
Rania belum juga bisa menghentikan tangisannya. Duduk didepan Supia sepupunya dengan muka menunduk. Ia tak berani menatap wajah Supia, dari pertama kali Rania menjalin hubungan dengan Angga Supia memang tidak suka, karena Supia tau Angga adalah lelaki beristri. Berulang kali Supia mengingatkan Rania agar tidak mengganggu Angga tapi Rania tak menghiraukannya. Memang sudah menjadi profesi Rania menjerat para lelaki hidung belang. Tapi kali ini apes bagi Rania, karena dia terjebak dengan permainannya sendiri. Tanpa sadar hatinya mulai mencintai Angga.
Dengan tangan bersedekap dan muka ditekuk Supia menatap Rania. Perasaan jengkel juga kasihan bercampur jadi satu. Apalagi setelah mendengar cerita Rania yang mengatakan bahwa dia baru saja mendapat tamparan dari Angga.
Supia keluar dari dapur membawa dua cangkir teh. Diletakkan didepan Rania yang sudah mulai tenang. Supia sempat menengok kearah jam dinding yang tertempel diruang tamunya setelah meletakkan cangkir teh, ternyata hari sudah menjelang subuh. Dengan berat Supia menghela nafasnya mengingat besok dia harus berangkat pagi. Tapi tidak mungkin juga dia meninggalkan Rania yang sedang bersedih menangis sendirian. Mulai membayangkan bagaimana cerewetnya sang atasan bila besok dia sampai terlambat datang ke kantor. Besok ada jadwal mengikuti sang atasan meninjau proyek diluar kota. Akhirnya Supia merebahkan dirinya di sofa samping Rania yang sedang duduk meratapi nasib.
"Kau tidurlah, aku tidak apa apa?"
Kata Rania pelan setelah melihat Supia rebahan di sofa.
"Kau juga harus tidur Rania, apa kau akan duduk di sofa ini terus sambil menangis"
dengan sedikit sewot Supia membalas perkataan Rania.
Rania dan Supia adalah saudara sepupu, mereka terbiasa bersama dari kecil. Sekolahpun bersama karena mereka seumuran. Mulai dari sekolah dasar sampai ke jenjang perguruan tinggi. Tapi hubungan mereka mulai merenggang karena Supia tidak menyukai cara Rania mencari uang tambahan. Semenjak duduk diperguruan tinggi Rania merasa kurang dengan uang yang diberikan oleh orang tuanya. Ia mencari uang tambahan dengan cara menjerat para lelaki hidung belang. Puncak kerenggangan hubungan antara kedua sepupu itu adalah ketika Supia tau Rania merayu Angga. Karena Supia tau Angga adalah suami orang. Dengan berbagai cara Supia mengingatkan Rania agar jangan mengganggu rumah tangga orang. Tapi Rania malah makin menjadi.
Supia membuka kamar untuk Rania, kamar yang terletak disebelah kamarnya. Rumah Supia memang kecil, terdiri dari dua kamar, dan satu kamar mandi yang ada didapur. Rumah sederhana itu Supia beli dengan cara mencicil.
"Tidurlah disini, kamar ini bisa kamu tempati selama kamu disini. Kamarku disebelahmu, bisa panggil aku kalau kamu butuh sesuatu. Atau kau bisa mencarinya sendiri di dapur"
kata Supia sambil menunjuk ke arah dapur dengan jari telunjuknya.
Rania hanya mengangguk mendengar arahan Supia.
***
Pagi sekali Supia sudah bersiap. Dia duduk memakai sepatunya di teras sambil menunggu Ojek online yang sudah ia pesan tadi. Tanpa berpamitan dengan Rania dia langsung berangkat begitu ojeknya datang. Dia tidak mau mengganggu Rania yang sedang tidur, karena Supia tau sepupunya itu butuh istirahat. Agar kembali punya energi untuk menghadapi hatinya yang sedang patah. Supia tersenyum kecut mengingat sepupunya itu. Supia tak habis pikir, kenapa Rania bisa sampai sehancur itu pergi dari Angga, bukankah sudah menjadi kebiasaannya meninggalkan laki laki yang ia rasa sudah tidak asik lagi dan mencari yang lain. Memikirkan saudara sepupunya sepanjang perjalanan hingga Supia tak sadar ia telah sampai didepan kantor. Supia sampai kaget begitu si tukang ojek memberi taunya kalau sudah sampai.
__ADS_1
Dengan langkah cepat Supia memasuki kantor. Dia menundukkan kepalanya saat bertemu atasannya di lobi. Dia adalah atasan Supia yang akan berangkat ke luar kota dengan Supia meninjau proyek.
"Supia, apa kamu berniat bolos kerja hari ini? sudah mulai bosan terima gaji dari kantor ini?"
Perkataan sang atasan membuat dahi Supia mengernyit,
"maksud bapak?"
tanya Supia dengan bingung.
"La itu tadi kamu tidak mau turun dari motor, sampai si tukang ojek menyuruhmu turun berulang kali"
Muka Supia merah mendengar perkataan atasannya, dia sangat malu.
"Maaf pak, saya tadi melamun"
Supia berniat segera pergi dari hadapan atasannya tapi memang nasib Supia yang kurang beruntung, dia malah diberondong pertanyaan oleh sang atasan yang suka kepo.
Supia memutar bola matanya malas, tidak menjawab pertanyaan yang menurut Supia tidak perlu di bahas. Terkadang Supia juga heran, kenapa atasannya begitu kepo dan cerewetnya minta ampun. Padahal dia memiliki atasan laki laki yang masih muda bukan perempuan yang sudah emak emak. Terkadang Supia sampai lupa jika sedang bersama dengan atasannya karena berasa sedang bersama dengan emaknya.
"Maaf pak, saya harus mempersiapkan dokumen untuk kita bawa meninjau proyek"
Supia segera pergi setelah mengatakan itu, Supia tidak mau menjadi bulan bulanan atasannya lebih lama lagi. Tadi malam jatah tidurnya sudah hilang setengah karena kedatangan Rania, dia tidak mau moodnya juga hilang setengah pagi ini karena kepergok ngelamun oleh sang atasan yang diberi julukan sableng oleh Supia itu.
Sebenarnya Supia sangat mengagumi atasannya. Postur tubuh yang gagah, badan atletis membuat perempuan mana saja terpana. Kulit sawo matang membuatnya terlihat eksotis. Tapi sayang mulutnya yang lemes terkadang membuat Supia jengkel. Kalau sudah nyerocos persis seperti ibu ibu yang sedang mengomeli anaknya. Supia memberinya julukan atasan sableng.
Dua jam waktu yang diperlukan untuk menuju lokasi proyek. Supia dan Aris atasannya telah sampai di lokasi, mereka berdua sangat disibukkan dengan pekerjaan. Hingga tak terasa hari sudah hampir sore. Sebelum pulang mereka berhenti disebuah restoran karena tadi siang mereka tidak sempat mengisi perut.
__ADS_1
Mereka makan dengan lahap begitu hidangan yang mereka pesan sudah datang. Bahkan Aris yang biasanya cerewet sampai tak bersuara karena merasakan perutnya yang sangat lapar.
Aris mengelap mulutnya dengan tisu begitu selesai makan, diteguknya sisa minuman yang tinggal setengah sampai habis. Dilihatnya Supia yang masih belum menyelesaikan makannya. Dengan sabar Aris menunggunya tanpa mengatakan sepatah katapun. Hingga akhirnya mereka melakukan perjalanan pulang ketika hari sudah mulai malam.
"Kamu langsung pulang?"
tanya Aris memecah keheningan.
"Iya pak"
jawab Supia dengan singkat.
"Singkat amat jawabnya"
kata Aris sambil memanyunkan bibirnya.
"mulai lagi"
gumam Supia dalam hati.
"Sebutkan alamatmu pada pak supir, biar aku antar"
Kata aris sambil memejamkan matanya dan menyenderkan kepala pada sandaran kursi.
"Tidak usah pak, nanti saya turun di perempatan depan aja. Biar nanti saya naik ojek"
jawab Supia sungkan.
__ADS_1
"Ini sudah malam Supia, biar aku antar. Berbahaya seorang perempuan dijalan sendirian malam malam begini"
Akhirnya Supia pasrah saja dari pada mendengar ocehan Aris. Sibuk seharian membuat badannya sangat lelah, dia ingin segera sampai rumah dan beristirahat.