Aku Yang Kalah

Aku Yang Kalah
Bab 18


__ADS_3

Tergeletak diatas tempat tidur seharian membuat Rini bosan, tapi apa daya badannya yang lemas membuatnya tidak bisa beraktifitas. Stres membuat asam lambung Rini kambuh.


Malam telah datang, badan Rini sekarang terasa enak setelah minum obat dan istirahat seharian. Berjalan keluar setelah melihat anak anaknya yang tertidur pulas, duduk di kursi taman depan rumah menikmati angin malam. Termenung Rini memikirkan besok pagi. Besok adalah hari minggu, sudah dapat pastikan Angga akan datang ke rumahnya besok untuk bertemu dengan anak anaknya. Ingin sekali Rini menghindar agar tidak bertemu dengan Angga. Yang Rini inginkan adalah benar benar tidak bertemu Angga lagi, tapi apa daya Tuhan telah mengatur pertemuannya seminggu sekali, bahkan terkadang bisa dua kali. Rini menarik nafas, tidak dipungkiri hatinya masih merasakan sakit atas luka yang ditorehkan oleh Angga. Kenangan kenangan buruk terkadang masih hadir didalam mimpi Rini. Lukanya belum kering sampai ke dalam, luka itu hanya terlihat membaik dari luar. Pun soal cintanya terhadap Angga, sekuat yang ia bisa untuk melupakan tapi nyatanya rasa itu belum terhapus habis dari dalam dadanya. Sungguh ia ingin rasa itu hilang tanpa ada yang tertinggal, tapi saat ini ia belum benar benar bisa melakukannya. Untuk itulah ia ingin menjauh dari Angga, dengan makin seringnya bertemu ia akan semakin sulit menghapus rasa itu.


Rini sadar, semua yang terjadi adalah kehendak Tuhan. Bagaimanapun dia harus bisa terima. Menarik nafas dalam, Rini bangkit dari duduknya. Memasuki rumah dan mengambil air wudhu hal yang selalu ia lakukan disaat hatinya resah yaitu bersimpuh diatas sajadah mencurahkan segala kegundahan hati pada sang pencipta.


"Tuhan, kejadian ini mengubah cara pandangku tentang banyak hal, meningkatkan kedewasaanku, menarik ku mendekat kepada Engaku sang maha segalanya, melatihku untuk benar benar mengikhlaskan bukan hanya ikhlas yang terucap. Melebarkan hati yang dulu sempit, menyadari kesombongan yang dulu sering terucap dari bibir ini. Kejadian ini benar benar menamparku, menunjukan diriku bahwa aku memang jauh dari kata baik. Kejadian ini menunjukan bahwa aku yang dulu benar benar harus dirubah. Tuhan, begitu baiknya Engkau, begitu sayangnya Engkau pada hambamu yang sombong dan penuh dosa ini. Engkau tarik hamba, Engkau ingatkan hamba sebelum hamba jauh terjerumus dalam dosa. Sakit hati ini ya Tuhan, sakit pula raga ini tapi hamba sadar inilah caramu merengkuh hamba. Bukan, bukan dia yang merebut orang yang aku sayang tapi hamba yakin Engkau lah sesungguhnya yang mengambilnya dari hamba dengan jalan ini. Tidak akan ada satupun kejadian tanpa campur tanganmu ya Tuhan. Tidak akan ada kejadian apapun dalam hidupku tanpa kehendakmu. Bantu hamba ya Tuhan, bantu hamba untuk melalui fase ini. Bantu hamba untuk tetap sabar, iklas, dan tenang dalam menjalani takdirmu. Maaf jika selama ini hamba banyak protes dan tidak mau terima. Meminta semua sesuai keinginan hamba tanpa sadar bahwa Engkaulah skenario terbaik. Bersujud, menangis meminta dengan sedikit memaksa agar semua sesuai dengan keinginan hamba. Trimakasih Tuhan, Engkau ingatkan hambamu yang banyak khilaf ini. Kejadian ini memang menyakitkan tapi hamba yakin Engkau sudah menyiapkan hadiah besar diujung sana. Dengan kejadian ini Engkau telah menyadarkan hamba atas akhlak yang perlu hamba perbaiki. Hamba sadar ya Tuhan, kesombongan diri inilah yang menyebabkan hal ini terjadi, jadi tolong Tuhan ijinkan hamba Mu ini untuk memperbaiki semua hal hal yang tidak baik dari dalam diri hamba. Sesungguhnya Engkaulah sebaik baiknya penolong"


***

__ADS_1


Mengusap wajah dengan kedua tangan, Rini menutup doanya pagi ini. Berencana datang ke butik dan ruko sambil mengajak anaknya jalan jalan, liburan panjang membuat Rini ingin mengajak anak anaknya menikmati keindahan kota. Sudah lama mereka tidak melihat dufan. Rini tersenyum saat membayangkan tawa kedua anaknya saat bermain ke dufan. Berjalan ke arah almari baby memilih gendongan yang tepat saat digunakan nanti. Rini sangat antusias sekali, pasalnya setelah melahirkan ini adalah kali pertamanya dia mendatangi butik dan ruko. Dua bulan dia sama sekali tak melihat butik dan rukonya.


Mempersiapkan segalanya dari kemarin. Tak lupa juga mak Narmi si asisten andalan untuk diajak serta.


Perjalan yang jauh tak membuat mereka merasa bosan, karena mereka sangat menikmatinya. Suara riang anak-anak Rini membuat ramai suasana di dalam mobil. Mang Udin sampai terbawa suasana hingga ikut nyanyi bersama dengan Harjuna dan Aisyah. Perjalanan yang sangat menggembirakan bagi mereka. Bayi kecil yang ada di pangkuan mak Narmi juga bisa diajak bekerja sama, sama sekali tidak rewel seolah ikut bahagia bersama kedua kakaknya.


Rini terbengong begitu keluar dari mobil Anggalah orang pertama yang ia lihat. Dengan senyum sumpringah Angga menyambut kedatangan Rini dan anak anaknya. Angga mengambil Pamungkas dari gendongan mak Narmi, ia tersenyum ke arah Rini. Angga yang melihat kebingungan diwajah Rini membuatnya terkekeh, wajah bingung Rini membuatnya gemas.


"Harjuna yang memberi tau ku tadi malam, dan aku ijin telat datang ke kantor karena ingin menyambut kalian"

__ADS_1


Rini mengangguk mendengar keterangan Angga.


Dengan gemas Angga menggendong bayinya dan mengajak masuk ke dalam ruangan yang telah disiapkan oleh karyawan Rini. Rini sampai geleng geleng kepala, Angga seperti dirumahnya sendiri saja. Tanpa permisi langsung main masuk. Mak Narmi tersenyum melihat perubahan Angga. Didalam hati berdoa agar keduanya disatukan kembali. Mak Narmi yang melihat sendiri perjuangan Rini merasa kasihan melihat nyonya nya itu hidup sendiri.


Selama setengah hari Rini berada di bawah mengecek pekerjaan yang lama ia tinggalkan. Sedangkan Angga dia berada diatas bersama kedua anaknya. Bermain, bersenda gurau didalam ruangan yang telah disulap jadi kamar itu. Mak Narmi yang berada diruangan bawah menidurkan Pamungkas tersenyum, ikut senang mendengar sendau gurau antara ayah dan anak itu.


Tepat jam dua belas siang Angga pamit sama Rini dan anak anaknya, dia harus berangkat ke kantor. Ijinnya cuma setengah hari, Angga berjanji akan datang lagi setelah pulang dari kantor.


Sepanjang perjalanan menuju kantor bibir Angga selalu tersenyum. Ya Angga sangat bahagia hari ini, bukan hanya karena telah bertemu dengan anak anaknya. Tapi karena hari ini dia telah mendapat senyuman dari Rini. Angga benar benar seperti bocah yang baru mengenal cinta. Hanya mendapat senyuman saja sudah membuat hatinya kebat kebit. Angga meraup wajahnya dengan telapak tangan, tak habis pikir dengan tingkahnya yang seperti anak baru gede. Hari ini dia bertekad akan merebut hati Rini kembali.

__ADS_1


__ADS_2