
"Kami harap, kamu bisa sedikit lebih dewasa."
Pandangan jati ke arah Kenanga melarikan tangisnya terputus oleh suara tadi, bersamaan jatuhnya tepukan di pundaknya. Jati menoleh, mendapati ketiga rekannya, Sofyan, Wahyu, dan Saddang.
"Kenanga sudah banyak bantuin kita. Tanpa dia, jalan mimpi kita takkan semulus ini."
Sudah sering Jati mendengar kalimat itu dari teman-temannya, dan sejujurnya ia tidak suka. Lebih dewasa apa yang mereka maksud? Membalas perasaan Kenanga? Bukankah pura-pura cinta justru lebih kekanak-kanakan? Hal inilah yang terkadang membuat Jati berpikir ulang. Ia tidak bisa selamanya pura-pura bodoh. Ia paham, Kenanga melakukan semua ini karena gadis itu menyukainya. Bukannya tidak pernah mencoba, tapi perasaan Jati ke gadis itu memang belum bisa lebih. Ini kaitannya dengan sekuntum rasa yang butuh mekar dengan sendirinya, bukan dipaksakan dengan alat apa pun. Jati hanya tidak ingin membuat gadis itu lebih sakit nantinya. Di sisi lain ia tidak boleh egois. Ia harus memikirkan teman-temannya. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri, peran Kenanga untuk band mereka sudah telanjur jauh.
***
Niat untuk berdamai dengan musik malah membawa Cendana menemui fakta baru. Ia masih tidak habis pikir, ternyata Jati vokalis The Second Change Band. Selain pernah mendengar Cakka menyebutkan nama band itu, saat terlibat di audisi mereka, Cendana tidak tahu apa-apa lagi. Ia memang bukan tipe orang yang mengikuti perkembangan dunia musik, terlebih untuk band yang baru merintis. Wajar jika ia sama sekali tidak menyadari bahwa Jati bagian dari mereka.
Namun bukan hal itu yang membuat pikiran Cendana masih tertinggal di kafe tadi. Fakta bahwa sebenarnya lelaki berpakaian serba hitam itu mengincar Jati, membuat perasaan Cendana berkecamuk. Kalau saja Jati tidak lari ke arah mereka, lelaki itu tidak akan menemukan Cakka. Kalau saja Jati menemui ajal malam itu, mereka tentu tidak akan bertemu. Dan sampai detik ini belum tentu Cendana bisa merasakan uniknya jatuh cinta.
Ah, Cendana tidak bisa berhenti berandai-andai. Padahal ia sadar, itu percuma. Harusnya ia cukup melapangkan dada untuk menerima takdir yang telah ditentukan. Sekarang kondisinya semakin rumit. Selain harus mengubur rasa bersalahnya sendiri, Cendana harus berbesar hati untuk bisa mengakui, bahwa Jati tidak bisa disalahkan atas kejadian malam itu.
Setibanya di rumah, niat untuk langsung masuk kamar dan membenamkan diri di tempat tidur, urung. Cendana mendapati kedua orangtuanya duduk berdampingan di sofa panjang di ruang tengah. Pemandangan yang sungguh langka.
"Sayang, duduk sini dulu."
Tadinya Cendana berniat tidak peduli dan berlalu begitu saja, tapi Mama memintanya bergabung. Cendana mendekat, lalu duduk berhadapan dengan mereka.
Diam-diam Cendana mengamati ekspresi aneh yang ditunjukkan kedua orangtuanya. Berkali-kali mereka saling lirik, seolah saling menunjuk untuk mulai bicara.
"Kami mau memberitahukan satu hal." Akhirnya Hajir yang membuka obrolan itu. Namun setelahnya, ia kembali menunduk sembari mengusap wajahnya, memperjelas gurat ketidakberesan yang tercetak di sana.
Kalau mereka sudah menyadari kesalahannya selama ini, dan bermaksud mulai memperbaikinya, harusnya tidak perlu sekaku ini. Ada apa sebenarnya?
"Perusahaan Papa terlilit utang."
Meski responsnya terlihat biasa, Cendana tersentak.
"Jika dalam waktu sebulan Papa tidak bisa melunasinya, rumah ini beserta isinya akan disita."
"Maksudnya, kita akan jatuh miskin?" Tatapan menuntut penjelasan Cendana tak berkedip ke arah papanya.
"Kamu tidak usah khawatir. Papa akan berusaha semampu Papa untuk menyelesaikan masalah ini. Papa hanya ingin kamu tahu kemungkinan terburuknya dari sekarang." Hajir berusaha meyakinkan, meski kebingungan dan sedikit ketakutan terpancar jelas di matanya.
Sedang Sukma memilih diam. Ia lebih banyak menunduk, memerhatikan jemari tangannya yang saling ***.
__ADS_1
***
Entah kali keberapa Jati melirik jam tangannya. Ia akan terlambat kalau masih memaksakan untuk menunggu Cendana. Ia memutuskan melanjutkan perjalanannya ke sekolah, setelah sekali lagi berusaha menelepon gadis itu dan masih tidak dijawab.
Setelah kejadian semalam, Jati merasa punya banyak hal untuk diomongkan. Terlebih, ia sangat mengkhawatirkan kondisi Cendana.
Dengan napas tersengal, Jati berhasil tiba di sekolah sesaat sebelum satpam menutup pintu gerbang. Tidak sengaja melihat sedan biru langit saat memarkirkan sepedanya di tempat biasa, membuat Jati seketika mematung beberapa jenak. Menyadari bahwa Cendana memilih berangkat lebih awal menggunakan mobil demi meghindarinya, membuat cowok itu mendadak lesu. Ia kalut membayangkan kerenggangan yang auranya mulai terlihat.
Di balik kaca gelap mobil, Cendana melihat semuanya. Kekecewaan yang mangalun saat tiba-tiba tatapan Jati mengarah ke mobilnya, dua bahu kokoh yang merosot perlahan kemudian, serta tundukan panjang yang digelayuti rasa bersalah dan takut kehilangan.
Cendana sadar sepenuhnya, Jati tidak punya salah apa-apa atas kejadian malam itu. Ia hanya merasa belum siap untuk melanjutkan kedekatan yang sudah terjalin. Ada banyak hal yang membuatnya bersikap seperti ini. Namun memilih menunggu di dalam mobil demi memastikan kedatangan cowok itu menegaskan, bahwa Cendana tidak siap kehilangan hari-harinya bersama Jati.
Setelah Jati meninggalkan area parkir dengan langkah goyah tidak bersemangat, Cendana mengeluarkan kertas rancangan masa depan pemberian cowok itu. Sekarang, mengisinya terasa semakin sulit. Semua ucapan Jati di kafe, juga pemaparan Papa perihal kondisi perusahaan keluarganya, silih berganti terngiang.
***
Jam istirahat. Jati menyendiri di taman depan perpustakaan. Setelah hampir terlambat, sedari pagi jam mengajarnya full, makanya baru sempat menyantap nasi goreng pemberian Bu Susi. Entah nasi goreng apa lagi namanya, Jati lupa. Tapi entah niat makan atau sekadar merenung, sedari tadi belum sesendok pun nasi goreng kemerahan itu masuk ke mulutnya.
Jarak yang coba dibentangkan Cendana membuat Jati galau. Bukan perihal kehilangan hari-hari menyenangkan bersama gadis itu yang paling memberatkan kepalanya, tapi lebih kepada sikap yang seolah tidak bisa menerima kenyataan keterlibatannya dalam tragedi malam itu. Hal ini membuat rasa bersalah dalam diri Jati berkali-kali lebih besar dari sebelumnya.
Bukannya isinya dimakan, Jati malah meletakkan kotak makanan berwarna pink mencolok itu di sampingnya, lalu bertelekan di tepian bangku dengan tundukan yang semakin dalam.
Jati menoleh, tahu-tahu sudah ada Jaka di sampingnya.
"Nggak apa-apa." Jati tersenyum lemah.
"Hanya orang yang kepalanya dihuni pikiran rumit yang betah mengamati rumput sedemikian khidmat."
"Ada-ada aja kamu." Tawa kecil Jati mengudara sesaat, lalu lekas berganti dengan helaan napas berat.
"Saya memang siswa Bapak, tapi selisih umur kita nggak banyak-banyak amat, kan? Bapak bisa cerita apa aja ke saya."
Jati melirik sesaat. "Cendana nggak mau lagi kenal sama aku." Ia paham, tidak seharusnya ia menjalin obrolan seperti ini dengan siswanya, terlebih masih dalam lingkungan sekolah. Tapi entah kenapa, Jaka benar-benar bisa memosisikan diri sebagai pendengar yang memang dibutuhkan Jati saat ini.
"Loh, kenapa? Bukannya kemarin baik-baik aja? Bapak punya salah apa?"
"Kesalahanku fatal. Butuh waktu lama untuk bisa dimaafkan, atau bahkan tidak sama sekali."
Jaka menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. Isi kepalanya mencoba menebak kesalahan yang dimaksud gurunya hingga sefatal itu. "Bapak ketahuan selingkuh, ya?" tebaknya kemudian.
__ADS_1
"Selingkuh hanya untuk pasangan yang sudah ada ikatan jelas. Sementara aku sama Cendana sama sekali belum ada apa-apa."
"Jadi belum jadian juga?" Jaka antara kaget dan kecewa, merasa jurus-jurus cinta yang ia ajarkan selama ini sia-sia. "Bapak pernah nyatain perasaan, nggak?" desaknya.
Jati terdiam. Selama ini ia memang belum pernah sekali pun menyatakan perasaannya. Bukan karena ragu, tapi ada hal yang membuat Jati berpikir berkali-kali untuk melakukannya.
"Udah, ah. Aku mau balik ke ruang guru." Jati meraih kotak makanan di sampingnya, lalu menyodorkannya ke Jaka. "Nih, buat kamu aja."
Merasa mengenali kotak makanan itu, Jaka menggeleng tegas. "Ini dari Bu Susi, kan?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Nggak, ah, Pak! Saya kapok." Jaka terbayang hukuman lari keliling lapangan upacara waktu itu.
"Udah, nggak apa-apa, kok. Asal jangan ketahuan aja." Jati meraih tangan kanan Jaka dan menuntunnya menerima makanan itu.
Meski sudah tidak tahan dengan godaan telur mata sapi yang terlentang di permukaan nasi goreng, dan seolah sedang tersenyum padanya, Jaka masih menimbang-nimbang.
"Tapi ...."
"Biar aman, jangan kamu yang balikin kotaknya, biar aku yang ambil di kelasmu." Jati menepuk pelan bahu sang pakar cinta yang sedang dilema karena nasi goreng itu, lalu beranjak.
Di pertigaan koridor, langkah Jati memelan melihat Cendana dan Ranum sedang bergerak ke arah berlawanan beberapa meter di depan sana. Jarak di antara mereka terpangkas perlahan-lahan, sebelum Cendana menyadari keberadaan Jati dan serta-merta berbalik mengambil langkah panjang-panjang. Melihat hal itu, hati Jati seperti baru saja ditampar benda asing, yang mungkin akan meninggalkan perih berkepanjangan. Jati mengunci langkahnya, membiarkan Cendana menjauh sejauh yang ia mau. Yang diinginkan Jati saat ini hanya kesempatan untuk bicara, meski ia sendiri tidak tahu harus bilang apa jika kesempatan itu tiba. Berada di posisi seperti ini rasanya sungguh tidak enak.
Ranum yang belum tahu apa-apa hanya berusaha mengimbangi langkah Cendana. Melihat tangis Cendana sepulang dari kafe tadi malam, Ranum yakin, pasti ada sesuatu yang tidak beres. Tapi saat ia bertanya, jawabannya hanya gelengan lemah di tengah upaya menahan buliran air mata agar tak semakin menjadi-jadi.
Pelarian Cendana berakhir pada sebuah bangku besi di pinggir lapangan basket. Ia langsung merosotkan tubuhnya di sana. Sengal napasnya bukan karena lelah, tapi terjangan gemuruh aneh dalam dadanya.
"Lo kenapa, sih? Lihat Pak Jati kayak lihat setan." Ranum ikut duduk bersisian. "Kalian marahan?"
Cendana tidak menjawab. Ia sedang berusaha menormalkan pola napasnya, juga meredakan apa-apa yang membuat tingkahnya seaneh ini.
"Lo kecewa setelah tahu Pak Jati ternyata anak band? Atau merasa dibohongi?"
Cendana menggeleng samar.
"Terus?"
***
__ADS_1