
Angga dengan tergesa menuruni mobilnya begitu sampai di area parkir rumah sakit. Mukanya terlihat panik, dia berjalan menyusuri lorong ruangan perawatan mencari nama ruang yang Rini kirimkan tadi. Rini mengabari Angga jika Pamungkas mengalami demam tinggi dan dilarikan ke rumah sakit. Angga yang baru bangun dari tidurnya langsung berlari begitu saja tanpa mandi terlebih dahulu. Menyambar sebuah kaos oblong yang tersampir di sandaran ranjang lalu melesat pergi. Ia memakai kaosnya saat berjalan menuju garasi mobil. Rambut acak acakan dengan muka amburadul Angga pergi begitu saja.
Angga langsung masuk begitu ia menemukan ruangannya, wajah Rini yang penuh air mata itulah yang pertama kali Angga lihat begitu ia membuka pintu. Ia berjalan tergesa mendekati Pamungkas yang tergeletak di ranjang rumah sakit, ada banyak selang yang terpasang di tubuh bayi laki laki itu. Pelan Angga mencium pipi anaknya, mengusap pucuk kepala bayi yang sedang berjuang melawan sakit. Hatinya begitu nyeri melihat sang buah hati dengan keadaan seperti itu, ingin ia menangis tapi air matanya tak mampu menetes. Seperti teriris pisau itulah perasaan Angga saat ini. Angga lalu berjalan memutari ranjang mendekat pada Rini yang sedang duduk di kursi. Mengelus pundak Rini pelan berusaha menenangkan. Isak tangis Rini memenuhi ruang perawatan Pamungkas, dia yang shock melihat anaknya kejang selama perjalanan ke rumah sakit tak bisa menghentikan tangisnya. Tanpa sadar mantan pasangan suami istri itu berpelukan, mereka saling menguatkan satu sama lain. Angga mengelus punggung Rini untuk menenangkan ibu dari anak anaknya itu, Angga tau hati Rini tentu lebih pilu dibandingkan dengan dirinya.
Dua jam Angga dan Rini duduk menunggu Pamungkas dengan kondisi hati yang gundah. Tak sedetikpun Rini mau meninggalkan ruang perawatan, matanya terus tertuju pada tubuh mungil didepannya. Seolah dia takut bocah itu akan hilang bila dia memalingkan pandangan. Angga masih terus berada di samping Rini sambil menggenggam tangan wanita rapuh itu. Tidak ada yang lebih bisa membuat seorang ibu hancur melebihi melihat anaknya menderita. Wanita yang sedang berkubang air mata itu adalah wanita tangguh yang telah melewati proses hidup dengan tegar. Dengan kepala tegak, dengan hati kuat. Perjalanan hidup yang panjang dan tidak mudah ia lalui tanpa gentar. Tapi kali ini, dia seolah kehilangan kekuatannya. Dia menjadi lemah seketika, seperti nyawa yang hampir tercabut dari raga. Sakit tanpa ada yang bisa menolongnya.
Rini mengelus tubuh anaknya begitu bayi itu menangis sedangkan Angga berlari mencari dokter. Dua dokter dengan tiga perawat menghampiri Pamungkas, Rini dan Angga dipersilahkan keluar demi kelancaran pemeriksaan. Hampir lima belas menit Rini mondar mandir di depan pintu, dia tidak bisa duduk tenang menunggu dokter memeriksa Pamungkas. Angga sampai miris melihat kegundahan Rini, merasa kasihan dengan mantan istrinya itu. Walaupun sebenarnya diapun merasakan hal yang sama. Tapi dia masih bisa mengontrol dirinya dengan baik.
Angga dan Rini menghembuskan nafas lega begitu dokter menyatakan bahwa Pamungkas telah melewati masa kritisnya. Kini Rini terlihat lebih tenang walaupun raut mukanya masih diselimuti kekhawatiran.
__ADS_1
Angga memaksa Rini untuk memasukkan makanan ke dalam mulutnya. Sehari semalam semenjak datang ke rumah sakit perut Rini tak terisi apapun. Rini selalu menggelengkan kepalanya saat Angga menyodorkan makanan padanya. Angga terus memaksa Rini untuk makan, tapi sayang Rini selalu menolak. Hingga Akhirnya Angga menggunakan cara yang jitu.
"Makan, atau aku cium bibirmu yang bandel ini"
ancam Angga sambil jari telunjuknya menekan bibir Rini.
"Jadi, mau dicium nih?"
ucap Angga lagi saat Rini tak juga membuka mulutnya.
__ADS_1
Akhirnya Rini pun membuka mulut, dia makan dengan disuapi oleh Angga. Tangan Rini bergerak akan mengambil makanan yang ada ditangan Angga, dia ingin makan dengan tangannya sendiri. Tapi Angga dengan cepat menjauhkan makanannya dari jangkauan Rini. Tentu saja, Angga tidak mau Rini makan sendiri karena dia memang ingin menyuapi Rini. Rini yang cemberut karena kesal dengan Angga justru malah membuat Angga semakin gemas dan ingin terus menggodanya. Benar, selain dia ingin menemani putranya yang sedang sakit dia juga ingin selalu berdekatan dengan Rini. Dia ingin mengambil hati Rini kembali, dia ingin menumbuhkan rasa cinta Rini untuknya lagi. Duda itu jatuh cinta lagi, jatuh cinta kepada seorang wanita yang dulu telah dibuangnya. Hatinya tak bisa memungkiri bahwa cintanya kali ini lebih dalam dari yang dulu, rasa sayangnya kali ini lebih berat dari yang dulu walaupun orangnya sama tapi rasanya jauh berbeda. Entah kenapa, Angga merasa sepi menghinggapi dirinya bila jauh dari sang pujaan hati. Rindunya yang selalu datang tiba tiba, rasa cintanya yang menggebu membuatnya terkadang tak bisa menahan diri. Dengan segala alasan dia pasti akan menemui Rini atau menghubunginya lewat telpon. Dia seperti terkena karma, menaruh cinta pada orang yang tidak memperdulikannya.
***
Rania berjalan mondar mandir sambil memegang handphone nya. Dia menunggu jawaban dari Angga. Berulang kali Rania mencoba menelpon tapi tak ada satupun yang diangkat. Rania mengirim pesan pada Angga tentang kehamilannya. Ya tentu saja hamil pura pura, karena Angga selama ini memakai pengaman saat berhubungan dengannya. Rania terpaksa berbohong untuk menarik simpati Angga. Agar Angga mau menikahinya, rasa cinta yang Rania miliki untuk Angga membuatnya buta. Menghalalkan segala cara untuk menjadikan Angga miliknya. Jiwa dan pikirannya diselimuti keegoisan sehingga bukan lagi cinta yang ia miliki sekarang tapi lebih pada obsesi.
Berulangkali Rania mengecek layar handphone, berharap ada pesan masuk dari laki laki yang diharapkannya. Mukanya cemas, jemarinya saling bertaut. Merasa lelah berjalan mondar mandir dari tadi Rania akhirnya duduk, dia terdiam memikirkan langkah apa selanjutnya yang akan ia lakukan agar Angga mau segera menikahinya. Otaknya terus diputar mencari cara. Rania bertekad apapun akan dia lakukan agar Angga jadi suaminya, seperti sebuah target dalam pekerjaan.
Watak Rania memang egois sedari kecil dulu, untuk itulah dia tidak punya banyak teman. Satu satunya teman yang mau mengerti dirinya hanyalah Supia. Saudara sepupu dari ibunya itu memang mau selalu mengalah padanya, dan juga selalu mau mengerti dirinya. Rania yang egois dan mau menang sendiri membuat dia dijauhi teman temannya. Tidak ada yang bisa berteman dengannya dengan lama. Pun selama di masa dia berada di fakultas. Bahkan dia tidak segan mengkhianati teman yang baik padanya. Wajah cantik, tapi watak sangat miris. Suka menghalalkan segala cara untuk mencapai keinginannya.
__ADS_1