
Ujian akhir semakin dekat. Siswa-siswi SMA Nusa Bangsa tingkat akhir mulai disibukkan dengan les tambahan di luar jam sekolah. Cendana menikmati bertambahnya jam kesibukannya. Ia menjadikannya sebagai sarana pengalih pikiran yang cukup ampuh, disamping tentu saja bermanfaat untuk kematangannya dalam menghadapi ujian akhir nanti.
Sore ini, sepulang les, Cendana mendapati mimpi buruk dan gumpalan kabut pekat yang berusaha ditepisnya selama ini, menjadi nyata. Di ruang tamu, kedua orangtuanya terlibat percakapan dengan beberapa orang bersetelan resmi ala kantoran yang ditemani dua orang polisi. Meski obrolan mereka sempat terjeda saat menyadari kehadiran Cendana, tapi melihat ekspresi kedua orangtuanya, Cendana langsung bisa menafsirkan apa yang telah terjadi.
Meski sudah menyiapkan hati untuk hari ini, nyatanya Cendana masih shock. Setelah mematung beberapa jenak, seolah belum bisa menerima kenyataan, Cendana melesat dari pijakannya, menapaki anak tangga dengan cepat menuju lantai dua. Air matanya sudah membanjir ketika tiba di kamar Cakka. Ia menyapukan pandangan, seolah begitu berat melepas semua kenangan yang ditinggalkan Cakka di kamar ini. Ia yakin, di sana, Cakka pasti merasakan kesedihan yang sama.
Cendana melepas foto Cakka yang tergantung di dinding, di antara sederet poster musisi dunia idolanya. Ia mendekap pigura itu, meski agak kepayahan karena kebesaran. Langkahnya mundur perlahan-lahan, hingga terbentur di tepi tempat tidur. Merasa tak mampu lagi menopang tubuhnya dengan sempurna, Cendana terduduk di sana.
Mama menyusul masuk dengan tampang yang agak kacau. Rasa prihatin yang kian pekat memancar dari sepasang mata sembapnya. Ia langsung mengambil posisi bersisian, menarik pelan kepala putrinya hingga berlabuh di dadanya.
"Jangan takut, Sayang. Kita pasti bisa melalui semua ini." Meski bermaksud menguatkan, ada sebersit keraguan di ucapan Sukma. Sebab, hingga detik ini ia pun belum tahu harus mengambil langkah apa setelah ini.
***
Tak pernah terlintas di pikiran Cendana keluarganya akan jatuh miskin seperti ini. Namun bukan karena miskin, yang membuat Cendana seolah ragu menjalani hari esok. Ia hanya sedikit limbung, karena datangnya bersamaan dengan beberapa hal yang dirasanya belum tuntas. Kendati demikian, ia berjanji pada diri sendiri, akan melewati fase ini tanpa drama keterpurukan yang berlebihan.
Melepas rumah mewah berlantai tiga beserta seluruh isinya, yang sudah ia tinggali sejak lahir, berhasil Cendana lalui dengan cukup baik. Hanya barang-barang dalam kamar Cakka yang membuatnya agak berat. Beruntung, ia diperbolehkan membawa gitar dan foto-foto Cakka, juga sepedanya. Awalnya tidak boleh. Tapi setelah Cendana berlutut memohon-mohon, hati orang-orang itu akhirnya luluh juga.
Hajir bersyukur masih memiliki teman yang tetap setia setelah dirinya jatuh seperti ini. Berkat bantuan teman, yang juga mantan bawahannya itu, ia bisa mendapatkan rumah kontrakan yang terbilang murah hari itu juga. Memang sangat sederhana, tapi itu yang terbaik untuk saat ini.
Satu hal lagi yang membuat Cendana bersedih, ia harus berpisah dengan Bibi, orang yang lebih mengerti dirinya luar dalam dibanding Mama. Meski berat, Bibi terpaksa pulang kampung karena keluarga Pak Hajir tidak akan mampu lagi menggajinya setiap bulan. Lagipula tenaga Bibi tidak terlalu dibutuhkan lagi di rumah kecil yang mereka tinggali sekarang. Cendana dan Mama bisa melakukan sendiri semua pekerjaan rumah.
***
Cendana baru saja memasang foto Cakka di salah satu sisi kamar barunya, sisi yang mulai detik ini akan lebih sering ia pandang dibanding sisi lainnya, ketika Ranum merangsek masuk tanpa mengetuk pintu dan langsung mendekapnya erat. Tahu-tahu air mata Ranum sudah membanjir, seolah tak sejengkal pun jejak kesedihan sahabatnya yang luput ia rasakan.
"Kok, jadi kamu yang cengeng, sih?" Pelan, Cendana melerai dekapan Ranum. Lalu menangkup wajahnya sambil menepis air mata yang masih berlaga di sana.
Masih belum sanggup berkata apa-apa, Ranum kembali mendekap Cendana. Bahkan lebih erat dari sebelumnya.
"Udah, dong. Aku nggak apa-apa, kok." Cendana menepuk pelan punggung Ranum.
"Gue heran, lo masih bisa tersenyum. Nggak kebayang kalau gue yang ngalamin semua ini," ujar Ranum setelah melepas dekapannya.
__ADS_1
"Yang hilang cuma rumah, mobil, dan perusahaan keluargaku. Sedang aku, Insya Allah nggak kurang apa pun."
"Yakin, lo nggak apa-apa?" Ranum menyeka air matanya.
Cendana mengangguk seraya tersenyum lemah. "Semua yang kami punya kemarin hanya titipan. Semata-mata untuk ujian. Barangkali karena kami lalai, Tuhan mengambilnya kembali. Saatnya menghadapi ujian baru ini." Entah bagaimana Cendana bisa mengucapkan kalimat sebijak itu, ketika keraguan masih memekat di hatinya. Ia hanya tidak ingin terlihat rapuh hingga mendapatkan tatapan belas kasihan dari orang lain. Sekalipun orang itu sahabat karibnya.
Setelah tangis Ranum reda sempurna, Cendana menarik sahabatnya itu duduk di tepi tempat tidur. Untuk kesekian kalinya Cendana mengedarkan pandangan ke segala penjuru kamar barunya, yang luasnya hanya seperempat dari kamar lamanya. Cendana harus puas dengan semua ini. Mulai saat ini ia harus pandai-pandai bersyukur.
Diam-diam tatapan Ranum pun ikut berkeliaran. Melihat bagaimana kondisi yang ada, ia tidak yakin sahabatnya akan cukup tabah menghadapi semua ini.
"Mulai besok, berangkat-pulang sekolah bareng gue aja, ya." Suara Ranum masih bernada prihatin.
"Itu namanya ngerepotin. Rumah kita, kan, nggak searah lagi."
"Sejak kapan teori ngerepotin muncul dalam persahabatan?"
"Nggak usah dipaksain. Aku bisa naik sepeda, kok." Tiba-tiba Cendana teringat Jati. Meski saat ini perasaannya belum menemukan kiblat yang tepat, tak bisa dipungkiri, bahwa sejumlah pagi dalam hidupnya pernah sangat berarti, saat kayuhan sepeda mereka seirama dalam upaya penafsiran rasa yang berdetak samar-samar. Dia apa kabar? Cendana menggeleng cepat, sebelum rindu telanjur bercokol di hatinya.
"Apa nggak kejauhan?"
"Yakin?"
Cendana mengangguk.
"Tapi kalau lo butuh apa-apa, cepat kabarin gue, ya!"
"Sip!" Cendana mengacungkan jempol, sambil memasang tampang yang semoga berhasil terlihat ceria.
"Oh ya, besok kamu tolong bilangin ke Pak Hasan, ya, satu-dua hari, kayaknya aku nggak bisa masuk. Ya ... kamu ngertilah kenapa." Cendana kembali membuka obrolan setelah hening sesaat.
"Nggak apa-apa, gitu, gue ceritain kondisi lo?"
"Ya, nggak apa-apa! Kenapa juga harus ditutup-tutupin? Pada akhirnya semua orang juga bakal tahu, kok."
__ADS_1
"Maksud gue, kalau tiba-tiba anak-anak di sekolah pada ngomongin, gue khawatir lo belum siap."
Cendana menghela napas panjang. "Okelah, papaku memang terlilit utang, tapi dia bukan koruptor. Lagipula kita nggak pernah tahu, bisa jadi ada oknum tertentu di balik semua ini."
Mendengar penekanan Cendana, Ranum memutuskan untuk menepis kekhawatirannya yang berlebihan. "Semoga lo benar-benar lebih kuat dari yang gue kira."
***
Kalau saja Jaka tidak meneleponnya sesaat setelah tampil tadi, mungkin sekarang Jati pun bersorak penuh kebahagiaan seperti ketiga rekannya. Pasalnya, Kenanga baru saja menyampaikan, bahwa ia berhasil mendapatkan kesepakatan kerjasama dengan salah satu label rekaman ternama di Jakarta untuk peluncuran album perdana The Second Change Band. Meski mereka akan menempuh sistem titip edar, tapi berada di bawah naungan label yang telah mengorbitkan puluhan musisi beken, tentu sangat membantu langkah awal mereka. Tak heran jika semuanya sangat bersemangat. Kecuali Jati.
"Perusahaan papa Cendana bangkrut, Pak. Rumah mereka pun disita."
Cerita singkat Jaka masih terngiang di telinga Jati, membuatnya gelisah bukan main. Ia kalut membayangkan kondisi Cendana saat ini. Mampukah? Kuatkah? Butuhkah ia tempat berbagi? Kalau saja Cendana tidak memblokirnya, sudah sedari tadi Jati meneleponnya. Tak peduli gadis itu tidak akan mengangkatnya. Ia akan terus melakukannya. Mungkin sampai sistem jaringan operator pun bosan meladeninya. Tapi sayang ...!
Jati mengusap gusar wajahnya, tak sadar jika Kenanga dan rekan-rekannya mulai melayangkan tatapan aneh.
"Kamu kenapa, sih? Kok, kayak nggak senang gitu?" ketus Kenanga akhirnya.
Jati tersadar. "Nggak senang gimana? Senang banget malah!" Jati memaksakan tersenyum selebar mungkin. Kendati demikian, aura tatapan rekan-rekannya belum berubah. Terlebih Kenanga, yang meyakini semua ini lagi-lagi ada kaitannya dengan Cendana.
***
Pagi-pagi sekali Jati sudah tiba di titik itu lagi, tempatnya menunggu Cendana. Pertama kalinya, setelah belasan hari sejak ia memutuskan untuk tidak menyinggahinya lagi. Saat menanyakan alamat baru Cendana ke Jaka, sayang sekali, anak itu belum tahu. Sekarang, meski tidak yakin Cendana masih akan melewati jalan itu, Jati tetap menunggu penuh harap. Jika Cendana muncul dengan sepedanya, atau dengan kendaraan apa pun, Jati pastikan akan memasang badan di tengah jalan, benar-benar tidak akan membiarkannya berlalu begitu saja kali ini. Keinginan Jati sangat sederhana, hanya ingin memastikan, gadis yang telanjur menghuni ruang istimewa di hatinya itu, baik-baik saja.
Dengan sangat terpaksa Jati menyudahi penantian tidak jelasnya. Kalau tidak lekas berangkat, ia pasti terlambat. Ia mengayuh sepedanya secepat yang ia bisa, sambil sesekali masih menoleh ke belakang, berharap Cendana muncul dengan cara apa pun.
Jati tiba ketika satpam sudah menarik pintu gerbang. Sepedanya melesat sebelum pintu gerbang menutup sempurna. Pak Satpam yang sempat kaget hanya geleng-geleng dibuatnya.
Setibanya di parkiran, tatapan Jati berkeliaran mencari sedan biru langit, atau sepeda. Sayang, ia tidak menemukannya. Kenapa seolah tidak ada tanda-tanda keberadaan Cendana?
Merasa mulai kehilangan kendali akan kekhawatiran dan setumpuk rasa aneh yang kian bergejolak, Jati bergegas ke kelas Cendana. Ia berlari-lari kecil menyusuri koridor.
"Cendana!" Jati langsung meneriakkan nama itu setibanya di ambang pintu kelas XII IPA 2. Seluruh penghuni kelas yang sedang bersiap menunggu guru mata pelajaran pertama, sontak mengarahkan tatapan ke sumber suara. Suasana kelas yang tadinya dipenuhi obrolan entah, mendadak senyap.
__ADS_1
Tatapan Jati terpasung di bangku kosong milik Cendana. Ke mana dia?
***