
Cendana lagi-lagi memandang kertas itu larut-larut begitu tiba di tangannya.
"Saya suka membawanya ke mana-mana, karena kertas ini selalu membuat saya merasa dekat dengan Cakka. Entah apa jadinya jika penjambret itu berhasil membawanya kabur waktu itu." Tatapan Cendana beralih dari permukaan kertas ke manik mata Jati. "Terima kasih, Pak, karena sudah menyelamatkan kertas ini."
Jati hanya tersenyum. Ia bisa merasakan kesungguhan di sorot mata Cendana yang agak berbeda dari biasanya.
"Kalau saja malam itu kami tidak melanggar larangan Papa, pasti Cakka masih di sini." Cendana berucap pelan sambil beranjak menghampiri foto Cakka berukuran besar yang terpajang di tengah-tengah dinding, di antara poster musisi-musisi dunia yang tadi diamati Jati.
"Karena tidak ingin ketinggalan konser band idolanya, Cakka merengek sama saya, minta ditemani setelah Papa melarangnya pergi nonton. Berkat bantuan Bibi, kami berhasil kabur. Nahas, malam itu adalah malam terakhir Cakka menikmati musik." Cendana tercekat. Punggungnya mulai terguncang pelan.
Jati menunggu tanpa bangkit dari duduknya. Cerita inilah yang paling ingin diketahuinya, awal mula Cendana seperti orang ketakutan saat mendengar musik keras.
"Ia jadi kambing hitam kerusuhan yang entah disebabkan apa. Orang tak dikenal menikam Cakka berkali-kali di depan mata saya. Ia baru melepaskannya setelah Cakka tidak bernyawa lagi. Lewat dentuman musik yang terus mengalun, saya menyaksikan pembunuhan tragis itu dari jarak yang sangat dekat." Cendana tidak tahan lagi. Suara putus-putusnya diselingi isak tangis.
Mendengar tangis pilu gadis itu, Jati menghampirinya. Ia langsung memegang kedua bahunya yang kian hebat terguncang. Di luar dugaan, Cendana langsung berbalik dan merebahkan tangisnya di dada Jati.
"Cakka bahkan tidak sempat mengucapkan apa-apa, Pak." Raungan Cendana sungguh menyayat hati Jati.
Meski tak seharusnya seperti ini, Jati tidak mungkin menepis kepala Cendana yang kian rapat di dadanya. Ia paham betul kondisi gadis ini setelah menyelami semua ceritanya.
"Wajar jika ketakutan dan rasa bersalah itu kembali hadir setiap kali kamu mendengar musik. Tapi sampai kapan?" Jati berucap pelan setelah tangis Cendana mereda. "Perlahan-lahan, berdamailah dengan musik demi Cakka. Karena lihatlah kamar ini ..." Jati mengedarkan pandangan. "... betapa anak itu mengagumi musik. Dari sana, ia pasti sedih melihat kamu seperti ini. Ia pasti tidak ingin kamu terus-terusan menyalahkan diri sendiri atas kepergiannya."
Saat Jati tiba-tiba mengelus rambutnya, Cendana baru menyadari posisinya. Ia terkesiap, lalu mendorong pelan tubuh Jati.
"Maaf, Pak. Saya ...."
"Nggak apa-apa. Aku paham." Jati mengambil alih, merespons santai, sebelum Cendana telanjur merasa tidak enak.
Cendana melirik dada bidang Jati, noda bekas air matanya tertinggal di sana.
***
*Entah dari mana asalnya, tiba-tiba saja empat atau lima lelaki bersenjata tajam menyerang Jati dan teman-temannya. Karena sama sekali tidak ada waktu memikirkan cara lain, mereka memilih memencar, melarikan diri ke tengah kerumunan agar bisa lolos dari pantauan si penyerang. Jati sendiri, mula-mula berlari sekencang mungkin menyusuri tepi kerumunan. Melihat aksi kejar-kejaran yang disertai acungan senjata tajam, suasana mendadak ricuh. Mereka panik. Tak sedikit yang histeris ketakutan. Saat situasi makin tak terkendali, Jati memilih menerobos kerumunan, agar lebih mudah mengelabui seseorang yang begitu bernafsu ingin menghabisi nyawanya.
Kelincahan gerakan kaki Jati melambat, setelah sempat menoleh dan tak lagi mendapati tanda-tanda lelaki itu mendekat. Kesempatan ini dimanfaatkan Jati untuk memutar haluan, membuat lelaki berpakaian serba hitam itu kehilangan jejak.
__ADS_1
Tiba-tiba jeritan melengking seorang perempuan menjadi satu-satunya pusat perhatian di tengah kekacauan itu. Jati ikut menoleh*.
"JANGAN!" teriakan Jati menggema di sepertinga malam. Bersamaan dengan teriakan itu, ia bangkit dari posisi baringnya dan langsung terduduk dengan napas tersengal. Dadanya naik turun dengan cepat, seperti sehabis berlari kencang. Bintik-bintik keringat menghiasi keningnya.
"Astagfirullah!" Jati mengusap gusar wajahnya.
Tiba-tiba potongan kejadian itu kembali menjelma mimpi buruk, setelah beberapa waktu Jati berhasil tidur tenang tanpanya. Setelah pola napasnya berangsur-angsur pulih, Jati meraih ponsel di atas nakas untuk memastikan sudah jam berapa. Karena sudah memasuki waktu shalat Subuh, Jati menyingkap selimut dan turun dari tempat tidur. Ia beranjak ke kamar kecil untuk mengambil wudhu.
Setelah shalat Subuh, Jati mengenyakkan diri di kursi meja belajar yang terletak di sudut ruangan. Ia tafakur beberapa jenak, sebelum menarik laci paling atas dan mengeluarkan koran dari sana.
Lagi, Konser Musik Menelan Korban Jiwa

Demikian judul headline yang tercetak tebal di halaman paling depan. Meski sudah beberapa bulan berlalu, Jati masih merinding, meski hanya membaca judul artikelnya saja.
Jati melipat asal koran itu, lalu buru-buru mengembalikannya ke dalam laci. Ia semakin tidak sanggup membaca isinya. Ia menghela napas panjang berkali-kali, seolah sedang berjuang meredakan sesuatu.
*Anak itu ....
Tuhan, kenapa jadi serumit ini*?
***
Setibanya di sekolah, Jati hanya melanyangkan senyum seadanya ke arah Cendana saat sedang memarkir sepeda masing-masing, lalu melangkah lebih dulu ke arah ruang guru. Hal itu membuat Cendana terdiam beberapa saat di parkiran, sambil mengamati punggung cowok itu menjauh perlahan-lahan.
Ada apa sebenarnya?
Langkah pelan Cendana yang tengah menyusuri koridor sambil terus memikirkan kemungkinan penyebab perubahan sikap Jati, tercekat oleh kemunculan Bu Susi, yang jelas-jelas sengaja menghalangi jalannya.
"Ada apa, Bu?" tanya Cendana sambil berusaha tetap sopan.
"Ibu perhatikan, kamu dekat, ya, sama Pak Jati?" tanya balik Bu Susi sambil bersedekap.
Berhubung kurang paham obrolan ini akan mengarah ke mana, Cendana bingung menjawabnya. Tiba-tiba Bu Susi menariknya menepi dan duduk di bangku besi yang tersedia di pinggir koridor.
__ADS_1
"Jadi gini ..." Bu Susi memasang tampang serius. "... pernah, nggak, Pak Jati ngomong ke kamu soal perempuan idamannya?"
Cendana menggeleng tegas dengan kening mengerut.
Bu Susi berpikir sejenak untuk mengubah bentuk pertanyaannya, yang mungkin lebih bisa dipahami Cendana.
"Pernah, nggak, Pak Jati cerita ke kamu, kalau dia suka seseorang di sekolah ini?" Mata Bu Susi berbinar menunggu jawaban yang ia inginkan.
Cendana kembali menggeleng. Kerutan di keningnya kian dalam.
Bu Susi mulai cemberut.
"Pernah, nggak, Pak Jati cerita soal Ibu ke kamu?"
Cendana kembali menggeleng. Emang penting? Timpalnya dalam hati.
"Masa, sih?" Kali ini Bu Susi tak perlu menunggu respons Cendana. Ia langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi dengan mood super kacau. Kakinya dientakkan kuat-kuat. Melihatnya, Cendana berdecak pelan sambil geleng-geleng.
***
Jati belum pernah segelisah ini. Setelah Cendana menunjukkan kamar Cakka, pertimbangan berat bergolak di benaknya. Hal itu berimbas pada cara mengajar yang agak kaku dan tidak seantusias biasanya. Siswa-siswinya pasti bisa merasakannya.
Karenanya, selepas jam sekolah, Jati ingin ke suatu tempat, yang semoga bisa membuatnya kembali tenang. Atau mendapat petunjuk apa yang harus diputuskannya. Karena merasa tempat itu cocok juga buat Cendana, Jati menunggu gadis itu di samping pos satpam. Kali ini ia sengaja tidak menunggu di parkiran, agar terhindar dari pantauan Bu Susi.
Cendana sudah membalas dan mengiyakan ajakan Jati via WA. Maka saat bertemu di samping pos satpam, mereka langsung berangkat tanpa perlu perundingan lebih lanjut. Cendana tidak tahu ke mana Jati akan membawanya. Yang ia tahu, Jati yang asli sudah kembali siang ini, setelah sempat hilang tadi pagi.
Sekitar 40 menit kemudian, mereka tiba di sebuah panti asuhan. Jati langsung mengarahkan setang sepedanya ke sisi kiri bangunan, di bawah pohon mangga yang seolah sudah sangat akrab dengan sepedanya.
Setelah memarkirkan sepeda, keduanya berjalan menuju pintu utama. Hanya sekali ketukan yang disertai salam oleh Jati, seorang perempuan paruh baya bertubuh subur hadir membukakan pintu.
"Eh, Nak Jati," sambutnya dengan senyum mengembang sempurna.
Jati langsung meraih tangan perempuan itu dan menciumnya.
"Oh ya, kenalin, Bu, ini Cendana, murid Jati." Tatapan Jati beralih ke Cendana. "Cendana, ini Bu Fatimah, kepala panti asuhan ini."
__ADS_1
Sebenarnya Cendana lebih senang kalau Jati mengenalkannya sebagai teman. Tapi ... ya sudahlah.
***