
Alana masuk kedalam perkarangan sekolah nya, gadis itu sehabis di antar Gaza pagi ini. Alana menghentak hentakan kaki nya kesal di sepanjang jalan. Mood nya di buat buruk pagi ini, Alana terlanjur bete dengan Gaza yang membiarkan sepanjang perjalan mereka hanya bersuara kan kendaraan yang berlalu lalang di jalanan tanpa membuka pembicaraan bahkan menutup topik yang dibuatnya.
"Dasar mahluk beku" cibir Alana menendang kerikil kecil di depannya.
"nyenyenyee" kesal nya monyong monyong tak jelas.
"itu bibir minta dicium?" sahut seseorang mendekati Alana.
cowok itu terkekeh kecil kemudian membuka satu telapak tangan Alana dan meletakkan kerikil kecil di sana. dia menunjuk nya menggunakan alis sebagai bahasa isyarat.
"Ha?" Alana memiringkan kepala cantiknya, otak nya belum nyambung sepagi ini. bahkan sekolah pun belum ramai, karena ulah Gaza yang seenaknya mengantarkan Alana sepagi ini. bahkan dia pun tak sadar siapa orang di depan nya sekarang ini.
cowok yang tidak memakai seragam yang sama dengan Alana itu tersenyum.
Alana yang bingung pun juga hanya bisa ikut tersenyum dan penasaran dengan orang di depannya ini, siapa lelaki ini dan kenapa dia disini? jelas sekali dia bukan murid sma Pelita dan apa itu bahkan dia pun tidak terlihat seperti siswa sma, batin Alana bertanya tanya.
"kerikil nya, lain kali hati hati ya cantik. kalo kesel itu makan aja banyak jangan suka nendang krikil, ntar kena orang loh" nasehatnya mengacak gemas rambut Alana.
"yaudah gih sana masuk" kata cowok itu, Alana hanya mengangguk saja dan entah kenapa pula ia menurut dan masuk kedalam sekolah.
"ternyata bener ya rumor itu, kamu Alana yang berbeda" gumam nya menatap sendu punggung Alana yang pernah menjadi candu untuk dipeluknya dulu.
<><>
"ALANA SHARAMON...!"
__ADS_1
Brak
Pintu kelas ditendang oleh seorang murid cantik nan bar bar. Emil memegang dada melihat sahabatnya yang datang tanpa ke kaleman yang seharusnya dimiliki semua wanita kecuali Emil wanita jadi jadian, tapi sesungguhnya Emil juga punya sisi kalem dan lemah lembut sebagai pria.
catat! sebagai pria!!!
"astaghfirullah kodok kunti" latah Emil menatap tajam Viona.
"diem lo pake ngelecehin kuntilanak segala huh" sentak Viona. Gadis itu buru buru mendekati meja Emil dan menatap sulit gadis di sebelah Emil.
"A-al?" panggil Viona menahan tangisnya.
Alana menaikkan sebelah alisnya, kenapa gadis didepannya ini sedih batin Alana heran. Alana tersenyum memicingkan matanya pada neme tag Viona.
Viona menggeleng pelan, menatap tak percaya pada sahabat nya itu. Viona beralih menatap Emil namun Emil menggeleng.
"gue udah cape nyoba nya, tetep sama ga ada hasil" Ucapnya dengan pasrah.
"Al lo Alana yang berbeda, lo lupa kita Al" kata Viona yang hampir kehilangan nafas. apalagi saat mendengar telfonan Emil yang mengatakan Alana hilang memori total atau amnesia tanpa sebab satu Minggu yang lalu bertepatan dengan jadwal Viona yang kebetulan sedang berada di luar negara karena kepentingan masalah keluarga.
Viona tampak bersalah telah meninggalkan Alana seminggu yang lalu, harusnya dia tidak pergi berlibur dengan keluarga nya kemarin. seharusnya Viona tunda, padahal sabtu itu Alana masih baik baik saja.
"Tenang Vio, lo tenang aja Al cuma hilang ingatan. kita bisa mulai dari awal, kalaupun kita gak bisa pulihin ingatan nya berarti kita harus bangun momen baru untuk menciptakan memori" kata Emil
"lagian ada bagus nya tau Vio" tambah Emil lagi, cowok itu mendekat ke Viona dan berbisik "biar dia bisa lupain kejadian yang pernah terjadi antara mantan pacar nya sama mas Gaza ganteng"
__ADS_1
Viona memutar malas bola matanya, dasar banci cibir Vio dalam hati. cowok demen cowok, kalau bahas kakaknya Alana aja pasti Emil semangat banget deh.
"yaudah kita coba" ucap Viona tersenyum kepada Alana.
Emil mangut mangut "yaudah kita coba— eh lo aja kali say" Emil melirik sinis Vio.
"heh lo juga temennya bego!"
Viona menatap Emil kesal, ingin rasanya gadis itu menjambak rambut banci jablay di sebelah nya ini tapi Vio urungkan karena kelas sudah mulai ramai.
"eh iya kita kan ciwi ciwi seperjuangan" kata Emil tertawa cantik tak lupa dengan menutup mulut dengan tangan tangan lentiknya.
"heem, lo aja kali yang berjuang"
"berjuang memantaskan diri menjadi wanita, hiya hiya hiya" sambung Viona tertawa puas.
"dasar gue udah pantas gilang!!!"
"bacot lo Bonar"
lah kenapa jadi bawa bawa nama bapac gini? wtf.
<><>
TBC.
__ADS_1