
Musik belum dimulai, tapi ekspresi Cendana mulai tidak keruan.
"Rasanya senang banget bisa menghibur Anda semua malam ini. Well, persembahan pertama dari kami, sebuah lagu yang bercerita tentang kesucian cinta."
Musik mulai mengalun, seketika merayapi sudut-sudut ruangan. Cendana memejamkan mata. Meski sudah berusaha keras menepis, bayangan lelaki berpakaian serba hitam itu, belati di tangannya, teriakan dari segala arah, cipratan darah segar, kembali berjejalan di benak Cendana. Tubuhnya mulai bergetar.
Ranum belum menyadari kondisi Cendana. Sedari tadi ia sibuk meyakinkan diri dengan pemandangan yang dilihatnya di atas panggung.
"Itu Pak Jati, bukan, sih?" katanya mencari kepastian, sambil menepuk lengan Cendana. Saat itulah ia sadar, sahabatnya itu mulai lepas kendali.
Mendengar nama Jati, seketika Cendana terbelalak. Secara tidak langsung, Ranum malah membenarkan hal yang sedari tadi susah payah ia pungkiri. Cendana memaksakan diri untuk menoleh. Maka kerja jantungnya semakin meningkat ketika benar-benar mendapati Jati di depan sana. Cowok itu bernyanyi dengan santai. Bahasa tubuhnya selaras dengan tempo lagu yang dimainkan.
Cendana merasakan dadanya kian sesak. Tarikan napasnya semakin payah. Tangan kanannya menyenggol gelas di depannya. Bersamaan dengan pecahnya gelas itu di lantai, Cendana pun ambruk dari kursinya. Ranum yang berada di seberang meja, gagal menahannya.
***
Cendana berjengit saat tersadar. Ia pingsan sekitar lima menit. Kepalanya agak berdentang saat ia mencoba membuka mata perlahan-lahan. Cendana yang sedang terbaring di tikar busa, langsung ingin bangkit saat mendapati Jati bersila di sampingnya.
Ranum lekas mendekat dan menahan pundaknya.
"Sebaiknya jangan banyak gerak dulu."
Karena tiba-tiba matanya berkunang-kunang, Cendana menurut. Ia kembali merebahkan kepalanya.
Kalau bukan Cendana, Jati tidak akan mengorbankan penampilannya. Ia langsung turun dari panggung saat melihat Ranum melambai ke arahnya, di antara kerumunan orang yang berusaha menolong seseorang yang terjatuh di meja pojok.
Jati bermaksud melarikan Cendana ke rumah sakit. Tapi kata Ranum, ia hanya butuh tempat tenang. Karena itu, Jati minta izin ke pemilik kafe untuk meminjam ruang istirahat karyawan.
"Bapak kenapa nggak pernah cerita?" Cendana berucap tanpa menoleh ke arah Jati. Wajar jika ia kecewa, karena setelah merasa cukup mengenal Jati, cowok itu tidak pernah mengungkit sedikit pun soal profesinya sebagai vokalis band di luar sekolah.
Ranum yang menduga akan terjadi percakapan yang tak sepatutnya ia dengar, memilih keluar setelah memberi isyarat ke Jati.
"Maaf. Tadinya aku bermaksud cerita setelah kamu benar-benar bisa berdamai dengan musik." Jati mengembuskan napas rasa bersalah. "Mengetahui kejadian traumatik yang kamu alami, aku hanya takut kita tidak bisa sedekat ini kalau kamu tahu lebih awal."
__ADS_1
Sedekat ini? Diam-diam Cendana menepis ucapan Jati dalam hati. Kedekatan apa yang dimaksud cowok itu dengan masih menutupi sesuatu?
"Saya pikir Bapak cukup serius jadi guru saja, sesuai permintaan almarhum ayah Bapak."
"Nggak ada aturan seseorang hanya boleh punya satu impian, kan? Sejauh ini saya berusaha keras menjalani keduanya secara seimbang."
Cendana bingung. Kenapa juga ia harus bersikap seperti ini? Ia sama sekali tidak berhak mempermasalahkan pilihan Jati, dan sebenarnya ia memang tidak mempermasalahkannya. Ia hanya kesal setelah tahu cowok itu masih menyembunyikan sesuatu darinya. Hal itu Cendana asumsikan bahwa Jati belum menganggap kedekatan mereka sebagaimana ia menganggapnya.
Beberapa saat hening. Cendana masih betah memalingkan wajahnya.
"Cakka pernah ikut audisi untuk mengisi posisi gitaris The Second Change Band. Saya masih ingat bagaimana bahagianya ia saat berhasil sampai ke tahap akhir."
Deg!
Sekadar mendengar nama Cakka, kerja jantung Jati mendadak tidak normal.
"Meski tidak terpilih, ia senang banget dapat jaket seragam yang katanya sering dipakai personil band itu saat manggung. Jaket itu kemudian jadi jaket favorit Cakka. Ia memakainya di berbagai kesempatan. Termasuk saat nonton konser di malam terakhirnya."
"Jaket itulah penyebab petaka itu." Jati menunduk sambil menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan-lahan. Setelah Cendana memulai hal yang belakangan ini membuatnya tidak tenang, Jati merasa tidak perlu menunda lagi.
"Cakka memang berbakat. Ia sudah sangat hebat di usianya yang masih belia. Tapi dari hasil rundingan dengan semua tim, kami belum bisa memilihnya karena usianya terlalu timpang dengan kami. Kami khawatir tidak bisa menjalin chemistry dengannya."
Air mata Cendana meleleh perlahan-lahan. Lagi-lagi kerinduan akan anak itu membekuknya tanpa ampun.
"Aku bisa bayangkan bagaimana kedekatan kalian. Wajar jika kamu merasa bersalah setelah gagal menjaganya sebagai seorang kakak. Tapi rasa bersalah itu mungkin tidak ada apa-apanya dibanding yang kurasakan selama ini."
Sampai di sini Cendana mengernyit. Ia merasa kurang paham ke mana arah pembicaraan cowok yang masih terus menunduk di sampingnya.
"Harusnya aku yang mati malam itu, bukan Cakka!" Jati menegakkan kepala, memperlihatkan sepasang matanya yang berkaca-kaca.
Cendana tersentak. "Maksudnya?"
"Oknum di balik kerusuhan itu adalah musuh band kami. Kami pernah bersitegang saat sama-sama mengisi sebuah acara. Karena persoalannya sepele, kami tidak menyangka mereka sampai sedendam itu." Jati jeda untuk menarik napas. Ia sengaja cerita pelan-pelan, memastikan Cendana paham seutuhnya.
__ADS_1
"Setelah kami tampil malam itu, mereka serta-merta menyerang dengan senjata tajam. Mereka memburu di tengah kerumunan penonton hanya dengan mengenali jaket kami. Karena itulah lelaki berpakaian serba hitam itu menikam Cakka. Ia mengira Cakka salah seorang dari kami." Jati kembali menuduk. Teriakan perempuan itu-yang ternyata adalah Cendana-kembali memekik di telinganya. Bayangan Cakka ditikam berkali-kali tanpa jeda memenuhi kepalanya. Disusul letusan pistol aparat keamanan yang serta-merta menghentikan jalannya konser. Lelaki berpakaian serba hitam itu bergegas melarikan diri di tengah kerumunan dan menghilang sebelum banyak yang tahu, ia baru saja menghabisi nyawa seseorang.
Rentetan kejadian itu berseliweran di benak Jati, membuatnya tak mampu menahan tangis. Rasa bersalah yang bercokol di hatinya selama ini baru saja ia tumpahkan. Entah akan seperti apa respons Cendana. Ia hanya berharap masih bisa menjalin kedekatan dengan gadis itu setelah ini.
Untuk pertama kalinya Cendana melihat Jati menangis. Karena itu ia yakin, cowok itu bersungguh-sungguh dengan rasa bersalahnya. Tapi ... entah kenapa hati kecilnya sulit menerima, bahwa secara tidak langsung Jati terlibat dalam kematian Cakka.
"Aku minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf." Suara Jati bercampur isak.
Cendana bangkit dari baringnya, lalu beranjak keluar tanpa berucap apa-apa lagi. Ia sadar, tak seharusnya menyalahkan Jati. Tapi ia juga tidak bisa tetap bersikap sebagaimana biasanya.
Jati yang masih terendam tangis tak mencoba untuk menahan. Ia sudah menyiapkan diri untuk reaksi yang lebih buruk dari ini. Ia akan memberikan ruang selama apa pun gadis itu butuh waktu untuk merenung, hingga benar-benar memahami semuanya. Jika memang pada akhirnya mereka tidak bisa sedekat dulu lagi, Jati harus bisa memaklumi.
***
"Udah selesai dramanya?"
Jati butuh waktu beberapa saat untuk meredam tangis sebelum keluar dari ruangan itu. Kenanga menyambutnya di depan pintu. Saat Jati mengacaukan penampilannya demi memastikan kondisi Cendana, Kenanga orang yang paling shock dan tidak terima. Karena itulah ia sedemikian ketus sekarang.
"Tolong ngertiin aku kali ini."
"Selalu kamu yang mau dimengerti." Tanpa bermaksud, suara Kenanga meninggi. "Kamu tahu, sikap kamu ninggalin panggung tadi bisa berakibat fatal. Gimana kalau pihak kafe ini nggak mau lagi ngasih kita kesempatan untuk tampil?"
Jati terdiam. Ia memang salah, tapi ia juga tidak mungkin abai setelah tahu Cendana yang tiba-tiba pingsan tadi.
"Jangan kekanak-kanakan, dong, Jat. Setiap hari aku melobi kafe-kafe yang bisa ngasih kita kesempatan untuk tampil. Banyak hal yang kita korbankan untuk tiba di titik ini. Tapi makin ke sini, kamu kayak nggak menghargai semua itu."
Melihat sepasang mata Kenanga berkaca-kaca, Jati yakin, ini bukan hanya karena ia mengacaukan penampilannya, tapi lebih kepada orang di balik insiden itu. Sejak mengenalkan Cendana malam itu, Jati bisa merasakan perubahan sikap Kenanga. Ada perasaan istimewa yang dilibatkan di sini. Jati bukannya tidak paham, tapi ia juga tidak bisa meredakannya dengan memberikan harapan palsu. Cepat atau lambat Kenanga harus bisa menerima, bahwa hubungan mereka hanya bisa sebatas teman, atau mungkin merangkap jadi partner kerja nantinya.
Kenanga tidak ingin meneteskan air mata di depan Jati, ia tidak ingin ketahuan mulai merapuh. Karena itu ia melesat dari pijakannya. Mengenal Jati tipe cowok seperti apa, Kenanga sedemikian sabar menjaga perasaannya selama ini. Ia tidak pernah menuntut aneh-aneh, cukup memantaskan diri agar merasa punya alasan untuk terus menunggu cowok itu membuka pintu hati untuknya.
Jika dipikir-pikir, sudah terlalu banyak hal yang dilakukan Kenanga untuk Jati. Salah satunya menjadi orang paling berpengaruh di balik mulai dikenalnya The Second Change, band tempat Jati dan teman-temannya menyatukan visi misi. Berawal dari band kampus, perlahan-lahan Kenanga membesarkan band yang beranggotakan empat orang cowok itu. Ia mengupayakan apa saja agar bisa dikenal masyarakat. Bahkan di awal-awal, mereka rela tampil di berbagai acara tanpa bayaran sepeser pun. Hingga pada akhirnya Kenanga berhasil membujuk papanya untuk membiayai proses rekaman album perdana The Second Change, yang nantinya bekerjasama dengan salah satu label ternama di Jakarta dan akan memberlakukan sistem titip edar.
Papa Kenanga hanya seorang pengusaha yang sama sekali tidak memiliki basic di dunia industri musik. Ia berani mengeluarkan biaya besar untuk produksi album band yang baru memulai karier bukan karena melihat peluang, semata-mata hanya tidak ingin mengecewakan putri semata wayangnya.
__ADS_1
Sebelumnya, Kenanga menyokong The Second Change dengan senang hati. Ikhlas. Entah bayaran seperti apa yang ia harapkan nantinya. Yang jelas, untuk gadis penggemar es krim itu, bisa membuat Jati tersenyum adalah kebahagiaan yang tak ternilai harganya. Impiannya adalah mewujudkan impian Jati. Namun, sejak Jati mulai jadi guru, lebih tepatnya setelah mengenal Cendana, segala sesuatunya mulai berubah. Mengingat Jati memang bukan tipe cowok yang memprioritaskan pacaran, Kenanga merasa posisinya yang selalu ada untuk cowok itu sudah cukup aman. Kenanga luput dari hal yang sedang terjadi, bahwa tidak menutup kemungkinan, sewaktu-waktu Jati bisa terpikat oleh pesona gadis lain. Dan ternyata rasanya sesakit ini.
***