Aku Padamu, Pak Guru

Aku Padamu, Pak Guru
Bistropolis


__ADS_3

Assalamualaikum, pembaca yang budiman.


Mohon maaf sebelumnya, untuk part 26 sampai tamat hanya bisa dibaca di Komunitas Bisa Menulis app.



Di sana cerita ini ganti judul (Pesona Guru Muda). Silakan berkunjung.


Saya tunggu, ya.


Makasih atas dukungannya.


Salam santun 😊🙏


***


Entah sudah berapa lama Jati dipecat dari sekolah. Cendana tidak ingin mengingat jumlahnya, sebab hal itu hanya akan memberatkan langkahnya untuk mengarungi hari esok. Kendati demikian, Cendana tidak mampu mengelak, hidupnya berubah. Ia kehilangan hal yang belum sempat benar-benar dimiliki. Sakit yang membingungkan.


Hampir setiap hari Cendana mengunjungi ruas jalan itu, titik kenangannya bersama Jati. Tak ada yang berubah setelah menginjakkan kaki di sana, selain hati yang lebih tentram berkat aroma serta remah bayangan senyum Jati di lembar-lembar udara. Kini, apa lagi yang Cendana punya tentang Jati selain kenangan yang entah bagaimana melukiskannya? Juga selembar kertas rancangan masa depan yang masih dijaganya sepenuh hati. Selama apa pun takdir mempermainkan mereka saat ini, Cendana yakin, ia bisa menunjukkan semua impiannya kepada cowok yang sejatinya adalah sumber impian itu sendiri.


Ujian akhir berhasil Cendana lalui dengan cukup baik. Ia sudah berusaha semaksimal mungkin. Ia percaya, hasil tidak akan berkhianat. Mengisi kekosongan sambil menunggu pengumuman hasil ujian, Cendana terjun membantu Mama mengurus Wedding Organizer-nya. Meski Mama sempat melarang, tapi Cendana senang melakukannya. Lagipula, berdiam diri hanya akan memberi kesempatan kepada otaknya untuk kembali dijejali segala ingatan tentang Jati.


Malam ini Cendana dan Mama lagi-lagi pulang agak larut setelah bertempur di lokasi resepsi salah satu klien mereka. Tak seperti biasanya, kali ini Papa tampak sengaja menunggu mereka di teras. Melihat ekspresi Papa yang seperti sedang ingin membicarakan hal sulit, membuat Cendana dan Mama bertanya-tanya. Ada hal penting apa sampai Papa menunggu di teras?


"Papa ngapain di sini?" Sukma yang lebih dulu bersuara, setelah mengisi kursi kosong di samping suaminya.


Karena kursi di teras itu hanya ada dua, Cendana hanya berdiri di samping papanya.


Hajir tidak langsung menjawab, masih tampak menimbang-nimbang.


Seolah memahami kondisi sang suami, tangan Sukma tergerak menyentuh lengan Hajir, meremasnya perlahan.

__ADS_1


"Kita akan pindah ke Makassar," ucap Hajir setelah menarik napas panjang.


Cendana dan Mama seketika bersitatap. Entah bagaimana harus menanggapi.


"Kenapa kita harus pergi dari sini?" Tentu saja Sukma butuh penjelasan, agar ia punya alasan yang kuat untuk meninggalkan pekerjaan dan usahanya.


"Di sana ada teman lama Papa yang bersedia mempekerjakan Papa di perusahaannya. Posisinya memang agak di bawah, tapi Papa berjanji akan bersungguh-sungguh menjalaninya. Papa rasa, ini yang terbaik untuk saat ini."


Sejauh ini Hajir sudah berjuang matia-matian untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Tapi urusan pekerjaan di kota ini bukan perkara mudah. Setelah lama menimbang, akhirnya Hajir memutuskan mengambil langkah ini.


"Terus, pekerjaan Mama?"


"Justru karena itu. Papa nggak tega biarin Mama kerja sendirian. Papa merasa bersalah. Di mana tanggung jawab Papa sebagai suami?"


Mama kembali bertukar pandang dengan Cendana. Rasa tidak rela tergambar jelas di wajahnya.


"Di Makassar, Mama masih bisa mendirikan Wedding Organizer yang baru, kalau itu yang memberatkan Mama." Hajir paham, istrinya mendirikan Wedding Organizer berawal dari hobi.


"Papa ngerti kalau Mama ragu. Tapi, percaya sama Papa, semuanya akan baik-baik saja."


Hening menggantung. Keluarga kecil itu seolah sibuk dengan pikiran masing-masing. Mereka punya pertimbangan sendiri-sendiri yang masih belum selesai terproses.


"Gimana dengan kamu, Sayang?" tanya Sukma akhirnya kepada Cendana.


"Dana terserah Papa-Mama aja," jawab Cendana enteng. Meski ia sempat tersentak dengan keputusan Papa dan sekarang kepalanya dipenuhi berbagai gambaran kemungkinan. Satu hal yang memberatkan Cendana, ruas jalan itu. Ia tidak mungkin memindahkannya ke Makassar. Namun, kenangan biar saja tinggal di dunianya sendiri. Ia tidak akan mati hanya karena Cendana tidak lagi mengunjungi tempat itu. Sejauh apa pun Cendana pergi, ia akan tetap berdetak seiring rindu dan harapan yang terus bermekaran. Sampai saat ini impian terbesar Cendana masih sama, hanya ingin berada di samping orang yang ia sayangi, Jati.


***


Assalamualaikum, Makassar.


Meski tidak langsung setuju, sejak awal Mama dan Cendana memang tidak pernah berniat menentang keputusan Papa. Mereka hanya butuh waktu sebelum melepas semua hal di Semarang. Mama perlu membereskan tanggung jawabnya di perusahaan tempatnya bekerja, sebelum mengundurkan diri secara baik-baik. Ia juga harus menyelesaikan beberapa hal di Wedding Organizer-nya, sebelum menyerahkan sepenuhnya ke tangan sahabat yang ditemaninya berjuang selama ini. Tentu saja rekan-rekan Mama sangat menyayangkan keputusan yang diambilnya, tapi Mama juga harus menghargai keputusan Papa sebagai suami sekaligus kepala keluarga.

__ADS_1


Cendana dan keluarganya mengontrak sebuah rumah sederhana di kawasan Villa Mutiara. Hari kedua di Makassar, Hajir langsung mulai bekerja di perusahaan kontraktor temannya, menduduki jabatan supervisor lapangan. Meski tugasnya lumayan berat dibanding selama ini ia hanya duduk dalam ruangan ber-AC sambil menunggu laporan, Hajir sangat mensyukuri posisi itu. Menurutnya, ini cara Tuhan menyelamatkan sesat langkahnya sebelum semakin menjadi-jadi.


***


Aula SMA Nusa Bangsa hari ini dipenuhi wajah-wajah semringah. Seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun salah satu SMA favorit di Kota Lumpia itu berhasil meluluskan 100% siswa-siswinya. Hari ini mereka berkumpul untuk merayakannya.


Ratusan kursi-kursi plastik yang sudah dibungkus kain berwarna silver disusun sedemikian rapi hingga memenuhi tiga perempat ruangan. Bibir jendela dan sudut-sudut ruangan dibentangi kain berwarna merah marun. Panggung kecil di depan barisan kursi dilapisi karpet merah. Pinggirannya dikelilingi rangkaian balon merah dan kuning yang membentuk motif spiral. Di tengah-tengah panggung terdapat podium, lengkap dengan mikrofon yang sudah terhubung ke speaker berkualitas prima.


Selain pelepasan siswa-siswi angkatan 2015, akan ada juga penyerahan trofi untuk lulusan terbaik dan beberapa acara pendamping. Semua itu tersusun rapi dalam susunan acara yang dipegang Jaka. Selaku sekretaris panitia pelaksana, Jaka mengamatinya sekali lagi. Jangan sampai ada keganjalan sedikit pun. Mulai dari acara pembuka hingga penutup, semuanya harus berjalan mulus. Merasa tidak ada masalah dengan susunan acara, Jaka menyapukan pandangan ke segala penjuru ruangan. Jangan sampai ada yang kelupaan. Bukan hanya Jaka, panitia yang lain juga membantu memastikan kondisi hingga ke luar ruangan.


Waktu proposal mereka disetujui, sorakan Jaka yang paling kencang. Pasalnya, dalam proposal yang sudah ditandatangani kepala sekolah itu, Jaka mengusulkan akan mengundang salah satu band pendatang baru sebagai bintang tamu. Alasan pihak sekolah menyetujui, mungkin karena bayaran yang tercantum cukup terjangkau. Mereka hanya tidak tahu, bahwa The Second Change Band yang dimaksud adalah band Jati.


Setelah merilis single pertama mereka, nama The Second Change Band mulai akrab di telinga penikmat musik tanah air. Video klip mereka di channel Youtube label rekaman yang menaungi mereka memang tidak terlalu booming, tapi tawaran untuk mengisi acara di berbagai stasiun tivi swasta mulai berdatangan.


Jaka dan anggota panitia yang lain tidak pernah berencana menghadirkan bintang tamu, terlebih untuk band yang sudah bertaraf nasional. Mereka takut terkendala biaya. Semua ini berawal dari Jati yang tiba-tiba menelepon Jaka beberapa minggu yang lalu. Maka mengalirlah obrolan santai tentang banyak hal hingga tercetuslah sebuah rencana di benak Jati, yang butuh dukungan dari Jaka agar bisa terealisasi.


Duduk di kursi deretan paling depan, Jaka sedang mengecek kondisi handycam-nya sambil melihat-lihat beberapa rekaman tersimpan, ketika siswa-siswi beserta orangtua dan wali mulai memasuki ruangan. Menjalani masa-masa terakhir di sekolah, Jaka memang punya kebiasaan baru. Ia suka merekam suasana sekolah di berbagai kesempatan, lalu diarsip di channel Youtube-nya. Alasannya, agar mudah dilihat kembali saat ia tiba-tiba kangen masa putih abu-abu suatu saat nanti.


Sekitar 30 menit kemudian, hampir tidak ada lagi kursi yang kosong. Dua MC naik ke atas panggung, pertanda acara perayaan kelulusan ini segera dimulai. Pembukaan oleh MC dilanjutkan dengan sambutan dari Bapak Kepala Sekolah. Begitulah acara mulai bergulir hingga melewati acara puncak. Jaka dan tim lega. Semua berjalan sesuai rencana.


Ketika tiba di acara yang sedari tadi ditunggu-tunggunya, Jaka mengambil alih peran MC. Saking antusiasnya, si pakar cinta itu ngotot ingin present sendiri. Sorakan riuh penuh kegembiraan menggema memenuhi ruangan, ketika Jaka menyebutkan nama band yang sejak awal memang sengaja dirahasiakan. Para siswi, terutama yang pernah menjadi anak didiknya, histeris ketika melihat Jati, mantan guru sekaligus idola baru mereka, berjalan naik ke panggung hingga tiba di depan stan mikrofon yang sudah disediakan.


Kendati kariernya di sekolah itu sedemikian singkat, histeris siswa-siswi yang terus meneriakkan namanya membuat Jati terharu. Semua ini juga berkat The Second Change Band. Jati melambaikan tangan sambil menyapukan pandangan. Meski sudah mendengar langsung dari Jaka, bahwa Cendana tidak bisa hadir karena sudah pindah ke Makassar, Jati masih berharap bisa menemukan si pemilik tahi lalat di dekat bibir itu di antara ratusan orang dalam ruangan ini. Jati akan melakukan salah satu hal terpenting dalam hidupnya. Karena itu ia berdiri di panggung ini.


Seolah ingin menuntaskan rasa tidak sabaran yang memancar jelas dari wajah-wajah di depannya, setelah melakukan serangkaian persiapan, Jati dan teman-temannya langsung mempersembahkan lagu andalan mereka yang mulai banyak digandrungi kawula muda. Para hadirin tampak menikmati penampilan Jati. Banyak yang ikut bernyanyi sambil melambaikan tangan seiring tempo. Bodohnya, di antara persembahan itu, Jati masih saja berusaha menemukan sosok Cendana. Otaknya sulit sekali menerima, bahwa tambatan hatinya itu sedang berada di pulau lain.


Selesai menampilkan lagu pertama, Jati memberi kode ke Jaka, minta diambilkan kursi. Sekarang waktunya. Karena itu, Jati butuh posisi yang lebih nyaman. Jati sigap mengambil alih kursi yang disodorkan Jaka. Ia duduk sambil memangku gitar. Stan mikrofon di depannya direndahkan sesuai tinggi duduknya.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Jati setelah selesai bersiap.


Setelah hadirin serentak menjawab salam Jati, ruangan mendadak senyap. Mereka terdiam penasaran, akan disuguhi penampilan seperti apa selanjutnya.

__ADS_1


***


__ADS_2