
Langit mulai menghitam, sang bumi telah berotasi mengganti terangnya dengan yang gelap. Deru angin menampar telinga, seolah mengingatkan manusia atas kebesaran sang pemberi nyawa pada makhluk didunia fana. Pepohonan meliuk liuk bak penari hula mendapat iringan mele. Bukan mengerikan tetapi cukup memberi debaran pada hati yang dilanda keraguan. Bisingnya alam tak selaras dengan kesunyian hati seorang manusia yang mulai dilanda rasa sesal. Kilas balik kejadian demi kejadian menampak dipelupuk matanya. Kecurangan demi kecurangan yang ia lakukan, beribu kebohongan yang pernah ia hanturkan untuk sang mantan ratu di istananya. Perkataan hina, perlakuan kasar pernah ia torehkan pada bidadari yang seharusnya ia lindungi.
Oeekk oeeekkk oeeekk
Mak Narmi mengucap syukur begitu terdengar suara bayi menangis dari dalam ruang oprasi. Sedangkan Angga menggenggam jemarinya erat, meredam emosinya yang hampir tak terkendali. Marah dengan dirinya sendiri, membenci kebodohannya sendiri dan kecewa dengan sikapnya sendiri. Diam, ya hanya diam yang Angga lakukan saat ini, tak bisa berkata kata, tenggorokannya seperti tersumbat tak bisa mengeluarkan suara bahkan hanya sekedar menelan ludahpun terasa sulit. Angga memang berhasil mengorek keterangan dari mak Narmi, dan informasi dari mak Narmi itulah yang membuat jantung Angga hampir lepas dari tubuhnya.
"Ibu kan belum pernah menikah lagi pak, setau saya teman dekat juga ibu nggak punya. Bagaimana ibu mau menikah lagi pak, kan dia lagi hamil"
Seperti dihantam runtuhan tembok, dada Angga terasa sesak seperti terhimpit.
__ADS_1
Angga memang mengajak ngobrol mak Narmi saat menunggu Rini melahirkan. Mencari informasi informasi untuk memuaskan dirinya yang dipenuhi dengan rasa penasaran.
"Ketika itu ibu pingsan di acara pemakaman bu Aisyah, lalu dilarikan ke rumah sakit. Ternyata dokter bilang ibu lagi hamil dengan usia kandungan dua bulan. Satu bulan kemudian ibu pindah ke daerah sini, katanya saran dari dokter biar ibu dan calon anaknya sehat kalau tinggal didaerah yang tidak banyak polusi"
Tubuh Angga melemas, seperti tak ada tenaga didalam tubuhnya. Kini ia mulai sadar dengan keegoisannya.
Tubuh Angga masih bergetar ketika menanyakan itu. Mak Narmi hanya menggelengkan kepala menjawab pertanyaan Angga.
Angga segera berdiri begitu melihat seorang perawat mendorong kereta bayi keluar dari ruangan. Begitu juga dengan mak Narmi. Bayi mungil dengan pipi cabi membuat gemas siapapun yang melihatnya. Hampir saja Angga menitikkan air matanya ketika melihat mata bayi yang kini ia yakini itu adalah anaknya. Dadanya berdebar layaknya seorang yang jatuh cinta pada pandangan pertama, pandangan Angga tak mau beralih terus melihat bibir mungil yang merona itu.
__ADS_1
***
Angga menjalankan mobilnya dengan gelisah, terus terngiang penolakan Rini. Rini menolak keras saat Angga ingin menemaninya di rumah sakit, "pulanglah mas! aku tidak mau terjadi fitnah. Kita bukan muhrim" kata kata itu selalu mengiang ditelinga Angga. Apa yang dikatakan Rini memang benar tapi entah kenapa itu membuat ego Angga terusik. Bersamaan dengan itu Rania menelpon Angga menyuruhnya untuk segera pulang.
"Aku tidak mau istrimu salah paham mas, pulanglah! kamu tidak berkewajiban ada disini"
Itu adalah perkataan Rini sebelum Angga keluar meninggalkan ruangan dimana Rini dirawat. Angga menghela nafas panjang begitu handphone nya kembali berdering, Rania kembali melakukan panggilan. Angga akui Rania memang sangat jauh berbeda dengan Rini. Rania akan terus menelponnya jika Angga sedikit saja terlambat sampai dirumah, sedangkan Rini hanya diam menunggu dirumah. Hidup dengan wanita yang berbeda membuat gaya hidup Angga berubah. Karena Rini adalah tipe wanita yang kurang suka berada di dapur bergelut dengan bumbu, sehingga membuat Angga lebih sering merasakan masakan restoran dibanding masakan rumahan. Seorang asisten rumah tangga yang Angga pekerjakan hanya datang di pagi hari dan pulang disiang hari saat pekerjaan rumah sudah selesai. Jadi untuk makan malam Angga dan Rania lebih sering delivery makanan.
Terbayang kenangan saat saat kebersamaannya dengan Rini dulu. Saat dirinya diawal meniti karir, pegawai biasa dengan gaji yang tak seberapa. Terbayang saat saat mereka hidup dirumah kontrakan yang sempit. Tanpa sadar Angga menitikkan air matanya.
__ADS_1