Aku Yang Kalah

Aku Yang Kalah
Bab 16


__ADS_3

Supia segera memasuki rumahnya setelah mengucapkan trimakasih pada Aris. Badannya yang lelah ingin segera bertemu dengan kasur. Supia melihat Rania duduk di ruang tamu begitu ia membuka pintu.


"belum tidur?"


tanya Supia sambil mengernyitkan dahi.


Rania menggelengkan kepala pelan, matanya terlihat sembab. Tangannya menggenggam handphone.


Supia mendesah, maksud hati ingin segera beristirahat tapi mungkin kali ini ia harus menunda istirahatnya.


Supia menemani Rania duduk di sofa setelah mandi. Tubuhnya yang lelah sekarang sudah terasa segar. Dilihatnya Rania yang sedang membersihkan pipinya dari sisa sisa air mata.


"Maaf telah merepotkanmu, aku tau kamu lelah. Istirahatlah, aku nggak apa apa sendiri"


Rania berkata dengan lirih.


"Tidak apa apa, aku akan pergi tidur jika nanti sudah mengantuk"


Setelah mengatakan itu Supia menguap lebar membuat Rania terkekeh pelan. Dan Supia pun ikut tertawa menertawakan dirinya sendiri yang sok kuat.


****


Udara segar dan cerahnya langit pagi ini mendongkrak semangat ibu tiga anak yang lagi berbahagia dengan kehadiran bayi mungilnya. Dibawah sinar matahari pagi Rini berjemur dengan bayi yang baru dua minggu yang lalu ia lahirkan itu. Dengan lembut ia mengelus kepala si bungsu. Senyum Rini terus mengembang, anak yang sehat dan lucu seperti cambuk semangat dalam hidupnya.


Rini mengernyitkan matanya ketika ada sebuah mobil yang masuk ke halaman rumahnya, sinar matahari membuat matanya silau untuk memandang. Didalam hati bertanya siapa orang yang ada di dalam mobil itu, mungkinkah orang salah alamat. Mata Rini melotot ketika melihat seorang laki laki turun dari mobil. Tentu saja Rini tidak akan pernah lupa siapa laki laki yang tengah berada di depannya itu. Laki laki yang telah menyia nyiakannya, laki laki yang telah membuang dirinya, laki laki yang telah berulang kali mematahkan hatinya.


"Halo, selamat pagi"

__ADS_1


Dengan senyum khasnya Angga menyapa Rini, dengan gaya sok cool dia berjalan mendekati Rini sambil melepas kaca mata hitam yang bertengger di matanya.


"Apa kabar jagoan ayah?"


Angga bicara sambil menoel pipi cabi bayi yang ada dipangkuan Rini. Sedangkan Rini hanya diam saja tanpa berniat menjawab pertanyaan Angga.


"Hhmmm boleh tau siapa namanya?"


Angga kembali bertanya, walaupun dia tidak yakin akan mendapat jawaban dari Rini.


"Aayyyyyyaaaaahhhh"


Tiba tiba terdengar suara bocah laki laki yang hampir satu tahun tak bertemu dengan ayahnya. Harjuna anak kedua Rini dan Angga menghambur ke pelukan ayahnya begitu melihat sosok yang lama ia rindukan itu. Sedangkan Aisyah si sulung hanya melihatnya saja tanpa ada minat mengikuti adiknya memeluk sang ayah. Aisyah bersedekap sambil menyenderkan badannya di daun pintu. Rini tau apa yang dirasakan putrinya itu, putri cantiknya yang akrab disapa Ais itu memendam kebencian pada ayahnya karena penghianatan yang dilakukan ayahnya. Dengan alasan apapun Rini tidak mau putrinya memendam kebencian pada ayahnya sendiri. Rini ingin anak anaknya tetap menjalin hubungan yang baik dengan orang tuanya.


"Ais....salim sama ayah sayang"


mendengar suara Rini, Angga merenggangkan pelukannya lalu menoleh ke arah Ais.


****


Angga dan Rini kini duduk di ruang tamu rumah Rini dengan ketiga anaknya. Jika saja ada orang yang melihat, pasti akan dikira satu keluarga utuh yang bahagia. Harjuna yang sedari tadi tak mau lepas dari Angga, bergelendotan manja ditangan ayahnya. Angga duduk memangku pamungkas kecil yang sedang tidur nyenyak setelah mandi tadi. Sedangkan Ais, ia duduk menempel pada ibunya. Memegang erat tangan ibunya dengan muka ditekuk.


"Maaf, ayah baru bisa datang menengok kalian. Ayah tidak tau alamat kalian yang baru"


Angga berkata dengan pandangan lekat menatap putri satu satunya itu. Angga tau, bocah itu belum bisa memaafkannya. Dia harus bersabar untuk mendapatkan hati anaknya kembali, dan kalau beruntung Angga ingin mendapatkan hati ibunya kembali. Angga sadar betul, duri yang ia tancapkan pada mereka telah menusuk dalam. Butuh waktu untuk membalut luka mereka.


Di dalam ruang tamu itu hanya suara Harjuna yang mendominasi dengan suara Angga yang sesekali menimpali cerita putranya.

__ADS_1


Sedangkan Rini dan Ais diam seribu bahasa seolah ada yang membungkam mulutnya.


Hampir setengah hari Angga berada di rumah Rini, dengan berat hati dia meninggalkan rumah itu. Hati Angga sedikit berbunga karena berhasil mendapatkan nomor telpon pribadi Rini. Harjuna yang berat melepasnya menangis begitu ayahnya pamit pulang.


"ayah akan kesini setiap weekend, ayah janji"


Harjuna baru mau diam begitu ayahnya berjanji akan mengunjunginya lagi.


****


Dengan pelan Angga menjalankan mobilnya, bukan karena jalanan yang macet, tapi karena ia ingin menikmati pemandangan yang ada didepannya. pepohonan asri disepanjang jalan, gunung yang terlihat cantik didepan membuat Angga betah memandangnya. Tengah hari yang sedikit mendung membuat kondisi seperti dipagi hari. Angga tersenyum sendiri mengingat interaksinya dengan sang mantan istri.


"Ya Tuhan....mungkinkah aku jatuh cinta dengannya lagi. Kenapa rasanya lebih indah dari yang dulu"


Angga bergumam sendiri, satu tangannya memegang dada yang terasa berdebar. Teringat senyum tipis Rini tadi saat dirinya berpamitan untuk pulang. Angga menepikan mobilnya sejenak dipinggir jalan yang sepi, dia mengeluarkan handphonenya. Membuka kontak Rini, dilihatnya foto profil seorang perempuan dengan perut buncit berdiri di pinggir sungai dengan tersenyum manis. Angga mengusap wajah manis itu.


"ini pasti sewaktu hamil Pamungkas"


Angga bergumam sendiri sambil tersenyum.


Angga kembali melanjutkan perjalanannya begitu puas memandang wajah sang mantan.


Hari sudah malam begitu Angga memasuki rumahnya, badan yang lelah karena perjalanan membuatnya malas untuk melakukan apapun. Dia hanya tidur dan bermalas malasan di kamar sambil melihat lihat sosmed nya. Hal yang sudah lama sekali tak ia lakukan. Dadanya berdebar begitu melihat akun Rini, padahal akun itu hanya memposting pakaian yang dijualnya, tapi entah mengapa dada Angga tiba tiba bergetar.


Rania is calling......


Angga mendesah begitu melihat layar handphone nya tertera nama Rania. Kali ini dia sedang malas berdebat. Angga tidak mau merusak moodnya yang terbilang bagus hari ini. Angga tidak menjawab telepon dari Rania. Dia hanya membiarkan saja sampai panggilan itu berhenti dengan sendirinya. Setelah panggilan berhenti, Angga mengambil smartphone nya kembali, kali ini dia membuka galeri. Melihat foto foto yang ia ambil tadi pagi dengan ketiga anaknya. Angga senyum senyum sendiri saat mengingat kebersamaannya dengan anak anaknya tadi siang. Hal yang sudah lama sekali tak ia lakukan yaitu bermain dengan anak anak. Jari Angga terus menggeser foto yang ada digalerinya, hingga sampai pada wanita berambut pendek tengah duduk dengan memangku bayinya. Ya Angga secara diam diam telah mengambil foto Rini. Jempol Angga mengelus foto itu, dielusnya terus sampai...

__ADS_1


Rania is calling.....


Angga mendesah. Seperti anak kecil yang sedang asyik bermain datang orang mengganggunya. Angga lalu meletakkan handphone nya dan menutup matanya untuk beristirahat.


__ADS_2