
Pov Rini
Dia anak perempuanku yang ternyata diam diam merindukan ayahnya. Terlihat cuek disaat ayahnya berkunjung tapi ternyata diam diam dia menyimpan keinginan untuk merasakan kasih sayang ayahnya. Merindukan keberadaan ayahnya untuk selalu ada didekatnya.
"Bund, bunda menikah lagi dong biar aku punya ayah"
kata putriku pada suatu sore, dia berkata dengan bibir manyun lucu dan duduk menyender di bahuku.
"Lah kan kakak punya ayah"
jawabku dengan bingung.
"iya, tapi kan ayah tidak disini terus. Aku kepengen punya ayah yang ada disini terus, sama kita terus"
Seperti di tancap dengan belati hatiku rasanya. Mendengar curhatan dari putriku, sungguh itu dalah hal yang sama sekali tak kuduga. Aku memang berniat tidak akan berumah tangga kembali karena aku tidak ingin anak anakku nanti merasa tidak nyaman hidup denganku karena keberadaan ayah tiri. Terutama untuk anak perempuanku. Tidak kusangka jauh didalam lubuk hatinya dia merindukan seorang ayah. Kupikir dia baik baik saja, kupikir dia sudah mulai bisa menerima perpisahanku dengan mantan suamiku. Tapi ternyata diam diam dia memendam sakit dan keinginan. Ketika adiknya dijemput ayahnya untuk diajak menginap ke rumah ayahnya dia selalu tidak mau. Dia memilih tetap berada dirumah bersamaku. Aku berpikir memang dia tidak mau bersama dengan ayahnya, karena memang sedari kecil dia tidak dekat dengan ayahnya. Tapi siapa sangka diam diam dia memendam keinginannya. Sungguh ungkapan hati anaku itu merupakan surprise untuk aku.
Aku termenung ditengah malam. Mata ini tak mau terpejam. Otakku berkelana, perkataan putriku selalu membayang dibenak. Kulihat kedua anaku yang tidur nyenyak. Kuusap dan kucium mereka satu per satu. Anak lelakiku yang manja dan anak perempuanku yang lebih dewasa dari umurnya. Aku menghela nafas panjang, memikirkan tentang keinginan anak perempuanku. Tentang keinginannya untuk memiliki ayah yang mau selalu ada bersamanya.
Anak cantikku, sekarang sudah berumur sembilan tahun. Anak perempuan seumuran segitu mungkin dalam beberapa tahun lagi ia akan mendapatkan masa haid. Dan kalau aku punya suami, suamiku bukanlah muhrimnya. Mungkin setaunya dia bisa bermanja dengan ayah tiri nya seperti dia bermanja dengan ayah kandungnya. Dia belum mengerti saat dia mulai haid nanti, dia tidak boleh berdekatan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Sedangkan ayah tiri nya bukanlah muhrimnya. Dan aku ibunya, harus menjaganya dari lawan jenis yang bukan muhrimnya. Apakah aku sanggup melakukannya, apakah nanti suamiku bisa menghargai privasi anak perempuanku. Sungguh aku takut. Aku takut mendapat pria yang salah. Aku takut anak perempuanku nantinya tidak nyaman hidup denganku karena keberadaan ayah tiri nya. Sering aku melihat dan mendengar berita seorang anak gadis diperkosa oleh ayah tiri nya, seorang anak gadis dilecehkan ayah tiri nya selama bertahun tahun dan diancam akan dibunuh bila mengadu. Pernah juga mendengar anak laki laki jadi korban sodomi justru dari orang terdekat. Tiba tiba bulu kudukku merinding, tidak bisa membayangkan kalau sampai semua hal itu menimpa anak anakku. Aku meraba dadaku yang tiba tiba bergetar, tak sanggup lagi membayangkan yang lebih dari itu. Sakit dada ini membayangkan anak anakku menjadi korban predator. Lebih baik aku tidak memiliki pasangan lagi, daripada nanti anak anaku menderita.
Semenjak kedatangan mas Angga pagi itu, dia memang menepati janjinya pada anak keduaku. Dia datang kesini setiap weekend. Terkadang dia membawa Harjuna untuk dibawa pulang ke Jakarta dan menginap disana. Tapi setiap Harjuna ikut Ayahnya ke Jakarta anak perempuanku itu tidak mau ikut serta. Aku hanya berpikir itu semua karena Ais tidak dekat dengan ayahnya. Ternyata aku salah, ternyata putriku masih memendam rasa benci kepada ayahnya. Rasa benci atas penghianatan yang dilakukan ayahnya. Tapi nyatanya dia juga mengharapkan kehadiran sang ayah.
__ADS_1
"Haruskah aku menikah lagi, bersuami lagi?
lalu bagaimana kalau ternyata aku mendapatkan laki laki yang salah"
Rini bergumam dalam hati. Ketakutan yang ada dalam dirinya membuatnya tak bisa tidur semalaman.
Berjalan ke dapur membuat secangkir kopi, kopi pahit yang sudah lama sekali tak ia konsumsi semenjak dirinya patah hati atas penghianatan Angga. Kini ia menyeduhnya kembali. Meminum air pahit itu untuk mengencerkan otaknya. Dia harus berfikir keras, curhatan Ais tidak bisa ia sepelekan. Dan untungnya Pamungkas si bungsu tak bangun untuk menyusu membuat Rini leluasa untuk mengolah otaknya. Lelah berfikir tanpa menemukan titik temu akhirnya Rini mengambil handphone dan mengusap layarnya. Asik berselancar didunia maya membuat Rini melupakan sejenak kegelisahan hatinya. Tak terasa tiga puluh menit sudah Rini asik dengan handphone nya. Tiba tiba ada chat masuk. Dengan penasaran Rini membuka aplikasi berwarna hijau itu, kenapa ada orang mengirim pesan untuknya di saat dini hari begini.
Mantan:
"kok masih online?
kenapa belum tidur?"
Rini:
"lagi ngga bisa tidur"
send....
Mantan:
__ADS_1
"apa yang membuatmu tidak bisa tidur?"
Kali ini Rini benar benar dibuat bingung oleh tingkah Angga, pertanyaan Angga seperti orang yang perhatian kepada orang yang disayang. "Ah, mungkin aku saja yang ke ge eran"
Rini bergumam pada dirinya sendiri.
Mantan:
"aku mau mendengar ceritamu, kalau kamu mau. aku telpon ya?"
Rini:
"maaf, aku sudah ngantuk"
send.....
Rini lalu mematikan handphone nya. Nggak tau kenapa, Angga akhir akhir ini lebih sering menghubunginya. Entah bertanya tentang anak anak atau sekedar bertanya tentang kabar dirinya.
Jam di dinding menunjukkan pukul dua dini hari, tak terasa hampir semalaman ia terjaga. Berjalan memasuki kamar dan merebahkan tubuhnya, tidur dengan posisi miring menghadap box bayi yang ada disampingnya. Mata Rini memandang bayi mungil yang tertidur pulas itu. Berusaha memejamkan mata berharap bisa tidur dengan nyenyak. Tak sampai lima menit mata Rini terbuka kembali. Otaknya yang terus berputar tak bisa diajaknya masuk ke alam mimpi. Rini menghembuskan nafas, memasrahkan semua soalan yang sedang ia hadapi kepada Tuhannya.
Dengan badan yang lesu Rini berusaha bangun dari tidurnya. Belum genap dua jam dia memejamkan mata kini ia harus bangun karena mendengar tangisan Pamungkas. Rini menyenderkan kepalanya yang terasa pusing pada sandaran ranjang, ia duduk memangku si kecil yang sedang meminta ASI. Rini merasa ada yang tak beres dengan tubuhnya. Selain kepala yang pusing, badannya juga terasa lemas. Perut mulai mual seperti diaduk. Dengan sekuat tenaga Rini menahan gejolak yang ada diperut, sampai keluar banyak keringat dingin ditubuhnya. Menahannya sampai si kecil puas dengan ASInya. Karena jika si kecil ditinggal sebelum kenyang bisa dipastikan dia akan menangis dengan kencang dan lama.
__ADS_1
Rini segera berlari ke kamar mandi begitu selesai meletakkan bayinya di box bayi. Ia memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Tubuhnya sampai terasa lemas. Rini berdiri sambil memegangi perutnya yang terasa perih, sambil mengingat ngingat makanan apa yang masuk ke dalam perutnya tadi malam.