
Tuhan.....hilangkanlah rasa panas di dalam hati hamba. Berikanlah rasa sabar yang melimpah. Hilangkanlah rasa marah ini ya Tuhan, dan berikanlah rizki yang halal dan melimpah untuk menopang semua kebutuhan hamba dan anak anak hamba ya Tuhan. Untuk membiayai pendidikan anak anak hamba ya Tuhan.
Begitulah untaian doa Rini ditengah malam. Bibirnya merintih dengan tangan menengadah memohon perlindungan dan kecukupan pada Tuhan.
Bersimpuh diatas sajadah, menumpahkan segala masalah dan kesedihannya disana. Mencurahkan segala keluh kesah dan sakitnya pada sang pencipta. Mengobati sakitnya dengan untaian kata doa yang dapat menyejukan hatinya.
Rini mengelap air mata yang membanjiri pipi mulusnya sambil terisak. Bangkit berdiri dan membaringkan tubuhnya diatas kasur. Dielusnya pinggang yang terasa pegal, lalu tangannya beralih mengelus perutnya yang sudah membuncit. Rini tersenyum dalam kegelapan malam. Anak yang sedang ia elus itu, tidak akan merasakan kasih sayang ayahnya. Bukan karena dia sudah yatim, tapi mungkin karena Tuhan belum mengijinkan merasakan itu.
****
Rania memandang lekat pada Angga yang duduk didepannya. Dia terlihat sangat kesal dan penuh amarah.
"Kapan kamu akan menikahiku mas?"
Tangan Rania mengepal erat saat menanyakan itu.
"Sabarlah sedikit Rania, aku pasti akan menikahimu"
"Pastinya kapan?
__ADS_1
Sudah hampir satu tahun kamu resmi bercerai mas, mana janjimu yang akan segera menikahiku?"
"Tolong Rania, ini demi nama baik kita. Kalau aku langsung menikahimu setelah bercerai orang orang akan membenarkan alibi Rini bahwa aku memang berselingkuh. Tolong bersabarlah sedikit lagi"
"Bukankah waktu yang hampir satu tahun ini sudah cukup mas. Aku mau status yang jelas mas, kita tidak mungkin seperti ini terus. Aku juga ingin seperti wanita lain, merasakan menjadi istri sah, punya anak. Merasakan nikmatnya berumah tangga, bukan hanya kumpul kebo seperti ini"
Rania menggedor meja didepannya.
"Aku tau Rania, percayalah ini demi nama baik kita"
Angga berusaha sabar menghadapi Rania, walaupun terkadang ia hampir lepas kontrol melihat Rania yang barbar.
Emosi Rania mulai memuncak, ia yang semula duduk sekarang sudah berdiri sambil berkacak pinggang.
Sedangkan Angga masih tetap duduk sambil menjambak rambutnya sendiri. Merasa frustasi menghadapi Rania yang makin tak bisa dikontrol. Sikap manisnya dulu entah hilang kemana. Sekarang bak singa lapar yang selalu ingin menerkam mangsa.
Angga menghembuskan nafas kasar. Pulang kerja badan terasa lelah berniat ingin segera beristirahat tapi kenyataannya ia diajak perang oleh Rania begitu sampai dirumah. Dia merebahkan tubuhnya diatas sofa. Menggeliat pelan menggunakan kedua tangannya sebagai bantalan. Angga memejamkan matanya, tapi justru dengan mata yang terpejam itu banyak sekali hal hal yang berseliweran dalam otaknya. Salah satunya adalah wajah bayi mungil yang baru terlahir didunia itu. Sehancur itukah hati Rini hingga ia tidak mau mengatakan tentang kehamilannya. Kenapa Rini malah seolah menyembunyikan kehamilannya dengan cara tinggal diluar kota. Angga juga baru teringat, semenjak perpisahan mereka Angga belum pernah sekalipun mengunjungi anak anaknya. Selama ini dia sibuk dengan hidupnya sendiri, dia sibuk dengan dunianya sendiri. Apa yang menjadi kewajibannya tak pernah ia urusi, apa yang menjadi tanggung jawabnya tak pernah ia penuhi. Banyak sekali persoalan persoalan yang menjejali otaknya, hingga akhirnya Angga terlelap dengan sendirinya.
Pyyyaaarrrrrrr.........
__ADS_1
Angga berjingkat kaget, ia langsung bangun dan berlari menuju sumber suara. Dengan rambut acak acakan karena bangun tidur dia seperti orang gila berlari kencang menuju kamar. Menaiki anak tangga dengan cepat agar bisa sampai dengan cepat. Dengan nafas ngos ngosan Angga membuka pintu kamar, dilihatnya kondisi kamar sudah seperti kapal pecah. Bantal guling bertebaran, pecahan kaca dimana mana. Semua benda sudah tidak terletak ditempatnya, semua sudah berhamburan dibawah. Angga menggelengkan kepala. Entah setan apa yang ada di dalam tubuh Rania sehingga dia akan mengamuk hebat saat emosi. Dilihatnya Rania duduk dipinggir ranjang sambil menangis, matanya terlihat sembab dan rambutnya acak acakan.
"Apa yang kau lakukan Rania, kau ingin menghancurkan kamar ini?"
Dengan geram Angga bertanya, sepertinya stok kesabarannya mulai menipis, dia yang biasanya ngalah dan diam sekarang ikut terpancing emosi.
"Seandainya aku bisa mas, bukan hanya kamar ini yang akan aku hancurkan. Tapi juga kamu, aku ingin menghancurkanmuuuuuuu"
Rania berteriak seperti orang kesetanan.
Angga berjalan mendekati Rania, dengan kasar Angga menampar pipi Rania sampai kepala Rania menghadap ke samping. Angga sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Hening, setelah penamparan yang dilakukan Angga keadaan menjadi hening. Tidak ada yang bersuara baik Angga maupun Rania. Tak lama kemudian terdengar isak Rania. Angga berdiri mematung melihat wanita didepannya itu. Wanita yang ia perjuangkan sampai rela meninggalkan istri dan anaknya. Tapi ternyata sepertinya ia mulai sadar bahwa dia telah salah memilih. Rania masih menangis tersedu. Mulutnya diam membisu tak keluar satu patah kata pun. Angga berjalan menuju sofa kursi samping ranjang, mendudukan dirinya disana. Sama seperti Rania dia pun diam seribu bahasa. Cukup lama Rania menangis, hingga akhirnya ia bangkit, berjalan menuju almari pakaian. Rania mengambil koper lalu memasukan semua pakaiannya di dalam koper.
Rania lalu menyeret kopernya keluar dari rumah Angga. Angga hanya diam sambil memandang apa yang dilakukan Rania, tidak ada niatan untuk mencegahnya. Kali ini Angga merasa lelah, hampir setiap hari bertengkar dengan Rania membuatnya kehabisan energi.
Dengan kencang Rania menjalankan mobilnya. Jalanan yang sepi karena sudah tengah malam membuatnya tak memiliki hambatan.
Setelah berkendara hampir satu jam akhirnya Rania sampai ditempat yang ditujunya. Sebuah rumah minimalis dengan ukuran yang tidak begitu besar didalam sebuah kompleks perumahan yang tidak mewah, ya hanya sebuah perumahan biasa. Dengan tergesa Rania berjalan menuju ke pintu, rumah tanpa gerbang besi itu berulang kali diketok ketok Rania. Bahkan bisa dikatakan digedor bukan lagi diketok.
Seorang perempuan berumur tiga puluhan membuka pintu untuk Rania, terlihat terkejut dengan melihat Rania berada didepannya. Dia sampai mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya. Memastikan bahwa yang dilihatnya memanglah benar saudara sepupunya. Belum juga dia sempat mengatakan sesuatu Rania sudah menghambur memeluknya.
__ADS_1