
Selepas shalat Magrib, Jati menenangkan diri di teras. Sejak kemarin kecamuk dalam dadanya belum sepenuhnya reda. Terlebih setelah menemani Cendana membagikan pakaian bekas Cakka tadi sore di panti asuhan. Ketika usahanya membuat Cendana berdamai dengan kenyataan perlahan-lahan membuahkan hasil, ia malah mendapati dirinya jatuh ke titik yang lebih dalam. Rasa bersalah yang bercokol di hatinya, kini lebih besar dari sebelumnya. Akan ada banyak perubahan jika Jati ingin melepaskan semuanya. Entah kenapa, cowok hitam manis itu merasa tidak siap. Di sisi lain, ia tidak mungkin terus-terusan seperti ini.
Jati kembali memandangi dengan frustrasi koran bekas yang tergenggam lemah di tangan kanannya, memaksakan membaca lagi berita kericuhan konser musik yang menelan korban jiwa beberapa bulan yang lalu. Teriakan perempuan itu, kebengisan lelaki berpakaian hitam itu, serta ketidakberdayaan anak itu, kembali berlompatan di benak Jati.
Seharusnya aku, bukan anak itu!
Jati sedang menopang kepalanya dengan tangan kiri yang bertumpu di paha, ketika derum pelan mesin mobil yang kemudian berhenti di luar pagar, mengalihkan perhatiannya. Sesaat kemudian, Kenanga muncul dari balik pintu kemudi. Gadis itu menenteng kantong plastik berisikan sesuatu. Senyumnya mengembang sempurna saat melangkah mendekat.
Setibanya di depan Jati, Kenanga meletakkan bungkusan yang dibawanya di atas meja.
"Aku bawain ayam bakar kesukaan kamu," ucapnya.
Jati tersenyum datar.
Tadinya sempat bertanya-tanya dalam hati, tapi melihat apa yang dipegang Jati, sekarang Kenanga paham penyebab tampang tidak bersemangat cowok itu. Ini bukan yang pertama. Kenanga menyambar koran di tangan Jati, lalu mengisi kursi kosong di sebelahnya.
"Please, Jat, sampai kapan kamu akan seperti ini?" Kenanga tahu persis, sejak peristiwa itu, Jati selalu menenggelamkan diri dalam rasa bersalah. Setidaknya butuh waktu seminggu, sebelum Jati bisa kembali beraktivitas dengan normal waktu itu.
Jati mengusap rambutnya hingga ke tengkuk, lalu terdiam beberapa jenak.
"Aku ketemu keluarga anak itu," ucapnya kemudian.
"Lalu apa?" Meski sempat terkesiap, Kenanga menimpali dengan cepat. Dari nadanya, kentara ia tidak suka. "Kamu mau menyerahkan diri sebagai penyebab kematian anak itu?" Kenanga menggeleng tak habis pikir.
"Nyatanya memang aku penyebabnya."
"Jangan bodoh, Jat! Kejadian itu di luar kendalimu, kamu sama sekali tidak bisa disalahkan." Suara Kenanga meninggi. Setelah beberapa bulan berlalu, ia benar-benar muak melihat Jati malah menjadi-jadi seperti ini.
Kenanga benar. Tapi, Jati tidak akan tenang sebelum membeberkan semuanya. Yang sekarang membuatnya pusing, bagaimana cara mengatakannya?
Menghindari perdebatan dengan Kenanga, Jati beralih melihat sesuatu di ponselnya, beberapa foto yang diambilnya diam-diam di kamar Cakka. Yang sekarang dicermatinya adalah foto Cakka mengenakan jaket yang sangat dikenalinya. Foto itu diambilnya ketika tanpa sadar Cendana membenamkan tangis di dadanya. Pandangannya terpaku pada logo yang tersemat di dada kanan Cakka, logo yang menjadi awal keterkaitan semua kerumitan ini.
***
Malam ini tepat setahun yang lalu, ketika Cendana menemukan secarik kertas di balik selimutnya menjelang tidur. Sebaris pesan yang akhirnya mengantarkannya ke taman belakang, menemui Cakka beserta lagu ciptaan sendiri yang dipersembahkannya sebagai kado di hari ulang tahun sang kakak.
Ditemani selembar kertas lusuh dalam dekapannya, Cendana terdiam di tepi jendela. Tanpa Cakka, aroma malam ini jauh lebih mencekam dibanding tahun lalu. Seperti halnya langit malam yang bersih dari bintang malam ini. Sepi, senyap, dan hambar.
Cendana berusaha membesarkan hati. Tak perlu kecewa atau pun sakit. Sebab dari tahun ke tahun memang selalu seperti ini. Hanya saja ... ini tahun pertama tanpa Cakka. Ia butuh waktu khusus untuk membiasakan diri dengan hal ini, hingga suatu saat akan hadir seseorang yang mampu menggantikan posisi anak itu untuk selalu siap menghiburnya. Seorang kekasih, mungkin? Entah kenapa, pikiran Cendana tiba-tiba tertuju ke Jati. Ah, tidak! Jati memang tampak nyaman menjalin pertemanan di luar hubungan guru dan murid. Tapi untuk lebih, Cendana tidak berani berharap.
Cendana mengakhiri perenungannya. Ia beranjak ke tempat tidur sambil tetap mendekap kertas lusuh bertuliskan lirik lagu ciptaan Cakka. Dengan bodohnya, ia berharap kembali menemukan secarik kertas, atau apa pun di balik selimut yang bisa mempertemukannya dengan Cakka. Sekali pun—mungkin—hanya dalam mimpi.
Beberapa menit lagi usianya genap 18 tahun, Cendana merasa tidak perlu untuk tetap terjaga dan menantinya. Tangis tanpa suara menemaninya saat memejamkan mata dan berusaha untuk tidur. Beberapa detik sebelum hari ini berakhir, usaha Cendana untuk lekas tidur digagalkan oleh deringan ponsel di atas nakas. Orang tidak akan menelepon di jam segini kecuali untuk hal penting. Karena itu, ia lekas meraihnya.
__ADS_1
Cendana yang tadinya malas-malasan, langsung terduduk dengan punggung tegak sempurna begitu mendapati video call dari Jati. Meski reaksinya tak sekaku saat pertama kali menerima video call Jati waktu itu, jantungnya tidak bisa dibilang baik-baik saja. Ia mengusap air mata di pipinya, lalu menyisir asal rambutnya menggunakan jari-jari tangan.
"Happy birthday to you! Happy birthday to you! Happy birthday, happy birthday, happy birthday ... to you!" Begitu wajah Cendana tampil di layar ponselnya, Jati langsung menyanyikan jingle selamat ulang tahun sedemikian antusias sambil tepuk tangan. Senyumnya merekah sempurna.
Cendana tak bisa berkata apa-apa. Tanpa bisa dicegah, air matanya meluruh begitu saja.
"Sekarang tiup lilin, ya." Jati mengangkat cup cake berhiaskan lilin kecil di tengahnya.
Meski konyol, Cendana benar-benar bermaksud meniup layar ponselnya.
"Eits, sebelum tiup lilin, hapus air matanya dulu, dong. Kamu wajib tersenyum!"
Cendana menurut. Setelah mempersembahkan senyum yang agak bergetar, ia meniup lilin di tangan Jati melalui layar ponselnya. Bersamaan, embusan napas Jati menyapu nyala lilin di depannya hingga padam. Sesaat menyisakan tarian asap tipis hingga hilang tak berbekas.
"Selamat ulang tahun, Cendana!"
"Terima kasih, Pak!"
"Kamu ada permintaan khusus?"
Cendana menggeleng. "Ini sudah lebih dari cukup, Pak."
"Kalau gitu, aku yang pengin minta sesuatu."
"Kok?"
"Apa?" Setelah sempat mereda, detak jantung Cendana kembali menggila.
"Boleh, sekali ini saja kamu jangan panggil aku "Pak"?"
Cendana tersenyum malu-malu, lalu mengangguk samar.
"Kita ulangi dari awal, ya." Jati tampak membenahi posisi duduknya. "Selamat ulang tahun, Cendana."
Cendana tidak langsung menjawab. Ini menggelikan.
"Terima kasih, Jati!"
Keduanya spontan terbahak.
"Perlu kita nyalakan lilinnya lagi?"
"Ah, nggak usah!" Cendana buru-buru menyanggah dengan sisa-sisa kegelian yang tercipta.
__ADS_1
"Ya udah, tidur, gih. Besok jangan telat, ya!"
Cendana mengangguk.
"Selamat tidur, Cendana!"
"Selamat tidur, Jati!"
Refleks, Cendana mendekap ponselnya sebelum wajah Jati benar-benar menghilang. Ia menjatuhkan kepala di atas bantal dengan ponsel yang bertahan dalam dekapannya. Cendana selalu terkesan dengan kebahagiaan yang hadir dengan cara sederhana seperti ini.
***
Aneh. Jati mendadak tidak bisa tidur demi menikmati nuansa denyut di hatinya. Ia tidak menyangka, hanya karena Cendana bersedia memanggil namanya tanpa emblem-emblem "Pak", reaksinya sedahsyat ini. Cendana adalah gadis pertama yang ia berikan ucapan selamat ulang tahun dengan cara sekonyol tadi. Bahkan, ia rela begadang demi jadi yang pertama. Untuk kesekian kalinya Jati yakin, hatinya telah terpaut dengan gadis itu. Tapi ... bagaimana mengatakannya? Jati tidak mungkin mengabaikan status guru dan murid di antara mereka. Yang tak kalah penting, Jati tidak mungkin melupakan begitu saja keterkaitannya dengan peristiwa kematian Cakka. Semua itu membuat Jati kembali berpikir.
***
Cendana mempercepat laju sepedanya setelah melihat Jati di depan sana. Jati menyambutnya dengan senyum yang lebih hangat dari sinar matahari pagi yang belum sempurna membaluri Kota Semarang. Setelah menurunkan kickstand sepedanya, Cendana turut berdiri di trotoar.
"Ini hari pertama kamu berusia 18 tahun. Kamu sudah punya rancangan masa depan?"
Rancangan masa depan? Cendana menggeleng.
"Beberapa bulan lagi kamu akan lulus SMA, lalu kuliah, bekerja, atau memilih menikah muda dan jadi ibu rumah tangga sepenuhnya. Proses itu akan sulit jika kamu tidak merancangnya dari sekarang."
Setelah tadi malam begitu menggelikan memanggil Jati tanpa emblem-emblem "Pak", pagi ini Cendana merasa, cowok itu kembali ke posisi semula selaku gurunya.
Jati mengeluarkan sesuatu dari ranselnya.
"Apa ini, Pak?" Cendana memandangi gulungan kertas putih yang diikat pita biru muda yang baru saja disodorkan Jati.
"Kado ulang tahunmu."
Kado ulang tahun? Ekspektasi Cendana langsung melambung. Mungkinkah lukisan? Atau minimal puisi.
Cendana menerimanya. Penuh rasa tak sabar, ia lekas melepas ikatannya dan membuka gulungannya. Cendana mengernyit. Kertas itu kosong melompong, tanpa bekas coretan setitik pun.
"Aku umpamakan kertas kosong itu sebagai masa depanmu. Mulai sekarang, isilah dengan apa-apa yang ingin kamu raih nantinya. Aku tidak bermaksud menggantikan kertas lusuh punya Cakka. Aku hanya ingin kamu mulai belajar menatap masa depan, jangan terus-terusan hidup di masa lalu. Dan, suatu saat nanti, semoga Tuhan menghendaki, aku tak ingin sekadar jadi pemberi kertas kosong itu, tapi benar-benar seseorang yang bisa memberimu masa depan." Jati berucap serius tanpa lepas menatap sepasang mata Cendana.
Betapa hangat ucapan Jati mengalun di telinga Cendana, lalu meresap melalui ubun-ubun hingga membaluri hatinya. Mata Cendana berkaca-kaca ketika kembali melabuhkan pandangan pada kertas kosong di tangannya. Bayangan Jati serta-merta mengisi kertas kosong itu. Sungguh, Cendana menginginkan cowok itu sebagai masa depannya.
"Terima kasih, Pak. Ini akan jadi kado ulang tahun terindah setelah lagu persembahan dari Cakka."
"Itu memang posisi terbaik yang bisa kamu berikan."
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Pak. Saya akan belajar mengisinya pelan-pelan." Cendana tersenyum hangat, meski dibarengi getar haru.
***