Aku Yang Kalah

Aku Yang Kalah
Bab 9


__ADS_3

"Hai sayang"


Sapaan itu membuat Angga terkejut, gelagapan ia memandang ke arah Rini. Badannya panas dingin begitu melihat muka Rini yang tak dapat dibaca ekspresinya.


"Dari kemarin kamu nggak datang ke rumah, jadi aku mencarimu kesini. Terlalu rindu soalnya. Owh ya, dia siapa sayang?"


Dengan gaya genitnya Rania bertanya pada Angga sambil telunjuknya mengarah ke pada Rini. Suaranya terdengar manja dan menggoda. Rania terus bersuara tak memperdulikan didepannya ada sepasang suami istri yang terancam hancur keharmonisan nya, terancam hancur rumah tangganya. Rania memasuki rumah Angga walau belum dipersilahkan oleh sang empunya rumah, ia berjalan melenggang melewati Rini begitu saja. Berjalan mendekati Angga lalu mengapit tangan Angga dengan manja seolah sudah biasa ia melakukan hal itu. Terlihat Angga pun tak dapat menolak perlakuan Rania padanya, walaupun didepan Rini istrinya.


"Sayang kenapa dua hari nggak datang ke rumah, jam istirahatnya mepet ya? emang istri kamu yang kamu bilang nggak menarik dan nggak bisa memuaskan itu masih curiga?"


Suara Rania yang lembut terdengar bagai sambaran petir di telinga Rini.


"Bawa dia keluar dari rumah ini mas, dan kamu tidak usah kuatir. Mulai saat ini kamu tidak perlu sembunyi sembunyi untuk menemui gundikmu itu"


Suara Rini bergetar, dadanya naik turun menahan emosi yang memuncak. Rasa sakit, kecewa, dan terhina melebur jadi satu hingga membuat hati Rini kebas seketika. Tak setetespun air matanya mengalir keluar, hanya rasa sesak yang menghimpit dada telah dirasakan Rini saat ini. Tangannya semakin erat memegang handle pintu untuk menyalurkan emosinya.


"Kita bahas ini baik baik Rin, tenang dulu"


Angga berusaha menenangkan Rini.


Rini, Angga dan Rania duduk bertiga menghadap meja yang diatasnya terletak dua surat nikah, surat nikah istri dan surat nikah suami. Angga duduk dengan menundukkan kepala. Rini duduk di sofa single memandang lekat surat nikah yang tadi dia ambil dari dalam lemari kamarnya. Sedangkan Rania duduk dengan cuek, sesekali tersenyum karena merasa diambang pintu kemenangan. Sebelum Rini ikut duduk di sofa dia masuk ke kamar terlebih dahulu, membuka laci lemarinya dimana tersimpan buku nikah miliknya. Dengan tidak sabar ia mengambil kedua buku itu lalu keluar menyusul Angga dan selingkuhannya di ruang tamu. Dengan kasar Rini membanting buku nikah hingga membuat Angga dan Rania kaget.


"Apa maksudnya Rin?"


Gemetar Angga bertanya.


"Kita akhiri saja rumah tangga ini mas"


Rini berkata sambil mendudukkan dirinya di sofa single sebelah Angga.


"Pikirkan dulu Rin, kita bisa bahas ini baik baik. Demi anak anak kita harus mempertahankan rumah tangga kita. Aku akui aku salah. Aku telah menjalin hubungan dengan wanita lain di belakangmu"


Tangan Angga mencoba menggapai bahu Rini tapi Rini menepisnya dengan kasar. Angga lalu meraba tangan Rania yang bergelayut manja dilengannya.


"Ini Rania, maaf aku memang menjalin hubungan dengannya. Aku.... mencintainya"

__ADS_1


Angga menghela nafas panjang, menunggu reaksi Rini. Angga berfikir Rini akan bereaksi ekstrim mendengar perkataan Angga. Dia sudah bersiap akan melindungi Rania dengan tubuhnya apabila nanti Rini melakukan penyerangan pada Rania secara fisik. Tapi apa yang diperkirakan Angga salah besar, Rini tidak melakukan apapun. Rini hanya tersenyum kecut melihat Angga yang siap pasang badan untuk wanitanya.


"Kalau kamu mencintainya, kenapa masih mau mempertahankan rumah tangga ini mas. Kalau kamu melakukan itu hanya demi anak anak saja, sudah tidak ada rasa kasih dan cinta untukku aku yakin tidak akan berhasil mas. Kalau memang aku sudah tidak bisa memuaskanmu apa gunanya aku sebagai istri. Aku merasa sudah tidak berfungsi, tidak berguna. Jadi lebih baik kita akhiri saja, aku yakin anak anak pasti akan mengerti saat dia besar nanti"


Rini berkata panjang lebar tanpa melihat wajah Angga. Rasanya dia sudah tidak sudi untuk melihat wajah suaminya itu, wajah yang berkali kali mengecewakannya. Wajah yang ia puja bertahun tahun tapi dengan sengaja meluluh lantakkan hatinya berulang kali.


"Masih Rin, masih ada rasa cinta di hatiku untuk kamu. Walaupun aku juga mencintai Rania"


"Bagaimana kalau aku mengajukan syarat, aku ingin kamu meninggalkan gundikmu itu mas"


"Jaga bicara kamu Rin, jangan menyebut Rania gundik"


Angga sedikit menggertak Rini, dia tidak terima Rania dikatakan gundik.


"Lalu aku harus menyebutnya apa mas?


apa sebutannya?


wanita simpanan?


"Sudahlah Rin. Aku mohon kita bisa hidup bersama, bertiga dan juga dengan anak anak kita. Bukankah poligami itu diijinkan dalam agama kita, kita bisa melakukannya. Aku tidak bisa kalau disuruh memilih diantara kalian. Aku mau kalian berdua berada disampingku"


"Kita ketemu dipengadilan saja mas, keluar dari rumah ini! Sekarang kamu tidak perlu sembunyi sembunyi menemui simpananmu, kamu sudah bebas"


"Jangan sok kamu Rin, ini juga rumahku"


Jawab Angga dengan sengit.


"Owh begitu ya, baiklah kalau begitu biar aku dan anak anak yang keluar dari rumah ini"


Rini berdiri dari duduknya mengambil buku nikah yang ia letakkan diatas meja tadi, lalu berlalu meninggalkan kedua orang yang menghancurkan dunianya hari ini. Rini memanggil mak Narmi untuk membantunya mengemasi barang anak anaknya. Mendengar itu Angga berdiri mengejar Rini.


"Rin, pikirkan dulu. Bukankah pahala besar mengijinkan suami menikah lagi. Oke aku minta maaf, aku salah. Aku selingkuh dibelangkangmu, aku minta maaf"


"Banyak jalan untuk mencari pahala mas, mencari pahala nggak harus dengan menyiksa hati sehingga mengganggu kewarasan jiwa"

__ADS_1


"Ayolah Rin, kamu tidak ingin memperjuangkan rumah tangga ini?"


"Baik, aku akan bertahan tapi dengan syarat tinggalkan wanita itu! akhiri hubunganmu dengannya! bagaimana?"


"Maaf Rin, aku tidak bisa. Aku mencintainya"


"Kalau begitu perjuanganku selesai, aku sudah melakukan banyak hal untuk keutuhan rumah tangga kita mas tapi kamu.... "


akhirnya air mata yang dari tadi tak keluar meleleh membasahi pipi Rini.


"Aku mengaku kalah, aku memang sudah kalah. Mungkin memang hanya sampai disini jodoh kita, silahkan berbahagia dengannya. Hampir satu tahun yang lalu aku melihatmu bersama wanita itu, aku abaikan hatiku yang hancur demi bisa bertahan disampingmu. Aku berjanji pada diriku sendiri akan merubah segalanya, aku memperbaiki penampilanku, merawat tubuhku, menekan hatiku agar bisa bersabar menghadapi apapun yang kau lakukan. Menebalkan telingaku atas hinaan hinaan yang terlontar dari mulut ibu mertua. Semua aku lakukan bukan hanya demi anak anak tapi juga karena besarnya rasa sayang dan cintaku padamu mas. Bak sebuah kompetisi aku bersaing dengan wanita itu untuk merebut hatimu kembali. Agar kau bisa kembali ke keluarga ini, menjadi imamku dan anak anak. Tapi ternyata aku kalah, aku menyerah, perjuanganku selesai. Dan ya,,,, trimakasih selama beberapa bulan ini membuatku dan anak anak bahagia. Selalu ada waktu untuk kami, dan memperhatikan kami. Perlakuan manismu membuat aku merasa menang, membuat aku merasa telah berhasil membawamu kembali ke dalam pelukanku. Tapi ternyata aku yang terlalu percaya diri, sekarang aku mengaku kalah"


Rini duduk di pinggiran ranjang, tangannya mengelus kasur empuk yang ia duduki. Ingatannya melayang pada kegiatan panasnya dengan Angga pagi tadi. Air matanya merembes melalu sudut mata Rini yang sayu.


"Kamu sudah mengetahui soal Rania satu tahun yang lalu? lalu kenapa kamu diam? kenapa kamu tidak marah atau bicara padaku?"


Angga sempat terkejut dengan pengakuan Rini.


"Karena aku masih ingin bertahan disampingmu, aku tidak ingin memicu pertengkaran diantara kita. Aku memilih memperbaiki diriku agar kamu mau melihatku kembali. Karena itulah aku memilih diam. Menekan rasa kecewa dan sakit hatiku demi keutuhan rumah tangga kita"


"Kalau kau bisa menerima Rania aku janji akan adil, kau tidak akan kehilangan aku. Kita bisa tetap bersama"


Angga berjalan menghampiri Rini dan duduk disampingnya.


"Sudah aku putuskan aku memilih jadi pecundang di kompetisi merebutkan hatimu"


"Kau memang keras kepala, maaf kalau aku mengecewakanmu"


Angga beranjak dari duduknya keluar kamar, dia berjalan menghampiri Rania yang masih berada di ruang tamu.


****


Di dalam satu ruangan yang sempit Rini dan kedua anaknya membaringkan tubuh. Bukan hanya fisik mereka yang lelah tapi juga hati dan pikiran. Si sulung yang sudah mulai mengerti kondisi kedua orang tuanya ikut menangis dipelukan sang ibu. Rini memang memboyong anak anaknya ke butik. Disana ada kamar kecil tempat Rini beristirahat jika telah lelah bekerja.


"Sementara kita tinggal disini dulu ya, bunda janji akan segera memberikan tempat yang layak untuk kalian"

__ADS_1


Bibir Rini tersenyum, memandang kedua buah hatinya. Bertolak belakang dengan kondisi perasaannya yang hancur. Kini yang ia pikirkan adalah reaksi sang ibu jika tau tentang kegagalannya dalam membina rumah tangga.


__ADS_2