
POV Rania.
Pulang kerja aku ada janji sama Tante Hanna. dari dulu Tante Hanna dekat sama aku, terlebih-lebih aku sama sepupu mas Bram adalah sahabat dan kami sering sekali main ke rumah mas Bram kadang nginep di sana untuk ngerjain tugas-tugas kuliah.
Tante Hanna adalah seorang wanita yang tegas dan cerdas, tak pernah sekalipun merutuki kemiskinan ku dan latar belakang ku, Tante Hanna dekat dengan Arman dia sangat menyayangi anakku, entahlah kenapa sampai segitunya Tante Hanna, sampai-sampai Arman di anggap oleh cucunya sendiri, perlakuan benar-benar tulus sama kami.
Sebenarnya ada perasaan janggal mengenai hal itu tapi, aku tepis sebab tak mungkin mas Bram yang notabene seorang CEO perusahaan Besar menaruh hati padaku, aku hanya berfikir positif saja, mungkin hanya karena tante Hanna belum punya cucu kali, dan selain itu kami dekat dari dulu sebenarnya hingga membuat iya menyayangi anakku.
Mas Bram dari dulu memang sangat perhatian sama sesama dia pria yang baik dan kaya, pasti wanita yang di cintainya juga baik dan kaya pula.
Mana mungkin mas Bram suka sama Jandes seperti aku, tahu dirilah aku ini siapa dan silsilah saja tak jelas, itulah yang selalu di katakan mantan ibu mertuaku.
tak lama kemudian ada sebuah notifikasi pesan masuk.' Tante Hanna' cicitku
# Tante Hanna :" Menantu, makan malam di restoran Jepang saja ya jadinya, soalnya sekalian mama mau kenalin calon menantu mama pada temen-temen mama" tuturnya.
' hah menantu', aku kerjapkan mataku dan berkali-kali aku baca ternyata tulisannya tak berubah.' menantu' gumamku dalam hati
belum sempat aku membalas chart dari Tante Hanna, tiba-tiba Tante Hanna telpon.
" Haloo calon menantu kok cuma di baca saja sih, mam nungguin ini lho?" serunya di sebrang sana.
" Oo... ii..aa Tante maaf tadi sebenarnya mau balas tapi Tante sudah telp ya sudah ga jadi di balas" balasku.
" kok panggil Tante sih , mama dong Nia, ini mama lagi main di mall sama Arman, jalan-jalan nih habis itu pulang dan nanti malam mama ajak Arman nginep saja ya di rumah mama," serunya.
" Iya mam "jawabku gugup.
" Ya sudah mama tutup dulu ya, nemenin Arman lagi pilih-pilih sepatu bola" serunya
Setelah telpon di tutup hatiku kian berdetup kencang sekali, hingga mba Mila yang di sebelah ku heran sendiri, melihat aku langsung seperti orang linglung sehabis menerima telpon dari Tante Hanna.
" Hah lho... kamu lagi kesambet Nia" seru mba mila yang memekikkan telingaku,
__ADS_1
" Aa... mbak Mila, itu aku mm ... jawabku gelagepan.
" Hayoo, jangan sembunyikan sesuatu dariku ya, Ran" serunya.
" Itu cuma telp dari Omanya Rahman," jawabku jujur.
" hm... jadi ceritanya kamu sudah baikan nih sama mertuamu, Hm... maaf aku ralat mantan"ujarnya.
" Bukan neneknya Arman kok mba, tapi Oma Arman"seruku.
" Hah sejak kapan Arman punya Oma ?" seru mba Mila.
" Oma angkat mba bukan Oma kandung"seruku.
" Ups maaf aku ga tahu ... trus gimana ceritanya bisa punya Oma angkat segala, cerita dong Ran?" serunya.
" Duh mba ceritanya panjang dan kali lebar entar aja deh sekalian pulang aku ceritain, noh ada juragan melenggang ke sini" Bisikku karena ku lihat Bos besar nampak berjalan mendekati meja kami.
***
Pulang kantor aku buru-buru balik ke rumah, karena ada janji sama Tante Hanna mau tak mau aku harus ngebut di jalan. sebab masih banyak yang aku kerjakan, semenjak Arman sering nginep sana aku tidak terlalu panik untuk menyiapkan kebutuhannya, tapi aku merasa kesepian bila dia tak ada di rumah, walaupun bisa di bilang aku ketemu Arman pas sore sampai pagi saja.
Tapi entah mengapa aku melihatnya begitu berbeda penampilan anakku perlahan-lahan berubah, dari cara dia berpakaian modis layaknya anak abg, apa mungkin karena sering di belikan baju-baju baru sama Tante Hanna, ya tentu saja itu, gumamku.
Selesai berdandan aku buka ponselku, ternyata ada pesan dari Tante Hanna.
# " menantu, mama suruh sopir menjemput mu di depan ya, nanti kita ketemu di restoran Jepang saja ya, soalnya mama sudah hampir sampai nih di restoran, biar ga naik motor ataupun kendaraan umum,"
# " Iya ma, saya sudah selesai kok tinggal jalan aja ke depan nih, maaf menunggu" balasku.
Setelah aku membalas wa dari Tante hanna, aku tinggal pakai high heels dan mengunci pintu kontrakan, ku langkahkan kakiku menuju depan jalan dan di sana ku lihat sudah terparkir sebuah mobil BMW mewah yang menjemput aku.
Dan ketika pintu kemudi di buka, betapa kagetnya aku ternyata mas Bram yang menjemputku, mas Bram memakai setelan jas formal dengan dasi berwarna biru Dongker yang melilit di lehernya, wajah bulenya begitu kental sekali, apa lagi di tunjang dengan badannya yang sangat atletis, membuat setelah jas itu pas di badannya.
__ADS_1
" Mas Bram" Seruku, aku begitu kikuk dengan tatapannya.
" Malam Rania" balasnya sambil mengulas kan senyuman
" Malam mas" Balasku gugup.
" Maaf mas, mas Bram nunggu lama ya?" Ujarku.
" Enggak kok baru saja" balasnya.
" Ya sudah ayo kita langsung berangkat saja ya, soalnya mama sudah berangkat dari tadi," serunya lagi.
Langsung ku anggukkan kepalaku dan masuk ke dalam mobil, dan di perjalanan ke restoran kami hanya berdiam diri tak ada pembicaraan, perasaan canggung menyelimuti di antara kami berdua.
" Rame banget " lirihku.
" Mama sengaja booking buat acara makan malam ini,Ran" balasnya.
" Oh gitu," itu saja yang hanya meluncur dari mulutku, " Aku pikir cuma makan malam biasa saja mas" tapi ternyata semeriah ini" seruku lagi.
" Sudah yok kita turun, mama pasti sudah nunggu dari tadi" ujar mas Bram yang berpenampilan formal sekali, untung aku ga pakai celana jeans, yah lumayan lah gaun hitam ini yang aku pakai, ga malu-maluin, cicitku dalam hati, tapi bila di sandingkan dengan mas Bram aku jadinya tenggelam deh, ga ada serasinya sama sekali, aku jadi minder sendiri karenanya.
" Ayohh kok malah bengong ," serunya di dekat telingaku sampai membuat bulu kuduku metemang.
" E... ia mas,"
" Ran, aku mohon santai saja ya, apapun yang terjadi, aku mohon kamu menerimanya dengan lapang dada, karena semua untuk kebaikan kamu dan Arman," tutur mas Bram.
" Maksudnya apa mas?"Ujarku.
" Ga apa-apa Dah yok masuk " ucapnya sambil menautkan jemarinya dengan ku erat-erat, lalu mas Bram menarikku untuk berjalan masuk ke dalam restoran tersebut, tapi hatiku masih terus saja berdebar tak menentu ketika memasuki restoran tersebut.
Deg, apa itu ketika ku lihat tulisan yang terpampang di depan sana.
__ADS_1