Aku Padamu, Pak Guru

Aku Padamu, Pak Guru
Pertemuan di Nestcology Land of Gastronomy


__ADS_3

Jati yang sudah rapi, mondar-mandir dengan gelisah di teras rumahnya. Kalau bukan Cendana, ia tidak akan mau melibatkan diri dalam kegilaan ini. Mendengar gadis itu memohon lewat telepon, Jati sama sekali tidak tega untuk menolak. Sebentar lagi Cendana akan datang menjemputnya, dan Jati masih saja terus menimbang, benar-benar akan melakukannya atau tidak.


Langkah mondar-mandir Jati terhenti, saat sebuah mobil berhenti di depan rumahnya. Bukan sedan biru langit yang sedang ia tunggu, melainkan mobil Kenanga. Saat turun dari mobil, gadis itu langsung mengernyit melihat penampilan Jati.


"Rapi amat. Mau ke mana?" tanya Kenanga setibanya di depan Jati. Sekilas ia memindai penampilan Jati. Kemeja putih yang dibalut blazer hitam dijodohkan dengan jins hitam slim fit, membuat tampilan cowok itu kian menawan.


"Mmm ...."


Kemunculan sedan biru langit yang baru saja berhenti di belakang mobil Kenanga, membuat Jati urung menjelaskan. Dan sebenarnya ia memang tidak tahu harus jawab apa. Ia tidak mungkin berterus terang perihal rencananya malam ini.


Keduanya kompak menoleh. Cendana muncul dari balik pintu kemudi dengan penampilan yang sukses membuat Jati melongo. Ia mengenakan mini dress putih dengan sedikit detail berwarna silver di bagian dada. Bentuk kakinya semakin jenjang berkat high heels lima centi yang melengkapi penampilannya. Rambutnya sengaja ditata sesederhana mungkin, hanya dikucir.


Riasan Cendana memang standar, tapi ini kali pertama Jati melihat bibir tipisnya dilapisi lipstick berwarna peach. Sekian detik Jati melupakan keberadaan Kenanga, sibuk mengurusi getar aneh di dadanya.


Kenanga memandang tak suka ke arah Cendana. Siapa, sih, cewek ini? Gerutunya dalam hati.


Melihat Jati tidak sendiri, Cendana mendadak canggung. Terlebih ia sangat bisa mengartikan makna tatapan cewek yang bersamanya.


Keduanya bersalaman singkat setelah Jati mengenalkan.


"Kenanga, maaf, ya, aku sama Cendana mau keluar sebentar." Jati paham, kondisinya sedang rumit. Karena itu ia berucap sangat hati-hati.


"Maksudnya, aku diusir?" ketus Kenanga.


"Bukan ...."


Tanpa perlu mendengar sanggahan Jati, Kenanga melesat dari pijakannya.


"Kalau mau ngejar untuk ngejelasin dulu, nggak apa-apa, kok, Pak," tawar Cendana karena melihat Jati maju beberapa langkah dan berusaha menggapai tangan gadis itu. Situasi seperti ini tidak perlu terjadi kalau di antara mereka tidak ada apa-apa. Minimal di antara keduanya, ada perasaan yang sedang menunggu balasan. Demikian kesimpulan yang bisa dilihat oleh Cendana, yang kemudian menimbulkan reaksi aneh di dadanya. Komposisinya 100% cemburu. Cendana hanya menolak untuk mengakuinya.


"Nggak usah. Nggak apa-apa, kok." Jati kembali merapat ke sisi Cendana. "Kita berangkat sekarang?" tanyanya untuk mengalihkan suasana.


Cendana hanya mengangguk. Sebenarnya kalimat untuk menanyakan siapa gadis itu, sudah menggantung di ujung lidahnya. Namun buru-buru ia telan kembali. Mengingat statusnya dengan Jati yang tanpa kejelasan, ia tidak ingin terkesan terlalu ingin tahu.

__ADS_1


***


Kenanga melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Ia sadar, sikapnya ini kekanak-kanakan. Tapi, melihat penampilan Jati dan gadis itu sangat kompak, ia gagal menahan diri. Menurutnya, mereka pasti akan candle light dinner di suatu tempat. Membayangkannya membuat air mata Kenanga meluruh pelan-pelan. Kenanga jelas tidak terima, gadis itu sedemikian cepat menuai perhatian Jati, dibanding dirinya yang telah berjuang bertahun-tahun.


***



Sudah sekitar sepuluh menit Sukma menunggu di Nestcology Land of Gastronomy. Resto yang berlokasi di Jalan Tamboran No. 5A ini sangat pas untuk bersantap sambil menikmati landscape Kota Semarang. Namun bukan itu tujuan utama kemunculan Sukma di tempat berdinding kaca-kaca besar ini, semata-mata hanya untuk urusan pekerjaan.


Ia memilih salah satu meja di area teras, sesuai kesepakatannya dengan calon klien di telepon tadi. Dalam balutan gelisah yang mulai merayap, berkali-kali ia mengamati pergerakan jarum jam di pergelangan tangan kirinya. Kalau tawarannya tidak menggiurkan, ia tidak akan meninggalkan pekerjaannya yang masih menumpuk dan dibiarkan menunggu seperti ini.


Sukma mengeluarkan ponselnya, bermaksud menghubungi calon kliennya. Sayang, tidak bisa terhubung. Sukma bangkit dari duduknya sambil bersungut-sungut dalam hati setelah memutuskan untuk membatalkan pertemuan ini. Namun, pergerakannya terhenti setelah melihat seorang lelaki bersetelan resmi berjalan ke arahnya.


Menyadari penghuni meja yang sedang ditujunya, lelaki itu mengernyit. Keduanya melanyangkan tatapan heran.


"Papa ngapain di sini?" todong Sukma setelah lelaki itu tiba di depannya.


"Mama ngapain di sini?" Lelaki bernama Hajir itu balik bertanya.


"Papa juga."


"Di meja ini?"


Keduanya melirik tent card bertuliskan angka 39 di tengah-tengah meja. Pasangan suami-istri itu semakin merasa aneh.


"Apa nggak ada cara lain untuk kita bisa kumpul seperti ini selain dengan berbohong?" ucap seorang gadis sambil berjalan ke arah mereka.


"Cendana?" keduanya kompak menoleh dan menyerukan nama anak sulung mereka hampir bersamaan.


"Ternyata prioritas utama Papa-Mama masih sama. Kalau Dana yang minta Papa-Mama untuk datang ke sini, pasti alasannya segunung." Cendana tampak santai. Ia menarik salah satu kursi dan duduk nyaman seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menatap papa-mamanya bergantian.


Jati yang bingung harus ngapain, memilih ikut duduk di samping Cendana. Hanya sesekali ia melirik ke arah pasangan suami-isrti yang tengah memasang tampang tidak suka.

__ADS_1


Hajir dan Sukma menyakini, bahwa lelaki asing yang datang bersama putri mereka ini adalah orang yang pura-pura menawarkan kerjasama lewat telepon, sebelum mereka terjebak dalam permainan ini.


"Apa kabar, Pa, Ma? Nggak berminat temani Dana duduk di sini sebentar?"


Keduanya masih berdiri, dengan tatapan yang mulai memancarkan amarah.


"Ada yang tahu, ada apa hari ini?" Meski masih terlihat santai, suara Cendana mulai bergetar. Ia yakin, kedua orangtuanya lagi-lagi tidak ada yang peduli dengan hari ulang tahunnya.


"Apa, sih, mau kamu? Papa nggak ngerti, deh. Papa nggak punya waktu untuk main-main kayak gini." Hajir mengusap gusar wajahnya, lalu berkacak pinggang.


Sukma memilih diam sambil bersedekap. Ia paham, situasinya mulai tidak terkontrol.


"Papa emang nggak akan ngerti, karena Papa emang nggak pernah mencoba mengenal kami. Papa seperti orang asing dalam hidup kami." Cendana masih diam di duduknya, tapi suaranya mulai meninggi dan matanya berkaca-kaca.


"Cendana!" Hajir melotot, seolah memperingatkan bahwa putrinya mulai kelewatan. Mendengar Cendana menggunakan "kami" di kalimatnya, amarah Hajir kian menukik. Ia tidak suka Almarhum Cakka dilibatkan.


"Papa tahu, seberapa besar keinginan Cakka untuk jadi musisi? Papa tahu, Cakka punya gitar yang selalu disembunyikannya di kolong tempat tidur? Papa tahu, kalau Cakka sudah bisa bikin lagu sendiri? Papa tahu ...."


"CUKUP!" hardik Hajir. Ia lepas kontrol setelah bayangan anak bungsunya memenuhi benaknya. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan Cendana tadi, memadat membentuk rasa bersalah yang menyesaki dadanya.


Kini, hampir seluruh pengunjung restoran mengarahkan pandangan ke meja nomor 39, menyaksikan perseteruan sebuah keluarga kecil.


"Jangan bisanya hanya menyudutkan Papa. Ingat, Cakka meninggal gara-gara kamu!" Telunjuk Hajir mengacung tajam ke arah Cendana.


"Pa, berhenti nyalahin Dana. Ia sama sekali nggak bersalah." Sukma menengahi. Ia memang paling tidak suka kalau suaminya mengungkit hal yang sudah sering mereka perdebatkan itu.


"Terus saja belain dia." Hajir memilih angkat kaki dari tempat itu.


"Pa ...." Sukma bermaksud menyusul, tapi Jati lebih cekatan meraih pergelangan tangannya.


"Please, Tante, jangan ninggalin Cendana juga," pinta Jati saat Sukma menoleh ke arahnya.


Meski bingung apa yang akan dibicarakannya dengan Cendana dalam suasana yang telanjur kacau ini, Sukma menurut. Ia merosotkan tubuhnya hingga terduduk di kursi.

__ADS_1


Tapi kemudian, malah Cendana yang melesat dari tempat itu. Jati lekas menyusulnya. Setelah perlahan-lahan mengupayakan perdamaian dengan masa lalu, omongan Papa tadi kembali memadatkan rasa bersalah dalam diri Cendana.


***


__ADS_2