Aku Padamu, Pak Guru

Aku Padamu, Pak Guru
Sepenggal Malam di Pasar Semawis


__ADS_3


Pasar Semawis yang berlokasi di sepanjang Jalan Gang Warung hanya buka setiap hari Jumat, Sabtu, dan Minggu. Meskipun tidak pernah sepi, puncak ramainya biasanya di malam Minggu. Di antara para pengunjung yang rata-rata penduduk lokal, terdapat beberapa wisatawan domestik maupun asing yang sengaja meluangkan waktu untuk berburu kuliner.


"Enaknya makan apa, nih?" Gadis bermata sipit itu tampak antusias mengamati stan-stan makanan yang berjejer rapi di pinggir jalan.


"Terserah kamu, deh." Cendana sedari tadi hanya mengikuti langkah Ranum yang belum ada tanda-tanda akan berhenti. Cendana tahu, untuk urusan makanan, sahabatnya ini sangat pemilih.


"Hei."


Hadirnya suara melengking tadi bersamaan dengan jatuhnya tepukan di pundak Ranum, membuat gadis itu agak tersentak.


"Jaka. Bikin kaget aja, deh." Ranum pura-pura sewot sambil mengentakkan kakinya.


Cendana tersenyum geli melihat keduanya.


"Lo ngapain di sini?"


"Jalan-jalan aja, sih. Mana tahu bisa ketemu jodoh." Jaka cengar-cengir gaje.


"Dasar!" Ranum geleng-geleng. Pun dengan Cendana.


"Pak, sebelah sini!" Teriakan Jaka yang tiba-tiba kepada seseorang, membuat kedua gadis di dekatnya spontan menoleh.


"Lo bareng Pak Jati?" Pertanyaan Ranum sebenarnya tidak butuh jawaban, karena jelas-jelas orang yang sedang berjalan menghampiri mereka, setelah mendengar teriakan Jaka, memang Jati.


Tadinya Jati mengira Jaka masih di sampingnya. Tiba-tiba hilang karena menghampiri kedua teman sekelasnya, membuat Jati bingung.


Respons Cendana tentu saja tak sebiasa Ranum. Meski diam saja, ia senang bukan main. Ternyata tak perlu menunggu esok, malam ini Tuhan menghadirkan sosok rupawan itu di depannya. Jati tampil kasual, sangat timpang ketika ia berperan sebagai guru. Ia mengenakan t-shirt Polo abu-abu yang dijodohkan dengan jins selutut berwarna biru pudar. Sepatu kets putih melengkapi penampilannya. Malam ini Jati benar-benar menanggalkan image guru di dirinya, membuat Cendana kian sulit mengalihkan pandangan.


Cendana ingin menyapa duluan saat Jati sudah bergabung dengan mereka, namun lidahnya mendadak kelu. Akhirnya ia hanya bisa tersenyum saat cowok itu menyapanya.


"Ya ampun, gue hampir lupa. Tadi Mama nitip dibeliin Jamu Jun. Sebelum benar-benar lupa, kayaknya gue beli sekarang aja, deh." Ranum sibuk menoleh kiri-kanan. "Em ... kayaknya stannya di ujung sana, deh." Ranum mengacungkan telunjuk jauh ke depan. "Ka, temenin gue, ya." Ranum meraih pergelangan tangan Jaka, lalu menoleh ke arah Cendana. "Dana, kamu di sini aja, ya, temenin Pak Jati. Atau kalau mau langsung makan, silakan. Nanti tinggal kabari di stan mana." Setelah berucap cepat, Ranum melangkah panjang-panjang sambil menyeret Jaka yang tampak tidak keberatan.


Cendana bingung. Ia tidak sempat mengucapkan apa-apa. Tahu-tahu sekarang ia ditinggal berdua dengan Jati. Suasana yang tadinya mulai hidup, mendadak kaku. Entah harus bagaimana sekarang.


Jati yang tadinya sempat sangsi saat—tanpa sungkan—Jaka mengajaknya ke tempat ini, sekarang sangat bersyukur karena tidak jadi menolak. Malah, ia harus berterima kasih setelah ini. Ajakan kurang berkelas yang hampir ditolaknya, kini berbuah kesempatan berduaan dengan Cendana di tengah suasana hangat Pasar Semawis.


"Jalan lagi, yuk!" Jati mengambil alih kekakuan, setelah sadar momen langka ini tidak boleh disia-siakan.

__ADS_1


Cendana mengiyakan dengan anggukan pelan, lalu menunduk dan mulai mengikuti langkah Jati.


"Kamu mau makan apa?"


Cendana yang memang sekadar menemani Ranum, sama sekali belum kepikiran mau makan apa. Lagipula, tumis kangkung Bibi selalu membuatnya lahap. Saat ini ia sama sekali belum lapar. Tapi, kesempatan bisa makan bareng Jati tidak boleh dilewatkan. Cendana baru hendak menyerahkan urusan memilih makanan ke Jati, saat langkahnya tiba di depan stan pisang plenet.



"Mau yang ini?" tanya Jati setelah menyadari langkah Cendana memelan, dan memerhatikan stan di samping mereka.


Cendana mengangguk. Bukan tanpa sebab stan itu serupa punya daya gravitasi baginya. Ia ingat betul, pisang plenet adalah kudapan kesukaan Cakka. Dulu, setiap kali mereka ke sini, Cakka tidak pernah absen mencicipi hidangan pisang bakar pipih dengan aneka topping itu.


Setelah memesan, mereka duduk berhadapan di kursi plastik, diantarai meja kecil.


"Kamu sering makan di sini?"


Cendana kembali hanya mengangguk. Jati mulai merasa, ada yang tidak beres dengan gadis itu. Wajahnya juga tak seceria tadi.


"Kamu baik-baik aja?"


Cendana mengupayakan sebuah senyum, yang tampil sangat terpaksa di mata Jati.


Jati menarik jus untuknya lebih dekat. Lalu menyedotnya perlahan-lahan, sambil mengamati ekspresi Cendana, yang diyakininya tidak sedang baik-baik saja.


"Di antara semua makanan di sini, Cakka paling suka ini."


Jati melepas sedotannya, lalu memasang sikap siap mendengar apa pun yang ingin dibagikan Cendana.


"Wajahnya selalu semringah jika berhadapan dengan makanan ini." Getaran di ujung kalimat Cendana dibarengi senyum getir.


Jati baru pertama kali mendengar Cendana menyebutkan nama Cakka, tapi ia yakin, orang yang dimaksud adalah almarhum adiknya, seperti yang pernah diceritakan Jaka.


"Kamu merindukannya?"


Cendana kembali mengangguk. Kali ini setetes bening lolos dari sudut matanya. Melihatnya, Jati miris. Tapi cowok itu bingung, harus bertindak sebagai apa sekarang. Guru? Teman? Atau seseorang yang peduli karena perasaan spesial?


Sesaat kemudian, ekspresi Cendana semakin tidak keruan, saat pemilik stan mengencangkan volume musik yang tadinya mengalun perlahan dari media player-nya. Potongan-potongan kejadian memilukan seketika berkelebat di benak Cendana. Ia memejamkan mata dan berusaha menenangkan diri. Tapi tidak sepenuhnya berhasil. Tangannya malah gemetar, disertai air mata yang sudah mengucur deras.


Jati mulai panik melihat gadis di depannya seperti baru saja bertemu ketakutan paling akut. Di tengah kebingungan, ia meraih kedua tangan Cendana yang getarannya semakin hebat.

__ADS_1


"Dana, kamu kenapa?" Jati *** jemari Cendana, berusaha menenangkannya.


"Pak, tolong suruh mereka matiin musiknya." Suara Cendana terputus-putus di tengah tarikan napas yang semakin payah. Matanya tetap terpejam.


Tanpa perlu mengerti sepenuhnya, Jati langsung melompat dari kursinya, menemui penjaga stan dan memintanya mematikan musik yang sebenarnya bertujuan untuk menambah kemeriahan suasana.


Meski penjaga stan itu sempat bingung saat jati menunjuk ke arah Cendana, ia langsung menuruti permintaan Jati tanpa pertanyaan apa-apa.


Jati berterima kasih sebelum kembali ke hadapan Cendana.


Setelah suara musik menghilang, kondisi Cendana tidak langsung pulih. Upaya menormalkan pola napas menampakkan dadanya naik turun dengan cepat.


Jati kembali menggenggam kedua tangan Cendana. Jati mencoba mengalirkan energi positif dengan *** lembut jemari lemah itu, hingga mata pemiliknya terbuka perlahan-lahan. Sedikit lebih lama lagi Cendana tak juga membuka mata, Jati bermaksud menghubungi Ranum dan Jaka. Tadinya ia mulai takut melihat kondisi gadis di depannya.


"Kamu baik-baik aja?" Kekhawatiran masih mengental di suara Jati.


Cendana mengangguk. Ia menarik tangannya dari genggaman Jati untuk menyeka air mata di pipinya.


Jati bangkit dari duduknya. "Ayo, kita cari tempat lain kalau kamu kurang nyaman di sini." Cowok itu mengulurkan tangan.


Cendana mendalami sorot mata Jati beberapa jenak, sebelum melabuhkan genggamannya. Mereka melangkah perlahan sambil bergandengan tangan di tengah pengunjung Pasar Semawis yang semakin malam semakin padat.


"Yakin, kamu nggak mau cerita apa-apa?"


Cendana hanya menggeleng saat Jati menoleh ke arahnya.


"Tadi kamu bikin aku takut." Jati sengaja menyertakan tawa di ujung kalimatnya, bermaksud mencairkan suasana.


"Maaf, Pak. Saya memang selalu seperti ini saat mendengar musik kencang-kencang."


Musik?


"Sejak adiknya meninggal, musik bukan lagi sesuatu yang menarik untuk Cendana."


Perkataan Jaka kembali terngiang di benak Jati. Astaga, kenapa tidak sedari tadi ia menyadarinya?


Mengingat musik tadi bertempo sedang, sama sekali bukan tipe musik yang berpotensi bikin jantungan, Jati yakin, Cendana pernah mengalami kejadian traumatik yang menghubungkan kematian adiknya dengan musik. Tapi apa?


***

__ADS_1


__ADS_2