
Cendana memejamkan mata. Kedua tangannya mencengkram tepi bangku kuat-kuat.
Melihat otot lengan Cendana menegang, Ranum lekas merangkulnya, lalu mengusap pelan kedua pundaknya.
"Please, cerita sama gue."
Bersamaan dengan lolosnya bulir bening yang gagal ditahan, Cendana merebahkan kepalanya di bahu Ranum.
"Harusnya Pak Jati, bukan Cakka." Parau suara Cendana diselingi isak.
"Maksudnya?" Ranum mengira dirinya salah dengar.
"Orang yang menghabisi nyawa Cakka sebenarnya mengincar Pak Jati." Cendana mengangkat kepalanya. "Pak Jati juga melihat kejadian itu. Dia ada di sana." Cendana kembali sesenggukan.
Bibir Ranum bergerak-gerak hendak mengatakan sesuatu, namun tak satu kata pun yang berhasil keluar. Ia shock mendengar penuturan Cendana.
"Kalau Pak Jati tidak lari ke arah kami, pasti Cakka masih hidup."
"Nggak! Lo nggak boleh ngomong gitu. Itu sama aja lo nyalahin Pak Jati."
"Tapi emang benar, kan?" Suara Cendana meninggi.
"Istigfar, Dana. Apa pun yang terjadi malam itu, semua sudah ketentuan Allah."
"Kamu nggak akan ngerti, karena bukan kamu yang kehilangan adik." Cendana membuang pandangan.
"Terus, sampai kapan lo mau nyalahin Pak Jati? Selamanya?"
Cendana tidak menjawab. Ia sibuk menyeka air matanya.
"Sikap lo ini gue anggap hanya karena sedang emosi. Sepertinya lo butuh sendiri untuk tenangin diri." Ranum bangkit dari duduknya. "Gue tunggu di kelas, ya," katanya, lalu beranjak membelah lapangan basket menuju koridor di sebelahnya.
Sepeninggal Ranum, Cendana kembali mencengkram tepi bangku, lebih kuat dari sebelumnya. Ia sadar sepenuhnya, sikapnya ini salah. Sejak tadi malam ia sudah mengupayakan perdamaian, namun hingga saat ini belum berhasil. Entah berapa lama waktu yang dibutuhkannya.
***
__ADS_1
Bagi Jati, jam terakhir hari ini terbilang berat. Bukan karena tenaga yang semakin terkuras, tapi karena ia harus mengajar di kelas Cendana. Tidak seaktif biasanya, kali ini Jati hanya mengulang materi sebelumnya, kemudian memberikan ulangan harian dadakan yang berbuah banyak protes dari penghuni kelas XII IPA 2.
Jati terdiam di mejanya, mengambil posisi duduk tegak. Pura-pura cermat mengawasi jalannya ulangan, diam-diam tatapan Jati lebih sering mengarah ke Cendana. Gadis itu tampak serius mengerjakan soal, sukses bersikap seolah tidak pernah ada kedekatan apa-apa sebelumnya dengan guru muda yang kini menatapnya lekat-lekat.
Wajar jika ia kecewa, atau bahkan menyalahkan saya. Ia butuh waktu untuk memahami semuanya. Kalimat itu berkali-kali Jati ucapkan dalam hati, satu-satunya upaya menenangkan diri yang bisa ia lakukan saat ini.
Bel pulang berdering. Jati minta hasil ulangan dikumpulkan. Setelah semuanya terkumpul rapi, Jati menutup pertemuan hari ini dan undur diri dari kelas itu.
"Pak!"
Langkah Jati yang sudah tiba di ambang pintu, tercekat, setelah mendengar panggilan seseorang. Saat ia berbalik, Jaka sedang merapat ke arahnya sambil menyodorkan kotak makanan yang seketika menerbitkan senyum geli di bibir Jati.
"Nih, kotak makanan Bu Susi. Saya kepikiran terus kalau menyimpannya lama-lama. Rasanya kayak bawa bom waktu ke mana-mana."
Jati tergelak. "Enak?"
"Mantap!" Jaka mengacungkan kedua jempolnya.
"Mau disampaikan ke orangnya?"
Jati harusnya terbahak melihat reaksi Jaka, tapi urung karena tiba-tiba Cendana melewati mereka, meloloskan diri di pintu, terus menjauh tanpa menoleh sedikit pun.
"Tenang, Pak. Ini hanya soal waktu. Semuanya akan kembali seperti semula," hibur Jaka setelah menyadari ke mana arah pandang Jati.
Meski kedua bahunya sempat merosot, Jati berusaha terlihat baik-baik saja. Ia tersenyum lemah ke arah Jaka sebelum kembali melangkah meninggalkan ruangan itu.
***
Sebelum Ibu meninggalkan mereka, Jati pernah beranggapan, bahwa keluarganya adalah keluarga paling bahagia sedunia. Bahagia versi Jati tidak perlu berdampingan dengan barang-barang mewah, atau rutin liburan ke luar negeri setiap akhir tahun. Cukup bisa makan masakan Ibu setiap malam, lalu berkumpul di ruang tengah setelahnya, mengobrolkan banyak hal. Ayah biasanya bercerita soal murid-muridnya, sedang Jati lebih banyak bercerita soal cita-citanya ingin menjadi musisi profesional.
Sebagai orangtua, Ayah tidak pernah memaksakan kepada Jati agar kelak juga menjadi seorang guru. Jalan apa pun yang dipilih Jati nantinya, anak tunggalnya itu harus lebih baik darinya. Itu yang selalu ia bilang. Namun, Jati sudah menetapkan Ayah sebagai panutan dalam hidupnya. Kesederhanaan, ketekunan, kedisiplinan, dan apa pun yang ada di diri Ayah, diam-diam membuat Jati kagum. Maka dengan sendirinya Jati memutuskan untuk mencontoh beliau, termasuk menjadi seorang guru.
Dengan penuh keyakinan, Jati sering berkata kepada Ayah, bahwa suatu hari nanti ia bisa sukses sebagai guru dan musisi. Ayah selalu membelai pucuk kepala Jati setiap kali berkata demikian. Dan sorot mata Ayah di saat seperti itulah yang selalu menumbuhkan rasa percaya diri dalam diri Jati, yang sekarang hanya bisa ia rindukan.
Namun, saat tiba-tiba Ibu meninggalkan mereka demi kebahagiaan yang menurut Ibu tak pernah ada selama bersama mereka, kepercayaan diri Jati runtuh bagai pemukiman yang dilanda air bah. Jati butuh waktu lama untuk membangunnya kembali, perlahan-lahan, hingga ia berhasil bangkit dengan pemahaman baru yang membuat cara pandangnya pun berbeda.
__ADS_1
Jati yakin tidak pernah mendengar Ayah dan Ibu bertengkar. Jadi kalau memang selama ini ada masalah di antara mereka, kepiawaian mereka menutupinya patut diacungi jempol. Jati lebih lega kalau saja masalah terselubung itu memang ada, ketimbang tragedi ini murni didasari perkara materi. Jati selalu putus asa setiap kali memikirkannya.
Setelah pulih dari luka-luka itu, Jati memastikan satu hal, bahwa tak secuil pun tunas dendam yang tumbuh di hatinya untuk Ibu. Ia hanya ingin membuktikan kepada semua yang bisa menjadi saksi, bahwa ia bisa kembali berdiri tegak untuk meraih cita-cita.
Terbentuknya The Second Change Band membuat Jati kian bersemangat. Detik itu ia merasa mendapat restu dari Tuhan. Impiannya semakin dekat. Karena itu, sesibuk apa pun ia dengan dunianya yang lain, ia berusaha memberikan yang terbaik setiap kali bersama band kesayangannya itu. Termasuk di semua sesi latihan. Namun, malam ini Jati benar-benar tidak bisa berkonsentrasi. Pikirannya dipenuhi soal Cendana. Berkali-kali ia ditegur rekannya karena salah lirik, atau salah masuk.
Merasa kondisi vokalis mereka tidak bisa dipaksakan, mereka memutuskan untuk break. Jati berbalik dan melayangkan tatapan minta maaf ke arah rekan-rekannya. Meski mereka tampak memaklumi, Jati bisa merasakan aura kecewa bercampur jengkel yang mulai menguar.
Jati keluar studio lebih dulu, lalu berbelok ke kanan menuju balkon. Setibanya di depan railing, ia mengusap gusar wajahnya sambil menghela napas panjang-panjang. Posisi kedua tangannya berpindah dari wajah ke pinggang. Ia berkacak sambil menengadah. Tatapannya seolah mencari jawaban di atas sana, tentang apa yang harus ia lakukan untuk merekatkan kembali hubungannya dengan Cendana. Atau kalau memang tidak bisa seperti dulu lagi, cukup sebuah penegasan, bahwa ia tidak disalahkan atas peristiwa mengerikan itu.
"Di sekolah lagi ada masalah, ya?" Sofyan menyela lamunan Jati. Ia menyodorkan sekaleng soda dingin saat Jati menoleh ke arahnya. "Dari kemarin lo terlihat kacau."
Jati menerima minumannya sambil tersenyum lemah.
"Jujur, sejak jadi guru, lo berubah. Kalau sekadar sering terlambat dan pamit pulang duluan, itu masih mending. Karena kami paham, lo punya kewajiban lain yang sama pentingnya. Tapi totalitas lo juga hilang. Kami kehilangan ruh dari lagu-lagu yang lo nyanyiin. Memang tidak buruk, tapi feel-nya beda." Sofyan jeda, meneguk minumannya beberapa kali. "Kami selalu percaya sama lo, karena itu kami nggak keberatan saat lo memutuskan untuk jadi guru. Tapi tolong, hargai perjuangan kita yang sudah sejauh ini." Tanpa sadar, Sofyan menekankan kalimatnya.
Jati gagal menemukan sepenggal kata pun untuk menyanggah. Ia sempurna terduduk di pojok bersalah. Ia paham konsekuensi atas jalan yang dipilihnya, dan ia selalu berusaha untuk meminimalisirnya.
"Gue yakin, lo bisa. Mungkin saat ini lo hanya lagi ada masalah yang tidak sepatutnya kami tahu. Tapi kalau lo mau cerita, kami siap dengar, kok." Sofyan menepuk pelan pundak Jati, lalu berbalik bermaksud kembali ke dalam.
"Lo masih ingat anak yang jadi korban kericuhan konser waktu itu?"
Perkataan Jati membuat langkah Sofyan terkunci. Tentu saja ia masih ingat. Orang-orang yang terlibat di sana tidak akan bisa melupakan kejadian itu. Namun pertanyaan Jati kali ini arahnya sedikit berbeda. Sebagai rekan yang paling dekat dengannya, Sofyan paham bagaimana peristiwa itu menumbuhkan rasa bersalah dalam diri Jati.
Sofyan berbalik dan kembali merapat ke sisi Jati. Tatapannya kini dipenuhi rasa penasaran; apakah rekannya ini sudah bisa terlepas dari rasa bersalah itu atau justru sebaliknya?
"Gue ketemu keluarga anak itu."
Pengakuan barusan menimbulkan kerutan di kening Sofyan. "Terus?" burunya.
Maka mengalirlah cerita Jati. Mulai dari aksi penjambretan pagi itu, pertemuannya kembali dengan si korban jambret di dalam kelas sebagai guru dan murid, hingga mengetahui kisah traumatik gadis itu terhadap musik, yang memaksanya menutup identitasnya sebagai anak band untuk sementara waktu.
Sampai di sini Sofyan bisa memahami, bahwa sahabat sekaligus rekan bermusiknya itu memiliki perasaan istimewa terhadap gadis yang sedang diceritakannya. Sebelumnya, Sofyan tidak pernah mendengar Jati menceritakan seseorang hingga sedetail ini. Namun pada akhirnya ia cukup tersentak, setelah Jati memaparkan bahwa Cendana adalah kakak dari korban kericuhan waktu itu. Sekarang ia jadi paham, kerumitan macam apa yang sedang dihadapi sahabatnya ini.
***
__ADS_1