
Bel istirahat berbunyi, semua anak anak sibuk berhamburan keluar kelas. Kecuali Alana dan kedua sahabatnya, mereka masih menunggu Alana yang sedang berbalas pesan dengan sang kakak.
di room chat
...Algaza Sharamon...
plg sklh w jmpt
11.53
^^^iya, jangan telat tapi^^^
^^^12.00^^^
ngtr bgt suka² w
12.01
^^^aku gak ngerti kak sama typing kamu🙄^^^
^^^12.01^^^
srh, w mau off dl
12.01
^^^mau main cewek ya?^^^
^^^12.01^^^
Egk! ad kls
12.02
paan si lo
12.02
...___________...
Alana tertawa menutup room chatnya "dasar mahluk beku" cibir gadis itu menatap sinis ponselnya.
__ADS_1
"Al~ ayo ngantin, gue laper nih" rengek Vio cemberut. Alana terkekeh "ayo ayo" kata gadis itu.
Viona sebenarnya sempat kaget pagi tadi dan tak percaya jika Alana bener bener tidak mengingat mereka berdua. Tapi sejauh ini cukup baik dengan hanya mengandalkan nama dan kenyataan bahwa Emil dan Viona itu adalah sahabat Alana
Alana pelan pelan bisa beradaptasi dengan mereka bahkan gadis itu sudah banyak sekali tertawa karena tingkah banci Emil. memang sangat berbeda menurut Viona karena Alana yang sebelumnya jauh lebih bar bar dan pedas. Tapi Alana yang kini malah lebih kalem dan santai, namun kecerdasan jangan diragukan, baik yang sekarang dan dulu tidak berkurang sedikit pun malah bertambah.
"mau pada nitip apa nih sist?" tanya Emil dengan gaya genitnya.
Viona memutar bola matanya dengan malas "samain aja" kata mereka serempak.
Alana dan Viona saling pandang lalu mereka tertawa karena kekompakan. padahal belum ada janji sebelumnya jika mau samaan. Emil tersenyum senang, hatinya adem melihat pemandangan ini.
karena jauh satu Minggu sebelum nya cewe berkedok cowok itu hampir prustasi ditinggal Viona semingguan, bahkan Alana pun berubah secara tiba tiba dan tanpa sebab.
"yaudah gue pesen dulu, tunggu ya girlss" Emil kemudian pergi menuju barisan stan ibu ibu penjual kantin tak lupa dengan berjalan sambil melenggak-lenggok kan badannya.
Alana menggeleng pelan, dasar ada ada saja mempunyai temen sejenis modelan Emil ini.
<><>
"sama kita aja yuk" ajak Viona yang entah sudah ke berapa kali. Alana menggeleng "gausah, bentar lagi kak Gaza jemput kok" tolak Alana halus.
"titip salam sama mas Gaza gue ya Al, bilangin dia jangan sampai lupa makan subuh" kata Emil dengan centilnya.
Emil juga jadi ikut tertawa, kekehan Alana menular menurut nya. Viona kembali menatap sahabatnya dari dalam mobil "Yaudah kalo gitu gue sama Emil duluan ya, lo jangan kemana kemana sebelum kak Gaza jemput" pesan Viona seolah menasehati anaknya yang berusia 5tahun.
Alana mengangguk kemudian mobil merah milik Viona pergi meninggalkan perkarangan sekolah dengan sekali meng-klekson.
Tin..
Setelah mobil Viona pergi melewati gerbang sekolah mimik wajah Alana berubah menjadi murung. hatinya kesal setengah mati karena belum di jemput Gaza dari setengah jam yang lalu.
padahal Gaza sendiri yang ingin menjemput nya dan menyuruh Alana untuk menunggu. Tapi tidak selama ini kan, bahkan sekeluarnya dari kelas tadi mereka bertiga masih sempat bergibah ria di kantin sampai Emil mendapatkan telfon dari bundanya.
"ck, kak Gaza kemana sih aku takut kak. sekolahnya udah sepp~piii" gumam Alana bergetar, gadis itu hampir menangis karena takut tapi takut malu jika terciduk nanti.
Alana menghentak hentakan kaki nya kesal menatap kerikil kecil di bawah kaki nya. baru kaki nya ingin bergerak menendang kerikil kecil itu suara deruman motor terdengar makin mendekat ke arahnya.
wajahnya berubah menjadi ceria, Alana mengangkat wajahnya dengan penuh harap dan senyum manis yang mengambang.
"kak Gaza" ucap Alana senang, tapi ekspetasinya hancur begitu melihat orang yang turun dari motor itu bukan Gaza.
__ADS_1
"cowok tadi pagi" gumam Alana lesu.
kepala kembali tertunduk, tak tertarik dengan lelaki tampan yang datang menghampiri nya itu.
cowok itu tersenyum menatap Alana di depannya.
"bete ya, dianter kepagian terus dijemput telat dan mungkin Gaza gak jemput karena lupa"
Alana mengangkat wajahnya kesal, memandang tak suka pada cowok di depannya ini.
"kak Gaza gak mungkin lupa, kamu siapa sih? tadi pagi juga dateng kan" tuding Alana
cowok itu tersenyum "kamu lupa siapa aku?" tanya nya.
"ih kak aku nanya itu jangan nanya balik" geram Alana.
cowok itu tersenyum lagi menatap Alana "gemes banget sih, pengen aku karungin" Ucapnya mengacak rambut Alana.
gadis itu mundur beberapa langkah "apa sih kak! jangan pegang pegang" sentak Alana tak suka.
"e-eh iya maaf aku lupa, aku kirain kamu masih punya aku"
Alana memandang cowok itu dengan tak santai 'ini orang sinting apa gimana, dikira aku barang kali main dimilikin. rese banget' batin Alana risih.
tapi otak nya tak berhenti berfikir siapa orang didepannya ini, wajahnya sangat familiar. apakah dia salah satu orang yang Alana kenal sebelumnya.
"aku anterin pulang yuk" tawarnya.
Alana menggeleng "enggaak aku mau nunggu kak Gaza aja, nanti dia kesini aku malah gaada" tolak Alana mentah mentah.
cowok itu tersenyum kecut, sangat ingin rasanya ia kembali mengantarkan Alana seperti dulu bahkan menjemput nya juga di pagi hari. dia merindukan Alana, merindukan sosok Alana yang hobi mengomel dulu.
tapi melihat Alana yang sekarang, Alana yang yang sangat menggemaskan dan terlihat polos membuat cowok itu ingin kembali memiliki Alana. Entahlah perasaan itu ada tapi bergeraknya itu susah, bukan tidak ada nyali tapi dia tidak ingin kembali menyinggung siapapun termasuk kembali berselisih dengan Gaza dan tidak ingin menjadi kan Alana barang yang bisa dimiliki sesukanya.
"mau ya?" bujuk nya penuh harap.
"aku gak mau" tolak Alana lagi.
cowok itu mendesah kecewa menatap Alana yang begitu susah untuk dibujuk.
"Alana pulang sama gue!!" perintah Gaza yang datang dengan melipat kedua tangannya cool.
__ADS_1
<><>
TBC.