
"Angga, kamu sebagai seorang kepala rumah tangga harus tegas. Masa istri kamu jam segitu baru pulang, istri macam itu. Dari dulu kan ibu sudah bilang, dia nggak baik untuk kamu. Kamu sih nggak dengerin apa kata ibu"
Suara bu Fatimah melengking seolah ada pengeras suara didepan mulutnya. Bak bunyi gong yang menggaung di seluruh arena pementasan. Mulutnya tak mau berhenti nyerocos, matanya nyalang memandang ke atas dimana kamar Rini berada.
Rini menghela nafas mendengar suara sang ibu mertua yang bagai ribuan bom meluncur di telinganya. Dengan diam Rini berjalan menuruni tangga menuju ke arah dapur. Sudah ada mak Narmi yang sedang memasak disana. Mak Narmi tersenyum begitu melihat kedatangan Rini.
"Selamat pagi bu. Tumben bu, sudah rapi dan cantik"
Sapa mak Narmi melihat Rini menghampirinya. Rini tersenyum sambil mengangguk pada mak Narmi.
"Hari ini titip anak anak lagi ya mak, saya ada keperluan. Saya usahakan nggak akan sampai malam. Nanti saya pesankan taksi online, mak Narmi yang jemput anak anak ya"
"Siap bu"
Mak Narmi tersenyum sambil mengacungkan kedua jempolnya didepan Rini.
"Ibu yang sabar ya"
Mak Narmi menatap Rini dengan sendu, dia nggak tega melihat majikan kesayangannya di sindir dan dihina oleh bu Fatimah.
"Mak Narmi nggak usah kuatir, I'm oke"
Rini menata hidangan di meja makan, dengan tenang. Tak dihiraukan suara bu Fatimah yang sejak tadi membicarakan tentang kejelekannya. Sedangkan Angga hanya diam dengan sesekali mengangguk didepan ibunya. Tak ada sedikitpun niatan menghentikan kata kata ibunya yang ia tau pasti itu menyakiti hati Rini.
Angga melotot melihat penampilan Rini pagi ini. Tak seperti biasanya, pagi ini Rini memoles wajahnya dengan make up yang sedikit berani. Pakaiannya juga terlihat modis dan enak dipandang, walaupun tidak memakai pakaian yang seksi tapi tetap terlihat menarik. Rambutnya sudah rapi dengan gaya kucir kuda. Sepatu heel yang ia kenakan menambah kesan elegant. Angga meneguk ludah melihat leher jenjang istrinya. Padahal biasanya jam segini Rini masih menggunakan daster kedodoran dengan rambut dikuncir asal. Apalagi terlihat cantik, terlihat rapi saja tidak. Bau asem dan bau dapur nempel di badannya. Biasanya Rini sendirilah yang memasak untuk sarapan. Walau dalam hati mengagumi istrinya, tapi mulutnya tetap diam terkunci. Dia hanya sesekali melirik ke arah Rini. Sedangkan bu Fatimah masih tetap dengan kata kata sindiran nya sepanjang mereka sarapan.
*****
"Ini semua aku lakukan untukmu mas. Aku merubah penampilanku, merawat diriku agar mampu menarik perhatianmu kembali. Semoga dengan usahaku ini kamu mau kembali ke pelukanku"
__ADS_1
Rini bergumam sendiri didepan cermin kamarnya sambil mengoleskan krim malam pada wajahnya. Memakai baju tidur seksi untuk menyambut suaminya pulang nanti.
Senyum terukir dibibirnya begitu mendengar suara mobil Angga memasuki pelataran rumah. Rini memoleskan lipstik tipis pada bibirnya sebelum beranjak. Dia berniat ke depan menyambut kedatangan suaminya.
Rini tersenyum menghampiri Angga, diambilnya tas kerja Angga diletakkan di meja samping kamar.
"Mau makan mas?"
Tanya Rini dengan lembut dan penuh senyum.
Angga merengkuh pinggang Rini, ditatap nya tubuh Rini dari atas sampai bawah.
"Aku lihat akhir akhir ini kamu berbeda"
Angga berkata sambil membelai wajah Rini. Rini hanya tersenyum menanggapi perkataan suaminya.
"Kamu nggak kangen sama aku mas?"
Di bawah terangnya sinar rembulan, dua insan memadu kasih. Melepas hasrat yang begitu menggebu, menikmati belaian demi belaian yang memabukkan. Erangan erotis menggema memenuhi balkon kamar, ya disanalah mereka saling menikmati satu sama lain. Diatas kursi santai yang sempit mereka saling menghimpit. Meneguk kenikmatan demi kenikmatan. Seolah tiada bosan mereka mengulang lagi dan lagi hingga sang fajar bertandang.
Angga tergolek lemah dengan nafas tersengal sengal diatas tubuh istrinya. Dia beranjak dari atas tubuh Rini menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai dengan ritualnya ia mengambil handphone nya yang ia letakkan begitu saja diatas nakas sepulang kerja tadi. Di liriknya Rini yang tertidur lelap dibawah selimut. Angga memang menggotong tubuh istrinya untuk di letakkan diatas tempat tidur setelah kegiatan panas mereka yang ke tiga.
Dengan pelan Angga berjalan mengendap keluar kamar sambil membawa handphone. Lima puluh enam kali panggilan tak terjawab, tujuh belas pesan. Angga menggeleng pelan sambil tersenyum. Rupanya sang kekasih gelap marah karena ketidak datangannya malam ini.
Rania:
kok belum sampai mas?
20.21
__ADS_1
mas, mampir dimana?
20.45
Maaaassssss sampai jam berapa aku nunggu?
21.21
Mas, nggak kangen sama aku?
21.40
Mas please deh, udah pakai kostum pesanan mas yang kemarin masak dianggurin
23.21
Dan masih banyak lagi pesan pesan yang masuk berisi kata kata erotis dan beberapa rayuan agar Angga segera datang.
***
Bak tumbuhan yang hidup dimusim kemarau lama tak tersiram oleh air, tiba tiba diguyur hujan deras yang lama. Begitulah Rini saat ini. Lama ia tidak merasakan nikmatnya belaian suaminya, tiba tiba tadi malam digempur sampai menjelang pagi. Pagi ini mukanya cerah berseri, semangat hidupnya kembali membara. Dia sudah bertekat akan melakukan apapun demi keutuhan rumah tangganya. Bahkan menjelma menjadi ****** pun ia lakukan. Rini berdiri didepan cermin kamar mandi, dilihatnya bercak bercak yang ada di tubuhnya. Bercak tanda ganasnya Angga tadi malam. Muka Rini bersemu merah, ia malu begitu mengingat tingkahnya tadi malam. Merayu suaminya, mencumbu suaminya. Seumur hidupnya baru tadi malam lah ia melakukan hal seperti itu. Dia buang rasa malunya, dia buang harga dirinya demi bisa menarik kembali cinta suaminya.
Berkomitmen dengan janji yang ia buat sendiri, bahwa dia akan merubah segalanya demi menginginkan cinta suaminya kembali. Seperti sore ini, Rini sudah berdandan cantik, tubuh bau wangi menunggu Angga pulang. Sudah beberapa minggu ini Angga selalu pulang tepat waktu. Tidak ada acara lembur atau keluar kota seperti kemarin kemarin. Rini pun sudah melihat banyak perubahan pada diri suaminya. Sudah tidak lagi mengendap ngendap keluar kamar saat malam hari untuk menerima telpon, sudah mau meluangkan waktu untuk keluarga. Senang sekali hati Rini, merasa usahanya tidak sia sia. Tak apa ia bertingkah seperti pelacur, menggoda dan mencumbu laki laki karena laki lakinya halal baginya.
****
Enam bulan berlalu, Rini menjalani hidup dengan tenang dan bahagia. Kehidupan rumah tangga yang harmonis dan juga kemajuan dalam usahanya. Usaha butik yang baru dua tahun ia buka berkembang sangat pesat, begitupun dengan toko baju yang ada di ruko lama. Toko online Rini pun omzetnya selalu naik. Hingga dia menambah beberapa karyawan. Rini merasa hidupnya sempurna. Anak anak yang sehat dan pintar, suami yang baik serta usahanya yang terus maju. Dia selalu bersyukur atas apa yang Tuhan berikan padanya.
Siang ini Rini duduk bersantai di depan TV sambil menikmati tayangan sebuah sitkom ketika seseorang memencet bel rumahnya. Segera ia berdiri untuk melihat siapa tamu yang datang. Rini terbengong begitu membuka pintu. Memandang lekat seorang wanita yang berdiri didepannya. Tentu saja, wajah didepannya itu tidak akan pernah Rini lupa, akan selalu ada dalam ingatannya. Wanita yang beberapa bulan yang lalu membuat suaminya malas pulang kerumah. Wanita yang beberapa bulan lalu memberikan kenyamanan dan kepuasan pada suaminya. Susah payah Rini meneguk ludahnya. Bayangan kembalinya tali hubungan suaminya dengan wanita itu membuat badannya terasa melayang tak menyentuh bumi.
__ADS_1
"Siapa Rin?"
Hingga suara bariton Angga membuatnya menoleh. Tak ada kata yang dapat Rini ucapkan, bibirnya seolah kelu. Pegangan tangannya mengerat pada handle pintu. Seolah itu bisa membantu menahan bebannya kali ini.