Aku Yang Kalah

Aku Yang Kalah
Bab 19


__ADS_3

Supia memberengut, hatinya kesal sekaligus jengkel. Pasalnya Aris menyuruhnya lembur lagi hari ini. Satu jam sebelum jam pulang kantor Aris keluar dari ruangannya dan memberikan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikannya saat ini juga. Cita cita Supia untuk segera sampai rumah dan bertemu dengan bantal kandaslah sudah. Dengan muka cemberut dan hati yang ngedumel Supia mengerjakan berkas berkas yang ada didepannya. Sedangkan Aris, dia senyum senyum sendiri mengintip Supia yang sedang menampilkan muka jutek dari dalam ruangannya melalui jendela kaca.


Aris menopang dagunya, matanya tak berkedip menatap Supia.


"Gila, sesenang ini gue hanya karena melihat wajahnya yang jutek itu"


Aris menepuk jidadnya. Dia menggelengkan kepalanya, berharap otaknya kembali waras.


"Gila dah, jangan jangan dia pake pelet. Bahaya nih....."


Aris berdiri dari duduknya. Berjalan mondar mandir didalam ruangan. Nggak tau kenapa dadanya berdebar kencang. Seakan jantungnya akan melompat dari tempatnya. Berdetak semakin kencang. Aris memegang dadanya sambil memejamkan mata. Dia menarik nafas dalam dan mengeluarkannya pelan. Berulang kali dia melakukan itu.


Tepat pukul delapan malam Supia telah menyelesaikan pekerjaannya. Aris memaksa untuk mengantarnya pulang walaupun Supia sudah menolak.


Hanya suara musik yang mengalun merdu terdengar didalam mobil Aris, sedangkan dua manusi yang ada didalamnya hanya diam membisu. Supia menatap ke arah Aris ketika Aris membelokan mobilnya ke sebuah restoran.


"Kita makan dulu, kamu belum makan malam kan?"


Aris menjawab kebingungan yang ada diwajah Supia. Sedangkan Supia hanya ikut saja, itung itung ngirit batin Supia. Mereka makan dalam diam, Aris sedikit menjauh dari Supia saat selesai makan dan menyalakan rokok.


"Sorry, aku ngerokok dulu"


Aris berkata sambil memperlihatkan sebatang rokok yang sudah tersemat dijarinya.


Supia mengernyit bingung dengan tingkah atasannya malam ini. Yang biasanya jutek dan galak malam ini tiba tiba baik dan lembut. Dan ya, apa itu tadi.....aku, kamu. Bussseeetttt......Supia melotot mengingat panggilan yang dipakai Aris. Supia hampir saja tersedak es jeruk yang sedang diminumnya ketika tiba tiba jari Aris mengusap sisa makanan yang ada di sudut bibir Supia.


"Pelan pelan....." kata Aris sambil tersenyum.


Supia mengangguk pelan dengan muka bingung.


Jam sembilan lebih tiga puluh menit mobil Aris sampai didepan rumah Supia. Aris menahan tangan Supia saat Supia akan keluar dari mobil.

__ADS_1


"Iya pak"


tanya Supia sambil menghadap ke arah Aris.


"Besok pagi aku jemput"


Supia baru membuka mulutnya ingin mengatakan sesuatu, tapi Aris tak memberinya kesempatan.


"Aku tidak mau ada penolakan, jam tujuh pagi besok aku sampai disini"


kata Aris tegas dan sangat memaksa.


Supia hanya mengangguk tak berani membantah lagi, setelah itu ia langsung keluar dari mobil Aris.


Setelah mengantar Supia pulang, Aris gegas ke rumah Angga. Dia berencana mencurahkan isi hatinya kepada temannya itu. Dia ingin menceritakan tentang dadanya yang sering maraton saat berdekatan dengan Supia.


***


"Gila ya, apa gue dipelet ya sama si Supia" keluh Aris.


Angga tertawa mendengar perkataan Aris. Lebih lebih menertawakan dirinya sendiri. Apa yang dirasakan Aris saat ini sama dengan apa yang dia rasakan. Ya dia menyadari, dia telah jatuh cinta pada mantan istrinya. Jatuh cinta untuk yang kedua kalinya. Bahkan dia lebih gila dari apa yang dilakukan Aris. Menggunakan anaknya sebagai alasan agar bisa bertemu dengan Rini. Terdengar sedikit kejam memang, tapi bagaimana lagi Angga seperti orang gila bila lama tak melihat wajah mantannya itu. Belum ada satu minggu dia tidak melihat wajah Rini saja, dia tidak bisa tidur dengan nyenyak.


Akhirnya mereka tertawa bersama menertawakan diri mereka masing masing.


Malam ini Aris tidak pulang, dia menginap dirumah Angga. Untung saja bujang lapuk itu selalu membawa baju ganti komplit yang disimpan di bagasi mobil. Ya bujang lapuk adalah julukan Aris, semua temannya sudah memiliki keluarga dan anak, sedangkan dia masih saja betah menjomblo. Untuk itulah para temannya menjulukinya bujang lapuk. Tadi Angga sempat terkejut saat Aris bercerita jika dia sedang jatuh cinta. Tak menyangka sahabatnya itu sudah mulai membuka hatinya setelah lama tertutup rapat.


***


Aris benar benar membuktikan perkataannya. Tepat pukul tujuh pagi dia sudah sampai didepan rumah Supia. Sebelum Aris turun dari mobil Supia sudah keluar lebih dulu, ia segera masuk ke dalam mobil Aris. Dia takut jika atasannya itu akan kumat juteknya dan memarahinya. Dia tidak mau moodnya rusak di pagi hari. Karena itu akan mempengaruhi semangatnya untuk bekerja.


Aris berhenti di sebuah kedai bubur ayam langganannya. Mengajak Supia sarapan terlebih dahulu sebelum menuju kantor, lebih tepatnya memaksa Supia untuk mau menemaninya sarapan.

__ADS_1


"Kamu punya pacar?"


tanya Aris tiba tiba saat mobil Aris memasuki area parkir kantor. Supia sampai gelagapan mendapat pertanyaan dari Aris.


"Tidak pak"


jawab Supia dengan sedikit gugup.


"Bagus, mulai sekarang akulah pacarmu. Tidak boleh ada orang yang dekat denganmu kecuali aku"


"hah"


Supia terbengong mendengar perkataan Aris, sedangkan Aris terlihat cuek dengan ekspresi muka yang biasa saja.


Selesai memarkirkan mobilnya Aris segera keluar dari mobil dan berjalan membukakan pintu untuk Supia. Supia sampai memegang dadanya karena kaget melihat tingkah Aris yang menurutnya aneh. Supia terbengong menatap laki laki didepannya itu. Dia benar benar tidak percaya jika Aris atasannya yang biasa suka marah dan jutek berubah menjadi baik. Tapi justru itu menjadi sesuatu hal yang aneh bagi Supia.


Seharian ini Supia tidak bisa konsentrasi penuh untuk bekerja. Dia terngiang ngiang dengan perkataan Aris tadi pagi sewaktu berada di dalam mobil.


"apa tadi dia menembakku, menjadikan aku pacarnya? gila! orang nembak harusnya pakai cara yang romantis kan, kenapa kayak gitu.....maksa lagi"


Supia bergumam sendiri, sambil ******* ***** tangannya. Dia merasa jengkel sekaligus gemas pada Aris.


Supia melihat jam dipergelangan tangannya, sepuluh menit lagi jam kerjanya sudah selesai. Supia membereskan berkas yang ada dimejanya dan bersiap untuk pulang. Mengetok pintu ruangan Aris untuk berpamitan pulang. Supia membuka pintu dan memasukan kepalanya untuk bicara pada Aris.


"saya pulang ya pak"


Aris mendongak melihat kearah Supia.


"Tunggu, aku antar kamu pulang. Tunggu sebentar lagi, sebentar lagi aku selesai. Dan tidak usah membantah"


Glek! Supia meneguk air ludahnya. Tak menyangka dengan jawaba Aris. Baginya makin hari Aris makin membingungkan. Supia takut kena prank, dia takut kata kata Aris tadi pagi hanya untuk mengerjainya saja. Dia takut untuk mempercayai kata kata Aris yang terucap begitu saja seolah tak ada keseriusan disana.

__ADS_1


__ADS_2