dengan wajah yang khawatir juga.
"Apa kau bergadang lagi semalam? Ucap Astra dengan wajah datarnya.
"Ha-ha-ha, terima kasih semuanya, tidak perlu khawatir aku baik-baik saja."
Ucapku dengan wajah tersenyum dan nada semangat untuk meyakinkan mereka agar mereka tidak perlu khawatir terhadapku.
"Apakah kau ingin makan sesuatu Yuna?" Tanya Violet kepadaku.
"Tidak, terima kasih, aku sama sekali tidak nafsu makan hari ini..." Aku menjawabnya dengan wajah tersenyum.
Setelah itu, Kami pun membicarakan berbagai topik, dari pelajaran hingga hal-hal yang lucu yang terjadi di sekolah. Aku merasa senang bisa berada di sekolah dan bersama teman-temanku.
[TETTT-TETTT, BEL TANDA MASUK TELAH BERBUNYI, UNTUK SELURUH MURID DIPERKENANKAN MEMASUKI KELAS, TERIMA KASIH, TETTT-TETTT]
Sayang sekali kesenangan itu tidak bertahan lama, bel pun berbunyi dan kami semua pun bergegas menuju ke kelas.
Tetapi saat aku berdiri, pandanganku menjadi buram, dan sedikit demi sedikit menjadi gelap, kakiku mulai lemas dan sedikit gemetar, dan kepalaku pusing.
Aku memegangi kepalaku, tetapi itu sudah terlambat, saat itu juga aku kehilangan kesadaranku.
""""YUNA!""""
...........
'Urgh...'
Aku pun membuka mataku, dan melihat langit-langit putih yang tidak aku kenal.
'Di mana aku...?'
"He... lalu bagaimana setelah itu?"
"Hmm... aku sedikit lupa, waktu itu aku masih kecil, jika tidak salah setelah itu Yuna terjatuh dan menangis."
__ADS_1
"Hahaha, tidak aku sangka, dia juga bisa menangis... ternyata dia mempunyai kelemahan juga."
"Benar, itu juga pertama kalinya aku melihatnya menangis, sejak saat itu dia jarang keluar rumah."
"Hahaha"
Aku mendengar percakapan kakakku dan Andro, mereka sedang membicarakan aku.
Jika aku tidak salah mereka sedang membicarakan kejadian saat aku dikejar oleh anjing.
Itu terjadi saat kami masih kecil dan bermain ke luar, saat itu terdapat anjing liar mendekati kami, aku yang takut pun melarikan diri dengan sekuat tenaga dan anjing itu melihatku berlari dan mengejarku.
Kemudian aku tersandung oleh polisi tidur dan terjatuh, anjing itu mendekatiku perlahan-lahan.
Aku yang ketakutan pun hanya bisa menangis saat itu, kemudian anjing itu menjilatiku dan aku hanya bisa semakin takut dan menangis.
Kakakku pada saat itu pun mengusir anjing itu dan membawaku ke rumah.
Itu benar-benar kejadian yang mengerikan dan memalukan yang tidak ingin aku alami lagi.
"Mmgh... Kakak, Kak Andro...?" Aku pun mencoba memanggil mereka, suara yang keluar terdengar lemah.
Mendengar suaraku, mereka pun menghentikan pembicaraan mereka, mereka berdua terkejut dan melihat ke arahku.
"Yuna! Kau sudah bangun!" kata kakakku dengan suara lega.
"Apa yang terjadi, kak? Mengapa aku berada di sini?" tanyaku sambil mencoba bangkit dari tempat tidur.
"Kamu pingsan di kantin dan dibawa oleh teman-temanmu ke UKS." Jawab kakak dengan wajah khawatir.
Kakak mencoba menenangkanku, "Kamu mungkin kelelahan, Yuna. Kau harus beristirahat dengan baik dan jangan terlalu banyak berpikir."
Aku mengangguk dan mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelum aku pingsan, namun ingatanku masih samar-samar.
"Kak Andro, terima kasih banyak karena sudah membantuku," ucapku dengan lembut pada Kak Andro yang berdiri di samping tempat tidur.
Andro tersenyum dan menjawab, "Tidak apa-apa, Yuna. Aku senang bisa membantumu."
"Ngomong-ngomong apa maksud kakak yang bilang aku menangis saat itu?"
Aku pun bertanya kepada kakakku dengan wajah tersenyum untuk memastikannya.
"Eh? Kau mendengarnya?!"
"Tentu saja, aku sudah bangun tadi dan tidak sengaja mendengar percakapan kalian berdua, dan apa maksudmu yang tertawa juga???"
Aku menjawab pertanyaan kakakku dan bertanya mengenai maksud Kak Andro yang menertawakanku tadi.
"Eh? I-itu m-maksudku."
"Tidakku sangka, jadi ini yang kalian lakukan saat aku tidak melihat kalian, kalian membicarakan seorang gadis di belakangnya, menjijikkan..." Ucapku dengan wajah yang tidak percaya dengan menunjukkan ekspresi menjijikkan terhadap mereka.
"Tidak, bukan seperti itu Yuna-"
__ADS_1
"Hmph... aku tidak akan berbicara dengan kakak." Ucapku kepada kakakku dengan wajah kesal.
Kemudian aku melihat ekspresi kakakku yang wajahnya sudah pucat dan terlihat putih semua.
Itu cukup lucu melihat ekspresinya yang seperti sudah hampir kehilangan nyawanya.
"Hahaha" Kak Andro pun juga tertawa melihat ekspresi kakakku yang dibuat seperti itu olehku.
Tidak tahu mengapa, mendengar suara tertawa Kak Andro juga membuatku kesal.
"Kau juga sama!"
Setelah itu senyuman Kak Andro menjadi pulsa- maksudku menjadi terkejut dan wajahnya juga menjadi putih sama seperti kakakku.
...........
Kemudian setelah itu, kami pulang menaiki mobil Kak Andro, mobilnya memang berguna dan praktis.
Di dalam mobil, aku berusaha untuk diam dan tidak berbicara dengan mereka.
Tetapi mereka terus saja berisik dan memohon maaf kepadaku, itu membuatku kesal jadi aku memukul mereka berdua agar diam.
Setelah itu mereka menjadi sedikit lebih tenang.
"Hohoho, seperti biasa kalian akrab sekali."
Ucap Pak Sebas di kursi mengemudi saat melihat tingkah kami dari cermin yang terdapat di dalam mobil.
Setelah itu mobil melaju dan mengantarkan kami sampai di depan rumah.
Setelah sampai, Aku pun segera turun dari mobil dan tidak lupa aku berterima kasih kepada Pak Sebas.
"Tunggu Yuna!"
Terdengar suara kakakku di belakang, tapi aku menghiraukannya dan segera memasuki rumah.
...........
"Hah..." Yuno menghela nafas melihat tingkah laku adiknya dan kemudian turun dari mobil.
"Terima kasih atas tumpangannya." Tidak lupa dia berterima kasih kepada Andro sahabatnya dan sopirnya Pak Sebas.
"Hahaha, sepertinya itu urusanmu untuk menenangkannya."
"Bukankah kau juga ikut terlibat?"
"Y-ya, tapi sampai jumpa besokk, segera jalan Sebas."
"Baik."
Kemudian mobilnya melaju dan segera meninggalkan Yuno sendiri di depan pagar.
"Hah... dasar."
__ADS_1
Yuno pun menghela nafas melihat tingkah laku temannya dan kemudian memasuki rumah.