
Tepat pukul delapan Rini sampai di kota tujuan, tiga jam perjalanan ia lalui tanpa ada hambatan walaupun ia pergi dengan suasana hati yang sedih, hatinya yang terkoyak oleh umpatan suaminya. Rini memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran, ia berfikir lebih baik ia sarapan terlebih dulu sebelum ketemu pelanggan. Selain untuk mengisi perut dia juga ingin menenangkan hatinya sejenak agar bisa konsentrasi dalam pekerjaan. Rini tidak mau suasana hatinya yang sedang bersedih akan mempengaruhi pekerjaannya. Sebelum keluar dari mobil Rini memperbaiki riasan diwajahnya yang sedikit rusak karena ia menangis hampir disepanjang perjalanan. Rini memang rela datang jauh jauh ke kota itu, bukan hanya sekedar bertemu pelanggan tapi ia juga berencana bertemu dengan sahabat karibnya semasa di Fakultas dulu. Dia ingin menceritakan keluh kesahnya tentang suaminya.
Jam sembilan tepat Rini sampai di depan sebuah perkantoran dengan gedung yang menjulang tinggi. Rini tak menyangka ia bisa bekerjasama dengan pemilik perusahaan besar seperti ini. Memang malam itu Rini mendapat telpon dari pak Hermawan salah seorang pelanggannya bahwa sahabatnya ingin membuat seragam batik untuk sepuluh orang karyawannya. Seorang bos besar yang membuat teamwork untuk menangani proyek besar dan sang bos akan membuat seragam untuk mereka. Rencananya seragam batik itu akan digunakan saat acara pembukaan dimulainya pengerjaan proyek, yang sering diberi istilah peletakan batu pertama. Dan pak Hermawan merekomendasikan Rini. Rini berharap ini akan menjadi awal yang baik untuk kemajuan usahanya.
Setelah merapikan pakaiannya Rini berjalan menuju meja resepsionis. Ada dua orang wanita yang bertugas disana.
"permisi bisa ketemu dengan pak Handoko. Saya Rini dari Dyastuti butik"
"Iya kak, selamat pagi, apa Kakak sudah membuat janji?"
Jawab seorang resepsionis cantik dengan ramah.
"Sudah"
Rini tersenyum senang karena keramahan wanita di depannya.
Setelah menunggu sesaat akhirnya Rini diantar ke lantai atas menuju ruangan pak Handoko oleh wanita bername tag Kristia.
****
Hampir tigapuluh menit Rini menunggu pak Handoko. Sekretarisnya bilang pak Handoko sedang ada meeting pagi ini. Rini duduk di sofa depan ruangan pak Handoko sambil tangannya mengelus layar handphone. Berselancar di dunia maya untuk mencari inspirasi tentang model pakaian, melihat mode mode pakaian yang lagi hits dan digandrungi masyarakat. Terutama para wanita, ya para wanita dewasa dan remaja putri. Memang wanita lah manusia yang suka mementingkan trend. Rini tersenyum mengingat akan hal itu. Tertawa kecil ketika mengingat dirinya yang tidak begitu memperdulikan penampilannya padahal dia bekerja di bidang fashion. Mungkin karena itulah suaminya merasa bosan padanya, Rini berusaha memperbaiki itu. Sudah lama memang Rini merasa suaminya punya wanita simpanan, tapi Rini tidak mau menanyakan tentang hal itu pada suaminya tanpa adanya bukti. Perubahan pada diri suaminya sangat mencolok, sangat terlihat sudah tidak ada lagi rasa cinta dari suaminya yang ia rasakan. Rini berusaha menahan perasaannya yang hancur. Juga berusaha mengoreksi dirinya, kenapa suaminya berubah. Untuk itulah mulai pagi ini Rini berusaha mengubah penampilannya. Hari ini dia berjanji akan selalu menjaga penampilannya agar suaminya mau melihatnya kembali. Agar suaminya tidak tergoda oleh wanita lain lagi. Rini berusaha menarik kembali perhatian suaminya dengan merubah penampilannya dan selalu sabar menghadapi tingkah suaminya. Rini berusaha tak menghiraukan perkataan perkataan kasar suaminya.
__ADS_1
Rini tersentak dari lamunan begitu seorang paruh baya dengan badan tinggi besar terkesan begitu gagah menyapa dirinya.
"Ibu Rini?"
Pria itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum. Rini segera bangkit dari duduknya dan membalas untuk berjabat tangan. Tak lupa ia sematkan senyum terbaik.
"Ini pak Handoko?"
"Iya betul. Maaf telah lama menunggu. Mari kita bicara didalam ruangan saya"
"Tidak apa pak"
Ruangan bergaya minimalis tapi terkesan mewah dan elegan, nuansa cat interior yang lembut dan furnitur bermodel kuno, mungkin para orang desain interior menyebutnya vintage. Rini berdecak kagum begitu mata indahnya di suguhi wallpaper rawa berkabut dengan background warna pastel yang sejuk di pandang mata, dihiasi gambar bunga bunga liar di pinggiran rawa membuat seolah benar benar benar berada disekitaran sana. Nuansa kantor yang seolah berada di alam liar. Seolah mencerminkan penghuninya yang menyukai keasrian alam.
Suara bariton itu membuyarkan fantasi Rini.
"Ah maaf Pak"
Rini tersenyum sambil tersipu malu karena kepergok berfantasi dengan wallpaper dinding di depannya.
"Tak apa bu, anda bukan orang pertama yang terkagum kagum dengan pesona interior ruangan saya. Mari duduklah"
__ADS_1
"Selera anda luar biasa pak Han"
"Trimakasih atas pujiannya"
Hampir dua jam Rini berada di ruangan pak Handoko, Rini segera pamit setelah tercapai kesepakatan. Bersyukur karena hari ini Tuhan telah memberinya rizki berlimpah, dan juga mendapat pelanggan baru.
Rini mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia menjalankan mobilnya menuju sebuah kafe tempat janji temu dengan sahabatnya. Jalanan yang lengang membuat perjalannya tidak terhambat. Rini memarkirkan mobilnya di depan sebuah kafe dengan pelataran depan yang sangat luas. Rini membaca alamat yang dikirimkan temannya sekali lagi untuk memastikan bahwa benar itulah tempatnya. Setelah benar benar yakin Rini turun dari mobilnya dan masuk ke dalam kafe. Rini mengedarkan pandangan mencari tempat duduk yang nyaman. Rini memesan minuman terlebih dahulu dan segera duduk sambil membuka handphone nya mengecek e-mail yang masuk dari karyawan tokonya, sebuah laporan penjualan minggu lalu. Dia mengerjakan pekerjaan nya sambil menunggu temannya yang agak sedikit terlambat karena harus mampir ke suatu tempat terlebih dahulu.
Sempat Rini mengedarkan pandangannya menyapu sekeliling kafe. Rini akui tempat yang dipilih temannya sangat nyaman, sebuah kafe yang berada di pinggiran kota terasa damai tidak terlalu bising lalu lalang kendaraan. Kafe dengan perpaduan konsep modern, minimalis dan tradisional dengan interior yang unik. Bangunan kafe minimalis didominasi dengan warna coklat kayu terdapat ruangan indoor dan outdoor dengan dihiasi banyak tanaman hijau disekeliling kafe sehingga terlihat asri. Ruangan outdoor terletak di area belakang kafe dengan view pegunungan dan kebun teh. Itulah tempat yang dipilih Rini untuk duduk, angin sepoi sepoi menerbangkan helaian rambutnya yang panjang. Tidak banyak polusi, udara terasa segar dan sejuk. Rini tersenyum memandang hamparan kebun teh di depannya, tak disangka perjalanan bisnisnya kali ini bisa dibilang sambil berstaycation ria.
Hampir tigapuluh menit Rini bergelut dengan pekerjaannya hingga akhirnya terdengar suara yang lama ia rindukan.
"Riiiiinnnnnn"
Teriakan itu yang telah lama Rini rindukan. Ya suara sang sahabat karib yang lama tak pernah berjumpa.
"Nindaaa I miss you"
"Me too"
Ninda memeluk erat sahabatnya itu, sahabat yang dulu satu kamar kos saat sama sama menuntut ilmu di sebuah perguruan tinggi.
__ADS_1
Dua sahabat itu akhirnya memutuskan untuk pulang setelah hampir dua jam mereka saling berbincang. Menceritakan kehidupan masing masing, terutama Rini. Rini banyak menceritakan tentang suaminya yang berubah kasar padanya. Sebagai sahabat Ninda pun banyak memberikan masukan untuk Rini, salah satunya adalah memberi saran agar Rini lebih memperhatikan penampilannya. Dari dulu Rini memang sangat cuek soal penampilan, untuk itulah Ninda banyak memberinya saran. Sebenarnya Rini memang sudah cantik walaupun tanpa perawatan, Rini terlahir dengan kulit kuning langsat dan cantik alami. Hidungnya yang mancung dengan rambut yang lurus dan lembut. Tinggi badan yang tidak terlalu tinggi dan juga tidak tergolong pendek. Dialah sang idola kampus dulu. Gadis lemah lembut dengan segudang prestasi.