
"Bawa saya ke tempat yang tenang, Pak. Ke mana saja. Terserah!" Demikian permintaan Cendana saat Jati berhasil menyusulnya sebelum masuk ke mobil.
Maka di sinilah Jati membawa Cendana, di sebuah masjid yang terletak di pinggir Kota Semarang. Jati mengajak Cendana shalat Isya berjemaah. Hanya mereka berdua, sebab jemaah yang lain baru saja bubar saat mereka tiba.
Cendana tidak menyangka akan dibawa ke sini. Jati melabuhkan pilihan di tempat yang sangat tepat. Cendana berhasil menenangkan diri setelah berkeluh kesah sepuasnya kepada Sang Pencipta.
Usai shalat, Cendana mengajak Jati makan. Mereka sengaja meninggalkan mobil di pelataran masjid dan berjalan kaki mencari warung bakso di sekitar tempat itu.
"Udah baikan?" Jati memecah hening.
Cendana tersenyum lemah.
"Lain kali, jika kamu butuh tempat tenang, tidak ada yang lebih tenang dari masjid. Bersujudlah. Sebab di kehidupan yang tak luput dari masalah ini, kita memang butuh jeda, untuk sekadar mengenang apa yang salah, atau menata langkah selanjutnya."
"Terima kasih untuk malam ini. Maaf, karena sudah melibatkan Bapak."
"Aku hanya bisa bantu sebatas ini. Selebihnya, kalian yang paling tahu cara untuk memecahkan permasalahan kalian."
"Benar, kan, Pak, mereka nggak ingat hari ulang tahun saya." Cendana berucap sambil menunduk, seolah ada sesuatu di trotoar yang sangat menarik perhatiannya.
"Aku yakin, mereka nggak sepenuhnya lupa, hanya tidak menemukan waktu yang tepat untuk benar-benar merayakannya di tengah-tengah kesibukan. Akhirnya kesannya seperti nggak peduli." Jati mengupayakan agar tak secuil pun bibit kebencian tumbuh di hati Cendana untuk kedua orangtuanya.
"Jadi dewasa, apa harus sesibuk itu?"
"Kesibukan bukan acuan kedewasaan. Ini tentang tanggung jawab. Kalau kamu mau memandangnya dari sisi positif, mereka kerja siang-malam karena ingin mengupayakan yang terbaik buat kalian. Yang salah bukan kesibukannya, tapi polanya."
Omongan Jati seperti inilah yang selalu membuat Cendana merasa nyaman berada di samping cowok itu. Ia seperti selimut bulu yang selalu ampuh menghangatkan, atau penunjuk arah ketika ia mulai tersesat. Entah atas dasar apa, Cendana yakin akan baik-baik saja selama bersama Jati.
"Saya jadi takut tumbuh dewasa. Lebih baik seperti ini terus."
"Masa depan itu indah, penuh kejutan. Percayalah! Karena hidup adalah perjalanan, maka kamu tidak benar-benar hidup jika hanya jalan di tempat."
Cendana menoleh saat tiba-tiba Jati menggandeng tangannya.

"Suatu saat nanti, akan ada seseorang yang bersedia menggandeng tanganmu seperti ini, lalu mengajakmu terus melangkah tanpa ragu."
Cendana menahan napas demi tidak salah mengartikan senyuman Jati yang menemani alunan kalimat penuh makna tadi.
Bolehkah orang itu Bapak?
"Jangan berpikir ini akan rumit. Kamu bisa memulainya dengan cara paling sederhana, sesederhana mengisi kertas pemberianku."
__ADS_1
Cendana tersadar. Ia belum menulis satu kata pun di kertas itu.
"Jangan bilang kamu belum mengisinya," todong Jati seolah mampu menebak mimik yang ditunjukkan gadis yang masih ia genggam tangannya.
"Bapak punya kertas rancangan masa depan juga?" Cendana sengaja menghindar.
"Tentu! Di sini." Jati menunjuk dadanya.
Bolehkah saya menuliskan nama saya di sana?
***
Sudah selarut ini Hajir masih terdiam di ruangannya. Di luar, lampu-lampu sudah dipadamkan, begitu pun puluhan komputer yang berderet di kubikel yang sudah kosong ditinggal penghuninya. Di atas meja berbahan kayu kualitas terbaik, terpampang laporan kas perusahaan yang banyak berhiaskan coretan-coretan merah. Profit perusahaan terjun bebas, diakibatkan utang yang semakin membengkak di sana-sini. Karena pernah beberapa kali ugal-ugalan menangani proyek besar yang mengakibatkan pendanaan labil, selaku perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi, perusahaan Hajir mulai ditinggal beberapa investornya.
Nasib perusahaan yang dibangunnya selama puluhan tahun itu berada di ujung tanduk. Namun bukan hal itu yang membuat Hajir larut dalam renung. Ia memijit pelipisnya ketika kata-kata Cendana di restoran tadi kembali terngiang.
Sudah sejauh itukah saya? Tanyanya pada diri sendiri.
Dengan segala kekusutan dalam kepala, ia berusaha mengumpulkan kenangan kebersamaannya dengan Cendana dan Cakka. Seberapa keras pun ia mencoba, tak ada memori yang benar-benar patut dikenang. Ia yakin, ini bukan karena daya ingat yang berkurang, tapi kenangan yang diharapkannya memang tidak pernah ada.
Belum putus asa, Hajir beralih mengetes diri sendiri, sejauh mana ia mengenal anak-anaknya. Ia semakin frustrasi ketika sekadar makanan favorit dari buah hatinya, pun tak ia ketahui. Hajir menghela napas panjang sambil meluruskan kaki dan merapatkan punggung di sandaran sofa tunggal berbahan kulit premium yang menemaninya merentang resah. Ia mulai berpikir untuk melakukan sesuatu.
***
Langkah Cendana sesaat terhenti saat Mama menyapanya sedemikian hangat. Bukan hanya intonasi suaranya yang berbeda kali ini, tapi Mama juga menyapa sambil menatap ke arahnya. Tidak ada ponsel atau berkas apa pun di depannya. Setelah insiden di restoran tadi malam, Cendana sama sekali tidak menyangka akan menemukan pemandangan ini.
Cendana kembali melangkah. Setibanya di meja makan, ia langsung menarik salah satu kursi dan duduk tanpa menjawab sapaan Mama.
"Papa mana?" tanyanya.
Gerakan tangan Sukma yang sedang mengambilkan nasi goreng untuk Cendana, sesaat terhenti. "Papa sudah berangkat, Sayang," jawab Sukma sambil berusaha tetap menjaga mimik cerah ceria yang ditunjukkannya.
Setibanya di rumah tadi malam, Sukma sengaja langsung menemui Bibi di kamarnya untuk menceritakan kejadian di restoran. Entah kenapa, setelah sekian lama, kali ini Sukma merasa perlu cerita ke Bibi, satu-satunya orang yang paling dekat dengan putrinya.
Bibi menganggap hal itu sebagai kesempatan emas untuk menyampaikan semua keluh kesah Cendana yang kerap dibagi dengannya, membuat nyonyanya tahu kondisi anak itu sesungguhnya. Maka tak ada yang disisa Bibi, semua dituturkannya. Bahkan, Bibi sengaja mendramatisir ruang-ruang sepi yang sering melingkupi hari-hari majikan mudanya.
Melihat secara tidak langsung kondisi anak sulungnya melalui cerita Bibi, batin Sukma sungguh terpukul. Bukannya tidak sadar selama ini, ia hanya tidak menyangka sudah sejauh ini. Kejadian tadi malam menegaskan, anak itu tiba di titik nyaris tidak mampu bertahan. Satu hal yang patut disyukuri Sukma, Cendana tidak melarikannya ke hal-hal negatif. Agar tidak sampai ke titik itu, sesegera mungkin ia harus menata ulang pola kerjanya.
Sukma sudah menyiapkan smartphone keluaran terbaru untuk kado ulang tahun Cendana. Tapi Bibi bilang, anak itu butuh hal-hal sederhana yang tidak berbentuk materi. Karena itu Sukma hadir sebagai ibu di meja makan pagi ini.
***
Sejak pertama kali Fatimah membelai rambutnya, Jati menemukan sosok ibu dalam diri perempuan itu. Wajar jika kemudian perempuan bermata teduh itu dijadikannya tempat berbagi untuk permasalahan apa pun. Termasuk peristiwa yang menyeretnya ke palung rasa bersalah yang berkepanjangan.
__ADS_1
Di hari pertama ia membawa Cendana ke panti asuhan, Jati sudah bicara sebelumnya, bahwa gadis itu kakak dari anak yang jadi korban kerusuhan itu. Setiap kali mengungkit peristiwa itu, Fatimah paham, rasa bersalah seperti apa yang menggerogoti pemuda bersahaja itu. Ia hanya bisa menegaskan, bahwa rasa bersalah itu seharusnya tak perlu ada. Dan jika memang Jati punya niat untuk bertanggung jawab dengan caranya sendiri, ia sarankan sesegera mungkin. Katanya, lebih cepat lebih baik. Agar seperti apa pun bentuk rasa bersalah yang bersarang di dadanya, segera mereda dan menghilang perlahan-lahan.
Teringat perkataan Fatimah, Jati memantapkan hati untuk mengatakannya pagi ini. Ya, di ruas jalan ini, titik yang kalau bisa ingin ia klaim sebagai miliknya bersama Cendana. Untuk kesekian kali Jati mengamati posisi jarum jam di pergelangan tangan kirinya. Cendana bukan terlambat, ia yang tidak sabaran.
Jati menarik napas panjang, mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin saat melihat Cendana sudah muncul di ujung jalan, seolah ingin langsung membeberkan semuanya tanpa jeda begitu gadis itu tiba.
Setibanya, Cendana cekatan menurunkan kickstand sepedanya, lalu bergegas merapat ke sisi Jati. Jati sempat heran melihat gerak-geriknya yang belum pernah seriang ini.
"Tebak, ada apa pagi ini?" Suara bersemangat Cendana dilengkapi dengan kepakan senyum sempurna.
"Pagi ini?" Jati pura-pura mikir sambil mengelus-elus dagunya dengan telunjuk. "Pagi ini ada PR dariku. Kamu udah ngerjain, belum?" ucapnya kemudian sambil pura-pura memasang tampang khas guru killer yang sedang menagih tugas ke muridnya.
"Kita masih jauh dari sekolah, tapi bisa-bisanya Bapak malah mikirin tugas," balas Cendana dengan tampang sok serius pula.
"Itu karena kamu nggak mau berhenti manggil saya "Pak"."
Cendana kalah telak. Ia tidak punya kalimat yang tepat untuk diucapkan saat ini.
"Jadi, sebenarnya ada apa pagi ini?" alih Jati, sebelum kekakuan telanjur merumpun.
"Mama nemenin saya sarapan sampai selesai. Dia juga nganterin ke pintu saat mau berangkat tadi." Senyum Cendana kian lebar. Pancaran kebahagiaan memenuhi sorot matanya.
"Alhamdulillah. Aku turut bahagia."
"Oh ya." Cendana membuka tasnya dan mengeluarkan sesuatu dari sana. "Mama nitip ini buat Bapak." Cendana menyodorkan kotak makanan berisi nasi goreng.
Jati tak langsung menerimanya, malah melongo.
"Mama tanya, siapa cowok yang saya temani tadi malam."
"Terus?" potong Jati dengan tampang shock.
"Saya jawab apa adanya."
"Maksudnya, kamu bilang kalau aku ini gurumu?"
Cendana menangguk. "Memangnya harus jawab apa lagi?"
Jati tepuk jidat. "Mati, dah!"
"Bapak kenapa?" Cendana mengernyit.
***
__ADS_1