
Hari ini Jati sengaja berangkat lebih awal. Bahkan, ia tiba di ruas jalan, tempatnya selalu menunggu Cendana, ketika bias sinar matahari pagi belum sempurna membaluri Kota Semarang. Jati sudah tidak berharap bisa berangkat bareng. Ia hanya ingin melihat Cendana melintas bersama mobilnya. Itu saja. Meski hal itu tidak mengurangi tumpukan resah di dadanya, mungkin malah memperburuk, Jati tetap ingin melakukannya. Ia hanya menuruti kata hati.
Beberapa saat kemudian, sedan biru langit Cendana muncul di kejauhan, melenggang leluasa di jalanan yang memang masih sepi. Kecepatannya semakin bertambah saat semakin dekat, hingga tampak hanya sekilas ketika melintas di depan Jati. Kecepatan mobil itu seolah menegaskan, bahwa amarah pengemudinya sama sekali belum reda. Hal ini membuat Jati menunduk khidmat kemudian. Tatapannya seolah menembus lapisan terdalam trotoar tempatnya berdiri. Diabaikan ternyata sesakit ini.
Cendana baru mengurangi kecepatan mobilnya setelah Jati benar-benar tidak terlihat di belakang sana. Tidak mengerti dengan apa yang baru saja ia lakukan, membuat air matanya meleleh begitu saja. Sebelumnya, Cendana tidak pernah mengemudikan mobil secepat tadi. Kaki kanannya seolah bekerja di luar perintah otak, menekan lebih dalam pedal gas saat tiba-tiba melihat Jati berdiri di trotoar tadi.
Meski belum sepenuhnya ikhlas, Cendana tidak pernah benar-benar menyalahkan Jati. Namun, untuk bisa seperti dulu lagi, entah kenapa terasa sangat sulit.
***
Jaka paham, tidak seharusnya ia mengantar Jati ke makam Cakka tanpa izin dulu sama keluarga almarhum. Tapi kalau ia izin sama Cendana, pasti tidak diperbolehkan. Lagipula ini sekadar berziarah. Jaka yakin tidak akan terjadi apa-apa, meskipun pada akhirnya Cendana tahu.
Maka di sinilah Jati, bersimpuh di depan makam Cakka. Usai menabur bunga dan mengirimkan doa, tangan kanan Jati beranjak meraba nisan, menatap lekat nama lengkap Cakka yang tergores di sana. Tatapan yang kian dalam itu kemudian agak basah, lalu disusul gerakan punggung yang terguncang pelan.
"Maafkan aku!" lirih Jati, yang hampir serupa kesiur angin. Jaka pun tidak mendengarnya dengan baik.
"Maafkan aku!" Entah berapa kali Jati membisikkan permintaan maafnya sebelum beranjak dari sana. Ajaibnya, setelah benar-benar meninggalkan kawasan pemakaman itu, Jati merasakan rasa bersalah dalam dirinya tak lagi sepekat dulu. Apakah itu pertanda Cakka menerima permintaan maafnya dari alam sana? Atau memang tidak pernah menyalahkannya?
Wallahu A'lam.
Semoga gumpalan-gumpalan yang masih tersisa bisa segera lenyap, jika Cendana berkenan membuka kembali pintu silaturahmi suatu saat nanti.
***
Bersama Jaka, Jati jadi paham, bahwa tidak ada batasan umur, terlebih posisi, untuk seseorang menjadi teman. Sampai detik ini, Jati mendapati Jaka bukan lagi seorang siswa yang tiba-tiba memaksakan diri menjadi pakar cinta dengan segala macam solusi yang terkadang ngawur, tapi benar-benar seseorang yang bisa menjadi pendengar, pengikis lara ketika seseorang dilanda kegalauan.
Dari makam Cakka, Jati mengajak Jaka ke suatu tempat untuk menenangkan diri. Panti asuhan Bu Fatimah adalah tempat senyamannya tempat bagi Jati. Di sini, Jati kembali menemukan sisi unik dari cowok berpenampilan culun itu. Ia sangat pandai mengambil hati puluhan anak-anak di sini, dengan usia dan karakter beragam. Dengan tingkah riang khas orang yang punya stok pede melimpah, Jaka mengajak anak-anak itu berkenalan. Setelah merasa berhasil mengambil perhatian mereka, perkenalan itu berlanjut dengan tebak-tebakan yang tidak hanya sukses membuat anak-anak itu, tapi juga Bu Fatimah, ikut terpingkal. Bahkan, Alif yang biasanya selalu lengket sama Jati, sekarang ikut menikmati tebak-tebakan Jaka. Padahal belum tentu ia paham. Yang penting ia ikut tertawa.
Jati dan Fatimah memisahkan diri ke teras belakang. Meski tadi mereka sama-sama tertawa melihat ulah Jaka, Fatimah masih berhasil menemukan pancaran kesedihan di tatapan Jati. Karena itu ia mengajaknya bicara empat mata.
"Kamu kenapa, Nak?"
__ADS_1
Jati tidak langsung menjawab. Ia tampak menimbang-nimbang apa-apa yang akan diucapkannya. Duduknya condong ke depan, menopang beban pikirannya dengan kedua siku yang bertumpu di paha.
Kalau saja bukan Bu Fatimah, Jati bisa saja langsung menggeleng sambil tersenyum. Tapi perempuan bermata teduh di sampingnya ini sudah seperti ibunya sendiri. Jati tidak bisa menyembunyikan kegelisahan hatinya.
"Cendana sudah tahu, Bu," lirih Jati kemudian.
"Baguslah. Bukankah dari dulu memang itu yang ingin kamu lakukan?"
"Iya. Tapi ... sekarang Cendana menjauh, Bu."
"Nak, lihat Ibu." Fatimah meraih dagu Jati, mengangkat tundukannya, menyelamatkan hati pemuda itu agar tidak terperosot lebih dalam.
"Kamu sudah melakukan apa yang sudah semestinya kamu lakukan. Pada akhirnya Cendana memang harus tahu, kamu ada di balik peristiwa memilukan itu. Dengan begini kamu juga sudah mengupayakan penyembuhan untuk dirimu sendiri."
Jati mengangguk samar.
"Cendana bukan anak kecil lagi. Ia pasti punya alasan di balik setiap tindakannya. Mungkin saat ini ia masih sementara bergulat dengan banyak sisi pemikirannya. Beri dia waktu. Dan apa pun keputusannya, sekali pun buruk bagimu, mungkin itu yang terbaik di sisinya."
"Kamu mencintainya?" Pertanyaan tak terduga itu membuat Jati terkesiap, lalu salah tingkah. Ia membuang pandang setelah pura-pura membenahi posisi jam tangannya.
Fatimah kembali meraih dagu Jati, mempertemukan tatapan mereka. "Jujur sama Ibu."
"Em ...."
"Kamu nggak akan segelisah ini kalau di hatimu tidak ada perasaan istimewa untuk gadis itu."
Hangat serta tulus tatapan Fatimah membuat Jati tidak punya alasan untuk mengelak.
"Ya. Aku sangat mencintainya, Bu!" akunya disertai anggukan kemudian.
Fatimah tersenyum mendengar pengakuan yang sebenarnya sudah ia yakini sejak hari pertama tiba-tiba Jati bercerita soal pertemuannya dengan gadis itu, sebelum akhirnya ia mengenalkannya.
__ADS_1
"Dia gadis yang baik. Ibu bisa merasakannya. Semoga saja dia tidak salah menetapkan keputusan."
"Terima kasih, Bu!"
Fatimah kembali tersenyum, senyum sederhana yang selalu berhasil membuat Jati merasa lebih baik.
***
Tiga minggu sudah berlalu sejak Cendana nyata-nyata membentangkan jarak, memupuk gelisah di setiap detik yang bergulir di sisi Jati. Ini hari kesepuluh Jati merasa tidak perlu lagi menunggu Cendana di ruas jalan itu, di titik yang dulunya selalu mempertemukan gelombang rindu kecil setelah sama-sama berdetak samar dalam senyap malam. Bukan lelah, tapi Jati harus tahu diri. Cendana memblokir nomornya, juga semua sosial medianya. Hal itu membuat Jati sadar, bahwa jarak yang diinginkan gadis itu belum cukup. Ia benar-benar tidak membutuhkan lagi penghubung dalam bentuk apa pun. Sedang menunggu mobilnya melintas dengan kecepatan tinggi setiap pagi, sama saja Jati tak sepenuhnya memberikan ruang atau waktu yang diminta Cendana secara tidak langsung.
Hati Jati sungguh perih. Sebab sebelumnya, ia masih bisa mengikuti aktivitas Cendana lewat postingan-postingannya di Instagram. Sekarang hanya ikhlas, satu-satunya yang bisa ia lakukan untuk meredakan gemuruh resah, juga riak-riak rindu di dinding hatinya.
Meski harapan untuk bisa seperti dulu lagi tak pernah luntur sedikit pun, sekarang Jati memilih bersikap biasa, pura-pura pulih dan merasa tidak ada lagi yang perlu diperjuangkan. Diam-diam sambil menyiapkan hati, jika memang harus demikian adanya. Pertemuan dalam kelas sebagai guru dan murid, satu-satunya yang tersisa, yang sama sekali tidak bisa dihindari keduanya. Semoga Jati tetap bisa bersikap profesional dan menunaikan kewajibannya sebaik mungkin.
***
Tuhan memang tak pernah meninggalkan umat-Nya. Di tengah terjangan masalah dan kemungkinan terburuk yang terus menghantui, Cendana justru menemukan apa yang selama ini hilang di tengah keluarganya. Sekarang Papa-Mama lebih sering terlihat di rumah, juga tak pernah melewatkan sarapan dan makan malam bersama. Hal ini membuat Cendana bersyukur, sejenak lupa pada permasalahan pelik yang tengah mereka hadapi.
Cendana memang tidak tahu sedrastis apa perubahan hidupnya jika keluarganya benar-benar jatuh miskin, tapi jika di saat itu bisa sehangat ini terus, sepertinya tidak perlu terlalu dirisaukan. Mungkin Cendana malah lebih bahagia.
Meski Papa selalu terlihat optimis di depan Cendana, tapi Cendana selalu bisa menangkap bias kecemasan di senyum terpaksanya, atau tatapan yang kadang hilang fokus. Sekarang posisi Papa seperti kapten kapal yang sudah diketahui mengalami kebocoran. Cendana bisa membayangkan seperti apa bebannya.
Di tengah segala macam cara yang terus diupayakannya, namun belum juga memperlihatkan titik terang, sekarang Hajir memang lebih sering berada di rumah. Di situasi segenting ini ia baru sadar, betapa penting arti sebuah keluarga. Kekusutan pikirannya selalu berkurang setiap kali mendapat dukungan dari anak dan istrinya.
***
Sudah lewat tengah malam. Anehnya, Cendana belum mengantuk sedikit pun. Alih-alih berusaha untuk lekas tidur, ia malah berpindah ke kamar Cakka. Di kamar yang disesaki ornamen bernuansa musik itu, ia terlentang di atas tempat tidur setelah lelah menekuni kertas lusuh peninggalan Cakka, juga kertas rancangan masa depan pemberian Jati. Entah apa yang ia inginkan di kedua kertas yang tidak tahu apa-apa itu. Mungkin jawaban atas tanya yang ia sendiri tidak tahu harus mengajukan kepada siapa.
Setelah beberapa minggu berlalu, Cendana tak punya alasan lagi untuk menyalahkan Jati. Tidak sedikit pun. Dari awal sebenarnya memang begitu. Namun sampai detik ini kondisinya masih sama, hatinya masih menolak untuk sedekat dulu lagi. Fakta lain yang Cendana tidak sukai, ternyata ia tidak rela Jati berhenti menunggunya setiap pagi. Ada rasa kehilangan paling absurd ketika ia tidak menemukan wajah memohon maaf itu di paginya. Yang tanpa sepengetahuan si pemilik, ia amati dari balik kaca gelap mobil. Apakah lelaki itu mulai menyerah? Apakah ia sudah memutuskan untuk mengambil langkah menjauh yang sama? Tolong, jangan sampai seperti itu. Cendana takut!
***
__ADS_1