
'Selamat atas pertunangan Bramudya Erlangga dengan Rania'
" Mas...." pekikku setelah membaca tulisan ucapan selamat yang berjajar di pintu dan sebagian di halaman restoran tersebut.
Hatiku berdetup kencang.
" Maaf bila aku memaksamu Ran," balasnya.
" Tapi aku butuh penjelasan mas, sekarang" seruku berbisik di dekat telinganya.
" Oke kita temui mama dulu ya Ran," Balas mas Bram dengan santainya.
Akhirnya aku nurut saja kenama mas Bram membawaku, Ya Allah di sana sudah ada mama dan Arman dan teman-teman mama yang lain, aku fokus sama Arman yang kihatan sangat bahagia sekali menatap kejadian kami, dia di rangkul sama mama Hanna.
Sesampai di sana mama Hanna mendekat kepada ku.
" Mama akan jelaskan ya" bisiknya di telingaku.
Aku hanya mengangguk saja dengan bisikannya.
" Bram Ranti ikut mama sebentar ya di belakang," lalu kamipun mengikuti langkah mama ke sebuah ruangan yang sepertinya sudah di siapkan khusus untuk kami, di sana mama mau ngatakan sesuatu.
" Maaf ya Ran, mama terkesan mendadak dan memaksa." tutur mama Hanna
" Iya ma, tapi harusnya mama kasih tahu Rania, apa lagi ini bukan main-main masalahnya, ini masalah hati, gimana dengan mas Bram sendiri, apa mama memaksanya untuk menikahi saya?" Ujarku dengan beraninya aku berucap seperti itu dengan mamanya mas Bram.
" Ini tidak seperti yang kamu bayangkan Ran, sebenarnya aku sudah lama menyukaimu, hanya saja baru sekarang aku berani mengutarakannya, dan aku tak mau kehilangan kamu yang kedua kalinya," balas mas Bram.
" Apa ? jadi selama ini?" seruku tak ku teruskan ucapan ku.
" Iya Ran, aku Cinta kamu dari dulu, aku tak punya nyali untuk ungkapkan padamu,aku memang pengecut" sahutnya lagi
__ADS_1
" Hah," aku benar-benar mlongo sembari menatap mas Bram dengan raut wajah kaget bahkan tanpa berkedip.
" Maaf kan aku Ran, bila kamu tak berkenan dengan ini semua kamu boleh menolak aku, tapi percayalah aku akan tetap mencintaimu dalam diam," serunya lagi.
" Ibu, Arman sangat sayang sama Om Bram, terlebih-lebih Oma juga, Arman sangat sayang sama mereka, baru kali ini Arman bisa merasakan mendapatkan kasih sayang dari seorang nenek dan ayah, walaupun Arman masih punya seorang ayah dan nenek seperti tak punya saja." Ujar Arman.
" Ibu, bila ibu berkenan Arman mohon terimalah Om Bram ibu, karena ibu berhak untuk bahagia juga," seru Arman sembari memelukku.
Tak ada pilihan buatku kecuali menerima perunangan ini,
" Baiklah Mas aku akan menerima pertunangan ini, tapi kasih waktu buat Nia untuk mempersiapkan semuanya menjelang pernikahan, Nia tak mungkin mempersiapkan secepat itu, paling tidak mungkin tiga bulanan saya bisa menyiapkan semuanya"tuturku.
" Rania, kamu ga usah mikirin semuanya biar mama yang urus masalah itu mah, cuma yang tidak bisa mama urus hanya satu, yaitu ukur baju, kalian bisa ukur baju lusa ya, yang lain urusan mama, jadi kamu dan Bram terima beres" seru mama.
Mataku berkaca-kaca ketika mendengar penuturan mama, apa aku bermimpi seruku dalam hati.
" Iya ma, terimakasih untuk semuanya." kamipun berpelukan, dan air mata tak henti-hentinya meleleh di pipiku, karena bahagia.
Dan akhirnya kamipun keluar dari ruangan untuk menyapa para tahu yang sudah hadir.
Aku sebenarnya malu karena gaun aku Kanakan tidaklah mewah malam ini, aku pikir hanya makan malam sama keluarga saja.
" Maaf ma, saya tidak mempersiapkan diri dengan baik, saya pikir tadinya hanya makan malam keluarga saja," Ujarku.
" Ga apa-apa sayang kamu bagaikan berlian walaupun baju yang kamu kenakan murahan ibaratnya, kamu tetap berkilau," Puji mama.
" Ah mama bisa saja kalau memuji orang," sahut ku.
Setelah semua siap MC pun memulai acaranya, sementara aku sendiri masih kikuk berdiri di antara orang-orang yang penting, orang-orang yang tidak pernah bisa saya jangkau, salah satunya adalah istri bosnya mas Bayu aku ini siapa hanya remahan rengginang saja, batinku.
" Santai saja Nia, mama suka sama kamu apa adanya, jangan pikirkan omongan orang nanti bila ada yang julid sama kamu mama yang akan pasang badan." ujar mama.
__ADS_1
" Iya ma" Ujarku sambil tersenyum padanya.
" Jangan tegang ya sayang," tutur mas Bram sambil menggenggam tanganku, aku malu sekali karena aku ga pernah terlalu intim dengan lawan jenis, walaupun hanya bergandengan tangan,lagian sejak kapan mas Bram berubah seromantis ini,batinku.
" Maaf ya, mas aku..."kata-kataku menggantung.
" sttt... udah lebaran masih jauh Nia, kamu sudah minta maaf berapa kali dari tadi" tuturnya, aku mengulas senyum mendengar celotehannya.
Acarapun di mulai dengan meriah, dan cincin berlian telah melingkar di jariku, rasanya aku masih seperti mimpi saja, banyak puluhan orang fokus menatap ke arah kami, senyum bahagia aku dan anakku tak pernah lepas, apa lagi mama Hanna yang terlihat terharu sekali, kulihat wanita cantik setelah bayan itu menitikkan air mata kebahagiaan ketika cincin itu telah melingkar di jariku.
" Terimakasih sayang, kamu sudah menerima Bram," ujar mama Hanna.
" Jangan begitu ma, Rania lah yang harus berterima kasih menerima keadaan kami apa adanya," balasku.
Acarapun selesai juga, satu persatu tamu pamit tinggal kami beberes untuk pulang.
" Sekarang kamu ada sopir, biar sopir ini yang antara kamu ke mana-mana," ujar mama sambil menepuk-nepuk pundak mas Bram yang kokoh itu.
" Hah... ga perlu ma, Rania bisa sendiri kok," balasku.
" Jangan begitu Ran, sebentar lagi kalian menikah dan mama ga mau terjadi apa-apa dengan mu, dan sekarang pulang lah bersama tunanganmu, mama mau pulang bersama arman, biar Arman nginap di rumah mama ya?" seru mama
" Iya ma, akupun tak mau membantah lagi kemauannya.
" Besuk, mas akan menjemput kamu ya, jadi bersiaplah besuk kita berangkat kerja bareng," Seru mas Bram sebelum aku turun dari mobil.
" Ga usah mas, nanti mas Bram telat ke kantornya, " sahutku.
" Kamu apa lupa ya kalau aku ini bosnya" Balasnya dengan senyumnya yang menawan.
Aku hanya bisa terkekeh saja mendengarnya. dia mengantar aku sampai ke depan pintu dan baru pergi setelah aku menutup pintu rumah kontrakan ku.
__ADS_1
Hari-hari berlalu, tanpa terasa kurang seminggu lagi pernikahan kami di gelar. tentu saja mama Hanna yang sudah mempersiapkan semuanya dengan matang, Semua di serahkan pada IO dan tentu saja bukan acara sederhana seperti yang aku bayangkan, mewah itulah yang aku lihat dari semua ya g sudah di sodorkan kepadaku, aku hanya, berkata Iya saja semua yang di sodorkan mama padaku, Karena pernikahanku yang dulu tidak seperti ini, dan jauh dari kesan mewah, benar-benar sederhana, aku patut bersyukur untuk ini.