
Pyaaaarrrrr... pecahan gelas kaca berserakan memenuhi lantai ruang tengah rumah Angga. Bak orang kesetanan Rania membanting apa saja benda yang ada didepannya, bahkan sofa single yang berada di samping Rania ditendang nya sampai bergeser jauh. Mata Rania melotot dengan muka merah, dia sedang berada di puncak amarah. Bantal bantal sofa berterbangan diiringi teriakan dan jeritan Rania yang sedang meluapkan kekesalannya. Angga sampai kuwalahan menghadapi tingkah Rania yang sedang diselimuti emosi.
***
__ADS_1
Tepat jam dua dini hari Angga sampai dirumahnya. Angga berjingkat kaget begitu sebuah katalog kosmetik mendarat dikepalanya saat Angga baru memasuki pintu rumah. Mulut Angga terbuka akan mengatakan sesuatu tapi belum sempat ia mengeluarkan suara sudah ada benda lain yang melayang mendarat tepat di mulutnya.
"Aku tidak sebodoh mantan istrimu yang bisa dengan mudah kamu bohongi. Awas kamu ya mas kalau sampai aku tau kamu punya perempuan lain selain aku, akan aku beri pelajaran yang setimpal"
__ADS_1
Angga seperti patung, berdiri di tengah ruangan yang tampak seperti kapal terkena hantaman ombak. Barang barang berserakan, pecahan gelas dan vas bunga dimana mana, Angga menggelengkan kepala bingung melihat meja dan sofa single terjungkal di pojokan ruangan. Angga menghela nafas dalam, tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Rania. Melihat Rania memasuki kamar Angga dengan pelan berjalan menyusul Rania, mencoba membujuk sang pujaan hati yang tengah ngambek. Tapi memang nasib Angga yang tidak beruntung malam ini baru menginjakkan kaki di lantai kamarnya sudah terkena tamparan dari tangan cantik wanita yang ia puja. Angga melotot karena kaget, hampir saja ia kehilangan kesabarannya. Tangannya sudah melayang ke udara ingin membalas perlakuan Rania, tapi ia urungkan. Disaat seperti ini entah mengapa wajah Rini terbayang di matanya. Angga teringat masa masa dulu ia sering pulang larut malam bahkan sampai tidak pulang tapi Rini tidak pernah berlaku kasar padanya, Rini akan bertanya dengan nada yang rendah walaupun tidak terbilang lembut. Rini tidak pernah marah sampai seekstrim yang Rania lakukan walaupun Angga sering membentaknya. Perlahan Angga menurunkan tangannya, diraihnya tangan Rania untuk digenggam, lalu Angga meminta maaf karena sudah pulang sangat terlambat. Angga bernafas lega Rania sudah mau memaafkannya walau ia harus membujuk Rania dengan segala hal, dan juga ia berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Yang paling penting bagi Angga sudah tidak ada benda melayang seperti UFO bertebaran dirumahnya.
Angga segera membersihkan diri setelah berhasil membuat Rania tenang, badannya terasa lengket dan lesu. Banyak kejadian hari ini yang membuat hidupnya seperti terjugkir balik. Mengetahui kenyataan bahwa ternyata Rini dalam keadaan hamil saat ia cerai, mengetahui sifat asli Rania yang membuatnya cukup tercengang malam ini, kedua hal itu benar benar membuat hati dan badannya terasa sangat lelah. Selesai membersihkan diri Angga membaringkan tubuhnya diatas ranjang empuk dikamarnya. Dilihatnya Rini sudah terlelap disampingnya. Angga mengedarkan pandangan menyapu seluruh ruangan kamarnya, hingga pandangannya terpaku pada ujung ranjang. Diatas ranjang itu dulu dia banyak mengukir kenangan bersama Rini dan sekarang digunakannya bersama Rania. Ingatan Angga melayang pada kejadian kemarin siang, dimana dia bertemu dengan Rini direstoran seafood. Dia tersenyum kecut melihat perut Rini yang membuncit, berfikir bahwa Rini juga sama seperti dirinya memiliki selingkuhan. Berfikir bahwa Rini yang sok alim ternyata mau juga berhubungan badan diluar ikatan pernikahan. Betapa sekarang ia menyesali, anak yang ia hina kemarin siang, anak yang ia katakan anak haram ternyata adalah darah dagingnya sendiri. Memikirkan hal itu membuat dada Angga sesak. Angga bangkit, berjalan keluar kamar. Dia berjalan menuju kamar anak anaknya. Pandangannya tertuju pada sebuah bingkai foto yang terletak diatas nakas. Sebuah bingkai kayu berwarna gold berbentuk hati, terdapat tulisan "my family" dibagian atasnya. Foto Rini dengan kedua buah hati mereka berada didalam bingkai itu. Mereka terlihat sangat bahagia didalam foto itu. Rini berada di tengah duduk di sebuah batu besar, sedangkan kedua anaknya duduk disisi kiri dan kanan Rini dengan kepala si sulung diletakkan diatas pangkuan Rini. Foto itu benar benar menggambarkan kalau mereka sedang bahagia. Tanpa disadari bibir Angga tersenyum melihat foto itu. Tangan Angga bergerak mendekati foto itu dan mengelusnya pelan. Lalu ia tersadar tidak ada dirinya di dalam bingkai bertuliskan my family itu. Raut wajah Angga berubah kusam, penyesalan mulai datang.
__ADS_1
Duduk termenung di teras belakang, memandang banyaknya tanaman hias dan tanaman sayur yang dulu ditanam oleh sang mantan pujaan. Angga menghisap rokoknya dan menghembuskannya pelan. Teringat dulu ia sering duduk di situ untuk diam diam melakukan video call dengan Rania saat Rini tertidur pulas. Pernah sekali kepergok tapi Angga masih bisa mengelak. Angga tersenyum miris mengingat banyak kecurangan yang pernah ia lakukan. Satu batang rokok ia hisap habis, mengambil lagi dan mematiknya membakar ujung rokok yang sudah ia selipkan dibibirnya. Tak ia perdulikan semilir angin yang menerjang tubuhnya, hawa dingin tak mampu membuatnya pergi dari persemediannya. Hingga terdengar suara adzan berkumandang, Angga mendongak menatap langit gelap diatasnya. Kerlap kerlip bintang bertaburan bak permata, menarik nafas dalam dan menghembuskannya. Angga menyadari bahwa dia membayar mahal atas apa yang sudah ia lakukan.