Aku Yang Kalah

Aku Yang Kalah
Bab 20


__ADS_3

Aris ikut bernyanyi begitu lagu everything I do mengalun menghibur pengunjung cafe. Kakinya dihentak hentakan mengikuti irama lagu. Terlihat sekali jika hatinya sedang diselimuti kebahagiaan. Raut mukanya begitu cerah, sedari tadi mulutnya bersenandung, bibirnya tak berhenti tersenyum. Angga yang melihat temannya terlihat seperti orang sinting itu hanya geleng geleng kepala. Dia menebak nebak dalam hati, apa gerangan yang menyebabkan temannya segembira itu. Sedangkan dia sendiri, dia juga dalam keadaan suasana hati yang baik walaupun tak segembira Aris. Tadi pagi, sebelum berangkat ke kantor dia menyempatkan diri ke butik Rini. Selama Rini dan anak anaknya di Jakarta, Angga hampir setiap hari menemui mereka. Mereka disini cuma selama liburan saja maka dari itu Angga menggunakan waktu sebaik baiknya untuk mendekati Rini kembali. Pagi tadi, sewaktu Angga ke butik, Rini mengajaknya sarapan bareng. Bagi Angga itu adalah kemajuan yang sangat bagus, karena biasanya Rini tak pernah mau menemuinya jika dia datang. Pagi ini, Rini mau menemuinya bahkan mengajaknya sarapan. Tentu saja itu membuat hati Angga berbunga bunga.


Dua lelaki yang sedang dimabuk cinta itu sedang menikmati malamnya dengan nongkrong bareng di cafe. Belum saling bercerita, tapi mereka sudah bisa mengetahui satu sama lain jika temannya dalam keadaan bahagia. Mereka ingin menikmati perasaan mereka saat ini, belum mau berbagi apalagi terganggu.


Malam telah larut saat Angga dan Aris keluar dari cafe, mereka menuju ke rumah masing masing. Senyum selalu tersungging dibibir Aris selama perjalanan pulang. Bukan hanya tersenyum, bahkan dia sampai tertawa sendiri sambil memukul mukul stir mobilnya. Aris sudah seperti pasien rumah sakit jiwa.


Aris membuka handphone nya begitu memasuki rumah. Merebahkan tubuhnya sambil menatap layar handphone. Rupanya dia sedang melakukan video call. Tapi belum juga panggilannya itu tersambung, Aris sudah senyum senyum seperti sudah melakukan percakapan dengan seseorang. Aris langsung meloncat dari tidurnya dan duduk bersandar pada ranjang begitu panggilan videonya dijawab. Kini wajah bantal Supia memenuhi seluruh layar handphone Aris. Tentu saja wajah bantal yang Supia tampilkan karena sekarang adalah pukul dua dini hari. Bujang lapuk kalau jatuh cinta memang mengerikan.


"Hai....."


sapa Angga begitu melihat wajah Supia.


"hhmmm"


suara serak itu akhirnya keluar juga, setelah beberapa detik diam.


"maaf mengganggu ya?"


"enggak......"


Supia menutup mulutnya karena menguap. Hal itu justru membuat Aris tertawa gemas.


"tadi dah tidur?"

__ADS_1


"sudah"


lirih sekali suara Supia.


"tadi mimpiin aku nggak?"


Aris bertanya sambil jarinya mengelus layar handphone dibagian pipi Supia.


"enggak"


jawab Supia polos.


Aris pura pura menampilkan muka kecewa mendengar jawaban Supia.


"hah....."


Supia yang kaget langsung duduk mendengar perkataan Aris. Hingga selimut yang tadi menutupi tubuhnya melorot di pangkuan Supia. Kebiasaan Supia tidur hanya menggunakan tengtop tipis tanpa bra sehingga memperlihatkan lekuk bagian dadanya. Juga bagian gunung kembarnya tercetak jelas karena kain yang tipis.


"wow wow wwwoooowwww"


Aris menjadi heboh melihat dada Supia yang ia klaim sebagai pacarnya itu.


Ya tadi sore sewaktu didalam mobil sepulang kerja Aris memang mengklaim Supia secara paksa sebagai pacarnya. Supia tidak diberikan ijin untuk menolak. Mau tidak mau, suka tidak suka Supia harus menerima Aris sebagai pacarnya. Dengan cara memaksa seperti itulah Aris bisa mempunyai kekasih. Dengan pelan Supia mengangguk sebagai tanda terima mandat cinta dari Aris.

__ADS_1


Supia lalu dengan cepat menutup bagian dadanya dengan selimut. Mukanya yang tadi sedikit pucat karena habis bangun tidur menjadi merah karena malu. Sedangkan Aris tertawa melihat wajah malu Supia, terlihat sekali Aris sangat gemas melihat wanitanya itu. Supia mencebikkan bibirnya kesal, dia merasa dikerjai oleh Aris. Tapi justru itu membuat Aris tertawa lebih kencang.


"Aku sudah tidak sabar untuk menghalalkanmu. Sebentar lagi, tunggu proyek di kota x selesai. Aku akan langsung menemui orang tuamu"


Mendengar perkataan Aris, Supia menunduk menyembunyikan wajahnya. Wajah malu sekaligus bahagia. Mungkin Supia belum mencintai Aris tapi tentu saja hatinya berbunga bunga. Dia dikampungnya sudah dijuluki perawan tua, kedua orang tuanya pun sudah lama menyuruhnya segera menikah. Berulang kali orang tua Supia berusaha menjodohkannya tapi tidak ada yang cocok. Sedangkan dengan Aris, dia memang belum mencintai Aris tapi entah mengapa walaupun tidak ada cinta tapi dia tidak bisa menolak apa yang dilakukan Aris padanya. Entah mengapa hatinya tidak bisa menolak walaupun Aris melakukannya dengan cara memaksa. Mungkinkah Supia yang sering merasa jengkel dengan Aris akan berubah menjadi rasa cinta. Seperti Aris yang awalnya selalu jutek dengan Supia tapi nyatanya gadis itu mampu mencuri hatinya. Dada Supia berdebar mendengar perkataan Aris yang akan segera melamarnya. Entah itu debaran cinta yang mulai tumbuh, atau debaran kesenangan semata. Kesenangan karena dia akan segera terbebas dari tekanan orang tuanya, kesenangan karena dia akan terbebas dari julukan perawan tua dikampungnya. Entahlah.....yang jelas debaran itu ada.


Pagi sekali Aris sudah sampai didepan rumah Supia. Supia yang tak menyangka Aris akan datang sepagi itu menjadi bingung, pasalnya dia baru saja bangun tidur. Supia keluar menemui Aris dengan muka ditutup dengan bantal, Aris yang mengerti maksud Supia tersenyum geli.


"Kau tetap cantik walaupun belum mandi"


bisik Aris tepat ditelinga Supia.


****


Di sebuah kedai soto kudus akhirnya Aris dan Supia sarapan. Aris yang memang tidak begitu suka dengan bubur lebih memilih soto untuk mengisi perutnya dipagi hari. Selesai sarapan Aris mengajak Supia ke sebuah taman di area danau. Mereka berjalan menyusuri pinggiran danau, Aris menggandeng erat tangan Supia seolah takut wanita itu akan hilang. Jemarinya ia tautkan pada jemari Supia. Tak banyak kata yang terucap dari bibir keduanya. Akhirnya mereka duduk dibawah pohon rindang pinggir danau. Di sebuah kursi taman bercat putih mereka duduk berdua. Mata Aris tak pernah beralih dari wajah Supia. Sedangkan yang dipandang dari tadi tertunduk malu. Tangan Aris mengelus lembut pipi Supia, begitu hati hati dia menggerakan tangannya seolah takut yang disentuhnya itu akan rusak.


"Kenapa nggak dari dulu ya aku macarin kamu, kenapa baru sekarang berasanya"


kata Aris lembut masih dengan mengelus pipi Supia.


"Berasa apanya?"


"Ya berasa cintanya ama kamu"

__ADS_1


Si bujang lapuk mulai lancar merayu anak gadis orang. Dia yang biasanya pendiam dan kaku berubah menjadi renyah seperti krupuk aci putih yang sering disebut orang krupuk blek. Si gadis yang malu sampai tak dapat berkata kata. Dia hanya pasrah saja, karena kalau dia menolak sang atasan pun akan memaksa. Akhirnya Supia menikmati saja jalan yang telah Tuhan pilihkan.


__ADS_2