Aku Bereinkarnasi Tetapi Menjadi Seorang Gadis?!

Aku Bereinkarnasi Tetapi Menjadi Seorang Gadis?!
Chapter 35. Semuanya Akan Baik-Baik Saja


__ADS_3

Yuna terkejut dengan kata-kata dari kakaknya, wajahnya menunjukkan ekspresi seakan-akan tidak percaya apa yang baru diucapkan oleh kakaknya.


"Eh? Ha-ha-ha kakak sedang bercanda bukan?"


"A-aku sedang tidak bercanda, ini... serius..."


"B-bohong, i-itu tidak mungkin-"


"Aku serius Yuna! Urgh... aku juga tidak ingin mempercayai hal ini, untuk saat ini lebih baik kita ke rumah sakit terlebih dahulu untuk memastikan keadaan mereka."


"Tidak mungkin... tidak mungkin...."


Yuna belum bisa menerima kenyataan bahwa orang tuanya mengalami sebuah kecelakaan, dan saat ini Yuna sedang menundukkan kepalanya serta menggumamkan sesuatu.


Yuno yang melihat keadaan adiknya itu pun langsung memeluk tubuhnya.


"Semuanya akan baik-baik saja, ayah dan ibu itu kuat, mereka pasti akan selamat."


Ucap Yuno sambil berusaha menenangkan adiknya.


Setelah Yuna mulai sedikit tenang, mereka pun segera menuju rumah sakit tempat orang tua mereka di rawat.


Yuno memanggil taksi dan kemudian menuju rumah sakit bersama adiknya.


Di dalam mobil, Yuna masih tetap diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.


Yuno tahu bahwa adiknya merasa sangat terguncang dengan kejadian ini, dan dia pun mengelus kepala Yuna untuk menenangkannya lagi.


Waktu pun berlalu dan akhirnya mereka tiba di depan pintu rumah sakit tempat kedua orang tua mereka dirawat.


Orang yang menelepon mereka sebelumnya menelepon mereka kembali dan memberitahukan alamatnya kepada Yuno setelah dia menjatuhkan teleponnya.


Mereka pun kemudian menuju meja resepsionis dan kemudian bertanya kepada seorang wanita yang berada di balik meja tersebut.


"Permisi, apakah ada pasien bernama Yuka Halliwell dan Antonio Halliwell dirawat di sini?" Ucap Yuno dengan gelisah.


Wanita tersebut pun sadar dengan suara Yuno dari lamunannya sebelumnya.


"Ah?! Apakah kau anak dari pasangan tersebut?" Tanya wanita resepsionis itu kepada Yuno untuk memastikannya.


"Ya, benar. Saya Yuno Halliwell, anak dari pasangan tersebut, sekarang di mana dan bagaimana keadaan kedua orang tua saya sekarang?" Ucap Yuno yang gelisah dan terburu-buru.

__ADS_1


Saat ini Yuno benar-benar khawatir dengan keadaan kedua orang tuanya, dan sedangkan Yuna masih diam menunduk memegangi tangan kakaknya.


'Sepertinya keadaan ini terlalu berat untuk Yuna.' Pikir Yuno dalam hatinya saat melihat keadaan adiknya saat ini.


"Saat ini pasien sedang berada di kamar 018 dan sedang di rawat." Ucap wanita resepsionis itu menjelaskannya dengan tenang kepada Yuno sambil menunjuk letak kamar 018 di denah rumah sakit yang berada di dekatnya.


"Kamar 018 berada di lantai 2, kau hanya perlu lurus dari lorong ini dan lalu belok ke arah kiri."


"Baiklah, terima kasih."


"Tidak masalah."


Setelah itu aku dan Yuna berjalan menaiki lift menuju ke lantai 2 tempat ke dua orangku berada.


Sesampainya kami di atas, kami pun berjalan sesuai arahan resepsionis tadi.


Setelah berbelok ke arah kiri, kami akhirnya melihat ruang dengan angka 018 di depan pintunya.


Kami pun berjalan ke arah depan pintu dan menatapnya sebentar.


Detak jantungku tidak dapat berhenti, dan aku merasakan genggaman tangan Yuna yang bergetar.


Saat aku melihatnya, wajahnya pucat dan seluruh tubuhnya bergetar menunjukkan betapa cemas dirinya terhadap orang tua kami.


Aku harus bisa diandalkan dan dapat melindunginya apa pun yang terjadi.


"Semuanya akan baik-baik saja, Yuna...."


Untuk saat ini aku menenangkannya dengan mengusap kepalanya dan berkata semuanya akan baik-baik saja


Aku pun mengambil nafas panjang untuk menenangkan pikiranku, dan membulatkan tekadku untuk mengetuk pintu kamar tempat kedua orang tuaku di rawat.


[TOK-TOK-TOK] *sfx suara ketukan pintu


Tidak lama kemudian setelah ketukan itu, pintu kamar pun terbuka dan terlihat seorang wanita mengenakan seragam perawat rumah sakit ini.


"Ah... kalian pasti anak-anak dari pasien kecelakaan tersebut, aku sudah mendengarnya dari resepsionis sebelumnya bahwa kalian akan datang, jadi silakan masuk."


Perawat itu pun menuntun kami masuk, di dalam kamar terlihat fasilitas medis yang sangat lengkap, dan juga terlihat dua buah tempat tidur yang tertutup oleh tirai berwarna hijau.


"Kedua orang tua kalian berhasil kami selamatkan, tetapi luka dari ibu kalian sangatlah parah jadi saat ini dia belum sadarkan diri, dan beberapa saat yang lalu, ayah kalian baru saja berhasil siuman."

__ADS_1


Kemudian perawat itu membuka salah satu tirai hijau itu dan menunjukkan sosok ayah kami yang saat ini sedang terbaring lemas dengan infus di tangannya.


""Ayah!""


Tanpa sadar, kami berdua meneriakkannya secara bersamaan.


Air mata kami yang sudah tidak dapat terbendung lagi pun akhirnya keluar.


Yuna pun langsung berlari menghampirinya dan langsung memeluk tubuhnya.


"Huaaaa!!! A-ayahhh!"


Aku pun menghampiri ayahku secara perlahan, dan melihat ayahku yang saat ini sedang mengelus kepala Yuna untuk menenangkannya.


"Tenanglah Yuna, maaf sudah membuat kalian khawatir."


"Tidak perlu meminta maaf ayah... ini semua hanya kecelakaan, tidak ada yang berharap ini untuk terjadi."


Aku tidak tahu mengapa ayahku meminta maaf, tidak ada yang mengharapkan ini terjadi, jadi ini bukanlah salah siapa-siapa.


"Ha-ha, kau anak yang baik Yuno."


"Terima kasih ayah, dan lalu bagaimana dengan keadaan ibu, dan apa yang telah terjadi."


Tanpa disadari oleh kami, perawat tadi sudah keluar, sengaja memberikan kami ruang untuk berbicara.


"Snif- hiks..."


Yuna pun sudah mulai menjadi sedikit lebih tenang untuk mendengar apa yang akan ayah katakan.


"Seperti yang kalian tahu, saat ini ibu kalian belum sadarkan diri dan masih dalam keadaan koma, saat ayah dan ibu dalam perjalanan pulang, kami tertabrak oleh sebuah mobil dari belakang, aku yang tidak sempat bereaksi pun lalu di dorong oleh Yuka ke pinggir agar tidak tertabrak oleh mobil itu, tetapi sayangnya hal itu tidak sempat terjadi dan kami tertabrak secara bersama, lukaku hanya sedikit lebih ringan karena di selamatkan oleh Yuka, seandainya- seandainya aku bisa bereaksi lebih cepat, hal ini- hal ini tidak akan terjadi! Maaf kan ayahmu nak..."


"Ayah tidak perlu meminta maaf- hiks, ibu telah mengorbankan tubuhnya untuk menyelamatkan ayah, jadi tidak perlu meminta maaf-hiks."


Ucap Yuna kepada ayah dengan sedikit terisak. Aku tahu saat ini dia sedang menahan tangisnya.


"Ya, ayah tidak perlu meminta maaf, aku yakin ibu juga akan berkata seperti begitu, dan aku yakin ibu juga akan selamat, karena dia adalah ibuku yang kuat."


Ucapku dengan penuh keyakinan kepada ayah, ayah yang mendengar kata-kata kami berdua pun langsung tersenyum hangat dan sedikit air mata dapat terlihat mengalir di pipinya.


"Terima kasih, kalian memang anak-anak yang baik, mari kita berdoa yang terbaik untuk keselamatan ibu."

__ADS_1


""Ya!.""


Saat itu kami semua hanya dapat mengharapkan yang terbaik untuk keselamatan ibu.


__ADS_2