
Kerutan di kening Cendana semakin dalam selepas membaca sebaris kalimat buruk dari Ranum yang tidak bisa dipercayainya begitu saja.
Pak Jati dikeluarin dari sekolah?
Jempol Cendana seolah refleks scroll ke bawah, berharap menemukan penjelasan. Tapi yang ada hanya tumpukan kata tidak penting, tumpahan kekesalan si pengirim pesan karena tidak direspons.
Tidak! Cendana tidak akan mempercayai kabar itu begitu saja. Ranum pasti sedang mengerjainya. Tak ingin berlama-lama dengan rasa penasaran yang semakin tidak enak, Cendana lekas menelepon Ranum. Tapi setelah terhubung sekian detik, malah di-reject. Cendana memandangi layar ponselnya sambil bersungut kesal. Belum sempat ia mengulangi panggilannya, WA Ranum keburu masuk.
__________________________________________
Ranum: Kalau mau nelepon, kira-kira, dong! Pelajaran udah dimulai, nih.
__________________________________________
Cendana tahu, jam pelajaran memang sudah dimulai. Tapi untuk kali ini, ia tidak peduli. Kepastian kabar soal Jati jauh lebih penting. Alih-alih mengindahkan pesan Ranum, Cendana malah kembali menghubungi teman sebangkunya itu. Kali ini tidak di-reject, tapi dibiarkan begitu saja.
__________________________________________
Ranum: Lo mau gue diusir dari kelas karena terciduk teleponan?
__________________________________________
Fix, Ranum sedang tidak bisa diinterogasi untuk saat ini. Terus, bagaimana ini? Cendana mengusap frustrasi wajahnya. Ia kembali mondar-mandir sambil mengetuk-ngetukkan ponsel di dagunya, berpikir keras harus melakukan apa.
Setelah mencoba memaklumi, kali ini Cendana hanya mengirimkan pesan.
__________________________________________
Cendana: Serius, Pak Jati dikeluarin dari sekolah?
Ranum: Kirain lo udah EGP.
Cendana: Kamu bercanda, kan?
__ADS_1
Ranum: Waktunya lagi nggak pas untuk ngomongin ini. Tunggu sampai nanti sore. Pulang sekolah, gue langsung ke rumah lo.
__________________________________________
Merasa tidak yakin bisa baik-baik saja selama itu, tanpa pikir panjang, Cendana membuka blokiran nomor Jati dan langsung menghubunginya. Sayang sekali, nomornya tidak aktif. Belum menyerah, Cendana beralih membuka blokiran Jati di semua sosial medianya, lalu mengirim DM. Beberapa menit menunggu, tidak ada respons. Sepertinya sosial medianya pun tidak ada yang aktif. Cendana berkesimpulan demikian karena tidak ada aktivitas pembaruan sejak kemarin. Bahu Cendana merosot perlahan. Pasrah. Tapi, harus ia apakan perasaan yang telanjur kacau ini?
Tiba-tiba ketakutan menubruk hati Cendana. Bagaimana jika Jati benar-benar dikeluarkan dari sekolah? Masihkah ada pagi yang akan membingkai kebersamaan mereka? Cendana seolah ingin menghukum dirinya sendiri yang sedemikian kalut, setelah terang-terangan tidak main-main mengulur jarak.
Cendana mengedarkan pandangan, mencoba memunguti puing-puing kenangan bersama Jati di ruas jalan itu. Meski untaian waktu yang mereka pilin teramat sederhana, rupanya lumayan banyak, dan masih tercetak jelas di sendi-sendi udara. Cendana tidak ingin kehilangan semua itu.
***
Dari pagi menjelang sore, Cendana gelisah bukan main. Jati tak pernah mangkir dari benaknya sedetik pun. Sesekali ia berdoa lirih, semoga kabar buruk itu sebatas keisengan Ranum. Tapi sayang, Ranum baru saja bersumpah-sumpah, kalau Jati memang dikeluarkan dari sekolah.
"Gue juga nggak tahu pasti penyebabnya. Gue coba tanya Pak Hasan, malah dipelototin."
Jadi ... ini nyata? Anehnya, Cendana masih berusaha untuk tidak percaya. Ia berharap dengan cara pikirnya sendiri, Tuhan masih menyisakan pagi untuk ia lalui bersama Jati. di ruas jalan itu, di titik kenangan mereka.
"Tapi kayaknya ada hubungannya sama lo, deh."
"Ada yang pasang foto-foto kedekatan kalian di mading. Pak Hasan buru-buru copot, tapi anak-anak udah telanjur lihat. Bahkan difoto."
Cendana terpaku setelah tersentak mendengar ucapan Ranum. Belum sempat ia minta maaf atas sikapnya yang kemarin, sekarang malah bertambah. Cendana tidak tahu bagaimana harus memaafkan diri sendiri kalau sampai ia benar-benar terlibat secara tidak langsung di balik pemecatan Jati.
"Terus, sekarang Pak Jati di mana?"
Ranum mengendikkan bahu.
Tak mampu menahan gejolak rasa bersalah dan entah harus bagaimana sekarang, tanpa sadar, sepasang bulir bening membelah raut pipi Cendana. Melihatnya, Ranum jadi prihatin.
"Aku harus ke rumah Pak Jati. Anterin, ya!"
Ranum melongo. Entah apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. tapi percuma menyanggah, sebab Cendana sudah sibuk mengacak lemari pakaian di sudut ruangan, memilih pakaian yang lebih pantas dikenakannya untuk bertemu Jati.
__ADS_1
***
Langit Kota Semarang sedang mendung ketika Jati tiba di depan makam ayahnya. seperti biasa, setelah menabur bunga dan memanjatkan doa, Jati menatap lekat-lekat nama sang ayah yang terukir di batu nisan. Cara itu Jati anggap sedang bertatapan langsung dengan almarhum. Namun, agak berbeda dari biasanya, kali ini tatapan itu lebih lama. Di selanya, berkali-kali Jati menghela napas panjang, mencoba melegakan rasa bersalah dan tuduhan tidak becus untuk diri sendiri yang menggumpal di dada.
"Jati gagal setangguh Ayah. Maafkan Jati, Yah!"
Setitik dua titik air langit jatuh, sempurna membungkus suasana hati Jati. Jati menengadah, melawan perih yang terus mendesak. Ia tidak ingin terlihat hilang arah. Ia harus berpegang teguh pada petuah ayahnya, bahwa takdir seburuk apa pun, tidak mungkin Tuhan jatuhkan tanpa disertai hikmah setelahnya.
Sebelumnya, Jati menaruh harapan besar pada SMA Nusa Bangsa, tak menyangka kariernya akan sependek ini. Jati tak pernah bermaksud menyembunyikan profesi sampingannya sebagai vokalis band dari pihak sekolah. Hanya saja ia merasa hal itu tidak perlu dicantumkan saat mengisi formulir lamaran. Karena sampai saat ini, menjadi anak band belum pernah ia sebut sebagai pekerjaan. Setinggi apa pun mimpinya di sana, menjadi guru tetap pekerjaan utama yang akan ia perjuangkan. Namun, di dunia ini memang banyak hal yang menurut kita bisa sejalan, namun tidak dengan orang lain. Menurut kepala sekolah, profesi sampingan Jati kurang sejalan dengan visi-misi sekolah. Tenaga pendidik di sekolah yang ia pimpin harus bisa jadi contoh. Dan menurutnya lagi, anak band sama sekali bukan tipikal contoh yang baik untuk generasi penerus bangsa.
Jika cuma itu, Jati pasti bisa menerima dengan lapang dada. Namun, kepala sekolah juga menunjukkan beberapa lembar foto kedekatan Jati bersama Cendana, yang tentu saja diambil secara diam-diam. Hal ini yang membuat Jati tidak habis pikir. Benarkah ada pihak tertentu yang tidak menyukai keberadaannya di sekolah? Kenapa harus melibatkan Cendana segala?
"Silakan mengajukan surat pengunduran diri, sebelum nama baik sekolah ini tercoreng!" Kalimat penuh penekanan Pak Kepala Sekolah di ruangannya kemarin, kembali terngiang di telinga Jati.
Teringat sesuatu, Jati melirik pergerakan jarum jam di pergelangan tangannya. Ia menghela napas panjang, lalu mengusap wajahnya. Dua usaha termudah yang bisa dilakukannya sekarang untuk meredakan gemuruh di dada. Seharusnya ia sudah berada di rumah Kenanga, bergabung bersama ketiga rekannya, sebelum bersama-sama berangkat ke bandara. Berkat kegigihan Kenanga memperjuangkan segala peluang, sore ini mereka akan terbang ke Jakarta untuk memulai proses rekaman album perdana The Second Change Band. Entah bagaimana Kenanga membujuk papanya agar bersedia membiayai produksi album mereka, yang tentu saja jumlahnya tidak main-main.
Bisakah ini disebut hikmah? Jati menggeleng samar. Ia teringat Cendana, dan segala kerumitan yang menyertai kisah mereka. Pergi dari sekolah saja, tadinya cukup membuat Jati kalang kabut. Sekarang ditambah harus meninggalkan Semarang untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Entah, kondisi yang ada membuatnya tidak siap untuk menjalani perpisahan yang sebenar-benarnya. Kalau saja ia punya satu kesempatan untuk bicara dengan Cendana, mungkin jadinya tidak seberat ini. Tapi sayang, saat ia minta alamat baru Cendana ke Ranum, Ranum tidak bisa memberikannya. Alasannya bisa Jati mengerti. Cendana sudah berpesan, agar tidak memberikan alamatnya ke siapa pun tanpa izin. Dan sebagai sahabat yang baik, Ranum tidak akan melanggarnya. Sekalipun ia hampir tidak bisa menahan diri saat Jati memohon-mohon.
"Jati sekalian pamit, Yah, mau mengejar impian lainnya." Tangan kanan Jati kembali tergerak mengusap nama ayahnya yang terukir di batu nisan. "Menjadi guru teladan seperti Ayah, tetap akan Jati perjuangkan begitu ada kesempatan, suatu saat nanti." Bibir Jati membentuk lengkungan tipis. Meski matanya berkaca-kaca, ia menolak untuk terlihat rapuh.
Kendati sudah pamit, Jati masih bertahan di sana, hingga waktu memaksanya mencipta langkah-langkah berat untuk beranjak dari tempat itu, meninggalkan beberapa hal yang semoga sempat ia perbaiki suatu saat nanti.
***
Cendana tidak mampu menghindar dari bekukan rasa bersalah ketika mendapati pintu rumah Jati tertutup rapat. Pintu rumah itu tak ubahnya pintu hati Jati yang juga sudah tertutup rapat untuknya. Berkali-kali Cendana mengetuk pintu itu, meski yakin di dalam tidak ada orang. Gelisah membuatnya terus mondar-mandir, menunggu penuh harap.
Cendana ingin terus menunggu, meski malam sudah turun sedari tadi. Berkali-kali Ranum membujuknya untuk pulang. Tapi bukannya pulang, Cendana malah memohon diantarkan ke ruas jalan itu, muara kenangannya bersama Jati. Meski yakin hal itu percuma, Ranum tidak tega untuk menolak.
Maka di sinilah Cendana, di tempat yang banyak mengukir kebersamaannya dengan Jati. Meski dalam balutan malam yang lembab selepas turun hujan, Cendana masih bisa membaui aroma Jati di sana. Tentu saja dengan cara yang hanya ia yang paham. Mungkin Jati memilih pergi, membawa luka dan kecewa yang butuh waktu lama untuk menyembuhkannya. Atau ia memilih tidak terluka, dan menganggap apa yang telah terjadi sama sekali tidak penting untuk dikenang. Pemikiran itu membuat air mata Cendana kembali menderas. Ia takut, meski tak tahu apa yang ia takuti.
"JAAATIII!!!" Bersamaan dengan teriakan itu, tubuh Cendana merosot hingga jatuh terduduk di trotoar yang masih basah sepeninggal hujan.
Melihat kejadian itu, Ranum yang tadinya hanya mengawasi dari dalam mobil, lekas turun tangan. Sebelum ulah Cendana mengundang perhatian orang-orang di sekitar.
__ADS_1
***