
Kenanga mencengkeram setir kuat-kuat. Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Rasa kesal, atau cemburu yang menggerogoti hatinya belum sepenuhnya surut.
Karena tidak ingin latihan Jati terbengkalai, ia menyusul cowok itu ke sekolah tempatnya mengajar, setelah gagal menghubunginya. Namun kata satpam, Jati sudah pulang tanpa mengendarai sepedanya. Jati pasti hanya ke suatu tempat, ia tidak mungkin meninggalkan sepedanya di sini. Kenanga berkesimpulan demikian. Karena itu, ia menunggunya di dalam mobil yang sengaja diparkir di seberang jalan.
Penantian itu berakhir setelah sebuah angkot berhenti tepat di depan gerbang sekolah, dan Jati bersama salah seorang muridnya turun dari sana. Melihat interaksi Jati dan gadis itu sedemikian akrab, Kenanga mendadak gerah. Selama ini Jati selalu memilihnya jika butuh teman ke suatu tempat. Karena itu, ia tidak terima jika sekarang Jati pergi bersama gadis lain, terlebih sampai mengabaikan jadwal latihannya.
***
Cendana sempat memelankan laju sepedanya ketika melihat sebuah sepeda terparkir di depan sana. Di trotoar yang tak jauh dari sepeda itu, Jati mondar-mandir sambil melirik jam tangannya berkali-kali. Gerakan mondar-mandir cowok berkemeja biru dongker itu terhenti setelah mengangkat pandangan ke arah jalan datangnya Cendana. Tatapan mereka seketika terpaut dan menciptakan lengkungan manis di bibir keduanya.
Setelah kesiangan dan tidak bisa berangkat bareng Cendana kemarin, Jati berjanji pada diri sendiri untuk tidak mengulanginya lagi.
"Bapak kenapa berhenti di sini?"
"Lagi nunggu bidadari." Sepagi ini omongan Jati sudah lebih manis dari madu yang ditaburi gula halus, membuat Cendana berasa tidak berpijak di bumi.
Senyum Cendana mengepak sempurna, tanpa mampu berucap sepatah kata pun. Ia memilih kembali melajukan sepedanya. Jati lekas menyusul.
"Novel yang kemarin dibeli, udah selesai dibaca?" tanya Jati setelah laju sepeda mereka sejajar.
Cendana mengangguk.
"Bagus?"
Cendana kembali mengangguk.
"Kamu sariawan, ya? Dari tadi ngangguk-ngangguk aja."
"Bidadari emang gini, Pak, ngomongnya irit."
Tawa Jati meledak. Ia tidak menyangka gadis itu akan membalas candaannya.
Jati percaya, bahagia itu sederhana, namun tak menyangka sesederhana ini. Hanya mengayuh sepeda membelah lembaran pagi bersama gadis ini, sungguh terasa damai. Senyum Jati bertahan hingga tiba di sekolah.
***
Tumben Bu Susi belum muncul setelah Jati selesai memarkir sepedanya. Padahal sejak di gerbang tadi, Jati sudah menyiapkan diri untuk menerima segala bentuk serangan. Jati melangkah meninggalkan area parkir sambil tetap awas. Sedang Cendana sudah dari tadi mengambil langkah tergesa-gesa, tak ingin datangnya yang selalu bareng sang guru baru jadi perhatian.
Jati baru saja bernapas lega setelah merasa akan terbebas dari jeratan Bu Susi pagi ini, ketika ia menemui pemandangan ganjil saat melintasi lapangan yang sering digunakan untuk upacara setiap hari Senin. Ia melihat sang pakar cinta lari mengitari lapangan itu, tampak ngos-ngosan dengan ekspresi tidak keruan di tengah cucuran keringat. Entah sudah berapa putaran larinya. Di salah satu sudut lapangan, tepat di bawah pohon ketapang, berdirilah Bu Susi sambil bersedekap dengan tatapan tajam mengawasi pergerakan Jaka. Seolah-olah jika cowok culun itu menghentikan larinya, ia akan langsung menelannya.
__ADS_1
Jati berpikir keras, kesalahan apa yang telah dilakukan Jaka hingga dihukum sepagi ini. Karena penasaran dan merasa perlu menolong, Jati mendekati Bu Susi untuk mencari tahu. Ia berdeham setelah berdiri bersisian dengan perawan tua itu. Bu Susi tidak merespons. Aneh. Tatapannya tetap mengekori pergerakan Jaka.
"Selamat pagi, Bu Susi." Dengan sangat terpaksa, Jati menyapa duluan.
"Saya tidak menyangka Pak Jati akan setega ini. Gini-gini, saya juga punya perasaan, Pak." Bu Susi berucap tanpa menoleh.
Sumpah, Jati benar-benar tidak paham. "Tega gimana, ya, Bu?" Jati menggaruk pelipisnya yang sama sekali tidak gatal.
"Bisa-bisanya Pak Jati memberikan masakan saya ke anak aneh itu." Kali ini Bu Susi menoleh dengan tatapan kian runcing. Telunjuknya mengacung asal ke tengah lapangan, ke arah Jaka yang masih berjuang agar tidak pingsan sebelum Bu Susi menyuruhnya berhenti.
Mampus, deh. Jati benar-benar bingung sekarang. Kenapa juga Bu Susi sampai tahu?
"Ini nggak seperti yang Ibu pikir." Jati sengaja melembutkan suaranya.
"Padahal saya memasaknya penuh cinta, khusus untuk Pak Jati. Kalau nggak suka, bilang, Pak. Jangan malah dikasih ke Jaka?" bantah Bu Susi tidak terima.
"Jadi gini, Bu." Jati melancarkan jurusnya, sengaja merangkul dan mengelus samar pundak Bu Susi. "Masakan Bu Susi, tuh, enaaakkk ... banget." Jati sengaja melebih-lebihkan. "Karena itu, saya membaginya ke Jaka. Saya merasa bersalah jika menikmatinya sendirian. Saya hanya ingin lebih banyak yang tahu, kalau perlu seluruh dunia, bahwa ada tangan ajaib seperti kedua tangan Bu Susi ..." sampai di sini, Jati sengaja melepas rangkulannya dan beralih meraih kedua tangan Bu Susi. "... yang bisa menciptakan makanan sedemikian lezat."
Bu Susi melongo. Ia mematung beberapa jenak. "Oh, Tuhan, inikah jawaban atas doa-doaku selama ini?" ucapnya kemudian sambil menengadah dengan mata berkaca-kaca.
Jati buru-buru melepas pegangannya dan meloloskan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Jati terlambat untuk menghindar. Sebagai gantinya, ia menahan napas sampai Bu Susi melepas dekapannya.
"Jaka, stop. Emosi Ibu sudah surut, Nak," teriaknya ke arah Jaka yang pergerakannya makin payah, lalu berlalu dengan senyum sedemikian lebar.
Sepeninggal Bu Susi, Jati mengelus dada disertai embusan napas lega.
Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, Jaka tiba di depan Jati. Kalau tidak takut seragamnya kotor, ia pasti langsung menjatuhkan diri secara asal. Sebagai gantinya, kedua tangannya bertopang di lutut sambil berjuang menormalkan pola napasnya. Keringatnya masih mengucur deras.
"Kenapa Bapak nggak bilang, nasi goreng kemarin dari Bu Susi?"
"Sumpah, Ka, saya benar-benar lupa." Sesaat Jati tertawa. Tampang Jaka sehabis jadi korban amukan perawan tua itu benar-benar lucu. "Kok, bisa sampai ketahuan, sih?"
"Tadi waktu datang, dia lihat rantang itu saya tenteng. Maksudnya pengin balikin ke Bapak setelah saya cuci bersih di rumah. Eh, tahu-tahunya punya dia. Ngamuk, deh."
Sekali lagi Jati terbahak. "Maaf, Ka, saya benar-benar nggak ada maksud buat kamu sampai dihukum kayak gini." Jati pura-pura memijat pundak Jaka, alih-alih membuatnya lekas meluruskan punggung karena kegelian.
Benar saja, anak itu langsung berdiri tegak dan berusaha menepis tangan Jati sambil terkekeh.
__ADS_1
"Ya udah, sebagai permintaan maaf, saya traktir kamu minum di kantin, ya." Tanpa menunggu persetujuan, Jati merangkul Jaka dan menggiringnya ke kantin.
***
Jam pertama-kedua, Jati kosong. Daripada berdiam di ruang guru yang berpotensi memancing aksi nekat Bu Susi, yang sialnya juga lagi kosong, Jati memilih jalan-jalan ke mana saja. Niat awal mau ke perpustakaan urung, setelah dari jauh tidak sengaja melihat keseruan Cendana main voli bersama teman-temannya. Rupanya kelas Cendana sedang ada pelajaran Penjaskes di jam pertama hari ini.
Jati tidak mungkin melewatkan pemandangan itu. Ia beranjak mengisi bangku besi di bawah pohon ketapang. Posisinya memang tidak terlalu dekat dengan lapangan, tapi dari sini senyum Cendana terlihat jelas. Ini kesempatan emas untuk melihat gadis itu bergerak lincah, sambil sesekali tergelak. Jati akan merekam semuanya, yang mungkin saja akan terputar kembali sebagai bunga tidur nanti malam.
Sesuatu yang indah memang selalu menarik perhatian di segala kondisi, sengaja atau tidak. Faktanya, sekarang teman-teman Cendana sulit berkonsentrasi ke permainan mereka, setelah salah seorang tidak sengaja menemukan sosok guru rupawan di sudut sana. Bisik-bisik langsung merambat, yang tertangkap jua oleh pendengaran Cendana.
Cendana ikut-ikutan menoleh ke arah pandang teman-temannya, yang langsung disambut Jati senyum iseng sambil menaik-turunkan alisnya. Lagi-lagi Cendana mendadak salah tingkah. Ia memilih kembali fokus ke permainan, sebelum benar-benar bertingkah bodoh di tengah lapangan.
Nyatanya tak segampang itu. Menyadari sedang diperhatikan Jati, pergerakan Cendana tidak selincah sebelumnya. Berkali-kali ia membiarkan bola terbuang percuma. Sebisa mungkin Cendana tidak menoleh ke arah Jati, sebab entah bagaimana harus bertingkah saat tatapannya terpaut dengan pemilik manik cokelat pekat itu.
Beberapa menit berlalu. Cendana tidak bisa menahan diri untuk tidak menoleh ke arah Jati sekarang, demi memastikan, guru Matematika itu masih di sana atau sudah pergi.
"Cendana, awas!" Hampir bersamaan, teriakan dari beberapa temannya membuat Cendana refleks jongkok demi menghindari bola yang hampir menghantam kepalanya.
Bola itu kini menggelinding bebas ke arah Jati. Melihatnya, Jati malah pura-pura sibuk memerhatikan sesuatu di ponselnya. Tentu saja ia berharap seseorang datang mengambilnya, dan semoga Cendana.
Sepagi ini Tuhan berbaik hati mengabulkan doa Jati. Yang datang untuk memungut bola itu benar-benar Cendana. Namun, baru saja Jati hendak bangkit untuk mnggodanya, tiba-tiba serombongan siswi menghampirinya, sekadar menawarkan sebungkus roti sobek dan teh kotak.
Cendana yang seharusnya memungut bola dan lekas kembali ke lapangan, malah pura-pura memperbaiki tali sepatunya, demi menguping apa-apa yang siswi-siswi itu katakan kepada Jati. Mereka sok akrab sama Jati, membuat Cendana menggerutu dalam hati. Dasar tidak tahu malu.
"Enak, ya, jadi Bapak, banyak yang merhatiin," ucap Cendana setelah rombangan siswi—yang entah dari kelas mana—meninggalkan Jati. Bola sudah di tangannya.
"Mau?" Jati malah menawarkan roti dan teh kotak di tangannya, yang sukses membuat Cendana kian dongkol.
"Enggak! Makasih." Cendana kembali ke lapangan setelah gagal menyembunyikan wajah kesalnya, yang entah kenapa malah disukai Jati. Ada hak apa Cendana menunjukkan kekesalannya seperti ini. Memangnya, Jati siapanya? Kenapa juga harus sewot karena banyak cewek yang mencoba menarik perhatiannya? Bukankah ia memang menarik?
Cendana menggeleng cepat setelah lagi-lagi tidak sadar memuji guru muda itu dalam hati.
Jati senyum-senyum sendiri melihat tingkah menggemaskan gadis itu, yang berarti isyarat, yang semoga tidak salah mengartikannya.
"Ntar pulang bareng, ya," lantang Jati ketika Cendana sudah menginjak tepi lapangan.
Cendana tidak merespons, pura-pura tidak dengar. Semoga teman-temannya tidak ada yang menyadari ajakan barusan.
***
__ADS_1