
Terdapat tanda tanya di wajah semua orang, namun Ezter berjalan dengan tenang sambil memegang tangan Daniel, menyeretnya bersama.
"Ezter, ini...?"
Semua orang menantikan jawabannya, pertanyaan dari Grand Duke akan menjawab rasa penasaran mereka.
Ezter tahu bahwa semua orang bertanya-tanya. "Bisa kita bicarakan di dalam, Nenek..? Telah terjadi sesuatu yang tak di inginkan."
Grand Duke mengangguk kemudian berbalik, Rose segera menepuk tangannya dan memberikan arahan."Semuanya kembali ke tempat masing-masing..!"
Begitu mendengarnya, mereka memberikan salam terlebih dulu sebelum akhirnya bubar.
Mereka berkumpul di ruang tamu, raut wajah Grand Duke yang datar membuat Daniel merasa gugup, di tambah dengan tatapan dari kedua anak kembar itu tak lepas darinya. Bahkan bernafas pun terasa sulit baginya saat ini.
"Nenek, Edward, Edmund. Ini Daniel Lucian, suamiku mulai sekarang. Daniel, mereka adalah keluarga ku. Nenekku, lalu anak kembar disana adalah kedua adikku- Edmund dan Edward." Ezter memperkenalkan Daniel di sampingnya
Remaja itu langsung berdiri, ia memberikan salam. "Senang berjumpa dengan Anda, Yang Mulia, Tuan-tuan muda. Nama saya Daniel Lucian, putra dari Baroness Lucian."
"Aku Edward De Leon, anak ketiga dan putra kedua keluarga ini. Senang bertemu denganmu." ʘ‿ʘ anak itu tersenyum kaku
"Saya Edmund, anak kedua sekaligus putra pertama keluarga ini. Selamat datang di keluarga kami," ucapnya dengan wajah datar
Daniel "Se-senang berjumpa dengan kalian." remaja itu tersenyum canggung, apakah dia melakukan kesalahan..? Kenapa rasanya Edmund tak menyambutnya?
"Baroness Lucian, yah... Bukankah itu berarti kau berasal dari Refaim..?" Pandangan Grand Duke tak lepas dari remaja berambut silver
"I-ya benar. Ibu saya merupakan penguasa Refaim." balas Daniel
"Rose, bukankah Wilayah Refaim itu berada di pegunungan dan tidak begitu luas?" bisik. Edward pada saudaranya.
"Kau benar, itu di pegunungan." balas Edmund
__ADS_1
Edward mengangguk, dia mengingatnya sekarang. Sebagai anak bangsawan, mereka telah di ajarkan tentang bagian wilayah-wilayah yang ada di Selatan, ini adalah pelajaran tingkat dasar.
"Edward- Edmund, bisa antarkan kakak ipar kalian ke kamarnya..? Kamar yang sudah di siapkan kemarin." pinta Ezter
"Baik, Kak." jawab keduanya dengan patuh
Ia menoleh kearah Daniel, "Kau bisa mengikuti kedua adikku. Istirahat lah disana, barang-barang mu akan di ambil oleh pelayan jadi katakan saja alamatnya pada mereka."
"Baiklah." Daniel mengikuti kedua anak kembar yang sudah berjalan lebih dahulu
"Ezter, bisa kau jelaskan apa yang terjadi?" Tanya Grand Duke ketika ketiga anak itu telah menghilang dari ruang tamu.
"Tuan muda Fleur membatalkan pernikahan secara sepihak. Lalu, aku bertemu dengan Daniel yang juga di putuskan oleh kekasihnya sama seperti yang ku alami. Jadi, aku pikir ini merupakan takdir," Ezter menjelaskan secara garis besar, lagi pula Rose pasti akan melaporkan apa saja yang telah terjadi di sana lada Neneknya ini.
"Membatalkan secara sepihak? Anak itu sungguh sangat berani..!" Grand Duke baik pitam, ia menjadi marah mendengar bahwa tuan muda Fleur itu memiliki keberanian ini.
"Mengapa tidak..? Adikku yang sangat baik, cantik dan pintar berhasil merebut nya dariku. Mereka saling mencintai jadi, jangan khawatir Nenek. Dia akan menjadi cucu menantu mu di masa depan, meskipun butuh sedikit waktu sih." Ezter tak peduli pada pasangan itu, ia tak menunjukkan bahwa dia sedih. Tangannya terulur dan mengambil teh dan kudapan diatas meja, makan dengan sangat tenang dan natural.
Grand Duke mengerti. Jadi cucunya yang baru saja bergabung dengan keluarga ini (Marilyn) telah merebut tunangan kakaknya, sehingga anak nakal itu berani bertindak saat hari yang sudah di tentukan.
Ini benar-benar sangat keterlaluan! Tapi, mengingat bahwa Ibu dan anak perempuan saat ini sedang bersaing, Grand Duke jadi mengerti. Ternyata ini siasat mereka, yang ingin mencoreng nama baik Ezter
Namun, dia juga tak menyangka bahwa gadis ini berhasil mendapatkan suami pada hari yang sama pula.
..._._._._._...
Daniel tiba di kamarnya, itu merupakan kamar yang telah di siapkan untuk Carl. Namun ternyata yang menjadi menantu malah Daniel
"Ini kamarnya, kakak ipar. Sebenarnya ini adalah kamar kami berdua saat masih bayi, namun sekarang kami telah memiliki kamar masing-masing." celoteh Edward,
"Ruangan ini adalah ruang tamu, pintu yang di sana terhubung dengan kamar kakakku jadi kau tinggal mengetuknya saja dan kak Ete akan membukanya." Anak itu membawa Daniel untuk berkeliling kamar sambil menunjukkan apa saja yang ada di sana, sedangkan Edmund hanya menonton adiknya yang dengan ceria memperkenalkan tiap sudut pada kakak ipar yang muncul tiba-tiba itu.
__ADS_1
Edward merasa bahwa dia telah mengerjakan sesuatu dengan teliti, dia merasa bangga pada diri sendiri.
Edmund tak mau lagi berada di sana, sehingga ia menyeret adiknya pergi. Sudah tiba waktunya untuk makan siang, jadi mereka harus berkumpul di ruang makan lagi.
Daniel mengikuti mereka ke ruang makan, di sana sudah ada Ezter ketika mereka tiba. Setelah Grand Duke bergabung, makanan di antarkan
Begitu melihat makanan lezat, Daniel merasa sangat bersemangat. Namun ketika mengangkat wajahnya, ia tersenyum kaku karena tatapan semua orang seakan tertuju padanya.
Remaja itu makan dengan canggung, namun makanan yang di sajikan memang terasa sangat enak. "Enak banget," gumamnya
"Koki akan merasa senang mendengarnya." ucap Ezter
"Ehh?" Daniel terkejut, ia menoleh dan melihat bahwa Ezter tersenyum kearahnya.
"Kau menyukainya..? Haruskah aku menyuruh koki untuk membuatkan nya lagi setiap hari?" tanya Ezter
"Kak, bukankah itu akan membosankan..? Makan menu yang sama setiap hari menjadi bosan. Benar kan kakak..?" Edward menoleh pada saudara kembarnya
Edmund mengangguk, "Rasa bosan akan datang ketika melihat menu yang sama. Namun, koki kita sangat berbakat.. Aku pikir, makan siang kali ini juga enak." jelas anak itu
"Maka kalian harus berterima kasih pada kepala koki, dia akan senang mendengarnya." sambung Grand Duke yang masuk kedalam topik.
"Yah.. Ku pikir, kepala koki akan memberikan kalian hadiah karena telah menyukai makanan yang ia masak." sambung Ezter juga
Kemudian, gadis itu menyuruh butler untuk menambahkan makanan di piring Daniel yang sudah mulai kosong.
Daniel tak menyangka bahwa makan siang terasa lebih baik. Dia pikir, karena ini pertama kalinya dia berada di meja makan yang di impikan semua orang jadi makanan nya juga enak.
Namun ternyata anak-anak juga menyukai makan siang yang di sajikan oleh kepala koki.
Setelah makan siang pertama berakhir, Daniel kembali ke kamarnya dengan di temani oleh seorang butler. Anak-anak pergi membaca buku, lalu istirahat siang.
__ADS_1
Daniel yang juga melewati hari yang rumit juga merasa lelah ketika tiba di kamarnya, ia langsung tertidur begitu tubuhnya menyentuh kasur.
"Ku harap, aku tidak mengambil langkah yang salah." gumamnya sebelum masuk kedalam mimpi.