Aku Padamu, Pak Guru

Aku Padamu, Pak Guru
Kabar Buruk


__ADS_3

Baru sehari Cendana tidak masuk sekolah, rasanya sudah sangat hampa. Terlebih, ia merasa seperti pengecut yang lari dari kenyataan. Tapi sungguh, Cendana bukan menghindari omongan tidak enak tentangnya yang dipastikan bakal merebak di sekolah. Ia hanya butuh waktu untuk menenangkan diri sebelum kembali menjalani aktivitas sebagaimana biasanya. Seharian Cendana mencoba menyibukkan diri dengan beres-beres rumah. Maklum, sebelum ditempati keluarganya, rumah yang mereka kontrak itu sempat kosong beberapa bulan.


Hajir termenung di teras. Ini malam ketiga ia berada di rumah itu, di tengah cerita kegagalan yang terus menghantui. Ia baru saja melepas kepergian istrinya untuk kembali bekerja mengurus Wedding Organizer-nya, setelah seharian bekerja sebagai Finance Manager di salah satu perusahaan retail ternama. Kenyataan ini membuat hati Hajir memilu. Meski Sukma sama sekali tidak keberatan bekerja sendiri untuk sementara waktu, Hajir tidak boleh lama-lama membiarkan istrinya jadi tulang punggung keluarga. Ia berpikir keras agar sesegera mungkin bisa mendapatkan penghasilan. Tapi mau kerja apa? Buka usaha, modal dari mana?


Jika dipikir-pikir, penghasilan Sukma dari pekerjaan dan usahanya memang lumayan. Tapi semua itu jauh dari kata cukup untuk mengembalikan hidup mereka ke posisi semula. Kendati demikian, Sukma bersyukur, setidaknya mereka masih punya pegangan. Minimal bisa membiayai sekolah Cendana hingga selesai dan persiapan untuk masuk perguruan tinggi nantinya. Ia juga berencana mengumpulkan modal untuk membangun usaha apa pun yang bisa dijalankan suaminya, agar tidak terlalu lama merasakan keterpurukan ini.


Satu hal yang harus Hajir syukuri, istri dan anaknya ternyata lebih kuat dari yang ia kira. Ketegaran yang mereka tunjukkan sungguh luar biasa. Bahkan, mereka sudah terlihat pulih kembali. Demi menghargai upaya penerimaan mereka, Hajir berusaha keras untuk bangkit. Meski rasa bersalah karena telah gagal sebagai kepala rumah tangga terus membengkak di dadanya, ia tidak boleh berlama-lama memperlihatkan kekacauannya.


"Dana mau ngajakin Papa ke suatu tempat."


Hajir agak tersentak. Entah sejak kapan Cendana mengisi kursi kosong di sebelahnya. Ia buru-buru mengusap wajahnya, alih-alih menghalau Cendana mendapati sepasang matanya sedang berkaca-kaca.


"Ke mana?"


Bukannya menjawab, Cendana malah bangkit dari duduknya dan menarik tangan papanya untuk ikut berdiri. Cendana berbalik sejenak untuk mengunci pintu. Setelahnya, ia melingkarkan tangannya di lengan Papa, lalu mengajaknya berjalan bersisian menyusuri lorong-lorong kompleks perumahan tempat tinggal baru mereka.


"Papa tahu, ini salah satu impian Cendana dari dulu."


"Apa?" Hajir kurang bisa menangkap maksud putrinya.


"Seperti ini. Berjalan sambil menggandeng tangan Papa. Menikmati aroma malam, juga cahaya bulan dan bintang di atas sana." Sejenak Cendana mendongak sambil mengeratkan lingkaran tangannya di lengan Papa. Meski bulan dan bintang yang ia maksud tidak tampak, tapi hatinya teramat tentram saat ini.


Seketika hati Hajir diguncang keharuan akut. Ternyata sesederhana itu untuk bisa membahagiakan putrinya, bukan gila kerja sampai lupa waktu dan mengabaikan segalanya.


Sepanjang perjalanan, sejauh Cendana membawanya, Hajir kebanyakan diam. Ia malu pada diri sendiri, mendapati putrinya kini sedang berusaha mengangkatnya dari lembah keterpurukan. Di mana jati dirinya sebagai laki-laki dan ayah?


Langkah pelan mereka berhenti setelah tiba di halaman masjid kompleks.


"Kita shalat di sini, yuk, Pa."


Hajir hanya mengangguk. Keduanya kemudian bersiap mengambil wudhu.


Mereka shalat hanya berdua. Jamaah shalat Isya sudah bubar beberapa saat sebelum mereka tiba.


Di penghujung shalat, Hajir tak mampu membendung air matanya. Biar saja ia semakin terlihat lemah di mata putrinya kali ini. Ia mencoba mengingat-ingat apa-apa yang telah ia lakukan selama ini, hingga Tuhan menjatuhkan hukuman-Nya. Hatinya memilu setelah gagal menemukan memori hangat bersama keluarganya. Yang ada semata-mata rutinitas padat mengejar gemerlap duniawi. Punggungnya semakin hebat terguncang ketika bayangan Cakka berkelebat memenuhi kepalanya. Rasa-rasanya belum sekali pun ia bersikap hangat selaku ayah di depan anak itu.

__ADS_1


Cendana mengelus punggung papanya, menenangkannya.


Merasakan sentuhan Cendana, Hajir langsung menoleh dan mendekap putrinya. Sangat erat.


"Maafkan Papa!" ucapnya di sela isak.


Cendana membalas dekapan papanya dengan air mata yang juga sudah melimpah.


"Maafkan Papa!" mohon Hajir sekali lagi setelah dekapan mereka terlerai.


"Berhenti minta maaf, Pa. Yang terpenting sekarang, Papa harus tetap optimis. Jangan lagi terlihat kacau dan putus asa."


Hajir mengangguk samar sambil menyusut air matanya.


"Kapan pun Papa butuh ketenangan, tidak ada tempat yang lebih tenang dari masjid. Bersujudlah. Sebab di kehidupan yang tak luput dari masalah ini, kita memang butuh jeda, untuk sekadar mengenang apa yang salah, atau menata langkah selanjutnya."


Hajir terkesiap mendengar ucapan putrinya sedewasa itu. Ia hanya tidak tahu, bahwa kalimat itu Cendana dapatkan dari salah seorang gurunya.


Cendana tentu masih ingat, dari mana pertama kali ia mendengar kalimat itu. Kini, bayangan cowok yang pernah mengucapkannya serta-merta menyesaki ruang hatinya. Kalimat sederhana itu baru saja—sekali lagi—membawa keajaiban dalam diri Cendana. Kekusutan dan segala kerumitan yang memberatkan kepalanya selama ini runtuh perlahan-lahan. Kedua sudut bibirnya terangkat bersamaan, setelah menyadari perubahan besar yang telah Jati hadirkan dalam hidupnya dengan cara yang paling sederhana. Sekarang Cendana tahu harus melakukan apa.


***


Ya, kurang lebih seperti itulah kalimat yang akan ia katakan di hadapan Jati beberapa saat lagi. Setelah melalui perenungan panjang dan mau menepikan ego, Cendana akan melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan. Demi tidak keduluan Jati tiba di ruas jalan penuh kenangan itu, ia berangkat teramat pagi. Bahkan sebelum pagi sempurna menampakkan wujudnya. Cukup sehari tidak masuk sekolah. Mulai hari ini Cendana bertekad untuk menyikapi segala permasalahan yang datang dengan cara yang lebih dewasa.


Demi tidak salah ucap, Cendana menyempatkan latihan. Entah sudah berapa kali ia mengulanginya, bicara pada udara yang masih mengandung aroma khas pagi Kota Semarang.


Cendana mengakhiri sesi latihannya dengan mengeluarkan gulungan kertas dari tas selempangnya, kertas rancangan masa depan pemberian Jati. Menjelang tidur tadi malam, Cendana sudah menuliskan banyak sekali impian di kertas itu, hingga benar-benar penuh. Namun impian terakhir tetap sama dengan impian pertama.


Aku hanya ingin berada di samping orang yang kusayangi!


Dengan penuh percaya diri, Cendana akan menunjukkannya ke Jati, sebagai bukti bahwa ia mulai berani membangun kota masa depan dalam kepalanya.


Cendana menggulung kembali kertas itu dan mengembalikannya ke dalam tas dengan hati-hati. Tangannya beralih membuka resleting kantong depan tasnya, lalu mengeluarkan cermin kecil dari sana. Gadis berseragam putih abu-abu itu tersenyum dan sedikit tidak percaya melihat bayangannya di dalam cermin. Selain rambut yang dikucir rapi, ia juga mengenakan riasan tipis untuk pagi ini.


Setelah mengembalikan cerminnya ke tempat semula, Cendana sengaja mondar-mandir demi menepis gugup yang menyerang tanpa henti. Sesekali tatapannya mengarah ke ujung jalan sana, berharap Jati lekas muncul bersama sepedanya.

__ADS_1


Detik-detik dengan kandungan gelisah yang kian pekat bergulir berganti menit. Entah menit keberapa sejak Cendana tiba di ruas jalan itu. Kendati demikian, Jati belum muncul. Cendana melirik lagi jam tangannya. Jalanan yang tadinya sepi, kini mulai disesaki lalu-lalang kendaraan roda dua dan empat. Seharusnya Jati sudah tiba sejak tadi. Atau jangan-jangan hari ini ia tidak masuk?


Cendana bosan mondar-mandir. Gadis itu kini hanya terdiam di pijakannya. Masih menunggu, meski ia tahu akan sia-sia. Sekarang sudah jam delapan. Artinya, proses belajar mengajar sudah berlangsung. Fix, Jati tidak masuk hari ini.


Ada apa, ya? Atau jangan-jangan lagi sakit? Cendana mendadak khawatir. Ia melangkah menghampiri sepedanya sambil merogoh tasnya, mencari ponsel. Ia tidak semangat lagi ke sekolah. Lagian sudah terlambat. Untuk bisa masuk, pasti harus melalui serangkaian drama dulu. Ia ingin pulang saja. Tapi sebelum meninggalkan tempat itu, ia ingin menelepon Ranum untuk memastikan keberadaan Jati.


Saat layar ponselnya menyala, Cendana baru sadar, ia belum mengaktifkan koneksi jaringannya sejak kemarin. Ia sengaja mematikannya untuk menghindari serbuan pertanyaan dari siapa saja yang kepo soal kondisi keluarganya. Cendana terlalu malas menanggapinya.


Benar saja, saat jaringannya terhubung, ponselnya langsung bergetar hebat. Notifikasi dari WA berjejalan. Sesuai dugaan, banyak sekali yang bertanya ini-itu. Cendana tahu, mereka rata-rata biang gosip di sekolah.


Di antara tumpukan chat room yang belum dibukanya, Cendana menemukan nama Ranum, dengan lebih dari 50 pesan belum terbaca. Kok bisa sebanyak itu? cendana mengernyit. Merasa ada yang tidak beres, ia lekas membukanya.


______________________________________


Ranum: Piu


Ranum: Piu


Ranum: Piu


Ranum: Pak Jati dikeluarin dari sekolah!


Ranum: Piu


Ranum: Woe ....


Ranum: Kok, nomor lo nggak bisa dihubungi?


Ranum: Woe ....


Ranum: Piu


Ranum: Piu


Ranum: CENDAAANAAA!!!

__ADS_1


______________________________________


***


__ADS_2