Aku Merebut Pria Protagonis Wanita

Aku Merebut Pria Protagonis Wanita
Ngidam MilkTea


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, ini sudah hari ke lima sejak kabar tentang pernikahan Diana di dengar oleh semua orang.


Tanpa malu sedikitpun, kabar itu telah tersebar luas di luar sana. Diana melakukannya agar Grand Duke bisa mengambil umpan yang telah ia pasang. Namun apakah Grand Duke peduli? Tentu saja tidak. Ia menentang keras pernikahan Diana


Sejak awal, Grand Duke telah tutup mata dan tak peduli, namun karena Diana bukannya mengintrospeksi diri malah semakin menjadi-jadi.


Beberapa hal telah berjalan tanpa mengikuti alur cerita Novel. Namun, Ezter juga tak peduli karena dia tak ingin mengikuti alur takdir yang telah di tulis oleh Author.


Ezter melirik jam dinding yang tergantung di ruang kerja nya. Ia bangun dari kursi, merenggangkan tubuhnya yang sedikit kaku dan terasa pegal, terlebih karena ia duduk selama berjam-jam.


Menuangkan secangkir teh, gadis itu meneguk nya. 'Teh nya sudah dingin, akan lebih bagus jika ditambah susu, bola-bola cokelat kenyal dan es.'


Entah mengapa, dia tiba-tiba ingin minum MilkTea.


"Mumpung pekerjaan ku sudah berkurang, aku bisa bersantai sejenak." gumam gadis itu, ia melangkahkan kakinya ke arah dapur.


Ketika menuruni anak tangga, suara kedua adiknya terdengar.


"Aku pikir, kak Ete sedang bekerja. Apa kita tidak mengganggunya, Kak?" suara imut itu bertanya


"Meskipun kakak terus bekerja, namun kak Ete selalu meluangkan waktu untuk kita. Dia tak akan mungkin memarahi kita karena dia mencintai kita. Jangan takut Edward," yang lain malah meyakinkan.


"Apa kalian sudah selesai kelas?" suara Ezter yang terdengar membuat keduanya saling pandang, setelah itu melihat ke tangga dimana kakak tertua mereka sudah terlihat.


Edward tersenyum lalu berlari dengan semangat. "Kakak! Aku merindukanmu," anak itu memeluk paha Ezter


"Aigooo... Kakak juga merindukanmu. Kakak merindukan kalian berdua," Ezter berjongkok lalu memeluk Edward. Edmund juga mendekat lalu memeluk kakaknya tersebut


"Aku juga merindukanmu, Kak." ucapnya malu-malu


"Aduhh... adik siapa ini? Mengapa kalian berdua sangat imut...Cupp.. Cupp." Ezter mengecup pipi mereka berdua, lalu memeluk keduanya.


"Tentu saja aku adik kak Ete." Edward tersenyum manis saat mengatakan nya, ia kemudian membalas kecupan Ezter.


"Aku juga," suara Edmund terlalu kecil dan malah seperti bisikan. Wajah anak itu memerah sehingga dia menyembunyikan wajahnya di celuk leher Ezter.


Ezter rasanya ingin menggoda adiknya tersebut, namun jika dia menggodanya maka Edmund mungkin akan pergi mencari tempati untuk bersembunyi karena malu.

__ADS_1


"Kak, apa pekerjaan mu sudah selesai? Mengapa kakak berada di sini?" tanya Edward dengan wajah polosnya


"Ah, pekerjaan ku masih ada, namun telah berkurang. Kau tahu, bekerja keras itu sangat baik namun jangan lupa untuk beristirahat sejenak. Lalu bagaimana dengan kelas kalian, apa menyenangkan?" kini giliran Ezter yang bertanya


Edward mengangguk dengan semangat. "Guru tadi memujiku, aku bisa menghitung dengan benar." ucapnya pamer


"Itu bagus. Edward memang anak yang pintar, lalu bagaimana dengan Edmund?" Ezter menoleh ke adik laki-laki pertama nya.


"Kak Ede menghitung dengan sangat baik, kakak lebih banyak menjawab pertanyaan dari pada aku..." anak itu awalnya bersemangat namun ucapannya yang terakhir malah sebaliknya dan terdengar sedikit lesu.


"Sangat bagus, kalian berdua telah belajar dengan baik. Malam nanti, biar kakak ajarkan menghitung dengan cepat, oke?" Ezter mengusap kepala Edward untuk menyemangatinya, tak lupa berjanji pada keduanya.


"Aku sangat suka belajar dengan kak Ete, guru juga terus memuji kakak karena sangat pintar. Aku ingin seperti kak Ete," ucap Edward tanpa ragu-ragu


Ezter tersenyum lalu mengusap kepala anak itu dengan sayang. "Maka kau harus lebih rajin belajar untuk seperti aku."


"Emm. Tentu saja aku akan lebih bekerja keras agar sama seperti kak Ete." anak itu mengepalkan kedua tinju nya dengan semangat


"Ayo ke dapur, kakak akan membuat sesuatu untuk kita."


"Kakak, apa yang akan kau buat? apakah enak?" tanya Edward cepat


Sikapnya juga lebih berani, meskipun kaki dan tangannya gemetar namun dia akan menegakkan dadanya untuk melindungi Edward. Edmund menganggap dirinya lebih tua, sehingga dia harus menjaga adiknya


Ketiganya berjalan kearah dapur, yang berada di mansion itu. Membutuhkan lebih banyak waktu untuk tiba di sana karena mansion itu sangat luas, bagaimana pun itu adalah Kastil penguasa.


Edward dengan bersemangat berlarian sehingga dia berada di depan, kedua kakaknya mengikuti dari belakang.


Edmund mengangkat kepalanya dan menatap kakaknya saat tangan itu mengusap rambutnya, "ada apa?"


"Kau belajar dengan sangat baik. Namun jangan memaksakan diri, kau bisa lelah dan sakit. Kau.... tak apa-apa. Ayo, kita ketinggalan" Ezter mau mengatakan kata hatinya, namun dia pikir Edmund pasti tidak akan mengerti semua ucapannya meskipun anak itu cerdas.


Ketika Ezter memperhatikan kedua adiknya, Edmund memiliki potensi lebih banyak dari pada Edward. Sikap dan sifat keduanya juga berbeda meskipun memiliki wajah yang sama. Edward sedikit lambat, bahkan ketika keduanya masih bayi anak itu lebih banyak menangis dibanding Edmund.


Edmund tersenyum, lalu mengejar adiknya. 'Tangan kakak sangat hangat dan kuat, aku juga ingin seperti kak Ezter. Kakak pintar, dia juga bisa mengalahkan para ksatria, bisa bermain piano dan melukis, kak Ezter adalah idolaku.'


__________

__ADS_1


Ketiganya tiba di dapur, dan menarik perhatian para koki yang bekerja disana.


"Lady ada di sini."


"Sungguh? Apa yang akan ia lakukan kali ini?"


"Apapun itu, ayo kita lihat"


Indera pendengaran Ezter cukup tajam, sehingga dia mendengar bisikan-bisikan para pelayan dan koki yang berada di dapur.


Begitu melihat ketiganya, semua orang menundukkan kepalanya dan memberikan salam.


Kepala koki maju, "Lady, apa yang bisa saya bantu kali ini?" tanyanya


"Apa kau memiliki gula merah, tepung tapioka, dan cokelat?" tanya Ezter


"Gula merah? Saya ragu, Lady. ini pertama kali saya mendengarnya, jika yang Anda maksud adalah gula batu dan gula bubuk, dapur selalu memilikinya.Kita memiliki tepung tapioka yang selalu tersedia. Lalu cokelat , saya minta maaf. Sepertinya kita tak memiliki nya, ini pertama kalinya saya mendengar bahan-bahan tersebut. Apakah diperlukan untuk masakan Anda kali ini?" tanya Kepala koki dengan ragu, namun juga bersemangat.


dia penasaran dengan bahan-bahan yang di sebutkan oleh majikannya ini. Sesuatu yang baru terdengar ini sepertinya langkah, namun dari mana bahan-bahan itu diketahui oleh Lady Ezter? Sesuatu yang masuk kedalam dapur, pasti dan harus diketahui oleh nya, Kepala koki Mansion Grand Duke


"Jadi begitu, tak apa. Aku akan memikirkan hal lain, maka siapkan saja susu." ucap Ezter menenangkan kepala koki. "Dan juga, apa kau memiliki es? aku menginginkan nya. Cukup satu mangkuk saja," tambahnya


"Baik, Lady." Kepala koki segera menyiapkan susu dan es yang diminta oleh Ezter.


Sebenarnya, membuat Boba bukanlah hal yang sulit. Namun, akan lebih baik jika cokelat dan gula merah tersedia. Jika itu teh, dia tak menghawatirkan nya lagi.


'Kalau begitu, mari berpindah pada milk shake. Ada buah apa saja di sini?'


Ezter mengangkat kepalanya, matanya melihat sekeliling dapur lalu menemukan keranjang buah-buahan disana.


"Kakak, apa yang akan kau masak?" Tanya Edward sambil mengikuti langkah Ezter.


"Aku ingin membuat minuman segar, namanya Milk Tea. Namun, bahan nya tidak lengkap jadi aku akan membuat Milk Shake. Kau pasti akan menyukainya." ucap Ezter dengan yakin


"Jadi ternyata bukan makanan tapi minuman?" ucap Edward


"Benar. Jadi, maukah kalian berdua membantuku?"

__ADS_1


"Tentu saja!"


"Jika aku bisa membantu, maka ayo lakukan."


__ADS_2