
Mata Angga menatap Rania nyalang, perempuan yang pernah menjadi kekasihnya itu berurai air mata duduk didepannya. Angga tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Rania, Angga merasa Rania mencoba menipunya. Entah dimana rasa cinta Angga yang pernah ada untuk Rania, menguap begitu saja. Kini Angga mulai sadar, mungkin dulu yang ia rasa bukan cinta tapi hanya obsesi belaka. Atau mungkin sekedar pelarian disaat ia merasa jenuh dengan Rini. Angga mendesah, disaat seperti ini dia malah teringat dengan Rini. Tiba tiba rindunya datang untuk mantannya itu. Sungguh rindu yang tak tau waktu, kenapa dia datang disaat yang tidak tepat. Ingin sekali Angga mengumpat pada dirinya sendiri.
Rania masih mencoba meyakinkan Angga dengan menunjukan bukti tes kehamilan. Air matanya masih mengalir, bibirnya terus memohon. Tapi Angga tetap tak percaya begitu saja. Hingga akhirnya Angga menyeret Rania kerumah sakit.
***
Rania yang disuruh berbaring oleh dokter kandungan mulai merasa panik. Mukanya terlihat pucat dengan jari bergetar. Sedangkan Angga dia juga sama seperti Rania. Ada rasa panik didalam dirinya, kalau memang Rania hamil anaknya pupuslah sudah harapannya untuk bisa kembali pada Rini. Walaupun Angga yakin tak pernah melakukan hubungan dengan Rania tanpa pengaman, tapi Angga juga memikirkan perkataan Rania. Rania mengatakan bahwa terakhir Angga melakukannya tanpa pengaman saat dia sedang mabuk.
Mata Angga menatap lekat pada monitor saat dokter menggulirkan transducer ke perut Rania. Dadanya berdebar, harap harap cemas. Berharap Rania tidak benar benar hamil.
"Pak Angga, ibu Rania saat ini tidak sedang hamil"
Tubuh Angga langsung merosot mendengar pernyataan dokter, hatinya sangat lega.
"Ada kista di ovarium ibu Rania, saya sarankan anda berdua melakukan program hamil jika ingin segera memiliki momongan"
kembali dokter memberi keterangan.
"Ehmm iya dok, trimakasih sarannya. Nanti sampai rumah akan saya bicarakan dengan dia"
__ADS_1
Angga berkata sambil melirik ke arah Rania, lirikannya yang tajam terlihat sekali jika Angga sangat kesal padanya.
Sang dokter yang melihat itu mengira Angga marah karena mendapati kenyataan bahwa pasangannya belum hamil, seperti pada sebagian orang. Mereka akan menyalahkan pihak perempuan jika tidak kunjung hamil. Bahkan sampai ada yang meninggalkan istrinya dan mencari wanita lain dengan dalih istrinya tak bisa memberinya keturunan. Itu adalah hal yang harus diluruskan dalam masyarakat, tapi walaupun jaman sudah canggih seperti sekarang nyatanya masih ada orang yang mempunyai pikiran kolot dan picik seperti itu.
"Sabar pak Angga, kalian bisa berikhtiar bersama sama dan juga berdoa mestinya. Meminta pada sang maha Pencipta"
ucap dokter bermaksud menenangkan Angga yang terlihat menahan emosi.
Rania menuruni tempat pemeriksaan dengan kepala menunduk, dia tidak berani menatap Angga. Dia yakin saat ini Angga sedang marah besar padanya. Rania yang ingin bertanya tentang kista yang ada dalam perutnya urung. Dia berniat akan kembali lagi lain kali untuk berkonsultasi. Untuk saat ini dia tidak punya nyali. Rania tidak mau Angga akan menelannya hidup hidup jika banyak bicara untuk saat ini. Dada Rania berdebar kencang karena takut, nyalinya benar benar menciut. Kebohongannya telah terbongkar, dia yakin Angga akan semakin membencinya. Rania sudah kehabisan cara untuk meraih Angga kembali, senjata pamungkasnya tidak berhasil.
***
"Gue harus hati hati nih ama tu perempuan. Gila......dia mau nipu gue, untung tadi gue kepikiran nyeret dia ke rumah sakit"
Angga bergumam sendiri, tangannya dengan lincah memutar kemudi menambah kecepatan mobilnya. Seperti orang yang dikejar setan Angga begitu tergesa gesa meninggalkan rumah sakit.
****
"Gila, ni kantor kayak punya nenek moyang loe ya main pergi pergi aja"
__ADS_1
Aris masuk ke dalam ruangan Angga sesaat setelah Angga duduk.
"diem loe ah, gue hampir kena tipu tadi"
jawab Angga dengan sengit.
Aris tertawa terbahak bahak mendengar cerita dari Angga, dia sampai memegangi perutnya yang terasa sakit karena lama tertawa. Angga mengerucutkan bibir sebal melihat kelakuan Aris, bukannya turut bersedih atas apa yang Angga alami malah dia begitu terlihat bahagia.
"Dari dulu udah gue bilang, ati ati sama tu perempuan, hampir kena kan loe.... udah kehilangan istri sholehah, hampir kena fitnah lagi"
Aris kembali tertawa, menertawakan sohibnya yang terkena apes.
"Seneng bener loe lihat gue menderita"
Angga berkata dengan mata melotot ke arah Aris.
***
Berkubang dengan banyaknya pekerjaan membuat Angga pulang sampai larut malam. Pikiran yang kusut menambah rasa lelah dibadannya. Tentu saja pikirannya kusut, dua hari lagi Rini dan anak anaknya akan kembali ke rumahnya yang di daerah. Selain waktu liburan sekolah sudah habis, Pamungkas juga sudah sehat. Angga merasa sedih karena dia tidak akan bisa lagi sering sering bertemu dengan anak anaknya terutama Rini. Jadwal pertemuannya dengan Rini dan anak anaknya akan kembali seperti dulu, hanya disaat week end saja. Karena jauhnya jarak yang membentang dan juga karena kesibukan Angga bekerja.
__ADS_1
Berjalan memasuki rumah Angga duduk di sofa. Kepalanya ia sandarka pada sandaran sofa, menarik nafas panjang untuk mengurangi rasa lelah. Pandangan Angga mengelilingi ruangan rumahnya, ruangan yang tidak begitu luas tapi lumayan nyaman untuk bersantai. Dengan sebuah televisi berada di situ. Angga teringat diruangan itulah dulu Rini mengajari anak anaknya mengerjakan PR, mengajak anak anaknya bermain dan bersama sama menonton TV. Film kartun yang berulang kali diputar tapi tetap tak membuat si penontonnya jenuh, tetap ada daya tarik tersendiri untuk menontonnya kembali. Dulu ruangan itu begitu ramai, begitu hidup. Berisi dengan triakan triakan Ais dan Harjuna serta triakan Rini yang berusaha menghentikan pertengkaran anaknya. Lantai berserakan penuh dengan mainan dan plastik bungkus camilan. Angga tersenyum, dia teringat saat saat kakinya terasa sakit karena tanpa sengaja menginjak mainan yang berserakan dilantai. Dulu dia sangat membenci hal itu, sering dia memarahi Rini karena belum membereskan mainan. Dulu dia merasa sangat terganggu dengan triakan triakan yang setiap hari menampar gendang telinganya. Tapi sekarang, setelah keinginannya terpenuhi, hidup didalam rumah yang sepi ternyata membuatnya hampa. Dulu ia sering membayangkan rumahnya sepi tanpa triakan anak dan istrinya pasti akan terasa damai. Tapi setelah hal itu terwujud bukan damai yang Angga rasakan. Tapi sepi yang benar benar sepi sehingga menimbulkan rasa hampa di dalam hatinya.