
clek
Gaza berbalik dengan wajah datar.
"kenapa lama banget bukanya? dipanggil juga gak nyaut" tanya Gaza dengan kesal.
Alana tersenyum dengan watados nya. menatap hati hati wajah dingin Gaza "aku lagi baca buku tadi sambil dengerin musik pake airpods " jawabnya.
Gaza menghela nafas lalu mengangguk kan kepalanya "ayo makan" ajak cowok itu menarik pergelangan tangan Alana.
Alana menarik kembali tangannya tanpa ragu, gadis itu tidak ingin makan. selain karena dia alergi seafood dan tau jika makan pun tak ada yang menemani. Alana pikir Gaza pasti sudah makan diluar tadi, dengan wanita itu batinnya sadar jika ini sudah melewati jam makan malam.
Gaza menaikkan sebelah alisnya sebagai tanda tanya.
"aku gak laper kak" jawab Alana bohong yang sebenarnya perutnya sangat amat lapar.
"bener?" tanya Gaza, Alana hanya mengangguk saja membuat cowok itu mengerti.
"yaudah gue mau balik kamar dulu" ucapnya berbalik arah hendak ke kamar.
Alana mendesah kecewa, benar kan batinnya. pasti Gaza sudah makan dengan pacarnya di luar dan membiarkan Alana kelaparan menunggu nya dirumah.
tiba tiba langkah Gaza berhenti diambang pintu kamarnya tanpa berbalik "tidur! jangan begadang" perintahnya yang seperti tidak ingin di bantah.
Alana tersenyum kecil sembari mengangguk walaupun Gaza tidak melihatnya karena sudah masuk kamar lebih dulu.
<><>
Alana menggerutu kecil sembari berjalan memasuki sekolahnya, hari ini ia terpaksa harus berangkat naik taksi ke sekolah. karena Gaza sudah berangkat lebih awal demi mengantar kan pacarnya ke kampus.
apakah setelah ini Gaza lebih akan menyibukkan dirinya dengan wanita itu? huh perasaan Alana amat jengkel ketika mengingat dirinya tadi pagi yang ditinggal kan Gaza begitu saja.
bahkan Gaza melarangnya untuk membawa motor, sedangkan mobil dipakai lelaki itu. tidak ada kendaraan yang bisa Alana pakai kecuali menaiki kendaraan umum seperti taksi untuk sampai ke sekolahnya.
"dasar budak cinta, sayangi aja tuh pacar. adik nya tinggal dibuang" cibir Alana kesal.
Alana berhenti tepat di depan pintu kelasnya, sembari menatap orang di depan gadis itu yang sudah tersenyum manis.
__ADS_1
'dia lagi?' batin Alana malas tiba tiba gadis itu teringat sesuatu.
'dia itu mantan pacar Alana, kak Arslan' ucap Alana kembali dalam hatinya.
Alana mencoba untuk tidak peduli dengan kedatangan lelaki yang ingin mencoba mengantar nya dahulu, gadis itu melangkah masuk ke dalam kelasnya. Tapi di cegah oleh lelaki itu, Arslan.
Arslan mencekal pergelangan tangan Alana kemudian menatap gadis itu.
"Al" panggil Arslan
Alana menatap pergelangan tangannya yang pegangi oleh Arslan. Gadis itu menatap Arslan balik dan menghempaskan tangan nya agar terlepas dari cekalan cowok itu.
"aku mau ngomong sesuatu, sebentar aja" pinta nya berbicara dengan lembut.
"maaf kak bentar lagi bel masuk, dan aku gak kenal kamu. so can you stop seeing me?" kata Alana dengan hati hati, jujur saja gadis itu enggan berurusan dengan masa lalu Alana dan entah kenapa setiap kali Alana bertemu dengan Arsalan gadis itu jadi mengingat Gaza, dan merasakan sedih yang tidak bisa dijelaskan dan tanpa tau sebabnya.
Arslan menggeleng pelan "aku gabisa Al" balasnya yang memang benar tidak ingin meninggalkan Alana, bahkan Arslan bertekad ingin kembali memiliki gadis itu sebagai pacarnya.
"please, give me a little time" pinta Arslan yang sangat merindukan gadis itu.
gadis itu duduk di bangku nya dengan perasaan jengkel, hatinya tiba tiba terasa sedih tanpa tau kenapa. padahal dia hanya berjumpa dengan Arslan dan cowok itu tidak melakukan apa pun dengan dirinya.
"What! what! what! itu mantan lo di depan Al, gila ya dia ngapain anj. lo gak diapa apain kan Al? dia gak bicara yang aneh aneh kan?" tanya Emil beruntun yang membuat Alana pening harus menjawab yang mana dulu.
Alana menghela nafas "satu satu okey" balas membuat Emil cengengesan.
"btw Viona dimana?" Tanya Alana yang menyadari bangku di depannya kosong.
"oh biasa lah murid pinter, lagi latihan buat ikut olimpiade mematikan" jawab Emil santai.
Alana menggeleng kan kepalanya "matematika Emil" koreksi Alana yang hapal betul dengan temennya yang sangat membenci mapel berangka itu.
"hehe iya, tau aja sih lo"
<><>
Arslan berjalan menuju taman kampus, cowok itu duduk di salah satu bangku yang kosong disana. tanpa memperdulikan tatapan demi tatapan dan bisikan kagum kaum hawa yang memuja ke tampa-nan nya.
__ADS_1
Arslan merogoh ponselnya di saku celana, membuka aplikasi Instagram yang sudah penuh dengan notifikasi dm para ciwi ciwi goodlooking.
Arslan menatap tanpa minat, bahkan dibuka nya saja tidak. hari demi hari memang begitulah yang terjadi, tidak ada satupun yang ter- noctif oleh Arslan.
ia malah sibuk men-stalking profil Alana, gadis yang berstatus mantan pacarnya. Gaza menghela nafas, ia sangat menyayangkan dirinya yang tidak bisa mempertahankan gadis yang amat dicintainya.
jika boleh jujur saja, Arslan masih menginginkan Alana berada di sisinya. Cowok itu begitu merindukan Alana, di saat saat masa pacaran mereka dahulu. Dua tahun, bukan lah waktu yang sebentar bagi nya untuk menahan tidak bertemu Alana bahkan hubungan baik nya dengan para sahabatnya hancur termasuk dengan Gaza dan Vano.
dan entah kenapa Arslan jadi berani akhir akhir ini. dia mendatangi Alana sebab mendengar isu isu jika gadis itu berubah karena hilang ingatan. dan Arslan membenarkan itu setelah kembali menemui Alana dari dua tahun silam. gadis itu tidak mengingat dirinya, bahkan kepribadian gadis itu berbeda. namun... cantik nya tidak pernah luntur, Alana bertambah cantik dengan sifat anggun nya kini.
Arslan terus meng-scrolling foto demi foto hingga kebawah.
"cantik" gumamnya tersenyum gemas, ingin sekali Arslan mencubit kedua pipi Alana dan memberikan ciuman bertubi tubi seperti dahulu.
ya, sangat ingin tanpa bisa melakukan nya. benar benar sangat menyiksa.
"Gaz, lo bisa temenin gue beli kado ga? besok adik sepupu gue ulang tahun, dia juga ngundang lo. mau kan temenin gue dateng?" Samar samar Arslan mendengar suara seorang cewe yang menyebutkan nama mantan sahabatnya. Gaza pikir hanya kebetulan saja toh nama Gaza bukan cuma satu di dunia ini.
Tapi ternyata benar, itu Gaza sedang duduk berdua dengan seorang Gadis yang tidak Arslan kenali. Arslan mengamati mereka dalam diam dengan jarak yang lumayan jauh dari kursi yang ditempati nya.
Arslan menguping pembicaraan mereka. cowok itu terkikik geli menyadari kelakuan nya yang terlalu kepo dengan urusan orang lain.
"sorry Ra, gue habis ini harus jemput Lana. kasian tadi pagi dia gue tinggalin demi jemput lo. dan kalo soal undangan itu, maaf juga gue gak bisa dateng. gak mungkin gue ninggalin adik gue malam malam, sampain ke sepupu lo ya kalo gue gak bisa dateng" jawab Gaza memasukkan ponselnya ke dalam saku.
cowok itu berdiri dan pamit pergi ingin menjemput Alana.
Ara terlihat sangat kesal dari wajah nya. padahal dirinya begitu mengharapkan Gaza yang mau menemani nya kemana pun pergi. tapi sepertinya tanpa status yang jelas cowok itu susah sekali untuk menuruti permintaan nya. Ara jadi harus tau ingin membicarakan apa dengan ayah nya nanti.
Arslan mengangguk kan kepala mengerti "oh jadi karena Al ditinggal pagi tadi, makanya dia bete" ucap Arslan mangut mangut.
cowok itu tersenyum setelah sesuatu yang gila muncul di otaknya, walaupun sedikit kemungkinan mengingat Gaza yang sangat melarang Arslan untuk kembali dekat dengan Alana. tapi apa salahnya untuk mencoba, bati Arslan tertawa puas.
"cocok nih sekalian pdkt ulang sama Al" ucap nya senyam senyum kesenangan.
<><>
TBC.
__ADS_1