Aku Padamu, Pak Guru

Aku Padamu, Pak Guru
Terima Kasih untuk Semuanya, Pak


__ADS_3

Setibanya di kelas, Cendana disambut oleh surprise dari teman-temannya. Ranum yang sedang memegang kue tart berhiaskan lilin angka 18, dikelilingi teman-teman sekelas yang sangat antusias menyanyikan—sambil tepuk tangan—lagu Selamat Ulang Tahun yang pernah dipopulerkan oleh Jamrud.


🎵🎵🎵 👏👏👏


Smoga Tuhan, melindungi kamu


Serta tercapai semua angan dan cita-citamu


Mudah-mudahan diberi umur panjang


Sehat selama-lamanya ....


🎵🎵🎵 👏👏👏


Sesaat, Cendana hanya bisa terpaku di depan pintu. Senyum bahagia penuh rasa terima kasih mengembang di wajahnya. Sebelum tiup lilin, Cendana tiba-tiba teringat ucapan Jati tadi; mulai sekarang, ia harus belajar merancang masa depan. Maka Cendana memejamkan mata sesaat demi mengucapkan sebuah permintaan. Meski isi doa Cendana mengharapkan kehangatan dalam keluarganya, namun satu-satunya bayangan yang membatik di benaknya adalah wajah Jati.


Setelah Cendana meniup lilin, mereka berebut salaman dan mengucapkan selamat sekali lagi secara personal. Jaka yang pertama, lalu buru-buru mengambil alih kue dari tangan Ranum dan melarikannya ke pojok kelas. Anak-anak cowok yang lain lekas bergabung dengan sang pakar cinta di sana.


"Selamat, ya! Tambah tua aja, lo." Ranum merangkul Cendana sambil beriringan ke bangku mereka.


"Thanks, ya, Ra. Pake repot-repot segala."


"Eits, ini nggak gratis, ya. Gue perlu nyogok mereka satu-satu biar mau datang lebih awal. Kantin Bu Dali udah kita booking untuk jam istirahat nanti. Lo yang bayar!"


Cendana pura-pura shock sambil tepuk jidat.


"Betewe, Pak Jati udah ngucapin selamat, belum?" tanya Ranum lebih serius saat mereka sudah duduk berdampingan di bangku masing-masing. Seolah mengerti situasi, ia sengaja memelankan suaranya.


Cendana mengangguk malu-malu.


"Dia ngasih kado apa?" kepo-nya lagi.


Cendana bingung harus jawab apa. Tidak mungkin ia menceritakan pemberian Jati tadi, yang hanya berupa selembar kertas kosong. Ia memilih menggeleng kemudian.


"Masa, sih?" Ranum mengernyit kurang yakin. "Kalian udah jadian, kan?" cecarnya.


Cendana menggeleng tegas.

__ADS_1


"Dia belum nembak juga?"


"Udah, ah. Nggak enak didengar sama yang lain."


"Ini nggak mungkin. Gue yakin banget, dia cinta sama lo." Ranum sengaja menekankan kalimatnya. "Lo juga, kan?" imbuhnya.


Cendana tidak merespons. Ia pura-pura sibuk menyiapkan buku-bukunya untuk pelajaran pertama. Setelah Ranum memilih diam dan tidak menuntut penjelasan lagi, diam-diam Cendana kepikiran ucapan teman sebangkunya itu. Jati cowok pertama yang ia ceritakan secara detail perihal kematian Cakka. Bahkan sampai mengajaknya masuk ke kamar anak itu, hal yang menurut Cendana sudah teramat jauh. Kalau Jati memang punya perasaan yang sama dengannya, rasanya memang agak aneh jika sejauh ini belum diutarakan. Padahal Cendana sudah memberikan pancaran sinyal dari segala arah, pun menangkap dengan baik jika datang dari sebaliknya.


Cendana mendadak galau. Apa mungkin, cuma ia yang punya perasaan itu?


***


Jam istirahat berlangsung sesuai yang sudah direncanakan Ranum. Seluruh penghuni kelas XII IPA 2 hari ini makan gratis sepuasnya di kantin Bu Dali. Demi bisa mengajak Jati bergabung tanpa mengundang kasak-kusuk, yang kebetulan mengajar di kelas mereka sebelum jam istirahat, Ranum melibatkan wali kelas mereka. Jaka paling bisa diandalkan untuk urusan seperti ini. Ia berhasil melobi dengan baik. Hanya satu hal yang sungguh di luar rencana, Bu Susi ikut nyempil di meja Pak Hasan dan Jati. Entah dari mana perawan tua itu mengendus perayaan hari ulang tahun Cendana di kantin ini. Maksud untuk membuat Jati dan Cendana semeja, gagal total.


***


Jati tahu hari ulang tahun Cendana dari Jaka beberapa hari yang lalu. Ia langsung merancang kejutan spesial. Minimal makan malam berdua di sebuah restoran bernuansa romantis. Tapi setelah berunding dengan Jaka, ia terpaksa melupakan rencana itu. Kata Jaka, Cendana lebih suka merayakan hari ulang tahunnya dengan cara sederhana. Karena itu, siang ini selepas jam sekolah, Jati ingin mengajak Cendana ke panti asuhan. Ia sudah bicara dengan Bu Fatimah dan anak-anak, untuk menyiapkan semacam perayaan khusus untuk Cendana.


Seharusnya Jati sudah keluar. Cendana pasti sudah menunggunya di samping pos satpam. Tapi, saat merapikan buku-bukunya, tiba-tiba Pak Usman—kepala sekolah—mendatangi mejanya dan memintanya masuk ke ruangannya. Selain pernah sekali hampir terlambat, Jati tidak merasa punya salah apa-apa. Tapi tetap saja perasaannya jadi tidak enak.


Jati melangkah pelan memasuki ruangan Pak Usman setelah mengetuk pintu dan mengucap salam.


Pak Usman melepas kacamatanya sebelum bicara. "Saya dapat laporan, katanya, kamu dekat, ya, dengan Cendana?"


Deg!


"Kami hanya sebatas sering berangkat dan pulang sekolah bareng, Pak. Kebetulan kami sama-sama senang mengendarai sepeda, dan searah." Jati berusaha menjawab santai, meski detak jantungnya mulai kacau.


"Yakin?" Sorot mata Pak Usman menajam.


"Yakin, Pak!" jawab Jati setelah sempat menunduk beberapa jenak. Dari gesture dan intonasi suaranya terbaca, pikiran Jati tidak sejalan dengan jawaban barusan.


"Kalau kamu lupa, saya ingatkan sekali lagi. Sekolah kita ini berkali-kali meraih predikat sekolah menengah atas terbaik. Sebagai kepala sekolah, tugas saya memastikan tidak ada penyimpangan dalam bentuk apa pun yang bisa menjatuhkan nama baik sekolah ini."


Dari awal Jati paham, ia akan menghadapi konsekuensi semacam ini. Ia bersungguh-sungguh ingin berkarier di sekolah ini. Tapi persoalan cinta ... ruang lingkupnya mungkin agak berbeda.


"Ingat, kamu itu guru di sini, sedang Cendana adalah murid. Saya tidak mau lagi mendengar omongan tidak sedap tentang kalian."

__ADS_1


"Baik, Pak!" tegas Jati sambil merundukkan kepala.


"Ya sudah. Kamu boleh keluar."


"Terima kasih, Pak. Selamat siang!" Jati bangkit dari duduknya dengan isi kepala tidak keruan. Perihal rencana untuk mengutarakan perasaanya, sepertinya butuh pertimbangan ulang setelah ini.


Bu Susi yang sedari tadi menempelkan telinganya di pintu ruang kepala sekolah, lekas menyingkir setelah mendengar Jati undur diri. Ia berlalu dengan senyum penuh kemenangan.


***


Ketika Jati mengajaknya ke panti asuhan, Cendana sudah bisa menebak, cowok itu menyiapkan sesuatu untuk merayakan hari ulang tahunnya di sana. Namun, Cendana tidak menyangka akan sematang ini. Sebuah tenda sudah berdiri di halaman panti, lengkap dengan ornamen-ornamen khas pesta ulang tahun. Pada kursi-kursi yang tertata rapi, anak-anak duduk manis sambil menunggu si empunya hari. Di depan sana, ada panggung kecil yang dilapisi karpet merah. Keharuan Cendana seketika membuncah saat membaca tulisan di spanduk yang menjadi backdrop-nya.



Jati mengajak Cendana ke depan, bergabung dengan Bu Fatimah dan pengurus panti yang lain.


Fatimah berdiri menyambut Cendana. Setelah Cendana mencium tangannya, Fatimah mencium kedua pipi gadis itu, lalu memeluknya. Cendana belum pernah merasa diperlakukan sehangat ini.


Berbeda dari semua kejutan yang pernah Cendana terima, kali ini tidak ada acara tiup lilin. Yang ada hanya doa bersama yang dipimpin langsung oleh Fatimah. Sepanjang keheningan yang tercipta dalam doa, banyak hal yang Cendana panjatkan. Lagi-lagi ia tak lupa menyelipkan nama Jati.


Setelah doa bersama, perlombaan pun dimulai. Fatimah yang didampingi dua rekannya, bertindak selaku juri. Meski hadiah yang disiapkan tak seberapa, anak-anak itu tampak antuias. Konsentrasi para peserta sempat terganggu karena Alif tak mau ketinggalan untuk naik ke atas panggung. Untung Jati berhasil menjinakkannya, sebelum bocah itu benar-benar mengacaukan jalannya perlombaan.


Cendana meneteskan air mata mendengar anak-anak itu melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran sedemikian fasih.


Setelah semua peserta unjuk kebolehan, Jati bangkit dari duduknya dan mengangkat kursinya ke atas panggung, lalu duduk nyaman di sana. Cendana bertanya-tanya dalam hati, apa yang akan dilakukannya? Tak lama kemudian, seorang anak laki-laki berusia 14 tahun, bergabung bersama Jati di atas panggung. Jati langsung mengambil alih gitar yang ditenteng anak itu. Setelah berunding sebentar, anak berkoko marun itu mengambil posisi di samping Jati. Sampai di sini Cendana masih bertanya-tanya, tentang apa yang akan mereka lakukan. Jati melayangkan sebuah senyum ke arah Cendana sebelum mulai memetik senar gitar.


Maka Segala tanya di benak Cendana serta-merta berganti haru, ketika nada-nada yang terlahir kemudian mengangkatnya ke momen setahun silam. Terlebih saat anak itu melantunkan bait pertama lagu "Kakak Terhebat" ciptaan Cakka. Jati memainkan nadanya persis seperti cara Cakka. Suara anak itu juga lumayan, membuat Cendana tak mampu menahan tangis.


Fatimah yang tahu betul makna di balik lagu ini setelah Jati menjelaskannya, langsung menarik kepala Cendana untuk direbahkan di bahunya. Karena tak ingin merusak keceriaan anak-anak, Cendana membekap mulutnya agar suara tangisnya tidak terdengar, meski punggungnya sudah terguncang sedemikian hebat. Fatimah menepuk pelan untuk menenangkannya.


Jati kembali ke samping Cendana setelah menyelesaikan aksinya.


"Maaf, diam-diam aku memotret lirik lagu Cakka waktu kamu menunjukkannya, lalu mengajarkan ke anak tadi."


Cendana mengusap air matanya. Ia sama sekali tidak mempermasalahkan.


"Cakka memang tidak mungkin kembali, tapi di tempat ini, Tuhan punya banyak gantinya. Siapa pun bisa jadi keluarga di sini." Jati kembali berucap setelah melihat Cendana cukup tenang.

__ADS_1


"Terima kasih, Pak, untuk semuanya." Cendana membenarkan dalam hati.


***


__ADS_2