
Rini tersenyum getir ketika sang hakim menjatuhkan palunya. Ya ketok palu putusan perpisahan antara dirinya dan Angga telah terdengar, kini dia resmi menyandang status baru yaitu seorang janda. Sebuah status yang sama sekali tidak pernah terpikirkan olehnya, tak pernah ada di dalam bayangan hidupnya. Ibu Rini shock mengetahui status baru anaknya, sehingga mengganggu kesehatannya. Rini adalah bungsu dari tiga bersaudara, anak yang paling dekat dengan ibunya yaitu bu Aisyah. Bu Aisyah begitu terpukul melihat kegagalan anak kesayangannya, sehingga membuatnya terbaring lemah di rumah sakit. Rasa kaget membuat bu Aisyah terkena serangan jantung.
***
Di sebuah rumah sederhana dengan pemandangan yang asri. Rumah yang tidak terbilang mewah tapi terlihat sejuk dengan banyak pepohonan dan bunga bunga hias berjejer rapi didepan dan sepanjang samping rumah, layaknya sebuah taman mini terdapat bangku bangku kecil di bawah pohon yang rindang. Terletak di lereng pegunungan dengan cuaca yang dingin, jauh dari hingar bingar keramaian kota. Terlihat seorang wanita dengan perut membuncit sedang menyiram tanaman didepan rumahnya. Rambut panjangnya yang tergerai membuatnya terlihat cantik dan anggun.
Rini Diyastuti, ya benar dia adalah Rini yang tujuh bulan lalu resmi bercerai dengan suaminya. Dua minggu setelah perceraiannya Tuhan telah memanggil sang ibu tercinta untuk berpulang. Dan dua minggu setelah wafatnya Ibu tercinta di diketahui dia telah hamil dengan usia kandungan dua bulan. Hidupnya serasa hancur lebur dengan adanya cobaan yang bertubi tubi. Hingga membuatnya memilih menepi dari keramaian. Membeli hunian dipinggiran kota adalah pilihannya. Jauh dari bisingnya kota dan juga semua kenangan kenangannya. Kenangan manis dan pahit yang pernah ia alami di kota itu. Menjauh dan membuka lembaran baru di tempat yang baru adalah pilihannya. Hanya sesekali ia datang ke kota untuk mengecek butik dan tokonya.
Dua minggu lagi adalah hari perkiraan lahir, Rini pergi ke butik dan toko untuk mengeceknya. Karena mungkin nanti dia akan lama tak bisa datang ke sana setelah melahirkan. Anak anak dia pasrahkan sama mak Narmi sang pembantu setia. Sedangkan dia pergi ke kota diantar oleh mang Udin, seorang tetangga yang ia mintai tolong untuk mengantarkannya setiap dia mendatangi butik dan toko. Mang Udin bisa dibilang sopir Rini yang bekerja secara freelance. Semenjak kandungannya mendekati usia tua dia tidak kuat menyetir dalam perjalanan yang jauh.
Siang setelah keluar dari butik Rini berniat pergi ke restoran seafood langganan nya dulu. Rini berencana makan siang terlebih dulu sebelum mendatangi toko. Perutnya yang keroncongan membuatnya tidak sabar untuk segera memesan menu favoritnya.
Dengan senyum sumringah Rini memandang hidangan yang ada didepannya. Air liurnya hampir menetes melihat makanan kesukaannya yang telah lama tak ia rasakan. Sepiring kepiting asam manis, sepiring udang saos tiram, sepiring nasi dan dua gelas es jeruk telah terhidang di depannya. Semenjak hamil tua selera makannya memang naik drastis sehingga membuat tubuhnya kini bisa dibilang gendut. Tapi gendutnya terlihat cantik, mungkin karena dia sedang hamil jadi gendut pun tetap enak dipandang. Dan tanpa Rini sadari ada seseorang yang memperhatikannya sedari dari.
Perut kenyang membuat Rini merasa ngantuk, dia berjalan pelan menuju tempat parkir mobil. Berencana akan tidur dimobil nanti saat perjalanan pulang dari toko menuju rumahnya. Rini hanya akan sebentar saja ditoko lalu akan segera pulang. Perut besar membuatnya mudah lelah, sehingga dia mengurangi aktifitas fisik. Melakukan hal hal yang seperlunya saja. Bekerja pun tidak ngoyo. Rini dikejutkan dengan suara tepuk tangan yang tiba tiba terdengar saat ia akan membuka pintu mobil. Rini memang melarang mang Udin untuk membukakan pintu mobil untuknya kecuali disaat memang ia benar benar perlu, saat tangannya membawa banyak barang dan tak bisa membuka sendiri pintu mobil. Rini membalikkan badannya, terkejut melihat orang yang telah menjatuhkan talak untuknya beberapa bulan lalu berdiri didepannya.
"Hebat sekali kamu, langsung bisa mendapatkan penggantiku. Melihat kondisi perutmu yang sudah begitu besar jangan jangan kamu dulu juga berselingkuh dibelakangku, tapi aku tidak mengetahuinya"
__ADS_1
Ucap Angga dengan sengit. Dia berjalan mendekati Rini dengan muka yang mengejek.
"Ternyata aku salah menilai kamu selama ini Rin, aku pikir kamu wanita baik baik. Ternyata benar apa yang dibilang ibuku dulu. Kamu ternyata tak lebih dari rubah licik. Baru beberapa bulan kita berpisah, kamu sudah hamil. Lelaki mana yang sudah kau bodohi, kasian sekali dia"
Banyak cacian dan hinaan yang Angga lontarkan untuk Rini. Tapi Rini hanya diam tanpa ada minat untuk membalasnya.
Tak mau mendengarkan ocehan Angga lebih lama lagi Rini lalu membuka pintu mobilnya dan masuk, dia tidak menjawab perkataan Angga sedikitpun juga tidak merespon dengan gerak tubuh. Masih terdengar teriakan Angga saat mobil Rini melewati pintu keluar area parkir.
Rini duduk sambil menekan dadanya yang terasa sesak, dia memejamkan mata mengingat semua hinaan dari Angga. Menenangkan diri sendiri, menghibur diri sendiri itulah yang sedang dilakukan Rini saat ini. Dia tidak mau terprovokasi oleh Angga. Fokusnya adalah keluarga kecilnya saat ini. Dia, anak anak dan calon buah hatinya. Rini tak mau perduli dengan apapun yang menyangkut tentang mantan suaminya. Yang Rini fokuskan adalah perannya saat ini yang merangkap sebagai seorang ayah. Sebagai single parent dia memang harus bisa berperan ganda, bukan hanya sebagai seorang ibu tetapi juga harus berperan sebagai seorang ayah. Rini mengelus perutnya yang tiba tiba terasa kencang, tangannya terus mengusap perut sambil menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. Berulangkali Rini melakukan itu karena merasa perutnya telah mulai kontraksi.
Angga menghentikan mobilnya di depan rumah Rini. Dia melihat dari kejauhan Rini keluar dari mobil berjalan tertatih, terlihat tangannya memegang perut sambil meringis. Rini duduk di kursi teras dengan hati hati. Angga sedikit terkejut melihat keberadaan mak Narmi disana. Dia tak menyangka mak Narmi masih mengikuti mantan istrinya itu. Terlihat mak Narti keluar dari rumah membawa tas besar dan di masukkannya ke dalam mobil tak lama berselang keluar dua anaknya, kedua bocah itu bergantian memeluk Rini. Angga melihat bibir Rini tersenyum membalas pelukan anaknya. Angga terus memperhatikan apa yang terjadi didepan matanya saat ini. Dalam hati dia bertanya tanya dimana suami Rini kenapa tidak membantunya, Angga memperkirakan sepertinya Rini akan melahirkan karena dari tadi Rini terlihat meringis sambil mengelus perutnya. Apa mungkin suaminya belum pulang kerja, tapi saat ini hari sudah menjelang senja seharusnya sudah pulang hal itulah yang ada dibenak Angga saat ini. Rini berjalan tertatih di bimbing oleh mak Narmi memasuki mobil, supir yang tadi ikut memasukkan beberapa barang ke mobil sekarang sudah duduk di belakang kemudi. Keluar lagi seorang perempuan muda dari rumah Rini mengajak anak anak untuk masuk rumah. Rasa penasaran yang teramat dalam membuat Angga memutuskan mengikuti mobil Rini sampai ke rumah sakit, bahkan sampai didepan kamar bersalin. Angga menemui mak Narmi begitu melihat Rini telah memasuki ruangan.
"Memang suaminya kemana mak, kok tidak ikut mengantar?"
Kedatangan Angga cukup mengejutkan mak Narmi. Mak Narmi tidak menyangka jika dia bisa ketemu mantan suami majikannya di rumah sakit.
"Bapak mengagetkan saya, bapak kenapa ada disini? siapa yang sakit?"
__ADS_1
Jawab mak Narmi sambil mengelus dadanya.
"Maaf kalau sudah bikin kaget mak. It itu ada teman yang sakit dan dirawat disini, saya menjenguk teman saya"
Jawab Angga dengan gelagapan.
"Kok bisa teman bapak dirawat dirumah sakit sini, inikan rumah sakit kecil dan jauh dari kota?"
Tanya mak Narmi dengan polosnya.
"I iya..... itu teman saya mengalami kecelakaan disekitar sini, makanya dibawa ke sini karena rumah sakit ini yang terdekat dari lokasi kecelakaan"
Akhirnya Angga bisa menyempurnakan kebohongannya.
"Kenapa hanya mak Narmi yang disini, di mana suaminya?"
Entah apa yang membuat hati Angga bergetar saat menanyakan keberadaan suami Rini, seperti ada sesuatu yang menusuk di sebagian hatinya.
__ADS_1