
Tangan kiri Fatimah langsung mengelus pucuk kepala Cendana selama gadis itu mencium tangannya. Cendana merasakan hangatnya menjalar hingga ke hati, hal yang membuatnya langsung menyukai perempuan berwajah penuh kasih di depannya.
"Masuk, yuk!" ajak Fatimah sambil merangkul pinggang Cendana.
Jati bahagia melihat pemandangan itu.
Setibanya di ruang tengah, Cendana disuguhi pemandangan banyak sekali anak-anak usia tiga sampai sebelas tahun yang tengah sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Anak-anak, lihat siapa yang datang," lantang Fatimah.
"Kak Jati ...!" panggil anak-anak itu serempak saat menoleh dan langsung disuguhi senyum bersahabat oleh Jati.
Mereka langsung menghambur, berebut salaman sama Jati. Cendana sengaja bergeser beberapa langkah, memberi ruang kepada anak-anak itu untuk lebih dekat dengan Jati. Melihat cara Jati memperlakukan anak-anak yang tampak sangat menyukainya itu, lagi-lagi Cendana tak mampu meredam getaran aneh di hatinya.
"Anak-anak, sekarang balik main atau belajar lagi, ya. Bunda mau ngobrol dulu sama Kak Jati," pinta Fatimah setelah memastikan anak-anak itu kebagian salaman sama Jati.
Tak perlu menunggu Bunda mereka menyuruh dua kali, anak-anak itu langsung kembali ke tempat semula dengan teratur. Kecuali seorang bocah laki-laki berumur tiga tahunan yang masih merengek pengin digendong Jati. Namanya Alif. Ia memang yang paling suka bermanja tiap kali Jati berkunjung.
Jati sengaja memamerkan ekspresi lucu untuk menghibur anak itu. Jati lekas mengangkatnya ketika anak itu sudah merentangkan tangan tidak sabaran. Ia tertawa bahagia saat jemari Jati bermain usil menggelitik pinggangnya. Sepintas, interaksi mereka seperti ayah dan anak. Lagi-lagi membuat Cendana ... ah, sudahlah!
"Kita ngobrol di teras belakang aja, ya." Fatimah menyela keseruan Jati menjaili Alif. "Nak Cendana, ayo!"
Cendana lekas menyambut uluran tangan Bu Fatimah yang bermaksud menggandengnya. Entah kenapa, Cendana merasa tempat ini dilimpahi kasih sayang, sangat timpang dengan atmosfer yang ada di rumahnya.
Setibanya di teras belakang, mereka duduk di sofa panjang yang menghadap ke taman. Jati memangku Alif.
"Kenapa akhir-akhir ini Nak Jati mulai jarang main ke sini?" Fatimah memulai obrolan.
"Saya, kan, mulai ngajar, Bu, jadi waktu luangnya mulai terbatas." Jati menjawab sambil mencolek-colek pipi Alif.
Fatimah manggu-manggut memaklumi. "Gimana rasanya jadi guru? Kamu punya kendala?" tanyanya kemudian.
"Alhamdulillah, sejauh ini lancar, Bu."
"Alhamdulillah! Ayahmu pasti bangga sama kamu." Fatimah menepuk pelan pundak Jati.
Jati terenyuh. Bola matanya selalu menghangat setiap kali ada yang mengungkit apa pun tentang almarhum ayahnya.
"Maaf, Bunda."
Fatimah berhenti menepuk pundak Jati saat suara tadi menyela. Ia menoleh ke sumber suara. Gadis belia berkerudung putih yang tadinya hanya berdiri di ambang pintu, kini melangkah pelan mendekat sebelum kembali bicara.
"Donatur yang kemarin berkunjung ke sini menelepon, mau bicara sama Bunda." Gadis berwajah tirus itu berucap sambil membungkuk penuh hormat.
__ADS_1
"Jati, Cendana, Bunda tinggal dulu, ya. Orang itu mau menyumbangkan buku-buku pelajaran terbaru untuk anak-anak. Mungkin dia hanya ingin memastikan jumlah dan usia anak-anak di sini."
"Alhamdulillah." Jati tersenyum bahagia.
Fatimah dan gadis tadi beranjak ke dalam, menyisakan Jati dan Cendana, juga Alif yang malah melingkarkan tangannya di leher Jati saat Fatimah bermaksud mengambilnya.
"Bapak kenapa nggak bilang mau ke sini? Kalau tahu mau ke sini, kita, kan, bisa beli oleh-oleh dulu buat mereka." Setelah merasakan hangat sambutan Bu Fatimah, Cendana merasa tidak enak datang dengan tangan kosong.
"Kita mau jenguk aja, mereka udah senang banget, kok," tanggap Jati sambil meliuk-liukkan kepalanya demi meladeni permainan Alif yang berusaha memencet hidungnya.
"Bapak sering ke sini?"
"Lumayan."
"Jujur, saya iri melihat kedekatan Bapak dengan anak-anak itu. Pengen, deh, saya sedekat itu juga sama mereka."
"Bisa, kok. Mereka anak-anak yang baik, tergantung bagaimana kita memperlakukannya."
Cendana tersenyum getir. Kenangan tentang Cakka kembali berkelebat.
"Alif mau temenan sama Kak Cendana?" tanya Jati pada bocah yang masih terus berjuang menjangkau hidungnya.
Alif menghentikan aksinya, sekilas menoleh ke arah Cendana, lalu mengangguk.
Alif kembali mengangguk.
Cendana lekas mengambil alih anak itu ke pangkuannya. Berbeda ketika sama Jati, di pangkuan Cendana, Alif tenang-tenang saja, sangat kentara masih malu-malu.
"Tempat ini selalu menegaskan, bahwa betapa kehilangan mutlak di kehidupan seseorang."
Cendana menoleh, saat tiba-tiba intonasi suara Jati agak berbeda.
"Kehilangan yang kamu rasakan atas kepergian Cakka, pun dirasakan oleh mereka saat kehilangan orangtua, saudara, atau siapa pun orang terdekat yang kini hanya tinggal nama atau sekadar cerita fiktif dari pengasuh mereka. Aku paham, kepergian Cakka memang sangat tragis. Tapi ketika mereka sengaja ditinggalkan di tengah keramaian, atau di dalam kardus bekas saat belum tahu apa-apa, pun tak kalah tragis." Jati sengaja melakukan beberapa penekanan, bermaksud menembus sisi penerimaan Cendana.
Tanpa sadar, Cendana menggenggam tangan Alif lebih erat. Sesuatu bergejolak di dadanya.
"Tapi lihat anak-anak tadi, adakah mereka menunjukkan wajah-wajah sedih? Yang ada malah senyum penuh semangat untuk menantang hari esok. Bersedih atas kehilangan, itu wajar. Tapi jangan sampai berlarut-larut, terlebih sampai menyalahkan diri sendiri untuk sesuatu yang sudah menjadi ketentuan-Nya." Di bagian ini Jati kurang yakin Cendana bisa menerima ucapannya. Sebab ia sendiri, sampai sekarang masih memendam rasa bersalah yang belum berhasil ia matikan sepenuhnya.
Sesaat hening. Cendana pura-pura sibuk bermain dengan Alif di pangkuannya, tapi pikirannya memencar ke segala arah.
"Pertama kali mengenal kehilangan yang sesungguhnya, ketika Ibu memilih meninggalkan kami demi mengejar kebahagiaannya." Jati kembali bersuara. Kali ini kepalanya menempel di tembok, tatapannya menerawang hampa.
Cendana menoleh. Meski dari arah samping, kesedihan itu terlihat jelas menjalari pori-pori wajah Jati.
__ADS_1
"Ibu pergi dengan lelaki lain, yang dianggap bisa memberinya apa-apa yang belum bisa ia dapatkan dari seorang guru seperti Ayah." Jati berusaha menjernihkan suaranya, meski tenggorokannya sudah teramat perih.
"Meninggalkan suami dan anaknya demi kebahagiaan? Kebahagiaan apa lagi? Bukankah keluarga adalah sumber kebahagiaan?" Cendana menggeleng tidak habis pikir. Lalu ia teringat dengan keluarganya sendiri. Sudah bisakah disebut sumber kebahagiaan?
"Setiap orang memiliki standar kebahagiaan. Dan menurut Ibu, kami bukan lagi kebahagiaannya waktu itu." Jati tersenyum kecut saat menoleh, berupaya menyamarkan ekspresi sedihnya di mata Cendana.
"Bapak nggak pernah ketemu beliau lagi?"
Jati menggeleng. "Rasanya nggak perlu. Tapi bukan berarti aku menaruh dendam. Sebab sampai kapan pun, beliau tetap perempuan yang pernah mempertaruhkan nyawanya demi melahirkanku." Jati menghela napas panjang. "Cukup buktikan ke beliau, bahwa aku baik-baik saja tanpanya."
Tangan Cendana tergerak *** pelan lengan Jati. Entah apa maksudnya. Yang jelas bukan menguatkan, karena ia sendiri tak kalah rapuh. Ia hanya tak ingin kesedihan melumpuhkan cowok di sampingnya. Sebab jika itu terjadi, siapa lagi yang akan menghiburnya?
***
Pagi ini, Jati mengernyit melihat sedan biru langit terparkir di titik biasanya ia menunggu Cendana. Tak ingin terlalu ambil pusing, Jati menghentikan sepedanya beberapa meter dari mobil itu. Ia melirik jam di tangannya, lalu menoleh ke ujung jalan. Cendana belum kelihatan.
"Selamat pagi, Pak," sapa seseorang dari arah belakang.
Karena sangat mengenali suara itu, Jati terkesiap. Tatapannya langsung beralih dari ujung jalan ke sepasang manik mata gadis itu.
"Jadi, itu mobil kamu?"
Cendana mengangguk malu-malu.
"Lalu, ada angin apa tiba-tiba sepedanya ditinggal?" seloroh Jati dibarengi kekehan ringan.
"Mungkin kali ini aja. Di dalam ada pakaian bekas Cakka, juga beberapa punya saya. Daripada nyesakin lemari nggak jelas, saya mau ngasih ke anak panti. Boleh, kan?"
"Oh, tentu boleh," tanggap Jati sedemikian antusias.
"Bapak mau menemani saya ke panti selepas jam sekolah nanti?"
"Dengan senang hati." Jati meletakkan tangan kanannya di bahu kiri sambil agak membungkuk, layaknya pelayan kerajaan yang siap menjalankan titah tuannya.
Cendana dibuatnya terbahak.
Jati turut bahagia, melihat pancaran mata Cendana belum pernah secerah pagi ini. Apa pun yang selama ini menyelubunginya, tampaknya perlahan-lahan mulai tersingkap.
Tadi malam, Bibi bertanya heran saat Cendana tiba-tiba membongkar isi lemari Cakka. Padahal, selama ini ia melarang dengan tegas siapa pun mengubah tatanan barang-barang dalam kamar itu. Ia ingin posisinya tetap sama ketika Cakka meninggalkannya, agar ciri khas anak itu tak sedikit pun terhapus dari sana. Bibi sangat bahagia ketika Cendana menjelaskan akan dibawa ke mana pakaian itu. Menurut Bibi, ini awal penerimaan yang sesungguhnya.
Jati mengayuh sepedanya penuh semangat di belakang mobil Cendana yang melaju dengan kecepatan sedang. Sesekali Cendana sengaja memelankan laju mobilnya, agar Jati tidak terlalu berjarak dengannya, agar ia tetap bisa mengamatinya lewat kaca spion.
Tuhan ... terima kasih telah menghadirkannya di kehidupanku.
__ADS_1
***