
Sore harinya...
Ketika Sore menyingsing, Edmund dan saudara kembarnya sedang bersantai dengan Tea Time. Kali ini Ezter tak hadir dan sedang berlatih dengan para ksatria De Leon.
Namun bukan berarti hanya ada mereka berdua saja, karena Ezter menyuruh mereka untuk dekat dengan saudara iparnya, Edward mengajak remaja itu Tea Time.
"Kak, apakah kita harus dekat dengannya?" tanya Edward ragu
"Itulah yang di inginkan oleh Kak Ete. Memangnya kita bisa melawan..? Mari lihat kepribadiannya." balas Edmund dengan tenang
Tak beberapa lama, terlihat Daniel yang di pandu oleh Butler ke gazebo taman.
Ketika tiba, Daniel memberikan salam. Setelah di sambut dan di persilahkan untuk duduk, remaja itu duduk dengan canggung di antara anak-anak.
Teh di tuangkan oleh Butler, lalu ketiganya hanya minum teh dan terdiam. Padahal anak-anak memiliki 1000 macam pertanyaan dan topik untuk di bicarakan, namun keadaan di sana terlihat sunyi.
"Ah.. mengapa kita semua diam? Apa tidak ada yang ingin bicara?" Edward bosan dengan kesunyian yang ada.
"Bukankah kau baru saja bicara?" sambung Edmund datar
"Kak, aku benci ucapanmu..!" anak itu kesal dengan saudara kembarnya yang tidak searah.
"Hehehe..." mendengar tawa yang di tahan, kedua menatap pada sang pelaku
"Apa yang lucu?" bisik Edward, namun saudaranya hanya mengangkat bahu tak tahu.
"Tea Time tanpa mengobrol itu membosankan, benar kan Kak Daniel?" tanya Edward dan diangguki oleh remaja itu
"Lalu... Bagaimana jika kita membicarakan tempatmu, Kak. Seperti apa Refaim?" tanya Edmund mengorek informasi
"Tempat asal saya.." Daniel terdiam sejenak, dia pikir Pati Edmund hanya penasaran saja, karena anak-anak memiliki rasa penasaran yang tinggi.
"Refaim merupakan wilayah yang tidak besar lalu tempat yang tenang, warga kami juga ramah dan baik."
"Lalu, bagaimana perekonomian disana?" tanya Edward
"Perekonomian kami juga baik karena Ibu saya merupakan pemimpin yang cakap dan peduli pada warganya. Meskipun kami wilayah kami tidaklah begitu kaya dan tak ada tambang namun wilayah ini sejahtera." tentu saja ada kebanggaan tersendiri pada tempat kelahirannya
"Tak ada tambang apapun..? Lalu, bagaimana tempat kalian bisa sejahtera?" rasa penasaran anak-anak itu kian bertambah
__ADS_1
"Meskipun kami tak memiliki tambang, namun kami memiliki lahan pertanian dan hutan yang lebat. Para petani bercocok tanam, dan para pemburu masuk keluar hutan untuk berburu. Dagingnya bisa dimakan, dan bulu nya bisa di jual tergantung buruan yang di dapat." remaja itu bicara dengan begitu fasih
"Waw, Itu keren..!" ucap Edward kagum, karena sebelumnya anak itu pernah membaca buku cerita tentang seorang petualang yang suka berburu di hutan, dia menganggap berburu merupakan hal yang di kagumi nya.
Edmund juga mengangguk tanda setuju.
"Emm.. saya memiliki sesuatu untuk Anda berdua. Saya pikir, mungkin anda akan menyukainya."
Edward melirik kearah kakak kembarnya, lalu menatap Daniel dengan sedikit rasa penasaran.
Butler yang datang bersama Daniel melangkah maju setelah mengambil meja troli dari rekannya.
Edmund dan Edward menatap kearah Butler yang menuangkan minuman kedalam cangkir, masih ada kepulan uang putih diatasnya.
"Ini adalah olahan minuman dari tempat asal saya, kami belum menemukan nama tanaman itu hingga sekarang jadi kami juga belum menamainya." Daniel menjelaskan sebentar, ia melihat Edward yang mengambil gelas dan meniupnya sebentar sebelum anak itu menyesapnya.
Edmund juga melakukan hal yang sama, anak itu menghirup aroma yang di keluarkan dari minuman tersebut, ia terlihat menikmatinya lalu menyesapnya. "Tidak buruk," gumamnya
"Waw! Rasanya unik, ada rasa pahit dan juga manis. Ku pikir, rasa pahit berasal dari buah itu sendiri lalu manis ini pasti dari madu atau Gula. Apa aku benar, Kak?" ia kembali menyesapnya lagi karena dia menyukainya.
Daniel menutup mulutnya karena terkejut, "Bagaimana anda bisa mengetahuinya, Tuan muda?"
"Hehehee... Bukankah aku seorang jenius?" membanggakan dirinya sendiri, Edward terlihat sangat puas.
"Ahh... syukurlah jika Anda berdua menyukainya." Remaja itu juga mengambil gelas dan menyesap minuman tersebut.
"Di tempat kami, minuman ini sangat disukai oleh banyak orang. Biasanya di temani dengan cake atau kudapan lainnya, sama seperti saat minum teh." Daniel memperkenalkan cara menikmati minuman tersebut.
Saat ini, hanya karena minuman hasil olahan tempat asalnya, Daniel berhasil mendapatkan hati kedua anak tersebut. Edward tidak mau lagi bicara formal, ia langsung meminta Daniel agar bicara dengan santai saja. Edmund juga menyetujui nya dan tidak keberatan.
Edward memiliki rasa penasaran yang tinggi mulai menanyakan tentang apa yang di sukai oleh remaja itu, tak lupa mengajaknya untuk bermain juga.
Tanpa mereka sadari, seseorang sedang berjalan mendekat.
Ia mengenakan kemeja putih dan celana hitam, lalu sepatu but yang ia kenakan membuat langkahnya terdengar.
Saat mencapai jarak yang tak begitu jauh, ia mencium aroma familiar. "Cokelat..?"
Semakin ia melangkah, aroma cokelat semakin tercium. Ternyata aroma cokelat yang di bawa angin berasal dari tiga orang yang sedang duduk mengitari meja di gazebo.
__ADS_1
Ksatria yang sedang berjaga melihat Ezter yang sedang mendekat. "Lady," keduanya memberikan hormat.
Ezter mengangguk lalu melewati keduanya. Edward yang menyadari bahwa kakak sulungnya sedang mendekat pun turun dari kursi dan berlari kearahnya
"Kakak..!" ia menyambut Ezter dengan gembira, tangannya terbuka sehingga Ezter juga membungkuk untuk menggendong adiknya itu.
"Bagaimana Tea Time nya, menyenangkan?" tanya Ezter
"Ya..! Kak Daniel membawa olahan dari Refaim, itu lembut dan enak. Aku suka..!" ucapnya dengan bersemangat
"Itu bagus," Ezter kembali mendudukkan Edward ke tempat duduknya, lalu mengusap kepala adik laki-laki nya yang lain sebelum tersenyum pada Daniel.
"Kalian tampak akur, ini sangat baik." Ezter senang melihat mereka yang terlihat akur. Mengapa terasa seperti sikap kedua adiknya berbeda saat berhadapan dengan Carl Fleur?
Mereka tak meninggalkan Daniel dan memperlakukan nya dengan hangat, tak seperti saat bersama dengan Carl Fleur.
"Apa kakak tidak lelah? Kakak masih memiliki keringat di sani." Edmund mengeluarkan sapu tangan lalu turun dari kursinya untuk menyeka keringat Ezter yang berada di leher
"Ini bukan masalah. Bukankah aku sering melakukannya?" Ezter terkadang akan berlatih memanah di sore hari, sehingga ia akan berkeringat. Namun ketika akan minum teh bersama kedua adiknya Ezter selalu mengganti baju lebih dulu
Namun, mengingat bahwa tempat latihan sedikit membutuhkan waktu dengan berjalan kaki ke gazebo, keringat akan keluar dari tubuhnya lagi karena merasa sedikit gerah dan panas.
"Terima kasih, Edmund. Duduklah," Ezter mengambil sapu tangan dan menyeka keringat yang berada di leher dan tengkuknya, kemudian memberikan sapu tangan itu pada Emillia.
"Aku juga mau, bisa tuangkan untukku?" ia menatap kearah cokelat hangat yang berada di gelas mereka bertiga.
Sebelum Butler atau Emillia bertindak, Daniel telah lebih dulu berdiri dan menuangkan cokelat hangat untuk Ezter.
"Terima kasih, Daniel." ucapnya lalu mengambil gelas dan menyesapnya. 'Cokelat memang yang terbaik.' Ezter memuji dalam benaknya.
Wajah Daniel muncul rona merah di pipi dan telinganya saat mendengar Ezter yang berterima kasih. Ia menundukkan kepalanya karena merasa sedikit malu sekaligus senang.
"Bagaimana rasanya, apa kakak menyukainya?" Tanya Edward penasaran, Edmund juga menoleh untuk melihat reaksi kakaknya.
"Yah, cokelat hangat memang enak. Namun, ku pikir es cokelat juga enak." Ezter menanggapi dengan biasa saja. Jujur saja, dia sedikit merindukan rasa ini
Pada saat ini, Daniel menatap wajah Ezter sekat-sekat. Membuat gadis itu menoleh, "ada apa?"
"Anda terdengar sangat mengenali nama olahan ini, bagaimana anda bisa mengetahuinya?"
__ADS_1
"...?" Ezter terdiam dengan tatapan sedikit heran
Kedua adik kembarnya juga menatapnya, mereka mendengar bahwa di Refaim belum mengenali pohon buah yang di olah ini, namun kakak tertua mengetahui dan bahkan mengenalinya?