Alana Transmigrasi

Alana Transmigrasi
dijodohin?


__ADS_3

Gaza memasuki basecamp tempatnya dan teman teman nya berkumpul ketika bolos, atau hanya sekedar bersantai. dilihatnya ke empat temannya sudah berkumpul di sana dan semuanya menatap Gaza tajam kecuali Vano yang masih memejamkan matanya dengan santai, lelaki itu belum sadar dengan kedatangan Gaza.


"why?" Gaza duduk di antara Varro dan Daniel yang terus menatap nya. mereka semua enggan berbicara sejak ke datangan Gaza dan malah menatap cowok itu tajam.


"kalo ada masalah bicarain baik baik" ucap Gaza menepuk pundak Varro.


"justru lo kalo ada masalah tuh di bilang! kita temen lo bro" kata Reno.


Gaza hanya mengangguk saja tidak mungkin dia harus mengatakan tentang Arslan kepada mereka kan. terlebih jika Vano tau tentang Arslan bisa bisa dia yang menjadi emosian.


Gaza tidak ingin membuat semua nya menjadi riuh dengan teman teman nya tau soal Arslan, sudah cukup keadaan sekarang jauh lebih baik dari dua tahun silam.


"lo dari mana aja sih?" tanya Reno


"cafe" jawab Gaza singkat.


Varro membelalakkan matanya "serius? emang masih buka?" tanya Varro yang tau jika selama ini Gaza terus di desak ke dua orang tuanya untuk menutup cafe milik nya sendiri.


cafe yang sangat hits dikalangan anak muda dan sangat ramai pengunjung itu di suruh papi nya, Aldon untuk tutup secepat mungkin. pria paruh baya itu menginginkan anaknya cepat bergabung dengan perusahaan mereka yang berada Indonesia.


dan meninggalkan cafe nya agar bisa sepenuhnya fokus pada kantor. tentu saja Gaza tidak mau dan tetap menjalankan bisnis kecil nya yang sudah berkembang pesat itu.


dari sana dia bisa mendapatkan penghasilan tanpa harus meminta pada kedua orangtuanya.


"buka anjir" balasnya menatap Varro kesal.


"terus cewe itu siapa??" sambung Daniel menatap Gaza jengah.


"cewe mana?" tanya Gaza balik dan belum konek.


"Arabela Gevania, mahasiswi fakultas manajemen bisnis semester akhir. lo kenal dia?" Tanya Vano yang tiba tiba terbangun dan menatap Gaza serius, dia begitu detail menyebutkan nama gadis perusuh tadi membuat Daniel, Varro, dan Reno berdecak kagum.


"oh dia" balas Gaza tak minat, cowok itu merogoh saku celana dan memainkan handphone nya.


Gaza kehilangan mood nya setelah mendengar nama wanita itu, ck padahal mood nya sudah sangat buruk dari tadi pagi melihat adiknya di antar oleh Arslan.


"jawab onta! kita nanya" ucap Varro nyolot, cowok itu menoyor kepala teman nya, Gaza menatap Varro tajam.


Vano cengengesan sembari mengangkat kedua jari tangan nya berbentuk V "Peace Gaz" kata Vano terkekeh ngeri.


Gaza meletakkan hendpone nya di meja yang sudah tersedia di tengah tengah sofa yang mereka duduki. lalu menatap teman temannya dengan tajam.


"Gue di jodohin bokap sama itu cewek" jawab Gaza menghela nafas.

__ADS_1


semua teman teman nya menatap Gaza dengan serius "dijodohin??" beo mereka serentak.


<><>


Alana menatap ke arah papan tulis dengan pandangan kosong. sedangkan kedua tangan nya menopang dagu dengan malas, sampai beberapa kali kepala Alana merosot ke bawah karena tidak kuat di tumpu.


terdiam seribu bahasa dengan isi pikirannya yang penuh. Bu Dania selaku guru fisika yang terkenal dengan sebutan killer itu menatap tajam ke arah meja Alana dan Emil. serentak semua murid di dalam kelas itu mengalihkan pandangan kepada Alana tidak terkecuali Viona dan Emil.


"ALANA SHARAMON...!!!" Suara bariton bu Dania cukup untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


Alana terpanjat kaget lalu menatap meringis pelan menyadari tatapan mata bu Dania yang begitu tajam kepadanya.


"Aduh Alana bodoh" gumam gadis itu tersenyum kikkuk.


Masih menatap Alana dengan tajam kini kedua tangan Bu Dania pun ikut berkacak pinggang. tak lupa dengan muka yang di hiasi aura kegarangan khas guru killer SMA Pelita.


"Keluar dari kelas saya! SEKARANG!!!!" Teriak guru itu mengamuk. Alana kelimpungan di buatnya "t-tapi buk—"


"tidak ada tapi tapian! sekarang keluar dari kelas saya Alana Sharamon. jangan mengganggu jam pelajaran saya" Ucapnya dengan tajam.


Alana menelan saliva dengan susah payah. lalu gadis itu berdiri dari kursinya dan keluar dari kelas secepat mungkin sebelum kembali di amuk Bu Dania.


"Masih ada yang ingin keluar? kalau ada silahkan dan jangan mengganggu pelajaran saya!!!"


"KELUAR KAMU VIONA!" guru itu kembali berteriak membuat Viona kalang kabut dan langsung keluar menyusul Alana.


lalu Bu Dania beralih menatap Emil tajam "ada apa ya buk?" tanya Emil polos.


guru itu menunjuk Emil dengan papan penggaris besar nya "kamu salah satu bagian dari mereka kan. kamu juga keluar! sana gabung sama teman teman kamu" perintah nya dengan garang.


dengan senang hati Emil akan keluar dari kelas dan ikut menyusul kedua temannya.


"Haha ibu tau aja. makasih ya bu saya keluar dulu" Teriak nya keluar kelas sembari tertawa. kelakuan Emil itu tentu saja dihadiahi pelototan tajam Bu Dania dari ambang pintu.


"EMIL PIJAR!!!!!!"


<><>


Tiga manusia yang baru saja di usir dari kelas itu menghabiskan waktu kosong nya dengan duduk duduk ria di kantin sekolah. Viona dan Emil pun sudah mulai men-julid time sedangkan Alana hanya mengaduk minuman jus nya sembari melamun.


entah apa yang di pikir kan nya sampai hanyut dalam pikirannya sendiri. Viona melirik Emil sembari memberikan kode.


Viona menunjuk Alana mengunakan dagunya membuat Emil mengangguk paham. kedua manusia itu tersenyum jahil sebelum mengejutkan Alana.

__ADS_1


"AL...!!!!" Teriak Mereka serentak


dan sukses membuat Alana terkejut. gadis itu memegangi dadanya lalu menatap kedua temannya dengan tajam.


"Emil, Vio. aku kagett!" ucap Alana kesal.


Emil dan Viona tertawa puas melihat respon Alana yang sesuai ekspektasi mereka.


"jahat banget sih" cibir Alana.


Viona terkekeh "lagian lo kenapa bengong segala. kaya orang banyak pikiran aja, bayar hutang negara lo!" celetuk Viona memakan jajanan nya.


"ish bukan!"


Alana kembali diam membuat Viona menatap nya kesal. apa apaan baru saja di sadarkan sekarang malah melamun lagi ini anak batin Viona sebal.


gadis itu menabok lengan Alana pelan "jangan melamun lagi Al, ntar kesambet" kata Viona mengingat kan.


Alana mengangguk "tenang, aku melamun sambil berpikir kok jadi pikiran ku gak kosong" jawab Alana tersenyum.


Alana teringat sesuatu yang mengganggu pikiran nya, gadis itu menatap kedua temannya serius.


"eum... kalian percaya Transmigrasi gak?" tanya Alana. Emil dan Viona saling menatap, sudah dipastikan kedua teman Alana itu berfikir yang berbeda tentang transmigrasi itu.


"oh perpindahan penduduk itu ya" jawab Viona santai seolah jawaban memang benar.


Alana menggeleng lalu menatap Emil "yaelah Al, itu mah cerita fiksi" balas Emil yang mengerti maksud Alana.


"cerita fiksi?" beo Alana mendesah kecewa.


"Transmigrasi apa sih we? yang perpindahan penduduk itu kan" sambung Viona menatap Alana dan Emil bergantian. Viona heboh sendiri karena kepo dan tidak mendapatkan jawaban yang benar.


"bukan anjir!"


"jadinya??" Viona sudah mulai prustasi


"itu namanya kamu kepintaran Vio"


"oh makasi" balas Viona senang dan melupakan soal Transmigrasi tadi.


<><>


TBC.

__ADS_1


__ADS_2