Aku Padamu, Pak Guru

Aku Padamu, Pak Guru
The Second Change Band


__ADS_3

"Guru macam apa yang mengabulkan permintaan muridnya untuk mengerjai orangtuanya?"


"Oh, kalau soal itu Bapak tenang aja. Saya sudah jelasin ke Mama."


"Tetap aja. Aku jadi nggak enak untuk ketemu lagi sama beliau."


"Padahal Mama pengin ketemu sama Bapak. Katanya pengin kenalan. Gimana, dong?"


"Serius?" timpal Jati setengah melotot.


Cendana mengangguk seraya menahan tawa melihat tampang lucu cowok di depannya. Padahal setelah cerita tadi, Mama sama sekali tidak mempermasalahkan. Jati malah serisau itu.


"Titipan Mama nggak diterima, nih?" Cendana menyodorkan lebih dekat kotak makanan di tangannya.


Tersadar, Jati lekas menerimanya.


"Itu bikinan Mama, dijamin lebih enak dari masakan Bu Susi."


"Kok, pake melibatkan Bu Susi segala?"


"Seantero sekolah juga tahu, Bu Susi sering bawain Bapak makanan."


"Kamu nggak cemburu, kan?" Jati tersenyum jail.


"Ih, ngapain?" Cendana buru-buru berbalik dan menghampiri sepedanya. "Berangkat, yuk, Pak. Ntar terlambat, loh," ucapnya setelah siap di atas sepeda.


"Bilang ke mamamu, makasih, ya. Nasi gorengnya akan saya makan sebelum mulai ngajar nanti." Jati memasukkan kotak makanan itu ke ranselnya.


Cendana mengayuh sepedanya sambil masih terbayang suasana di meja makan tadi, membuat senyumnya melengkung tipis-tipis. Ia memang tidak menunjukkan wajah bahagia ini ke Mama, sengaja masih ketus. Tapi diam-diam ia berdoa lirih, semoga ini benar-benar awal yang ia inginkan.


Tanpa Cendana sadari, aura bahagianya menular ke Jati. Cowok itu ikut-ikutan menabur senyum. Dan rangkuman kalimat yang sudah ia persiapkan sejak tadi malam, yang seharusnya sudah ia tuturkan, menguap entah ke mana. Ia sudah tidak tahu lagi bagaimana cara mengatakannya.


Inilah salah satu keunikan rasa istimewa bernama cinta, punya koneksi tak kasat mata untuk dua hati yang saling menginginkan.


***


Meski masih terus berpikir bagaimana harus bersikap saat tiba-tiba bertemu lagi dengan orangtua Cendana, Jati sangat menikmati sarapannya. Cendana benar, ini memang jauh lebih enak dibanding masakan Bu Susi.


Jelas enaklah, namanya juga masakan camer.


Jati senyum-senyum sendiri di mejanya.


"Tumben Pak Jati bawa bekal sendiri."


Suara cempreng itu menyelinap, serta-merta mengacaukan nafsu makan Jati. Jati menegakkan kepala, menatap tepat di manik mata Bu Susi. Lagi-lagi tatapan itu, yang entah kenapa selalu membuat Jati bergidik samar.


"Masak sendiri?" telisik Bu Susi dengan nada yang seolah tidak tega jika cowok idamannya itu harus repot-repot menyiapkan bekal sendiri. Maksudnya, ia siap melakukannya. Dengan senang hati.

__ADS_1


Tanah di sekitar ruangan itu mungkin tiba-tiba bergetar kalau Jati mengatakan yang sebenarnya. Maka ia memilih mengangguk.


"Mentang-mentang beberapa hari ini saya absen bawain sarapan, bukan berarti Pak Jati harus repot-repot menyiapkan bekal sendiri. Saya janji, mulai besok dan seterusnya, nasi goreng berbumbu rindu dari saya akan kembali hadir. Tapi jangan heran jika bumbunya sedikit lebih pekat, sebab maknanya pun semakin dalam."


Jati tiba-tiba terbatuk. Ia meraih botol air mineral di depannya dan lekas melegakan tenggorokannya.


"Saya tahu ini terlalu cepat, tapi Pak Jati nggak usah grogi begitu, dong," ujar Bu Susi dengan tampang pede yang tidak luntur sedikit pun.


Saat ini Jati sibuk mencari alasan untuk segera meninggalkan ruang guru.


"Oh ya ...." Bu Susi mengeluarkan ponsel dari saku blazernya, lalu tampak sibuk mencari sesuatu. "Menurut Pak Jati, bagusan mana?" Bu Susi menghadapkan layar ponselnya ke Jati.


Jati melotot dengan mulut mengaga pula, melihat gambar yang ditunjukkan Bu Susi. "Desain undangan?"


"Pak Jati suka yang ungu atau pink?"


"Kenapa tanya ke saya? Siapa yang mau nikah?" Jati menepis pelan tangan Bu Susi, menghindarkan ponsel itu dari hadapannya.


"Belum ada yang mau nikah, Pak. Untuk persiapan aja." Bu Susi tersenyum sedemikian lebar, sambil berusaha tetap menghadapkan layar ponselnya ke Jati. "Jadinya suka yang mana, Pak?" kejarnya.


"Em ... maaf, Bu, udah mau masuk, nih. Berhubung biasanya saya tiba di kelas sebelum bel bunyi, saya duluan, ya." Jati meraih asal buku-bukunya, lalu sigap berdiri. "Permisi!" pamitnya disusul langkah panjang-panjang. Dengan sangat menyesal, terpaksa ia tidak menghabiskan nasi goreng dari sang camer.


***


Padahal mata pelajaran pertama di kelas XII IPA 2, Kimia—yang dipegang oleh guru ter-killer—tapi Ranum masih berani berulah. Dengan tingkah absurd yang mewakili kegirangannya, ia menunjukkan kepada Cendana sebatang cokelat yang diikat pita pink.


"Kalian udah jadian?" tanya Cendana dengan suara lebih pelan.


Ranum mengangguk. Pipinya merona.


"Serius?"


Ranum kembali mengangguk lebih cepat, sambil menahan diri untuk tidak teriak.


"Wah, selamat, ya!"


Ranum merangkul Cendana dan sesaat merebahkan kepala di bahu teman duduknya itu. Entah bagaimana harus mengekspresikan nuansa bahagia yang memenuhi hatinya saat ini.


Sebelum kena timpuk spidol atau penghapus, Cendana memperingatkan Ranum agar kembali membenahi posisi duduknya.


Cendana mencoba kembali fokus ke pelajaran, meski isi kepalanya telanjur ke mana-mana.


Kalau ini berkat bantuan Jaka, kenapa sampai saat ini ia belum berhasil menyatukan kami? Mengingat hubungannya dengan Jati yang belum ada kejelasan, diam-diam Cendana iri.


Ah, ini bukan karena Jaka, tapi karena Ranum berani memperjuangkan perasaannya. Berdasar argumen itu, Cendana mengeluarkan kertas pemberian Jati, lalu berpikir keras untuk menuliskan sesuatu di sana.


__ADS_1


Usai menuliskan kalimat itu, nama Jati kembali berkelebat di benak Cendana. Meski banyak hal yang ingin ia capai, anehnya, ia merasa tidak mampu menuliskan apa-apa lagi. Setidaknya sebelum menuntaskan satu hal, dan Cendana merasa harus melakukannya secepatnya.


"Ntar malam temani aku, ya!" bisik Cendana ke Ranum.


"Ke mana?"


"Nanti aja ceritanya."


***


"Lo yakin?" Ranum memastikan sekali lagi.


Cendana mengangguk lemah, sangat kentara masih disertai keraguan.


Malam masih dini. Mereka baru saja memarkirkan mobil di halaman Mr. K Cafe yang berlokasi di Jalan Kimangunsarkoro No. 15, tepatnya di depan Stadion Diponegoro. Merasa butuh waktu lebih untuk meyakinkan diri, Cendana sengaja tidak langsung turun. Setelah menghela napas panjang beberapa kali, ia mengangguk sekali ke arah Ranum, pertanda siap untuk masuk ke kafe itu.



Meski khawatir dengan apa yang akan terjadi, Ranum lega, setidaknya Cendana mau mencoba.


"Karena hidup adalah perjalanan, maka kamu tidak benar-benar hidup jika hanya jalan di tempat."


Perkataan Jati itulah yang menggiring Cendana ke sini. Kafe yang sedang digandrungi kawula muda ini memang menghadirkan live musik setiap Senin sampai Jumat, dan itulah tujuan Cendana. Ia ingin berdamai dengan musik terlebih dahulu, sebelum mulai menuliskan banyak hal di kertas rancangan masa depannya.


Langkah Cendana sempat terhenti saat tiba di ambang pintu. Wajahnya terlihat kaku. Ranum tahu harus melakukan apa. Ia lekas menggandeng tangan sahabatnya itu seraya tersenyum, hal kecil yang berusaha menegaskan, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Saat mereka tiba di dalam, belum ada live musik. Hanya samar-samar suara pengunjung dengan ragam bahan obrolan yang mendominasi. Cendana sengaja memilih tempat duduk yang langsung bersebelahan dengan dinding, agak di pojok, agar jika ia memang lepas kontrol nantinya, tidak terlalu mencolok di mata pengunjung yang lain.


Pelayan baru saja mengantarkan pesanan mereka—dua gelas caramel shake—ketika beberapa orang tampak bersiap-siap di depan sana. Terdengar suara mikrofon yang diketuk-ketuk untuk mengecek sudah berfungsi atau belum, juga petikan senar gitar yang memainkan melodi ringan.



Otot-otot Cendana mulai menegang. Ia menarik napas panjang-panjang. Upaya untuk tetap terlihat tenang berakhir pada gelas caramel shake di depannya. Ia menggenggamnya kuat-kuat.


"Selamat malam ...."


Cendana yang duduk membelakangi panggung seketika tersentak mendengar suara yang baru saja mengalun lewat mikrofon.


Suara itu ....


"Perkenalkan, kami dari The Second Change Band ...."


The Second Change ...? Cendana tersentak untuk kedua kalinya. Ia teringat sesuatu, lalu berusaha memungkirinya.


"Kenapa second change? Karena kami orang-orang yang percaya dengan adanya kesempatan kedua."


Suara itu ... benarkah?

__ADS_1


***


__ADS_2