Aku Bereinkarnasi Tetapi Menjadi Seorang Gadis?!

Aku Bereinkarnasi Tetapi Menjadi Seorang Gadis?!
Chapter 34. Kejutan yang Buruk


__ADS_3

Aku harap dia memberitahuku lebih cepat sebelumnya, jadi mungkin aku dapat memakan stew buatan ibu setiap hari.


Aku pun melihat-lihat isi resep itu, dan di atasnya terdapat judul yang tertulis "Halliwell Stew".


"Halliwell Stew?" Tanyaku setelah membaca judul itu sambil memiringkan kepalaku.


"Sepertinya ini merupakan resep yang diwariskan dari keluarga ayah." Ucap kakakku yang sepertinya mengetahui sesuatu mengenai kertas resep ini.


"Wah... sepertinya ini terdengar keren, mari kita membuatnya!" Jawabku setelah mendengar perkataan kakak, dan membuatku semakin tidak sabar dan bersemangat untuk segera membuat stew dari resep itu.


"Hahaha, Aku sudah mengira kau akan berkata seperti itu."


Setelah itu kami pun memasak stew itu bersama-sama sambil menunggu kepulangan kedua orang tua kami.


Resep stew itu terlihat seperti resep stew lain pada umumnya yang beredar di internet saat aku mengeceknya.


Tetapi saat kami berdua membuatnya bersama, kami sadar bahwa terdapat sesuatu yang membedakannya dengan resep stew lain pada umumnya di internet.


Yaitu, yang paling membedakannya dengan stew lain pada umumnya yang terdapat di internet adalah... cinta, proses pembuatan stew ini dibuat dengan cinta--


Tidak itu bercanda, mana mungkin aku akan memberitahukannya kepada kalian mengenai resep stew keluarga Halliwell, ini merupakan rahasia.


Setelah melewati beberapa perjuangan dan pengorbanan bahan dalam memasak stew bersama kakakku melalui panduan yang terdapat pada kertas resep itu, akhirnya telah selesailah, mahakarya super kami, stew buatan ibu atau stew halliwell!!!


Panduan yang berada di kertas itu sangat lengkap dan rinci, serta mudah dipahami, jadi seharusnya tidak terdapat kesalahan dan kesulitan saat pembuatannya.


Kami dapat membuatnya dengan beberapa usaha.


Kami pun kemudian mencicipi mahakarya kami.


Kakakku mengambil sebuah sendok, dan menyendok stewnya untuk dia cicipi.


"Yummy! Enak sekali, hampir persis dengan yang buatan ibu!" Ucap kakakku dengan riang sesaat dia selesai memasukkan sendok itu ke dalam mulutnya.


"Benarkah? Aku ingin mencobanya juga!" Ucapku yang sudah penasaran dan tidak sabar ingin segera mencicipi mahakarya kami.


Aku pun mengambil sendok itu dari kakakku, kemudian aku mulai menyendok stew itu, lalu mendekatkan sendoknya ke arah mulutku dan akhirnya memasukkannya ke dalam mulutku untuk aku cicipi.


Kemudian sesaat aku memasukkan mahakarya itu ke dalam mulutku, rasanya meledak dan menyebar di dalam mulutku, terdapat kombinasi rasa asin, manis, dan asam pada saat yang bersamaan memenuhi lidahku.


Tetapi rasa-rasa itu tidak saling mengganggu satu sama lain, rasa-rasa itu justru saling melengkapi satu sama lain menjadi harmoni indah yang menari-nari di antara lidahku.


Meskipun rasa stew ini agak sedikit kurang dari yang buatan ibu, mungkin karena perbedaan pengalaman.


Ibuku cukup sering membuatnya, jadi seharusnya pengalaman kami membuat stew dengan ibu berbeda cukup jauh.


Tetapi meskipun begitu, stew buatan kami sudah cukup enak dan mungkin dapat disandingkan dengan stew buatan ibu.


"Ini sudah cukup lama, tetapi mereka masih belum pulang." Ucap kakak sambil melihat ke arah jarum jam dengan khawatir.


"Y-ya, tidak seperti biasanya ya..."


"Ya, kau benar, Aku harap tidak terjadi apa-apa pada mereka."


"Y-ya..."


'Andai saja kakak tahu, mereka sedang mempersiapkan kejutan untuk kakak, hahaha.' Pikirku, sambil berusaha menahan tawa dari dalam diriku.


Kemudian waktu pun berlalu, sudah dua jam sejak mereka selesai memasak stew.


Sekarang stew itu telah dingin termakan oleh waktu.


Aku yang bahkan sudah diberitahu oleh mereka bahwa mereka akan pulang terlambat pun menjadi sedikit khawatir tentang mereka.


"Mereka lama sekali..." Ucapku sambil menyenderkan kepalaku di sofa dengan lemas.


"Ya, kau benar, seharusnya mereka sudah pulang sejak lama-"


[KRUYUKKK] *sfx suara perut


Kata-kata kakak terpotong akibat suara perutku yang terdengar keluar, itu membuatku menjadi malu.


Aku belum makan sejak tadi, itu karena kami menunggu kedua orang tua kami agar dapat makan bersama-sama.


"////"

__ADS_1


"Ahahaha, sepertinya kau sudah sangat lapar, bagaimana jika kau makan terlebih dahulu saja?" Kakakku tertawa akibat suara perutku.


"T-tidak akan! Aku akan menunggu mereka!"


"Kau yakin? Aku yakin saat ini cacing-cacing di perutmu sedang berdemo meminta makanan." Ucap kakakku dengan wajah yang membuatku kesal.


"Cacing-cacing itu tidak ada!" Bantahku dengan kesal.


"Kau yakin? Mereka sangat banyak di dalam tubuh anak kecil."


"Aku bukan anak kecil!"


"Ya-ya-ya, baiklah gadis kecil..."


"Urgh... d-dari mana kakak tahu itu?!"


Aku terkejut saat kakak tahu mengenai panggilanku yang diberikan oleh Bu Linda kepadaku saat di kelas


"Ya, Bu Linda yang memberitahuku."


"Apa?!"


"Ya, Dia memberitahuku saat mengajar di kelasku."


"Bagaimana dia tahu bahwa kita bersaudara?"


"Eh? Kau tidak tahu? Kau begitu populer di sekolah, jadi itulah sebabnya mereka juga mengenalku termasuk Bu Linda."


"Urgh... begitukah..."


Aku tidak menyangka jika aku sepopuler itu di sekolah, mungkin itu karena peringkatku saat di ujian masuk, atau mungkin terdapat hal lain.


Kakakku suka sekali dan selalu menggodaku hingga membuatku malu, jadi aku memutuskan untuk menggodanya kembali.


"Apakah kakak mempunyai orang yang kakak sukai di sekolah?"


Pertama-tama mari kita tanyakan mengenai orang yang dia sukai, Aku akan membuatnya malu kali ini.


'Khu-khu-khu, dari tadi dia menggodaku, sekarang waktunya balas dendam.'


"Tidak, tidak ada, saat ini aku hanya fokus belajar."


"Hee, jadi kakak pu- eh? Apa?!"


"Aku bilang bahwa, tidak ada orang yang aku sukai sama sekali."


"Apakah aku tidak salah dengar?'


"Ya."


'Eh?!! Seorang remaja dalam masa pubertas tidak memiliki seseorang yang dia sukai?! Itu tidak mungkin.'


Itu cukup aneh bagi seorang remaja laki-laki dalam usia pubertas untuk tidak memiliki ketertarikan terhadap lawan jenis, apakah sebenarnya kakakku mempunyainya tetapi dia menyembunyikannya? Atau apakah kakakku menyukai lawan jenis?!!!


"A-apakah kakak m-menyukai l-laki-laki? Aku tidak menyangka bahwa kakakku sendiri adalah seorang kaum-"


"Jangan berbicara yang tidak-tidak, Aku masih normal! Normal, kau tahu?" Ucap kakakku berusaha membantahnya.


"Benarkah?"


"Ya,benar."


'Mungkin saat ini aku akan mempercayainya terlebih dahulu.'


"".....""


Untuk mencairkan suasana lagi, kakakku pun kemudian mengganti topik pembicaraannya, dan setelah itu kami mengobrol banyak hal mengenai kehidupan sekolah kami dan tujuh misteri di sekolah.


Hal itu membuatku cukup mengantuk, dan akhirnya aku tertidur di sofa saat sedang mengobrol.


...........


"Yuna?"


Tidak ada jawaban dari adikku, saat aku melihat ke sampingku, ternyata dia telah tertidur dengan pulas.

__ADS_1


Sepertinya dia cukup lelah hari ini, dan juga dia telah menunggu cukup lama.


Bahkan dia belum makan, dan dia sudah tertidur. Aku tidak habis pikir lagi mengenainya.


Tetapi wajah tidurnya benar-benar lucu, dia benar-benar seperti seorang malaikat kecil dengan mulut terbuka.


Karena tidak tahan dengan kelucuannya, tanpa sadar tanganku bergerak mendekati wajahnya dan kemudian menyentuh pipinya.


'Ah ini sungguh lembut.'


Pipinya benar-benar lembut dan sangat menyenangkan untuk disentuh, itu membuatku ketagihan dan dapat menghilangkan stres.


"Sungguh sangat menyenangkan menyentuh ini~ Ah, aku sangat bersyukur diberkahi dengan adik yang imut seperti ini."


Pikirku sambil menyodok pipinya dengan riang.


Aku selalu ingat dengan hari ulang tahunku sendiri, yaitu tanggal 22 pada bulan ke-12.


Sebenarnya aku sudah tahu, mengenai kejutan ulang tahunku yang akan mereka berikan, mereka memberiku kejutan setiap tahun, jadi bagaimana aku tidak menyadarinya kali ini?


Aku sudah menebaknya, alasan kedua orang tua kami pulang telat hari ini, mungkin karena ingin memberikan sebuah kejutan dan kue ulang tahun untukku.


Aku berpura-pura tidak mengetahuinya hanya untuk membuat mereka senang, dan agar mereka tidak merasa kecewa setelah memberikanku sebuah kejutan ulang tahun.


Tidak mudah untuk berpura-pura, kau harus terlihat sealami mungkin, dan tidak tahu mengenai apa-apa, dan membuat seolah-olah dirimu lupa.


Yang paling sulit dari semua itu adalah menahan tawa saat melihat tingkah Yuna yang berusaha menyembunyikan itu dariku, dan justru membuatku semakin yakin bahwa dia sedang menyembunyikan sesuatu dariku.


"Ermm..." Yuna sedikit merasa terganggu dengan sentuhanku, tetapi untung saja dia tidak bangun dari tidurnya.


'Fiuh...' Aku menghela nafas lega dalam hatiku.


Tetapi walaupun mereka ingin memberikanku sebuah kejutan, rasanya ini terlalu lama.


Ini sudah cukup malam sekarang, dan mereka masih belum pulang ke rumah.


Saat aku sedang khawatir dengan mereka, kemudian tiba-tiba dari arah meja tamu terdengar suara deringan telepon.


Itu merupakan bunyi dari telepon rumah kami, sepertinya ada yang menelepon kami.


'Apakah itu ayah atau ibu?' Pikirku, menduga bahwa telepon itu berasal dari mereka.


Tetapi biasanya mereka akan menelepon langsung ke nomor teleponku jika ingin menghubungiku, lalu mengapa mereka menggunakan nomor telepon rumah untuk meneleponku kali ini?


"Ermm... kakak?" Karena deringan telepon yang belum berhenti berbunyi, Yuna bangun dari tidurnya.


"Maaf Yuna, sepertinya ada yang menelepon."


"Siapa itu?"


"Entahlah, Aku akan menjawabnya sekarang."


Aku pun berjalan mendekati telepon itu, dan kemudian mengangkat telepon itu.


"Ya, halo, dengan siapa?"


[Apakah kau salah satu keluarga Antonio Halliwell dan Yuka Halliwell?]


"Ya, ini aku anaknya."


[Oh, baiklah, Kami dari pihak rumah sakit, Aku harap kau tenang saat mendengarkan ini... orang tuamu mengalami sebuah kecelakaan.]


"Eh?"


Sesaat setelah mendengarkan itu, Aku sangat terkejut, tubuhku membeku dengan seketika, dan kemudian tanpa sadar aku menjatuhkan telepon itu.


Aku memang mengharapkan sebuah kejutan dari mereka, tetapi bukan kejutan seperti ini yang aku inginkan.


"Kakak? Siapa itu? Apa yang terjadi?"


Yuna bertanya kepadaku dari sofa, tetapi aku tidak sanggup untuk menjawabnya dan memberitahunya.


"Kakak?"


"I-ibu dan a-ayah... m-mengalami kecelakaan..."

__ADS_1


Tetapi tidak tahu mengapa, mulutku seakan bergerak sendiri dan mengatakannya kepada Yuna.


__ADS_2